Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 9


Chapter 9
*End*


Suasana sangat mengharukan…

Lee masih tak mengubah posisinya untuk menenangkan Rie. Rie akhirnya tersadar dari tangisnya dan ingin sedikit menelisik keadaan sekitarnya, setelah dua hari penuh ia membeku seperti es.

“…Oneesama…”Suara Rie agak sedikit serak. Mungkin dampak ketika ia berteriak tadi.

“Hai…Yeobo? Doushite?” Lee kembali bertanya dengan sedikit berbisik pada Rie sembari mengelus rambut poni yang menghalangi mata Rie untuk melihat sekaligus menghapus air mata Rie yang hampir setengah mengering.

“…Arigatou .” Suara Rie kali ini sedikit gemetar namun Lee masih bisa mendengarnya karena ia paham.

“Hai..Doushi…”

Rie ingin mencoba terbangun untuk melihat rekan-rekannya yang kini masi berada mendampingi Rie. Lee membantunya untuk duduk menyender diatas ranjang. Rie perlahan-lahan membuka suaranya untuk mulai bicara dengan salah satu dari mereka.
“…Anu…Gomenasai , Mizumi-chan, Azuki-kun, to…Shinichi-kun.” Rie sedikit gemetar mengatakannya karena ia tak pernah meminta maaf atau berterima kasih pada siapapun.

“Hai…Kami memaafkanmu Rie-chan.” Hanase mencoba meresponnya dengan sedikit senyuman manis dari bibirnya. Azuki dan Shinichi juga ikut mengangguk menjawab permintaan Rie.

“……Arigatou gozaimasu. Minna…” Kali ini Rie juga mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.

“Hai.” Shinichi menjawabnya tegas seraya tersenyum pula pada Rie, senyuman sang Credible Prince, muncul lagi. Haaaa…akhirnya.

Hanasepun segera memerangkapkan Rie kepelukannya. Saat ini mereka sudah menjadi teman. Riepun melukiskan senyuman indah pertama kali dari bibir mungilnya dan sempat membuat Azuki dan Shinichi terkejut. Ya tuhan…Rie sungguh berbeda dari sebelumnya jika ia tersenyum. Semuanya terperangkap dalam pesona senyum Rie. Sangat menawan.

Meski Rie belum sempat cuci muka dan bersih-bersih namun tak mengurangi kecantikan Rie sepersenpun. Lee pun merasa seperti hidup kembali.


***

Seluruh warga 1000 years kini sudah mengenal Rie dengan baik. Semuanya menyapanya ketika berpapasan. Cemoohan dan celotehan yang menyayat hati kini sudah musnah sudah! Reputasi Rie kini telah kembali normal.

Rie juga nampak ceria. Ia bisa tersenyum dengan sangat anggun nan ellegant pada semua orang. Dan sekarang Rie, Hanase, Shinichi dan juga Azuki bisa berteman baik dengan Rie. Mereka bahagia dengan keadaan sekarang. Lebih dari bahagia. Hanase juga akhirnya bisa mengobrol tentang masalah wanita. Ha? Memang ia yakin Rie seorang wanita? Yak!

“Rie-chan…?” Seorang siswi memanggilnya.

“Um? Nande?” Rie berbalik ketika mendengar seseorang memanggilnya.

“Presdir Hyun Ra memanggilmu, ditaman.”

“…Hai.”

Siswi itu segera pergi seusai memberikan info pada Rie. Tapi…

“…Etto. Chotto matte!” Eh? Rie menghentikannya? Ada Apa ini?

“Arigatou.”

“Um!”

Oh ternyata Rie ingin mengucapkan terimakasih padanya. Akhirnya Rie bisa melakukannya. Mereka berduapun saling tersenyum.

Rie bergegas pergi untuk menemui presdir Hyun Ra.


#taman

Presdir Hyun Ra sedang asik santai berduduk dikursi taman yang mungil itu sembari menunggu Rie datang kesana. Tak lama kemudian Riepun datang.

“Ada apa?”

“Ogenki desuka, yeobo?”

“Genki desu.”

“Ah…yeobo, kemarilah dan duduklah bersamaku.” Presdir Hyun Ra menyuruh Rie duduk sebangku dengannya dikursi itu, beruntung tubuh presdir tidak gemuk.

“Kau tidak apa-apa? Aku sempat mendengar kau tidak masuk selama seminggu? Presdir mengelus lembut rambut Rie. Terlihat sekali ia seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.

“Yah…Begitulah, tapi aku sudah membaik, presdir.” *Kling* Rie tersenyum ramah pada presdir Hyun Ra.

“Yokatta ne, yeobo. Aku tak akan mencabut beasiswamu, kau tak perlu khawatir.”

“Itu bukan masalah bagiku. Namun jika kau mencabut teman-temanku aku akan sangat kecewa.”

