Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 2


   Chapter 2 
***

#dikelas…….

Terlihat seorang Saikou Rie sedang terlalu serius manatapi bukunya ah, tepatnya membaca buku karena tak mungkin orang sepertinya hanya menatapi….dan…sangat serius. Tiba-tiba….’sreeeettt’ pintu kelas terbuka, ternyata Shinichi Yama baru tiba dikelas, hhh`` ia telat 5 menit ternyata.

“Ohayo….” Ucap Shinichi pada semua warga kelas 2-B sambil tersenyum sangat areumdawo, ‘kakoii ne’..

“Ah…Shinichi Ohayo.” Azuki menyapanya dengan sangat gembira sekali.

“Ohayo…Saikou J” Oh no…Shinichi mencoba memberanikan diri untuk menyapa Rie pagi-pagi begini, usaha yang bagus ;)

“Ohayo.” Seperti biasa Rie menjawab sapaannya tanpa menengok bahkan melirikpun pada Shinichi. Benar-benar.

“Buku apa yang kau baca?” Tanpa menyerah Shinichi tetap mengajak Rie berbicara.

“……..” Tidak…Rie hanya memperlihatkan cover buku yang dibacanya pada Shinichi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Oh….Bagus. Sejarah.” Hanya itu yang dapat Shinichi katakan untuk merespon tindakan Rie.

Ternyata buku sejarah yang dibaca oleh Rie berisikan 300 halaman lebih tentang para ilmuan dunia -____-. Rajin sekali ya Saikou Rie, memang kutu buku yang bisa diandalkan.

Berhubung untuk jam kelas pertama Chiba-sensei tidak datang maka Shinichi lah yang mengisi waktu luang itu, entah sesuatu apa yang terlintas dipikiran Shinichi sehingga ia mau menggantikan Chiba-sensei.

“Baiklah semua…karena Chiba-sensei tidak datang bagaimana kalo kita bermain game?”

“Game? Wahhh…ide yang bagus Shinichi, rupanya kau bisa membaca pikiran kami kalau kami sangat menyukai game.” Seru Yoka orang paling malas dikelas.

“Haha…baiklah permainannya adalah mencari kosakata sebanyak-banyaknya yang kalian ketahui. Aku akan menulis kosakatanya untuk memulainya.” Semuanya sangat memperhatikan Shinichi sang credible prince yang sedang menulis didepan, sangat karismatik dan penuh sensasi :3.

But…Lagi-lagi Rie tak memperhatikan orang  yang sedang berbicara didepan sekalipun, ia hanya fokus terhadap apa yang sedang dibacanya. Ia cukup hanya memasang telinganya untuk mendengarkan tanpa harus memperhatikan.

“Baiklah…silakan kalian cari kosakata dari bahasa inggris sebanyak-banyaknya dan tidak ada batasan. Dan harus menurut huruf yang tetera disini. Mulai..!”

Semua warga kelas 2-B mulai sibuk berlomba-lomba mencari kosakata. Tiba- tiba Shinichi mendapati Rie yang hanya duduk sambil membaca buku sejarah para ilmuan. Sebenarnya Shinichi sedikit agak kecewa karena merasa ada seseorang yang tidak memperhatikannya. Sudahlah…

“Yak…Ada yang sudah dapat ayo silakan maju kedepan. Yak Hanase kau duluan yang mengacungkan tangan.”
Hanase berhasil menulis sebanyak 20 kosakata dalam bahasa inggris, sugoi..! “ waw…kau hebat Hanase.

Ayo siapa lagi?” semuanya terus berlomba-lomba untuk mendapatkan kosakata hingga akhirnya mereka semua kehabisan bahan untuk menulis sisa kosakata yang belum mereka temukan.

“Ada lagi?” Shinichi terus memandangi Rie yang enggan ikut berpartisipasi dengan yang lain. Dan akhirnya…

“Saikou! Kau mau mencoba?” Tetap ramah dan karismatik sapaan sang credible prince.

Tanpa jawaban, dan satu kelaspun hening menyaksikan Rie untuk maju kedepan, tanpa ragu lagi Rie langsung menuliskan sisa dari kosakata yang belum mereka cantumkan disana, Rie menambahkan 100 kosakata sekaligus…waww perfect, semua warga kelas 2-B takjub melihatnya.

“Wah…sugoi.. Rie, bagaimana bisa?!” Puji salah seorang siswa paling aktiv berolahraga dikelas, Asega.

“Aku saja belum pernah menemukan sampai 50 kosakatapun.. ” satu lagi pujian keluar dari mulut Kao teman Asega yang juga jago main softball.

