Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 4



Chapter 4
***
#selesaiolahraga


“Shinichi…!” Azuki berteriak sambil berlari mengejar Shinichi. Shinichipun segera menengok kebelakang merasa ada yang memanggil dirinya.

“Ah…Azuki. Doushite?” Sambil berlumuran keringat habis berolahraga Shinichi nampak terlihat kakkoi sekali dengan rambutnya yang sedikit basah terkena keringat. Azukipun hendak terpesona melihat ketampanan Shinichi dan masih beruntung ia tidak terpeleset karena lantainya licin akibat keringat Shinichi menetes saking banyaknya.


Sejenak…Azuki segera sadarkan diri karena sedari tadi ia nyaris melayang keudara. “Apa benar kemarin kau sakit? Aku minta maaf karena tidak menjengukmu.” Kini lengan Azuki merangkul bahu Shinichi agar kelihatan lebih akrab. Ciee..

Tapi nampaknya Shinichi sedikit bingung…sakit? Ah iya…Shinichi baru sadar bahwa kemarin ia tidak sekolah karena seragamnya belum kering dan ia juga masih berada dirumah Rie beruntung Azuki tidak datang menjenguknya.

“Ah…ya tiba-tiba saja kemarin perutku mendadak sakit jadi aku tidak masuk.” Alasan yang masuk akal.

“Sou desuka. Yang penting kau sudah kembali aku senang sekali.” Apa itu Azuki dengan bangganya melebarkan senyum ala barbie Licca chan yang padahal Licca chan tidak pernah tersenyum sama sekali meski ia cantik.

“Ah ya…Kau tahu sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan festival musim panas.” Ternyata Azuki mempunyai topik yang sangat menarik.

“Benarkah? Konsep apa yang mereka ambil kali ini?”

“Hhh…sebenarnya aku agak tidak setuju dengan konsep maupun temanya.”

“Hahahaha…memangnya kenapa? Presdir menginginkanmu menjadi boneka misteri? Untuk dijadikan mainan anaknya dirumahnya? Haahha.” Shinichi tertawa puas mengejek Azuki.

“Apa kau ini? Ia mengambil tema Horor Cosplay.” Azuki terlihat sangat memelas sekali saat mengucapkan horor cosplay.

“Eh? Horor cosplay? Menarik… kau tidak suka? Kenapa?” Mereka berdua akhirnya menjumpai subuah kursi panjang yang ukurannya mirip dengan kursi taman, lalu mereka duduk sambil melanjutkan perbincangan. Shinichi mengambil dua kaleng minuman dari freezer yang terletak disamping kursi itu dan memberikannya satu pada Azuki.

“Kau tahu? Itu sangat menyeramkan. Padahal aku berencana ingin me-make over diriku semacam superhero atau anime. Kan lebih keren. Jika aku harus menjadi hantu. Aku akan terlihat sangat menyedihkan dan para wanita takan tertarik padaku.” Azuki sangat sedih sambil meneguk minuman kalengnya.
“Hahaha…kau ini. Kau bilang festival kali ini punya konsep bukan? Seperti apa konsepnya?”
“Dorama…”

“Dorama…Ha! Kesempatan yang bagus.” Shinichi menyeru dan berdiri. Sepertinya ia punya ide yang cemerlang, ia terlihat bahagia.
“…Maksudmu? ” Azukipun bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada otaknya Shinichi.

“Akan kupikirkan nanti. Ayo kita masuk kelas sekarang.” Tiba-tiba saja Shinichi memotong pembicaraannya sampai disana. Iapun segera berganti pakaian dan menuju ruang kelas bersama Azuki.

#dikelas

“Semuanya harap tenang, aku tidak ingin membuang-buang waktu berhargaku.” Chiba-sensei sedang akan memberikan sebuah nasihat atau mungkin pidato.

“Baiklah langsung saja. Kalian pastinya sudah mendengar bahwa minggu depan setelah kalian melaksanakan ujian mid semester sekolah kita akan mengadakan festival musim panas. Konsep dan temanya sudah ditentukan oleh presdir Hyun Ra. Aku sangat berharap kalian bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini. Dan aku membutuhkan seorang koordinator dari kelas ini sebagai penanggung jawab.”

Semua murid kelas 2-B telah menjadi pendengar setia Chiba-sensei saat itu. Dan tanpa bertanya lagi pada murid-muridnya, Chiba-sensei dengan spontan menunjuk Shinichi sebagai koordinator. Waaah…tepat sekali.

“Yak…Shinichi apa kau bersedia?.”