“Ahaha…Justru aku akan memberikan banyak teman untukmu.” Presdir memang mirip seperti ibu Rie, sangat begitu penyayang, meski terkadang sedikit berlebihan ketika ia menyebut Rie dengan Yeobo. Hah…terserahlah!


***

 
Pukul 15:00 p.m.Seluruh siswa 1000 years bergerombol keluar dari pintu gerbang, karena sudah waktunya pulang. Shinichi dan Rie juga terdapat disana. Kini mereka menjadi begitu populer disekolah. Mungkin untuk Shinichi tidak asing banyak yang menyapanya ketika itu, namun Rie masih kelihatan linglung karena ini baru pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh semuanya.

Jarak Rie dengan Shinichi hanya kurang lebih 50cm. nampaknya Shinichi ingin mengajak Rie pulang bersama. Tapi ia belum berani karena takut Rie menolaknya lagi.

Shinichi merasa gugup dan tubuhnya gemetar serta berlumuran keringat dingin. Ia nampak nervous. Tapi ia adalah seorang Credible Prince yang sangat karismatik. Mana mungkin ia lemah dalam menghadapi masalah sepele ini?! Ia…mencoba memberanikan diri. Fighting Shinichi Yama!

“…Saikou…Boleh aku pulang bersamamu? ” Dengan hembusan nafas yang tak lazim, Shinichi berusaha untuk bicara padanya. Ia merasa tegang…betul-betul tegang tak karuan! Kira-kira apa jawaban Rie?!

“Um! ” Kyaaaa….Rie menanggapinya dengan senang hati dengan senyumnya yang menawan. Sejuk nian hati Shinichi, ia merasa terombang-ambing. Ia ingin merekahkan senyum kebahagiaannya, namun ia sangat pintar untuk menyembunyikannya.

Kini mereka berjalan berdampingan dan sudah lepas dari pintu gerbang sekolah…Tapi sepertinya Shinichi ingin menanyakan sesuatu hal lagi. Terlihat sangat penasaran.

“…Saikou?”

“Hai?” Kini Rie selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil dari siapapun.

“Jika kau punya waktu, apa kau mau merayakan festival musim gugur bersamaku?” eh???? Hontou? Manis sekali tawaran Shinichi. Ia ingin merayakan festival bersama Rie. Amazing.

Rie sempat mendongak kaget. Ini adalah pertama kalinya ada yang mengajaknya merayakan festival. Apalagi dimusim gugur. Hmmm..^^

“Ya!” Rie ternyata sanggup menerimanya, kyaaa. Ia tersenyum dengan sedikit malu-malu. Sungguh membuat Shinichi tercengang. Ia mampu meluangkan waktunya, biasanya disaat-saat seperti itu Rie selalu sibuk dengan belajar, tapi kali ini ia ingin sedikit refresing rupanya.

***

‘cklek’ Rie sudah tiba dirumah dan segera melepaskan atribut yang dipakainya. Dan cepat-cepat  berganti pakaian. Sementara Lee sudah menyiapkan makanan yang lezat hingga memenuhi meja makannya.

“Ah..Yeoboku. bagaimana hari ini? Menyenangkan?” Lee menyeruput ramen yang baru saja matang dan disajikan dimangkuk favoritnya.

“Begitulah…” Hhh` hanya begitulah.

“…Anu…nii-chan?” Kenapa Rie nampak gugup sekali kelihatannya? Ada apa?

“Doushite? Kau mau aku suapi, yeobo?” Senyum manja Lee sungguh menggelikan. Aish!

“Iie…Etto..Shinichi-kun…mengajakku merayakan festival musim gugur bersama.”

“Eh? Lalu?”

“…Aku…menerimanya.” Rie amat sangat malu mengatakannya pada Lee meski ia kakak kesayangannya.

“Bagus! Kau harus melakukannya.” Lee menyemangati Rie karena ia ingin Rie bahagia lagi setelah ia mengalami depresi berat kemarin, ia harus cuci otak.

***

Tepat tanggal 3 November yaitu hari dimana festival musim gugur tiba. Seluruh pusat kota Shibuya ramai di kerubungi setiap orang yang sedang menikmati keindahan panorama kota Shibuya. Dimana disetiap pohon-pohon yang hanya tertinggal ranting-rantingnya dikalungkan bola-bola lampu warna warni nan indah. Menghiasi seluruh permukaan kota Shibuya. Juga hari ini tepatnya acara festival ‘Bunkano-hi’ dimana pada saat tersebut diselenggarakan banyak acara festival yang menyangkut  seni dan tradisi bangsa Jepang.

Terdapat beberapa Kabuki-odori yaitu penari tradisional dari Jepang memakai baju kimono sangat ellegant. Mereka juga menyuguhkan pelayanan yang amat ramah sehingga membuat pengunjung nyaman berada ditempat tersebut.

Bola-bola lampu yang kerlap-kerlip nan indah dan sedap dipandang mata tak sama sekali membuat pusat kota berantakan, itu memang seni dan tradisi.

