Chapter 2
***
#dikelas…….
Terlihat
seorang Saikou Rie sedang terlalu serius manatapi bukunya ah, tepatnya membaca
buku karena tak mungkin orang sepertinya hanya menatapi….dan…sangat serius.
Tiba-tiba….’sreeeettt’ pintu kelas terbuka, ternyata Shinichi Yama baru tiba
dikelas, hhh`` ia telat 5 menit ternyata.
“Ohayo….”
Ucap Shinichi pada semua warga kelas 2-B sambil tersenyum sangat areumdawo,
‘kakoii ne’..
“Ah…Shinichi Ohayo.” Azuki menyapanya dengan
sangat gembira sekali.
“Ohayo…Saikou J” Oh no…Shinichi mencoba memberanikan diri
untuk menyapa Rie pagi-pagi begini, usaha yang bagus ;)
“Ohayo.” Seperti biasa Rie menjawab sapaannya
tanpa menengok bahkan melirikpun pada Shinichi. Benar-benar.
“Buku apa yang kau baca?” Tanpa menyerah
Shinichi tetap mengajak Rie berbicara.
“……..” Tidak…Rie hanya memperlihatkan cover
buku yang dibacanya pada Shinichi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Oh….Bagus.
Sejarah.” Hanya itu yang dapat Shinichi katakan untuk merespon tindakan Rie.
Ternyata buku sejarah yang dibaca oleh Rie
berisikan 300 halaman lebih tentang para ilmuan dunia -____-. Rajin sekali ya Saikou
Rie, memang kutu buku yang bisa diandalkan.
Berhubung untuk jam kelas pertama Chiba-sensei
tidak datang maka Shinichi lah yang mengisi waktu luang itu, entah sesuatu apa
yang terlintas dipikiran Shinichi sehingga ia mau menggantikan Chiba-sensei.
“Baiklah
semua…karena Chiba-sensei tidak datang bagaimana kalo kita bermain game?”
“Game?
Wahhh…ide yang bagus Shinichi, rupanya kau bisa membaca pikiran kami kalau kami
sangat menyukai game.” Seru Yoka orang paling malas dikelas.
“Haha…baiklah
permainannya adalah mencari kosakata sebanyak-banyaknya yang kalian ketahui.
Aku akan menulis kosakatanya untuk memulainya.” Semuanya sangat memperhatikan
Shinichi sang credible prince yang sedang menulis didepan, sangat karismatik
dan penuh sensasi :3.
But…Lagi-lagi
Rie tak memperhatikan orang yang sedang
berbicara didepan sekalipun, ia hanya fokus terhadap apa yang sedang dibacanya.
Ia cukup hanya memasang telinganya untuk mendengarkan tanpa harus
memperhatikan.
“Baiklah…silakan
kalian cari kosakata dari bahasa inggris sebanyak-banyaknya dan tidak ada batasan.
Dan harus menurut huruf
yang tetera disini. Mulai..!”
Semua warga kelas 2-B mulai sibuk
berlomba-lomba mencari kosakata. Tiba- tiba Shinichi mendapati Rie yang hanya
duduk sambil membaca buku sejarah para ilmuan. Sebenarnya Shinichi sedikit agak
kecewa karena merasa ada seseorang yang tidak memperhatikannya. Sudahlah…
“Yak…Ada yang sudah dapat ayo silakan maju
kedepan. Yak Hanase kau duluan yang mengacungkan tangan.”
Hanase berhasil menulis sebanyak 20 kosakata
dalam bahasa inggris, sugoi..! “ waw…kau hebat Hanase.
Ayo siapa lagi?” semuanya terus berlomba-lomba
untuk mendapatkan kosakata hingga akhirnya mereka semua kehabisan bahan untuk
menulis sisa kosakata yang belum mereka temukan.
“Ada lagi?” Shinichi terus memandangi Rie yang
enggan ikut berpartisipasi dengan yang lain. Dan akhirnya…
“Saikou! Kau mau mencoba?” Tetap ramah dan
karismatik sapaan sang credible prince.
Tanpa jawaban, dan satu kelaspun hening
menyaksikan Rie untuk maju kedepan, tanpa ragu lagi Rie langsung menuliskan
sisa dari kosakata yang belum mereka cantumkan disana, Rie menambahkan 100
kosakata sekaligus…waww perfect, semua warga kelas 2-B takjub melihatnya.
“Wah…sugoi.. Rie, bagaimana bisa?!” Puji salah
seorang siswa paling aktiv berolahraga dikelas, Asega.
“Aku saja belum pernah menemukan sampai 50
kosakatapun.. ” satu lagi pujian keluar dari mulut Kao teman Asega yang juga
jago main softball.
“Tuhan benar-benar bersamamu Rie-chan..” Hanase
mendesis lebih tepatnya mengucapkan rasa syukur yang sudah menjadi ciri khas
ketika ia berdoa.
‘Tok…Tok..tok..’
Seorang siswi dari kelas 2-D tiba-tiba
memanggil Rie. “Maaf…aku ingin bertemu Saikou Rie. Kau dipanggil keruangan
presdir Hyun Ra sekarang.”
“Wakatta.” Jawaban singkat..! merekapun
meninggalkan ruang kelas dan Rie segera menuju ruang presdir.
Seperti biasa, setiap Rie keluar kelas atau
menjelajah kemanapun pasti kalimat-kalimat yang cemoohan mulai menyerang
telinganya, bersiaplah menjadi orang dungu selama 10 menit…
Akhirnya
sampai diruangan presdir.
#ruanganPresdir
‘Tok…tok…tok…
“Yak
masuklah Saikou Rie putri sulungku.” Hah apa maksud dari putri sulung? “duduklah…aku tidak melarangmu.”
Ucapan presdir Hyun Ra memang sangat konyol.
“Sumimasen, ada apa presdir memanggil saya?”
Sejujurnya Rie hanya berani bertanya pada presdir. Payah !
“Aku hanya ingin tahu perkembanganmu semester
ini. Bagaimana kelas barumu? Apa mereka mau
menerimamu?” Wanita itu berbicara sambil
memutar-mutar kursi kehormatannya dan mengelus-elus rambut pendeknya.
“Segala peraturan bukannya dibuat untuk
dipatuhi, jika mereka menolakku maka yang akan berurusan bukan aku.” Jawaban yang dipikirkan sangat matang namun agak berbelit.
“Haaa…baguslah
mereka mau menerimamu. Tapi kau masih bersedia untuk menjadi siswa disini
bukan? Aku sempat mendengar rumor yang kurang excited tentang dirimu, apakah
sesuatu terjadi padamu yeobo?”
“Apapun
yang terjadi dengan masalah pribadiku aku harap tak seorangpun mengoreknya. Aku
menjadi siswa disini untuk meluruskan tujuanku.” Tetap saja sisi dinginnya
muncul secara tiba-tiba meski didepan presdir. Sadarkah ia sedang berhadapan
dengan presdir?
“Kau
menganggap sebagian hal yang terjadi padamu tidak begitu penting yeobo?
Termasuk rumor-rumor itu? Bukannya kau memikirkan reputasimu? Hh` kau memang
begitu tertutup.” Presdir mengelus kepala Rie dengan sangat lembut dan penuh
kasih sayang seperti pada anak kandung saja.
“Dengar
yeoboku…aku mungkin telah mengorek masalah pribadimu sedikit, tapi ingat jika
reputasimu menurun kau akan sangat sulit memperbaikinya. Jadi jangan selewengkan hal kecil
sekecil apapun.”
Rie hanya terdiam mendengar nasihat presdir Hyun
Ra. Presdir Hyun Ra memang sudah seperti ibu Rie sendiri sehingga beliau bersedia
memberikan beasiswa kepada Rie karena ia juga berprestasi. Baikkan presdir ?!
:3
“Kau harus lebih tenang, oke Rie Yeobo? Lakukan
dari yang paling kecil dulu.” Senyuman presdir Hyun Ra mengakhiri perbincangan
mereka. Dan Rie pun meninggalkan ruangan presdir.
‘cklek’
***
#pulangsekolah
Semua siswa 1000 years berlarian mencari tempat
teduh karena hari ini mereka pulang dihalang oleh hujan deras, sangat deras….
Rie baru keluar menuju gerbang sekolah
beruntungnya dia membawa payung jadi selamatlah ia untuk pulang. Ia ingin
segera pulang kerumah, tentunya orang seperti Rie tidak ingin menghabiskan
waktu hanya untuk menunggu hujan redapun tak mau maka dari itu ia selalu sedia
payung sebelum hujan.
Sementara Shinichi hanya seorang diri benar-benar
terlihat kedinginan didekat gerbang sekolah sambil berteduh karena Hanase dan Azuki sudah pulang mereka tidak
punya jadwal tambahan dan juga tak mungkin Shinichi pulang hujan-hujanan
bisa-bisa ia jatuh sakit, flu, batuk, demam dan segala macam komplikasi, sistim
imunnya agak lemah jadi ia mudah terserang penyakit. Hhhh`
‘sssrreeeetttt..’
Tanpa sengaja Rie nyaris melewati gerbang dan
ia melihat Shinichi sedang sengsara disana. Dengan baik hatinya dan pertama
kalinya Rie membuka hati atau lebih tepatnya punya hati, Ia merasa kasihan
serta iba melihat Shinichi setengah sekarat kedinginan.
‘Teduh..,terasa teduh lebih teduh dan sedikit
terasa ternaungi dari derasnya air hujan’
DEG..! Saikou…Shinichi terkejut mendapati Rie
yang berdiri disampingnya seraya menaungi Shinichi.