“Eh? Watashi ?” Shinichi terlihat shock saat chiba-sensei menunjuk dirinya.

“Sou desu…Shinichi Yama.”

“….Baiklah akan kulakukan.”
“Bagus Shinichi aku bergantung padamu. Silakan kalian diskusikan dengan semuanya dan semoga beruntung.” Chiba-sensei mengakhiri pembicaraannya dan segera keluar kelas.

Seluruh warga kelas 2-B berkumpul mengelilingi meja Shinichi, hanya satu yang enggan  mengubah posisinya. Saikou Rie ia lebih memfokuskan pada acara membacanya. Sangat sibuk…benar-benar orang sibuk.

“Shinichi…apa menurutmu aku cocok menjadi ratu Harionago, hantu wanita berduri?” Hanase meminta saran pada Shinichi namun tiba-tiba saja mukanya Hanase berubah menjadi menyeramkan. Belum dimake over saja sudah sebegitu seramnya…Rrrr…

“Eh? Nani ? kau yakin? Rambutmu tak sepanjang dia.” Shinichi hampir terlonjak mendengarnya.

“Mudah saja…Hehehehe.”Lagi-lagi tawa yang mirip seperti penyihir hitam terbesit dari bibir Hanase.

“Hahahaa…baiklah baiklah, untuk kostum kalian bisa atur sendiri yang menurut kalian paling amazing. Kelas kita harus menang!” Shinichi sangat bersemangat sekali rupanya.

“Shinichi…..apa kau ingin menyarankan sesuatu padaku?” Hahaha ternyata Azuki belum mendapat ide apapun bahkan untuk dirinya sendiri.

“Umm…Apa ya?” Shinichi harus berpikir untuk Azuki, oh tidak. Hanase pun ikut kebingungan.
Belum ada seorangpun yang mengutarakan pendapatnya untuk Azuki. Mendadak mata Hanase melihat kearah Rie yang sedari tadi tak bangun juga dari tempat duduknya. Lalu….

“Ah, Rie-chan apa kau ingin bergabung bersama kami?....Ayolah Rie-chan kami juga ingin meminta rekomendasi darimu.” Hanase mencoba menawarkan pada Rie dan sepertinya kali ini Rie mau menerimanya. Semua matapun memandang kearah Rie.

Tak lama setelah itu Riepun menghampiri meja Shinicihi.

“Nanda?” Rupanya Rie ingin membantu.

“Etto…Azuki belum menemukan kostum apa yang cocok untuknya. Kau punya saran Rie-chan?” Hanase menjelaskan peristiwa yang belum Rie ketahui.

“Lucifer.”

DEG…

Sangat cekatan. Dan..saran yang bagus.

“Nani? Aku harus menjadi Lucifer? Rie-chan apa aku seburuk itu? Bahkan diantara para demon sekalipun?” Azuki segera menggertak pada Rie, ia pikir Rie memberikan lelucon untuknya. Insting Rie tak pernah salah ia juga selalu menempatkannya sesuai kondisi.

“Ahahaha….Idemu bisa kami terima Saikou. Hahahaha selamat ya Azuki.” Apa? Shinichi memberi ucapan selamat pada Azuki?!

“Yak…Azuki lagi pula inikan dorama jadi kau bisa mengimprovisasi karaktermu, lebih seram lebih baguskan Shinichi?” Senyuman imut Hanase menggemparkan Azuki.

KYAAAAAAA………..

“Apa kalian sudah gila? Kalian telah mencampakkan ku. Aku tidak terima ini.” Azuki benar-benar merasa diremehkan oleh teman-temannya.

“Rie-Ojousan …berikanlah saranmu yang terbaik untukku sekali lagi.” Azuki memohon seraya membungkuk dihadapan Rie layaknya seorang pangeran yang sedang akan meminang seorang putri raja, tapi bukan itu, bukan. Ia lebih menyerupai seorang pengawal sang ratu kegelapan.


Dengan paras bengisnya Rie pun menjawab. “Goblin.” Kacamatanya mengkilat menakutkan seketika dan membuat Azuki terpental keudara.

Gubrak………Ckkkiiiiiitttt….ddduuaarrrr………
Raga Azuki terbang melayang-layang seperti selembaran daun ceri yang sudah kering.

“Azuki? Daijoubu desuka?” Shinichi menggoyahkan tubuh Azuki yang pingsan seketika.

Sepertinya Azuki sangat shock berat mendengar saran dari Rie sampai semuanya harus mencari alat infus untuknya. Sementara Rie hanya menyaksikan dengan tampang innocent nya seraya membetulkan letak kacamatanya.

“…Bbbaiklah…Rie-chan, akan kulakukan.” Akhirnya Azuki menyerah dengan terbata-terbata serta nafas tersengal-sengal, mungkin juga ini bisa menguntungkan dirinya. Hahaha.

“Arigatou ne Rie-chan…” Hanase benar-benar berterimakasih karena dialah Azuki menemukan jalan keluarnya.

“Saikou…apa rencana selanjutnya? Am..maksudku karakter siapa yang akan kau pakai?” Shinichi mencoba bertanya lebih akrab pada Rie sekaligus ia ingin mendapat bocoran darinya.

“…aku tidak ikut.”

“Eh? Nande? Bukankah ini acara yang sangat menarik?” Shinichi masih penasaran dengan jawaban Rie.

“…Aku tidak tertarik.”

Deg…

Rie berbalik meninggalkan Shinichi dan teman-temannya, sepertinya ia merasa bosan dengan suasana kelas yang monoton.


Shinichi mengerutkan dahinya, ia merasa sangat heran atas sikap Rie yang sebegitunya padanya, jelas saja Shinichi merasa sedikit tersakiti.

Berjalan melewati koridor sekolah Rie hanya bisa menunduk dan menutup telinga rapat-rapat. Tak henti-hentinya ia selalu mendapat cemoohan dari para siswa yang juga berkeliaran disekitarnya.

“Wolf girl…nama yang bagus. Apa kau punya makanan dikandangmu yang bisa kau bagi pada kami?”

Langkah Rie terhenti sejenak, ia sontak mendengar ejekan barusan dari seorang siswa kelas 2-A.

“Kurasa taring-taringmu bisa mengepang rambut kami, Hah` ” Sungguh menyayat hati…Tanpa menghiraukannya Riepun mempercepat langkahnya meninggalkan mereka. Ia menuju lokasi kebelakang sekolah, apa itu? Taman. Yak taman yang indah surga para siswa 1000 years.

Rie duduk termenung disebuah kursi memanjang dibawah pohon ceri yang berbuah lebat. Tapi, daripada ia termenung ia memilih untuk membuka buku yang sudah ia bawa yang berjudul Editorial Polythecnic karangan Edwin S.Porter.

Namun baru beberapa halaman Rie membacanya, tiba-tiba datanglah sesosok the dark phantom, musuh kegelapan Rie, Youja Nagata. Hhh` mau apalagi ia mengganggu kedamaian Rie?

“Kau lebih suka membaca ditaman dibandingkan diperpustakaan?”

“…..” tidak ada respon apapun. Itu artinya ia sudah tahu siapa yang datang.

“Setidaknya kau membawa seorang teman kemari, sehingga suasana tidak membosankan.” Dengan santainya ia duduk disamping Rie.

“…Apa urusanmu?”

“Um ? tidak ada. Aku hanya merasa iba melihatmu seorang diri. Apa aku salah menemanimu disini?” Mata coklat Youja menatap kearah Rie seraya ia membungkukan badannya agar bisa melihat wajah Rie yang begitu kawaii.

“Dou demo ii.”

“Sampai kapan kau akan seperti ini Rie? Aku tahu sebenarnya kau muak dengan semua inikan? Sendirian, tidak punya teman yang peduli padamu. Jika aku menjadi dirimu aku akan pindah sekolah dan melupakan orang-orang yang berada disini.” Youja mulai menceramahi Rie, tak ada habisnya pemuda ini meremehkan Rie.

“Aku tidak butuh nasihatmu. Jadi berhentilah berbicara denganku.” Tetap menunduk tanpa beralih dari buku yang sedang dibacanya.

“Kau tidak peduli pada mereka rupanya? Apa kau pura-pura tidak peduli? Sepertinya kau juga sadar cemoohan mereka telah menusuk hatimu, tapi apa pernah kau berpikir tindakanmu menyakiti mereka?”

“….” Rie tidak peduli dengan ucapan Youja.

Dengan seregap Youja mengambil buku yang sedang dibaca Rie dan mencengkram bahu Rie hingga Rie beralih berhadapan dengannya. Tindakan Youja sempat membuat Rie tersentak dan membelalakan matanya yang agak sipit dan menatap tajam Youja.

“Setidaknya kau harus lebih menghargai orang yang mengajakmu bicara dan menatap wajahnya, bukan perlakuan acuh tak acuhmu yang kau tunjukan.” Youja benar-benar hampir meledakkan emosinya pada Rie. Riepun ingin menggertaknya dan melepaskan cengkramannya. Tapi karena tindakan Youja yang sontak membuat Rie sangat ingin meludahinya, ia mengapitkan ibu jari dan jari telunjuknya mencengkrama dagu Rie dan Riepun tak bisa beralih darinya. Sungguh menyebalkan.

“Lepaskan aku, bodoh!” Rie sudah tak tahan atas sikap Youja.Youja sudah bertindak semena-mena padanya. Tapi Youja tak ingin melepaskan cengkramannya, ia tetap teguh.

“Hah? Kenapa? Apakah ini menyakitimu?” Sebuah pertanyaan menantang yang dilontarkan Youja.

Dari kejauhan tepat di lorong utama tanpa sengaja Shinichi melihat dua orang seperti sedang berpacaran, ah tidak…jangan sampai ia salah paham. Shinichi hanya kebetulan melihat mereka karena baru saja ia membuang sampah yang hampir seminggu menumpuk didepan kelas. Penjaga sekolahpun belum melakukan pemeriksaan kesetiap kelas.
“Saikou..Dengan? Youja? Apa yang mereka lakukan?” Rasa penasaran Shinichi mendorong dirinya untuk mendekat ke lokasi kejadian, ia mengintip dari balik pohon sakura yang amat besar yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat Rie dan Youja berada.

“Aku tahu kalau dirimu benar-benar merindukan kebahagiaan bukan? Aku bisa menebak dari caramu membaca buku dan memilih tempat yang cocok saat kau membacanya.”

“…..”

“Kalau memang kau suka menyendiri dan menyukai kesepian kenapa kau tidak membaca buku diperpustakaan? Disana lebih aman dan tenang, bahkan mungkin aku tidak akan mengganggumu. Tapi sayangnya lokasi yang kau pilih tidak begitu kenyataannya. Kau selalu datang kesini padahal minggu kemarin kau bertemu dan sempat berbincang denganku dan kau juga meninggalkanku saat aku hendak bicara padamu. Dan kau juga tahu taman ini merupakan tempat favorit para siswa disini itu artinya akan ada banyak yang mencelamu setelah kau melewati koridor itu. Bukankah tak ada bedanya dengan kau berada dikelasmu yang begitu membosankan?”

“Apa yang Youja katakan? Apa maksud dari semua itu? Ia ingin membuat Rie menderitakah?”  Shinichi ingin sekali berontak, tapi ia tidak boleh ikut mencampuri urusan Rie, berbahaya. Ia hanya boleh mempertajam pendengarannya saja untuk ini.

“…Kau… memang seberapa peduli kau terhadapku sampai kau harus menceramahiku?” Rie menepis lengan Youja dari  dagunya. Ia mendengus kesal. Menyesakkan.

“Hmh… Pertanyaan apa itu Saikou Rie? Jadi kau ingin aku peduli padamu? Kalau begitu apa kau ingin menjadi pacarku?”

Deg…Tsk...Grrrrkkk…

Senyuman manis nan menjengkelkan itu merekah dari bibir merahnya Youja. Tapi tawaran apa itu??? Menggelikkan. Apa ia mengajak Rie untuk berkencan? Tidaakkk…Rie tidak boleh tersugesti atas perkataannya. Ia hanya membual.

Rie hanya terbelalak tanpa mendesah atau menyangkalnya sedikitpun. Ia serasa sesak bernafas apa itu sebuah penghinaan untuknya?
Shinichi pun ikut terkejut hingga ia nyaris tersedak ratu lebah yang sedang mengerubungi bunga sakura yang sedang merekah akibat ia terlalu lama menganga hingga tenggorokannya terasa mengering dan mengerak.

“Apa yang ingin Youja inginkan dari Rie? Ia ingin mengajaknya berkencan? Tidak mungkin, lelucon macam apa ini sangat tidak berbobot sekali.” Shinichi terus menggerutu dalam hati ia sangat ingin mengadukan kekesalannya pada pohon sakura yang tepat dihadapannya, tapi ia tak tega jika setelahnya lengannya harus diperban.

“Ayo…kenapa kau hanya terdiam Rie? Apa itu artinya kau menerimaku?” Konyol…benar-benar konyol. Memuakkan !

“Kau…Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, bodoh!” Kali ini Rie juga meninggalkan Youja sendirian lagi ia membara ingin sekali rasanya ia merendamkan kepalanya kedalam freezer.

“Eh?...Tunggu Rie, kau melupakan bukumu.” Youja berteriak sekali lagi pada Rie yang telah berlari menjauh darinya entah Rie mendengarnya atau tidak ia sungguh sungguh meledak.

***





‘Lied is a stupid thing’
(Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...