Kini Shinichi dan juga Rie sudah berada dilokasi. Tampaknya mereka hanya berdua? Ya! Benar mereka hanya berdua. Sengaja Shinichi memang sudah merencanakannya dengan matang.

Nampaknya Rie sangat terkagum-kagum menikmati pemandangan disekitarnya. Karena memang kenyataannya Rie tidak pernah keluar rumah apalagi untuk merayakan festival bersama seorang teman. Itu sangat mustahil baginya.

Namun sekarang ia sedang menjadi liar dari dunia pendidikannya. Artinya ia sedang benar-benar mengamati seperti apa wujud dunia luar pada malam hari. Kakkoi na! Wajah Rie sedikit innocent juga sedikit cengo ketika melihat para Kabuki-odori menari-nari sangat lihai disetiap gerak-gerik tangannya.

Kali ini Rie sama sekali tidak terlihat seperti orang jenius atau Wolf girl sekalipun. Ia lebih mirip….Anastasya Shpagina? Ah tidak terlalu cantik.. Ah, tapi masih ada sari-sari yang menempel darinya. Harionago, tidak juga karena ia menyeramkan, Rie sedang tidak menyeramkan kali ini. Green Goblin? Dia tidak berwarna hijau. Cow cow? Ia juga bukan atlit senam comedy. Ah…sudahlah, ia nampak seperti orang bodoh.

Rie sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada siapapun selain pada permukaan kota Shibuya. Ia menelisik setiap detail desain-desain serta rangkaian bola yang mengalung diranting pohon, ia juga menyaksikan tari tradisional Jepang dan ia juga benar-benar merasakan tradisi Jepang yang selama ini sempat ia lupakan.

Shinichi hanya tersenyum memandangi Rie yang begitu antusias. Shinichi juga merasa senang karena Rie menikmatinya.

Mereka mengelilingi setiap sudut kota Shibuya. Juga mengarungi jalanan setapak yang tak ada ujungnya. Aroma malam hari membuat suasana semakin damai. Apalagi untuk sepasang kekasih, aish!! Cieee..

Tapi Shinichi dan Rie bukan semacam itu. Pasti kalian mengerti!

Sekarang Shinichi dan Rie sedang berada disekitar jembatan yang terdapat di tengah-tengah kota. Dengan disertai pohon-pohon dengan bola-bola lampu sebagai dedaunnya. Tak kalah indahnya dengan suasana di jalan utama tadi.

Rie menghirup udara malam hari, sangat menusuk hidung…dingin…

“Saikou…” Shinichi yang berdiri disamping Rie baru mulai membuka suaranya sedari tadi.

“Hai? Doushite?” Rie menjawab namun pandangannya tetap lurus melihat pesona kota Shibuya.

“…Apa kau merasa bahagia?” Shinichi menanyakan hal itu? Memangnya ia tidak bisa membaca dari paras Rie yang selalu tersenyum sangat kawaii sejak tadi?

“Um!” Rie hanya menjawab ‘Um’ Apa itu artinya?

“Apa? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas?” Shinichi mencoba nego pada Rie untuk mengulangnya.

“Sou dayo, watashi wa ureshii na…Shinichi-kun.” Rie menghembuskan nafasnya lega sambil tersenyum menatap Shinichi.

“Hhh~…Watashi mo !…Sore ga Shiawase..”

Tiba-tiba terdengar alunan sebuah lagu yang entah darimana datangnya, pengamenkah itu? Atau artis dadakan? Entahlah…mungkin hati mereka yang sedang bernyanyi.


***


*kimi no utatta hanauta ga boku no hanauta to kasanatta
Yoku aru koto kamoshirenai kedo sorega okashikute mata waratta
Sonna sasaina guuzen mo totemo ureshiku narundayo
Datte kimi to boku wa dare yori mo tokubetsu datte omoitainda*

*toki doki fuan ni mo naru kara tsui mata sagashite shimaundayo
Me ni mienai ito no youna futari wo tsuyoku tsunagi au mono*

*tatoe hoka no dare ga waratte mo boku wa tsuyoku shinjiteru kara
Ima mo zutto zutto negatte iruyo futari de iru mirai wo
Mae wo muite aruite yuku yo hitori kiri janai kara
Itsu no hika kimi to hora unmei datta ne tte
Issho ni waraeru to ii na*


Oya…Kemana Hanase dan Azuki? Kenapa mereka tidak merayakan festival bersama-sama? Kalian tahu kenapa? Mereka sedang sibuk tertidur jika dimusim gugur karena memang sesuai dengan kondisinya, sedang gugur! Singkat sekali bukan?! ^^


***
‘Happiness is real…
Just once, we are ready to waiting for…
And finding the best solution!
No body knows when it comes
And just ourselves to decide…’

‘with lovely person is wonderful happiness
All is dreaming by pray together…’
***
(Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...