“Tuhan benar-benar bersamamu Rie-chan..” Hanase mendesis lebih tepatnya mengucapkan rasa syukur yang sudah menjadi ciri khas ketika ia berdoa.

‘Tok…Tok..tok..’

Seorang siswi dari kelas 2-D tiba-tiba memanggil Rie. “Maaf…aku ingin bertemu Saikou Rie. Kau dipanggil keruangan presdir Hyun Ra sekarang.”

“Wakatta.” Jawaban singkat..! merekapun meninggalkan ruang kelas dan Rie segera menuju ruang presdir.
Seperti biasa, setiap Rie keluar kelas atau menjelajah kemanapun pasti kalimat-kalimat yang cemoohan mulai menyerang telinganya, bersiaplah menjadi orang dungu selama 10 menit…
Akhirnya sampai diruangan presdir.


#ruanganPresdir

‘Tok…tok…tok…

“Yak masuklah Saikou Rie putri sulungku.” Hah apa maksud dari putri sulung? “duduklah…aku tidak melarangmu.” Ucapan presdir Hyun Ra memang sangat konyol.

“Sumimasen, ada apa presdir memanggil saya?” Sejujurnya Rie hanya berani bertanya pada presdir. Payah !

“Aku hanya ingin tahu perkembanganmu semester ini. Bagaimana kelas barumu? Apa mereka mau
menerimamu?” Wanita itu berbicara sambil memutar-mutar kursi kehormatannya dan mengelus-elus rambut pendeknya.

“Segala peraturan bukannya dibuat untuk dipatuhi, jika mereka menolakku maka yang akan berurusan bukan aku.” Jawaban yang dipikirkan sangat matang namun agak berbelit.

“Haaa…baguslah mereka mau menerimamu. Tapi kau masih bersedia untuk menjadi siswa disini bukan? Aku sempat mendengar rumor yang kurang excited tentang dirimu, apakah sesuatu terjadi padamu yeobo?”

“Apapun yang terjadi dengan masalah pribadiku aku harap tak seorangpun mengoreknya. Aku menjadi siswa disini untuk meluruskan tujuanku.” Tetap saja sisi dinginnya muncul secara tiba-tiba meski didepan presdir. Sadarkah ia sedang berhadapan dengan presdir?

“Kau menganggap sebagian hal yang terjadi padamu tidak begitu penting yeobo? Termasuk rumor-rumor itu? Bukannya kau memikirkan reputasimu? Hh` kau memang begitu tertutup.” Presdir mengelus kepala Rie dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang seperti pada anak kandung saja.
“Dengar yeoboku…aku mungkin telah mengorek masalah pribadimu sedikit, tapi ingat jika reputasimu menurun kau akan sangat sulit memperbaikinya. Jadi jangan selewengkan hal kecil sekecil apapun.”

Rie hanya terdiam mendengar nasihat presdir Hyun Ra. Presdir Hyun Ra memang sudah seperti ibu Rie sendiri sehingga beliau bersedia memberikan beasiswa kepada Rie karena ia juga berprestasi. Baikkan presdir ?! :3
“Kau harus lebih tenang, oke Rie Yeobo? Lakukan dari yang paling kecil dulu.” Senyuman presdir Hyun Ra mengakhiri perbincangan mereka. Dan Rie pun meninggalkan ruangan presdir.

‘cklek’


***


#pulangsekolah

Semua siswa 1000 years berlarian mencari tempat teduh karena hari ini mereka pulang dihalang oleh hujan deras, sangat deras….
Rie baru keluar menuju gerbang sekolah beruntungnya dia membawa payung jadi selamatlah ia untuk pulang. Ia ingin segera pulang kerumah, tentunya orang seperti Rie tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk menunggu hujan redapun tak mau maka dari itu ia selalu sedia payung sebelum hujan.

Sementara Shinichi hanya seorang diri benar-benar terlihat kedinginan didekat gerbang sekolah sambil berteduh karena  Hanase dan Azuki sudah pulang mereka tidak punya jadwal tambahan dan juga tak mungkin Shinichi pulang hujan-hujanan bisa-bisa ia jatuh sakit, flu, batuk, demam dan segala macam komplikasi, sistim imunnya agak lemah jadi ia mudah terserang penyakit. Hhhh`

‘sssrreeeetttt..’
Tanpa sengaja Rie nyaris melewati gerbang dan ia melihat Shinichi sedang sengsara disana. Dengan baik hatinya dan pertama kalinya Rie membuka hati atau lebih tepatnya punya hati, Ia merasa kasihan serta iba melihat Shinichi setengah sekarat kedinginan.

‘Teduh..,terasa teduh lebih teduh dan sedikit terasa ternaungi dari derasnya air hujan’

DEG..! Saikou…Shinichi terkejut mendapati Rie yang berdiri disampingnya seraya menaungi Shinichi.

“….Nani yatterun desuka Saikou?” Shinichi bicara terbata-bata bukan karena nervous tapi ia sangat sangat kedinginan.

“Sebaiknya kau pulang sekarang, masih lama untuk menunggu reda.” Bicara…lebih dari satu kata, amazing…Shinichi terbelalak mendengar kalimat Rie, karena baru kali ini ia bicara menggunakan kalimat.

“…..Demo…” belum sempat Shinichi menjawab…

“Iko…sudah petang.” Ajakan pertama kali Rie pada Shinichi, membuat Shinichi terasa lebih dingin dari es, oh my god…

Shinichi akhirnya pulang bersama Rie jika bukan karena Rie yang mengajaknya mungkin dia akan tetap berdiri diambang pintu gerbang menunggu hujan reda -__-.

#perjalananpulang

“……………………….” Hening…belum ada yang memulai perbincangan, Shinichi ataupun Rie, tidak mungkin.
Seperti terdengar dentingan lagu Love Rain dalam hati Shinichi…’ bioneun joenyoek keunyeo moseub boatceo…’

“ (Ck! Apa yang kupikirkan, menjijikan!)” Shinichi bergumam dalam hati.
Bersamaan dengan itu dentingan musik gitar Toom yoo nai jai terlintas dibenak Rie, sangat merdu…sepertinya mereka berdua menikmati masing-masing musik imaginer mereka. Apakah ada pentas musik atau semacamnya dalam pikiran mereka oh ya Tuhan…seperti dalam dorama saja.

“Aku tidak tahu rumahmu.” Oh Benarkah…Rie yang memulai perbincangannya…gentle women.

“…Ng…aku bisa pulang naik bis, atau jalan kaki.”

“Aku tidak yakin hujan akan menyelamatkanmu.” Seperti syair dalam puisi…kenapa Rie membalas seidiomatis itu.

“Bolehkah aku menginap dirumahmu ?” Dengan reflek nya Shinichi menawarkan dirinya untuk meminjam kamar orang lain untuknya tidur.

Deg….

“Apa maksudmu?”

“Ibuku sedang tidak dirumah sekarang ia sedang berada ditempat nenekku. Bukankah kau bilang hujan tidak akan menyelamatkanku? Lalu maukah kau menyelamatkanku?”

Rie pun terbelalak hingga terlihat iris matanya yang berwarna abu-abu sangat kakoii apalagi pada saat malam hari tapi pertanyaan macam apa itu sungguh memalukan tak pernah sebelumnya Rie mendengar kata-kata macam itu sangat menusuk.

“Aku tidak yakin.” Berusaha Rie mencegahnya. Namun masih ada rasa iba pada Shinichi meski ia seorang laki-laki tapi sepertinya keadaannya sudah tidak memungkinkan.

“Kalo begitu kau harus tarik kembali ucapanmu tadi itu.” Shinichi mencoba bernegosiasi.

“Aku tinggal bersama kakakku.” Hampir saja mereka bertengkar.

“Aku akan menjelaskannya.” Jawaban yang sangat menyejukan hati dari sang credible prince.

Merekapun berjalan menuju rumah Rie, mulai terdengar alunan music Savior Of Song milik Nano yang dipersembahkan untuk Rie. Shinichi tersenyum tipis pertanda kemenangan.

#rumahSaikouRie

Akhirnya mereka tiba dirumah Rie, mereka segera membersihkan diri dan berganti pakaian , pakaian seragam mereka basah kuyup terutama milik Shinichi. Setelahnya Rie memberi pinjam baju milik kakaknya pada Shinichi karena ukurannya hampir sama.
Pukul 20.00 p.m Kakak Rie belum juga pulang. Tiba-tiba telpon berdering dan Riepun segera mengangkatnya.

‘PIP’

“Moshi-moshi, Rie kau sudah pulang, nak?” Terdengar suara kakaknya Rie ditelpon yang sepertinya sedang terkena musibah.
Sesungguhnya Rie sangat tidak suka atas kalimat yang barusan kakaknya ucapkan terhadap Rie, seperti memperlakukan anak berumur 5 tahun.

“Hai.” Jawaban singkat yang diberikan Rie pada kakaknya.

“Haaa…syukurlah, oh ya aku tidak akan pulang malam ini, disini hujan nya sangat deras mungkin aku akan pulang besok pagi. Kau tak apa apa bukan kutinggal sendiri?”

“Wakarimashita.”

“Yosh…Oyasumi, jaga dirimu nak, ok.”

‘PIP’

Kakaknya Rie bernama Samazama Lee, dia sangat berbeda dengan Rie dia sangat perhatian, baik, penyayang dan agak sedikit cuek tapi dia juga pintar meski terkadang menyikapi Rie seperti pada anak TK. Dia bercita-cita ingin menjadi psikolog dan sekolah tinggi tapi ayahnya tidak mengijinkan. Maka dari itu ia sedikit bisa membaca pikiran dan karakter seseorang. Dia sangat menyayangi Rie, semenjak orangtua mereka meniggal hanya Lee yang mengurus Rie. Jadi wajar saja jika ia sangat mengkhawatirkan Rie.

“Kakakmu menelpon?” Pertanyaan Shinichi yang pertama membuka pembicaraan.

“Dia akan pulang besok pagi.” Rie beralih kedapur untuk membuat susu hangat.

Tak lama kemudian Rie kembali membawa segelas susu hangat untuk Shinichi, hanya untuk Shinichi. Kemudian ia meletakkannya tepat dekat Shinichi yang sedang memandangi foto Rie dan kakaknya Samazama Lee.

“Ini kakakmu? Hh` tidak mirip…hahaha” Shinichi tertawa memandangi foto itu sambil membandingkan dengan Rie yang asli. Jahat sekali membandingkan kakaknya dengannya, tentu saja sudah jelas berbeda. Rie hanya terdiam menerima kenyataan, dia begitu pasrah.

“Eh? Untukku?” Tanya Shinichi sambil menunjuk segelas susu hangat yang dibuat Rie barusan.

“Minumlah, setelah itu istirahat.” Baiknya hanya berupa saran yang dilontarkan Rie.

“ (dia tidak seburuk yang mereka pikirkan, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk, dia masih misterius).”
Shinichi bergumam dalam hati lebih tepatnya ia sedang menilai Rie secara diam-diam.

Setelah Shinichi meneguk segelas susu hangat lalu ia segera pergi tidur dan beristirahat diatas sofa, karena ia sadar bahwa ini bukan rumahnya dan dia tidak berhak bertindak semena-mena, masih beruntung Rie menyelamatkannnya dari hujan. Sedangkan Rie sudah pergi kekamarnya tak peduli Shinichi tidur disofa atau dilantai, dia sudah terlalu baik malam ini. Hhhh…`

Pukul 21:45 p.m

Hening…………………

Tiba-tiba………………
“Okasann…….hhhhzzzzz…dingin sekali, tolong aku okasan hhhhhhzzzzz….” Ternyata Shinichi terkena demam sampai ia mengigau minta tolong pada ibunya.

“Hhhzzzzz…..oka…san…o…ka…san….to..long…a…ku…hhhzzzzz…..”

Desahan Shinichi pun membangunkan Rie yang sedang tertidur nyenyak. Dan Riepun menuju ruang tengah dimana Shinichi tertidur.

“Uhh…nanda?” Sambil mengerjap-ngerjapkan mata Rie menelisik siapa yang barusan mendesah meminta tolong.

Dan saat Rie tersadar bahwa itu adalah Shinichi ia langsung terperenjat kaget sekaligus terkejut seperti mendapatkan surprise.

Ternyata Rie mendapati Shinichi sudah sekarat dibawah tepatnya Shinichi sudah tergeletak diatas lantai dan keadaannya sudah tidak memungkinkan, mukanya pucat pasi, dan badannya panas hendak mencapai suhu 35 derajat celsius. Beruntung Rie memiliki termometer jadi ia bisa tahu suhu badan Shinichi.

Rie sangat gelagapan dan begitu panik apa yang harus ia lakukan melihat Shinichi sakit parah seperti inipun baru pertama kali.

“…Oka…..san….hhhzzzzz…” sekali lagi Shinichi mendesah memanggil ibunya.

“Shinichi?...Kau masih bisa bertahan? Bertahanlah Shinichi!” Ya Tuhan….tak pernah dijumpai seorang Saikou Rie bersikap sepanik ini.

Rie mencoba menggendong Shinichi kekamarnya karena tak mungkin ia menggeletakkan Shinichi dilantai begitu saja seperti ikan tuna yang sudah mati. Rie berusaha sekuat tenaga untuk menggendong Shinichi karena ia seorang laki-laki tentunya lebih berat daripada Rie.

“Hhhhhh……………```` akhirnya.”  Yes! Akhirnya Rie berhasil menggendong dan memindahkan Shinichi kekamarnya. Sekuat itukah Saikou Rie? Haha.
Sekarang apa yang harus ia lakukan ? Rie memandangi Shinichi yang sudah setengah tak sadarkan diri…
‘apa kau separah ini hanya untuk sakit demam?’


***









’everyone discovered difficulties
 they could think to get solution’
(Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...