“….Nani yatterun desuka Saikou?” Shinichi
bicara terbata-bata bukan karena nervous tapi ia sangat sangat kedinginan.
“Sebaiknya kau pulang sekarang, masih lama
untuk menunggu reda.” Bicara…lebih dari satu kata, amazing…Shinichi terbelalak
mendengar kalimat Rie, karena baru kali ini ia bicara menggunakan kalimat.
“…..Demo…” belum sempat Shinichi menjawab…
“Iko…sudah petang.” Ajakan pertama kali Rie
pada Shinichi, membuat Shinichi terasa lebih dingin dari es, oh my god…
Shinichi akhirnya pulang bersama Rie jika bukan
karena Rie yang mengajaknya mungkin dia akan tetap berdiri diambang pintu
gerbang menunggu hujan reda -__-.
#perjalananpulang
“……………………….” Hening…belum ada yang memulai
perbincangan, Shinichi ataupun Rie, tidak mungkin.
Seperti
terdengar dentingan lagu Love Rain dalam hati Shinichi…’ bioneun joenyoek keunyeo moseub boatceo…’
“ (Ck! Apa yang kupikirkan,
menjijikan!)” Shinichi bergumam dalam hati.
Bersamaan
dengan itu dentingan musik gitar Toom yoo nai jai terlintas dibenak Rie, sangat
merdu…sepertinya mereka berdua menikmati masing-masing musik imaginer mereka. Apakah ada pentas musik atau
semacamnya dalam pikiran mereka oh ya Tuhan…seperti dalam dorama saja.
“Aku tidak tahu rumahmu.” Oh Benarkah…Rie yang
memulai perbincangannya…gentle women.
“…Ng…aku
bisa pulang naik bis, atau jalan kaki.”
“Aku
tidak yakin hujan akan menyelamatkanmu.” Seperti syair dalam puisi…kenapa Rie
membalas seidiomatis itu.
“Bolehkah
aku menginap dirumahmu ?” Dengan reflek nya Shinichi menawarkan dirinya untuk
meminjam kamar orang lain untuknya tidur.
Deg….
“Apa
maksudmu?”
“Ibuku
sedang tidak dirumah sekarang ia sedang berada ditempat nenekku. Bukankah kau
bilang hujan tidak akan menyelamatkanku? Lalu maukah kau menyelamatkanku?”
Rie
pun terbelalak hingga terlihat iris matanya yang berwarna abu-abu sangat kakoii
apalagi pada saat malam hari tapi pertanyaan macam apa itu sungguh memalukan
tak pernah sebelumnya Rie mendengar kata-kata macam itu sangat menusuk.
“Aku tidak yakin.” Berusaha Rie mencegahnya.
Namun masih ada rasa iba pada Shinichi meski ia seorang laki-laki tapi
sepertinya keadaannya sudah tidak memungkinkan.
“Kalo begitu kau harus tarik kembali ucapanmu
tadi itu.” Shinichi mencoba bernegosiasi.
“Aku tinggal bersama kakakku.” Hampir saja
mereka bertengkar.
“Aku
akan menjelaskannya.” Jawaban yang sangat menyejukan hati dari sang credible
prince.
Merekapun
berjalan menuju rumah Rie, mulai terdengar alunan music Savior Of Song milik
Nano yang dipersembahkan untuk Rie. Shinichi tersenyum tipis pertanda
kemenangan.
#rumahSaikouRie
Akhirnya
mereka tiba dirumah Rie, mereka segera membersihkan diri dan berganti pakaian ,
pakaian seragam mereka basah kuyup terutama milik Shinichi. Setelahnya Rie
memberi pinjam baju milik kakaknya pada Shinichi karena ukurannya hampir sama.
Pukul
20.00 p.m Kakak Rie belum juga pulang. Tiba-tiba telpon berdering dan Riepun segera
mengangkatnya.
‘PIP’
“Moshi-moshi,
Rie kau sudah pulang, nak?” Terdengar suara kakaknya Rie ditelpon yang
sepertinya sedang terkena musibah.
Sesungguhnya
Rie sangat tidak suka atas kalimat yang barusan kakaknya ucapkan terhadap Rie,
seperti memperlakukan anak berumur 5 tahun.
“Hai.”
Jawaban singkat yang diberikan Rie pada kakaknya.
“Haaa…syukurlah,
oh ya aku tidak akan pulang malam ini, disini hujan nya sangat deras mungkin
aku akan pulang besok pagi. Kau tak apa apa bukan kutinggal sendiri?”
“Wakarimashita.”
“Yosh…Oyasumi,
jaga dirimu nak, ok.”
‘PIP’
Kakaknya
Rie bernama Samazama Lee, dia sangat berbeda dengan Rie dia sangat perhatian,
baik, penyayang dan agak sedikit cuek tapi dia juga pintar meski terkadang
menyikapi Rie seperti pada anak TK. Dia bercita-cita ingin menjadi psikolog dan sekolah tinggi tapi ayahnya
tidak mengijinkan. Maka dari itu ia sedikit bisa membaca pikiran dan karakter
seseorang. Dia sangat menyayangi Rie, semenjak orangtua mereka meniggal hanya
Lee yang mengurus Rie. Jadi wajar saja jika ia sangat mengkhawatirkan Rie.
“Kakakmu menelpon?” Pertanyaan Shinichi yang
pertama membuka pembicaraan.
“Dia akan pulang besok pagi.” Rie beralih
kedapur untuk membuat susu hangat.
Tak lama kemudian Rie kembali membawa segelas
susu hangat untuk Shinichi, hanya untuk Shinichi. Kemudian ia meletakkannya
tepat dekat Shinichi yang sedang memandangi foto Rie dan kakaknya Samazama Lee.
“Ini kakakmu? Hh` tidak mirip…hahaha” Shinichi
tertawa memandangi foto itu sambil membandingkan dengan Rie yang asli. Jahat
sekali membandingkan kakaknya dengannya, tentu saja sudah jelas berbeda. Rie
hanya terdiam menerima kenyataan, dia begitu pasrah.
“Eh? Untukku?” Tanya Shinichi sambil menunjuk
segelas susu hangat yang dibuat Rie barusan.
“Minumlah, setelah itu istirahat.” Baiknya
hanya berupa saran yang dilontarkan Rie.
“ (dia tidak seburuk yang mereka pikirkan, setiap orang memiliki sisi
baik dan buruk, dia masih misterius).”
Shinichi bergumam dalam hati lebih tepatnya ia
sedang menilai Rie secara diam-diam.
Setelah Shinichi meneguk segelas susu hangat
lalu ia segera pergi tidur dan beristirahat diatas sofa, karena ia sadar bahwa
ini bukan rumahnya dan dia tidak berhak bertindak semena-mena, masih beruntung Rie
menyelamatkannnya dari hujan. Sedangkan Rie sudah pergi kekamarnya tak peduli
Shinichi tidur disofa atau dilantai, dia sudah terlalu baik malam ini. Hhhh…`
Pukul
21:45 p.m
Hening…………………
Tiba-tiba………………
“Okasann…….hhhhzzzzz…dingin
sekali, tolong aku okasan hhhhhhzzzzz….” Ternyata Shinichi terkena demam sampai ia
mengigau minta tolong pada ibunya.
“Hhhzzzzz…..oka…san…o…ka…san….to..long…a…ku…hhhzzzzz…..”
Desahan Shinichi pun membangunkan Rie yang
sedang tertidur nyenyak. Dan Riepun menuju ruang tengah dimana Shinichi
tertidur.
“Uhh…nanda?” Sambil mengerjap-ngerjapkan mata
Rie menelisik siapa yang barusan mendesah meminta tolong.
Dan saat Rie tersadar bahwa itu adalah Shinichi
ia langsung terperenjat kaget sekaligus terkejut seperti mendapatkan surprise.
Ternyata Rie mendapati Shinichi sudah sekarat
dibawah tepatnya Shinichi sudah tergeletak diatas lantai dan keadaannya sudah
tidak memungkinkan, mukanya pucat pasi, dan badannya panas hendak mencapai suhu
35 derajat celsius. Beruntung Rie memiliki termometer jadi ia bisa tahu suhu
badan Shinichi.
Rie sangat gelagapan dan begitu panik apa yang
harus ia lakukan melihat Shinichi sakit parah seperti inipun baru pertama kali.
“…Oka…..san….hhhzzzzz…” sekali lagi Shinichi
mendesah memanggil ibunya.
“Shinichi?...Kau masih bisa bertahan?
Bertahanlah Shinichi!” Ya Tuhan….tak pernah dijumpai seorang Saikou Rie
bersikap sepanik ini.
Rie mencoba menggendong Shinichi kekamarnya
karena tak mungkin ia menggeletakkan Shinichi dilantai begitu saja seperti ikan
tuna yang sudah mati. Rie berusaha sekuat tenaga untuk menggendong Shinichi
karena ia seorang laki-laki tentunya lebih berat daripada Rie.
“Hhhhhh……………```` akhirnya.” Yes! Akhirnya Rie berhasil menggendong dan
memindahkan Shinichi kekamarnya. Sekuat itukah Saikou Rie? Haha.
Sekarang apa yang harus ia lakukan ? Rie
memandangi Shinichi yang sudah setengah tak sadarkan diri…
‘apa kau separah ini hanya untuk sakit demam?’
***
’everyone discovered difficulties
they could think to get solution’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar