Chapter 9
*End*
Suasana
sangat mengharukan…
Lee
masih tak mengubah posisinya untuk menenangkan Rie. Rie akhirnya tersadar dari
tangisnya dan ingin sedikit menelisik keadaan sekitarnya, setelah dua hari
penuh ia membeku seperti es.
“…Oneesama…”Suara
Rie agak sedikit serak. Mungkin dampak ketika ia berteriak tadi.
“Hai…Yeobo?
Doushite?” Lee kembali bertanya dengan sedikit berbisik pada Rie sembari
mengelus rambut poni yang menghalangi mata Rie untuk melihat sekaligus
menghapus air mata Rie yang hampir setengah mengering.
“…Arigatou .” Suara Rie kali ini sedikit
gemetar namun Lee masih bisa mendengarnya karena ia paham.
“Hai..Doushi…”
Rie ingin mencoba terbangun untuk melihat
rekan-rekannya yang kini masi berada mendampingi Rie. Lee membantunya untuk
duduk menyender diatas ranjang. Rie perlahan-lahan membuka suaranya untuk mulai
bicara dengan salah satu dari mereka.
“…Anu…Gomenasai , Mizumi-chan, Azuki-kun, to…Shinichi-kun.”
Rie sedikit gemetar mengatakannya karena ia tak pernah meminta maaf atau
berterima kasih pada siapapun.
“Hai…Kami memaafkanmu Rie-chan.” Hanase mencoba
meresponnya dengan sedikit senyuman manis dari bibirnya. Azuki dan Shinichi
juga ikut mengangguk menjawab permintaan Rie.
“……Arigatou gozaimasu. Minna…” Kali ini Rie
juga mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.
“Hai.” Shinichi menjawabnya tegas seraya
tersenyum pula pada Rie, senyuman sang Credible Prince, muncul lagi.
Haaaa…akhirnya.
Hanasepun segera memerangkapkan Rie
kepelukannya. Saat ini mereka sudah menjadi teman. Riepun melukiskan senyuman
indah pertama kali dari bibir mungilnya dan sempat membuat Azuki dan Shinichi
terkejut. Ya tuhan…Rie sungguh berbeda dari sebelumnya jika ia tersenyum.
Semuanya terperangkap dalam pesona senyum Rie. Sangat menawan.
Meski Rie belum sempat cuci muka dan
bersih-bersih namun tak mengurangi kecantikan Rie sepersenpun. Lee pun merasa
seperti hidup kembali.
***
Seluruh
warga 1000 years kini sudah mengenal Rie dengan baik. Semuanya menyapanya
ketika berpapasan. Cemoohan dan celotehan yang menyayat hati kini sudah musnah
sudah! Reputasi Rie
kini telah kembali normal.
Rie juga nampak ceria. Ia bisa tersenyum dengan
sangat anggun nan ellegant pada semua orang. Dan sekarang Rie, Hanase, Shinichi
dan juga Azuki bisa berteman baik dengan Rie. Mereka bahagia dengan keadaan
sekarang. Lebih dari bahagia. Hanase juga akhirnya bisa mengobrol tentang
masalah wanita. Ha? Memang ia yakin Rie seorang wanita? Yak!
“Rie-chan…?” Seorang siswi memanggilnya.
“Um? Nande?” Rie berbalik ketika mendengar
seseorang memanggilnya.
“Presdir Hyun Ra memanggilmu, ditaman.”
“…Hai.”
Siswi itu segera pergi seusai memberikan info
pada Rie. Tapi…
“…Etto.
Chotto matte!” Eh? Rie menghentikannya? Ada Apa ini?
“Arigatou.”
“Um!”
Oh ternyata Rie ingin mengucapkan terimakasih
padanya. Akhirnya Rie bisa melakukannya. Mereka berduapun saling tersenyum.
Rie bergegas pergi untuk menemui presdir Hyun
Ra.
#taman
Presdir Hyun Ra sedang asik santai berduduk
dikursi taman yang mungil itu sembari menunggu Rie datang kesana. Tak lama
kemudian Riepun datang.
“Ada apa?”
“Ogenki desuka, yeobo?”
“Genki desu.”
“Ah…yeobo, kemarilah dan duduklah bersamaku.”
Presdir Hyun Ra menyuruh Rie duduk sebangku dengannya dikursi itu, beruntung
tubuh presdir tidak gemuk.
“Kau tidak apa-apa? Aku sempat mendengar kau
tidak masuk selama seminggu? Presdir mengelus lembut
rambut Rie. Terlihat sekali ia seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.
“Yah…Begitulah,
tapi aku sudah membaik, presdir.” *Kling* Rie tersenyum ramah pada presdir Hyun Ra.
“Yokatta ne, yeobo. Aku tak akan mencabut
beasiswamu, kau tak perlu khawatir.”
“Itu bukan masalah bagiku. Namun jika kau
mencabut teman-temanku aku akan sangat kecewa.”
“Ahaha…Justru
aku akan memberikan banyak teman untukmu.” Presdir memang mirip seperti ibu
Rie, sangat begitu penyayang, meski terkadang sedikit berlebihan ketika ia
menyebut Rie dengan Yeobo. Hah…terserahlah!
***
Pukul
15:00 p.m.Seluruh siswa 1000 years bergerombol keluar dari pintu gerbang,
karena sudah waktunya pulang. Shinichi dan Rie juga terdapat disana. Kini mereka menjadi begitu
populer disekolah. Mungkin untuk Shinichi tidak asing banyak yang menyapanya
ketika itu, namun Rie masih kelihatan linglung karena ini baru pertama kalinya
ia diperlakukan seperti itu oleh semuanya.
Jarak Rie dengan Shinichi hanya kurang lebih
50cm. nampaknya Shinichi ingin mengajak Rie pulang bersama. Tapi ia belum
berani karena takut Rie menolaknya lagi.
Shinichi merasa gugup dan tubuhnya gemetar
serta berlumuran keringat dingin. Ia nampak nervous. Tapi ia adalah seorang
Credible Prince yang sangat karismatik. Mana mungkin ia lemah dalam menghadapi
masalah sepele ini?! Ia…mencoba memberanikan diri. Fighting
Shinichi Yama!
“…Saikou…Boleh
aku pulang bersamamu? ” Dengan
hembusan nafas yang tak lazim, Shinichi berusaha untuk bicara padanya. Ia
merasa tegang…betul-betul tegang tak karuan! Kira-kira apa jawaban Rie?!
“Um! ” Kyaaaa….Rie menanggapinya dengan senang hati
dengan senyumnya yang menawan. Sejuk nian hati Shinichi, ia merasa
terombang-ambing. Ia ingin merekahkan senyum kebahagiaannya, namun ia sangat
pintar untuk menyembunyikannya.
Kini mereka berjalan berdampingan dan sudah
lepas dari pintu gerbang sekolah…Tapi sepertinya Shinichi ingin menanyakan
sesuatu hal lagi. Terlihat sangat penasaran.
“…Saikou?”
“Hai?” Kini Rie selalu menjawab
pertanyaan-pertanyaan kecil dari siapapun.
“Jika
kau punya waktu, apa kau mau merayakan festival musim gugur bersamaku?” eh????
Hontou? Manis sekali tawaran Shinichi. Ia ingin merayakan festival bersama Rie.
Amazing.
Rie
sempat mendongak kaget. Ini adalah pertama kalinya ada yang mengajaknya
merayakan festival. Apalagi dimusim gugur. Hmmm..^^
“Ya!”
Rie ternyata sanggup menerimanya, kyaaa. Ia tersenyum dengan sedikit malu-malu.
Sungguh membuat Shinichi tercengang. Ia mampu meluangkan waktunya, biasanya
disaat-saat seperti itu Rie selalu sibuk dengan belajar, tapi kali ini ia ingin
sedikit refresing rupanya.
***
‘cklek’ Rie sudah tiba dirumah dan segera melepaskan atribut yang
dipakainya. Dan cepat-cepat berganti
pakaian. Sementara Lee sudah menyiapkan makanan yang lezat hingga memenuhi meja
makannya.
“Ah..Yeoboku. bagaimana hari ini?
Menyenangkan?” Lee menyeruput ramen yang baru saja matang dan disajikan
dimangkuk favoritnya.
“Begitulah…” Hhh` hanya begitulah.
“…Anu…nii-chan?” Kenapa Rie nampak gugup sekali
kelihatannya? Ada apa?
“Doushite? Kau mau aku suapi, yeobo?” Senyum manja Lee sungguh menggelikan. Aish!
“Iie…Etto..Shinichi-kun…mengajakku
merayakan festival musim gugur bersama.”
“Eh?
Lalu?”
“…Aku…menerimanya.”
Rie amat sangat malu mengatakannya pada Lee meski ia kakak kesayangannya.
“Bagus!
Kau harus melakukannya.” Lee menyemangati Rie karena ia ingin Rie bahagia lagi
setelah ia mengalami depresi berat kemarin, ia harus cuci otak.
***
Tepat
tanggal 3 November yaitu hari dimana festival musim gugur tiba. Seluruh pusat
kota Shibuya ramai di kerubungi setiap orang yang sedang menikmati keindahan
panorama kota Shibuya. Dimana disetiap pohon-pohon yang hanya tertinggal
ranting-rantingnya dikalungkan bola-bola lampu warna warni nan indah. Menghiasi
seluruh permukaan kota Shibuya. Juga hari ini tepatnya acara festival ‘Bunkano-hi’ dimana pada saat
tersebut diselenggarakan banyak acara festival yang menyangkut seni dan tradisi bangsa Jepang.
Terdapat beberapa Kabuki-odori yaitu penari
tradisional dari Jepang memakai baju kimono sangat ellegant. Mereka juga
menyuguhkan pelayanan yang amat ramah sehingga membuat pengunjung nyaman berada
ditempat tersebut.
Bola-bola lampu yang kerlap-kerlip nan indah
dan sedap dipandang mata tak sama sekali membuat pusat kota berantakan, itu
memang seni dan tradisi.
Kini Shinichi dan juga Rie sudah berada
dilokasi. Tampaknya mereka hanya berdua? Ya! Benar mereka hanya berdua. Sengaja
Shinichi memang sudah merencanakannya dengan matang.
Nampaknya Rie sangat terkagum-kagum menikmati
pemandangan disekitarnya. Karena memang kenyataannya Rie tidak pernah keluar
rumah apalagi untuk merayakan festival bersama seorang teman. Itu sangat
mustahil baginya.
Namun sekarang ia sedang menjadi liar dari
dunia pendidikannya. Artinya ia sedang benar-benar mengamati seperti apa wujud
dunia luar pada malam hari. Kakkoi na! Wajah Rie sedikit innocent juga sedikit
cengo ketika melihat para Kabuki-odori menari-nari sangat lihai disetiap
gerak-gerik tangannya.
Kali ini Rie sama sekali tidak terlihat seperti
orang jenius atau Wolf girl sekalipun. Ia lebih mirip….Anastasya Shpagina? Ah
tidak terlalu cantik.. Ah, tapi masih ada sari-sari yang menempel darinya.
Harionago, tidak juga karena ia menyeramkan, Rie sedang tidak menyeramkan kali
ini. Green Goblin? Dia tidak berwarna hijau. Cow cow?
Ia juga bukan atlit senam comedy. Ah…sudahlah, ia nampak seperti orang bodoh.
Rie
sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada siapapun selain pada permukaan
kota Shibuya. Ia menelisik setiap detail desain-desain serta rangkaian bola
yang mengalung diranting pohon, ia juga menyaksikan tari tradisional Jepang dan
ia juga benar-benar merasakan tradisi Jepang yang selama ini sempat ia lupakan.
Shinichi hanya tersenyum memandangi Rie yang
begitu antusias. Shinichi juga merasa senang karena Rie menikmatinya.
Mereka
mengelilingi setiap sudut kota Shibuya. Juga mengarungi jalanan setapak yang tak ada
ujungnya. Aroma malam hari membuat suasana semakin damai. Apalagi untuk
sepasang kekasih, aish!! Cieee..
Tapi Shinichi dan Rie bukan semacam itu. Pasti
kalian mengerti!
Sekarang Shinichi dan Rie sedang berada disekitar
jembatan yang terdapat di tengah-tengah kota. Dengan disertai pohon-pohon
dengan bola-bola lampu sebagai dedaunnya. Tak kalah indahnya dengan suasana di
jalan utama tadi.
Rie menghirup udara malam hari, sangat menusuk
hidung…dingin…
“Saikou…” Shinichi yang berdiri disamping Rie
baru mulai membuka suaranya sedari tadi.
“Hai? Doushite?” Rie menjawab namun
pandangannya tetap lurus melihat pesona kota Shibuya.
“…Apa kau merasa bahagia?” Shinichi menanyakan
hal itu? Memangnya ia tidak bisa membaca dari paras Rie yang selalu tersenyum
sangat kawaii sejak tadi?
“Um!” Rie hanya menjawab ‘Um’ Apa itu artinya?
“Apa? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas?”
Shinichi mencoba nego pada Rie untuk mengulangnya.
“Sou
dayo, watashi wa ureshii na…Shinichi-kun.” Rie menghembuskan nafasnya lega
sambil tersenyum menatap Shinichi.
“Hhh~…Watashi
mo !…Sore ga Shiawase..”
Tiba-tiba
terdengar alunan sebuah lagu yang entah darimana datangnya, pengamenkah itu?
Atau artis dadakan? Entahlah…mungkin hati mereka yang sedang bernyanyi.
***
*kimi no utatta hanauta ga boku no hanauta to
kasanatta
Yoku aru koto kamoshirenai kedo sorega
okashikute mata waratta
Sonna sasaina guuzen mo totemo ureshiku
narundayo
Datte
kimi to boku wa dare yori mo tokubetsu datte omoitainda*
*toki doki fuan ni mo naru kara tsui mata
sagashite shimaundayo
Me ni mienai ito no youna futari wo tsuyoku
tsunagi au mono*
*tatoe
hoka no dare ga waratte mo boku wa tsuyoku shinjiteru kara
Ima mo zutto zutto negatte iruyo futari de iru
mirai wo
Mae wo muite aruite yuku yo hitori kiri janai
kara
Itsu no hika kimi to hora unmei datta ne tte
Issho ni waraeru to ii na*
Oya…Kemana Hanase dan Azuki? Kenapa mereka tidak merayakan festival bersama-sama? Kalian tahu
kenapa? Mereka sedang sibuk tertidur jika dimusim gugur karena memang sesuai
dengan kondisinya, sedang gugur! Singkat sekali bukan?! ^^
***
‘Happiness is real…
Just once, we are ready to waiting for…
And finding the best solution!
No body knows when it comes
And just ourselves to decide…’
‘with lovely person is wonderful happiness
All is dreaming by pray together…’
***
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar