Chapter 4
***
#selesaiolahraga
“Shinichi…!”
Azuki berteriak sambil berlari mengejar Shinichi. Shinichipun segera menengok
kebelakang merasa ada yang memanggil dirinya.
“Ah…Azuki.
Doushite?” Sambil berlumuran keringat habis berolahraga Shinichi nampak
terlihat kakkoi sekali dengan rambutnya yang sedikit basah terkena keringat.
Azukipun hendak terpesona melihat ketampanan Shinichi dan masih beruntung ia
tidak terpeleset karena lantainya licin akibat keringat Shinichi menetes saking
banyaknya.
Sejenak…Azuki segera sadarkan diri karena
sedari tadi ia nyaris melayang keudara. “Apa benar kemarin kau sakit? Aku minta
maaf karena tidak menjengukmu.” Kini lengan Azuki merangkul bahu Shinichi agar
kelihatan lebih akrab. Ciee..
Tapi nampaknya Shinichi sedikit bingung…sakit?
Ah iya…Shinichi baru sadar bahwa kemarin ia tidak sekolah karena seragamnya
belum kering dan ia juga masih berada dirumah Rie beruntung Azuki tidak datang
menjenguknya.
“Ah…ya tiba-tiba saja kemarin perutku mendadak
sakit jadi aku tidak masuk.” Alasan yang masuk akal.
“Sou desuka. Yang penting kau sudah kembali aku
senang sekali.” Apa itu Azuki dengan bangganya melebarkan senyum ala barbie
Licca chan yang padahal Licca chan tidak pernah tersenyum sama sekali meski ia
cantik.
“Ah ya…Kau tahu sebentar lagi sekolah kita akan
mengadakan festival musim panas.” Ternyata Azuki mempunyai topik yang sangat
menarik.
“Benarkah? Konsep apa yang mereka ambil kali
ini?”
“Hhh…sebenarnya aku agak tidak setuju dengan
konsep maupun temanya.”
“Hahahaha…memangnya kenapa? Presdir
menginginkanmu menjadi boneka misteri? Untuk dijadikan mainan anaknya dirumahnya?
Haahha.” Shinichi tertawa puas mengejek Azuki.
“Apa kau ini? Ia mengambil tema Horor Cosplay.”
Azuki terlihat sangat memelas sekali saat mengucapkan
horor cosplay.
“Eh?
Horor cosplay? Menarik… kau tidak suka? Kenapa?” Mereka berdua akhirnya
menjumpai subuah kursi panjang yang ukurannya mirip dengan kursi taman, lalu
mereka duduk sambil melanjutkan perbincangan. Shinichi mengambil dua kaleng
minuman dari freezer yang terletak disamping kursi itu dan memberikannya satu
pada Azuki.
“Kau
tahu? Itu sangat menyeramkan. Padahal aku berencana ingin me-make over diriku
semacam superhero atau anime. Kan lebih keren. Jika aku harus menjadi hantu.
Aku akan terlihat sangat menyedihkan dan para wanita takan tertarik padaku.”
Azuki sangat sedih sambil meneguk minuman kalengnya.
“Hahaha…kau
ini. Kau bilang festival kali ini punya konsep bukan? Seperti apa konsepnya?”
“Dorama…”
“Dorama…Ha! Kesempatan yang bagus.” Shinichi
menyeru dan berdiri. Sepertinya ia punya ide yang cemerlang, ia terlihat
bahagia.
“…Maksudmu? ” Azukipun bertanya-tanya apa yang
telah terjadi pada otaknya Shinichi.
“Akan kupikirkan nanti. Ayo kita masuk kelas
sekarang.” Tiba-tiba saja Shinichi memotong pembicaraannya sampai disana. Iapun
segera berganti pakaian dan menuju ruang kelas bersama Azuki.
#dikelas
“Semuanya
harap tenang, aku tidak ingin membuang-buang waktu berhargaku.” Chiba-sensei
sedang akan memberikan sebuah nasihat atau mungkin pidato.
“Baiklah
langsung saja. Kalian pastinya sudah mendengar bahwa minggu depan setelah
kalian melaksanakan ujian mid semester sekolah kita akan mengadakan festival
musim panas. Konsep dan temanya sudah ditentukan oleh presdir Hyun Ra. Aku
sangat berharap kalian bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini. Dan aku
membutuhkan seorang koordinator dari kelas ini sebagai penanggung jawab.”
Semua
murid kelas 2-B telah menjadi pendengar setia Chiba-sensei saat itu. Dan tanpa bertanya lagi pada
murid-muridnya, Chiba-sensei dengan spontan menunjuk Shinichi sebagai
koordinator. Waaah…tepat sekali.
“Yak…Shinichi apa kau bersedia?.”
“Eh? Watashi ?” Shinichi
terlihat shock saat chiba-sensei menunjuk dirinya.
“Sou
desu…Shinichi Yama.”
“….Baiklah
akan kulakukan.”
“Bagus
Shinichi aku bergantung padamu. Silakan kalian diskusikan dengan semuanya dan semoga beruntung.”
Chiba-sensei mengakhiri pembicaraannya dan segera keluar kelas.
Seluruh warga kelas 2-B berkumpul mengelilingi
meja Shinichi, hanya satu yang enggan
mengubah posisinya. Saikou Rie ia lebih memfokuskan pada acara
membacanya. Sangat sibuk…benar-benar orang sibuk.
“Shinichi…apa menurutmu aku cocok menjadi ratu
Harionago, hantu wanita berduri?” Hanase meminta saran pada Shinichi namun
tiba-tiba saja mukanya Hanase berubah menjadi menyeramkan. Belum dimake over
saja sudah sebegitu seramnya…Rrrr…
“Eh? Nani ? kau yakin? Rambutmu tak sepanjang
dia.” Shinichi hampir terlonjak mendengarnya.
“Mudah saja…Hehehehe.”Lagi-lagi tawa yang mirip
seperti penyihir hitam terbesit dari bibir Hanase.
“Hahahaa…baiklah
baiklah, untuk kostum kalian bisa atur sendiri yang menurut kalian paling
amazing. Kelas kita harus menang!” Shinichi sangat bersemangat sekali rupanya.
“Shinichi…..apa
kau ingin menyarankan sesuatu padaku?” Hahaha ternyata Azuki belum mendapat ide apapun
bahkan untuk dirinya sendiri.
“Umm…Apa ya?” Shinichi harus berpikir untuk
Azuki, oh tidak. Hanase pun ikut kebingungan.
Belum ada seorangpun yang mengutarakan
pendapatnya untuk Azuki. Mendadak mata Hanase melihat kearah Rie yang sedari
tadi tak bangun juga dari tempat duduknya. Lalu….
“Ah, Rie-chan apa kau ingin bergabung bersama
kami?....Ayolah Rie-chan kami juga ingin meminta rekomendasi darimu.” Hanase
mencoba menawarkan pada Rie dan sepertinya kali ini Rie mau menerimanya. Semua
matapun memandang kearah Rie.
Tak lama setelah itu Riepun menghampiri meja
Shinicihi.
“Nanda?” Rupanya Rie ingin membantu.
“Etto…Azuki belum menemukan kostum apa yang
cocok untuknya. Kau punya saran Rie-chan?” Hanase menjelaskan peristiwa yang
belum Rie ketahui.
“Lucifer.”
DEG…
Sangat cekatan. Dan..saran yang bagus.
“Nani? Aku harus menjadi Lucifer? Rie-chan apa
aku seburuk itu? Bahkan diantara para demon sekalipun?” Azuki segera menggertak
pada Rie, ia pikir Rie memberikan lelucon untuknya. Insting Rie tak pernah
salah ia juga selalu menempatkannya sesuai kondisi.
“Ahahaha….Idemu bisa kami terima Saikou.
Hahahaha selamat ya Azuki.” Apa? Shinichi memberi ucapan selamat pada Azuki?!
“Yak…Azuki lagi pula inikan dorama jadi kau
bisa mengimprovisasi karaktermu, lebih seram lebih baguskan Shinichi?” Senyuman
imut Hanase menggemparkan Azuki.
KYAAAAAAA………..
“Apa kalian sudah gila? Kalian telah
mencampakkan ku. Aku tidak terima ini.” Azuki benar-benar merasa diremehkan
oleh teman-temannya.
“Rie-Ojousan …berikanlah saranmu yang terbaik
untukku sekali lagi.” Azuki memohon seraya membungkuk dihadapan Rie layaknya
seorang pangeran yang sedang akan meminang seorang putri raja, tapi bukan itu,
bukan. Ia lebih menyerupai seorang pengawal sang ratu kegelapan.
Dengan paras bengisnya Rie pun menjawab. “Goblin.”
Kacamatanya mengkilat menakutkan seketika dan membuat Azuki terpental keudara.
Gubrak………Ckkkiiiiiitttt….ddduuaarrrr………
Raga Azuki terbang melayang-layang seperti
selembaran daun ceri yang sudah kering.
“Azuki? Daijoubu desuka?” Shinichi menggoyahkan
tubuh Azuki yang pingsan seketika.
Sepertinya Azuki sangat shock berat mendengar
saran dari Rie sampai semuanya harus mencari alat infus untuknya. Sementara Rie
hanya menyaksikan dengan tampang innocent nya seraya membetulkan letak
kacamatanya.
“…Bbbaiklah…Rie-chan,
akan kulakukan.” Akhirnya
Azuki menyerah dengan terbata-terbata serta nafas tersengal-sengal, mungkin
juga ini bisa menguntungkan dirinya. Hahaha.
“Arigatou ne Rie-chan…” Hanase benar-benar
berterimakasih karena dialah Azuki menemukan jalan keluarnya.
“Saikou…apa rencana selanjutnya? Am..maksudku
karakter siapa yang akan kau pakai?” Shinichi mencoba bertanya lebih akrab pada
Rie sekaligus ia ingin mendapat bocoran darinya.
“…aku tidak ikut.”
“Eh? Nande? Bukankah ini acara yang sangat menarik?”
Shinichi masih penasaran dengan jawaban Rie.
“…Aku tidak tertarik.”
Deg…
Rie berbalik meninggalkan Shinichi dan
teman-temannya, sepertinya ia merasa bosan dengan suasana kelas yang monoton.
Shinichi mengerutkan dahinya, ia merasa sangat
heran atas sikap Rie yang sebegitunya padanya, jelas saja Shinichi merasa
sedikit tersakiti.
Berjalan melewati koridor sekolah Rie hanya
bisa menunduk dan menutup telinga rapat-rapat. Tak henti-hentinya ia selalu
mendapat cemoohan dari para siswa yang juga berkeliaran disekitarnya.
“Wolf
girl…nama yang bagus. Apa
kau punya makanan dikandangmu yang bisa kau bagi pada kami?”
Langkah Rie terhenti sejenak, ia sontak
mendengar ejekan barusan dari seorang siswa kelas 2-A.
“Kurasa taring-taringmu bisa mengepang rambut
kami, Hah` ” Sungguh menyayat hati…Tanpa menghiraukannya Riepun mempercepat
langkahnya meninggalkan mereka. Ia menuju lokasi kebelakang sekolah, apa itu?
Taman. Yak taman yang indah surga para siswa 1000 years.
Rie duduk termenung disebuah kursi memanjang
dibawah pohon ceri yang berbuah lebat. Tapi, daripada ia termenung ia memilih
untuk membuka buku yang sudah ia bawa yang berjudul Editorial Polythecnic
karangan Edwin S.Porter.
Namun baru beberapa halaman Rie membacanya,
tiba-tiba datanglah sesosok the dark phantom, musuh kegelapan Rie, Youja
Nagata. Hhh` mau apalagi ia mengganggu kedamaian Rie?
“Kau lebih suka membaca ditaman dibandingkan
diperpustakaan?”
“…..” tidak ada respon apapun. Itu artinya ia
sudah tahu siapa yang datang.
“Setidaknya kau membawa seorang teman kemari,
sehingga suasana tidak membosankan.” Dengan santainya ia duduk disamping Rie.
“…Apa urusanmu?”
“Um ? tidak ada. Aku hanya merasa iba melihatmu
seorang diri. Apa aku salah menemanimu disini?” Mata coklat Youja menatap
kearah Rie seraya ia membungkukan badannya agar bisa melihat wajah Rie yang
begitu kawaii.
“Dou demo ii.”
“Sampai kapan kau akan seperti ini Rie? Aku
tahu sebenarnya kau muak dengan semua inikan? Sendirian, tidak punya teman yang
peduli padamu. Jika aku menjadi dirimu aku akan pindah sekolah dan melupakan
orang-orang yang berada disini.” Youja mulai menceramahi Rie, tak ada habisnya
pemuda ini meremehkan Rie.
“Aku tidak butuh nasihatmu. Jadi berhentilah
berbicara denganku.” Tetap menunduk tanpa beralih dari buku yang sedang
dibacanya.
“Kau tidak peduli pada mereka rupanya? Apa kau
pura-pura tidak peduli? Sepertinya kau juga sadar cemoohan mereka telah menusuk
hatimu, tapi apa pernah kau berpikir tindakanmu menyakiti mereka?”
“….” Rie tidak peduli dengan ucapan Youja.
Dengan seregap Youja mengambil buku yang sedang
dibaca Rie dan mencengkram bahu Rie hingga Rie beralih berhadapan dengannya.
Tindakan Youja sempat membuat Rie tersentak dan membelalakan matanya yang agak
sipit dan menatap tajam Youja.
“Setidaknya kau harus lebih menghargai orang
yang mengajakmu bicara dan menatap wajahnya, bukan perlakuan acuh tak acuhmu
yang kau tunjukan.” Youja benar-benar hampir meledakkan emosinya pada Rie.
Riepun ingin menggertaknya dan melepaskan cengkramannya. Tapi karena tindakan
Youja yang sontak membuat Rie sangat ingin meludahinya, ia mengapitkan ibu jari
dan jari telunjuknya mencengkrama dagu Rie dan Riepun tak bisa beralih darinya.
Sungguh menyebalkan.
“Lepaskan aku, bodoh!” Rie sudah tak tahan atas
sikap Youja.Youja sudah bertindak semena-mena padanya. Tapi
Youja tak ingin melepaskan cengkramannya, ia tetap teguh.
“Hah?
Kenapa? Apakah ini menyakitimu?” Sebuah pertanyaan menantang yang dilontarkan
Youja.
Dari
kejauhan tepat di lorong utama tanpa sengaja Shinichi melihat dua orang seperti
sedang berpacaran, ah tidak…jangan sampai ia salah paham. Shinichi hanya
kebetulan melihat mereka karena baru saja ia membuang sampah yang hampir
seminggu menumpuk didepan kelas. Penjaga sekolahpun belum melakukan pemeriksaan
kesetiap kelas.
“Saikou..Dengan?
Youja? Apa yang mereka lakukan?” Rasa penasaran Shinichi mendorong dirinya
untuk mendekat ke lokasi kejadian, ia mengintip dari balik pohon sakura yang
amat besar yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat Rie dan Youja berada.
“Aku tahu kalau dirimu benar-benar merindukan
kebahagiaan bukan? Aku bisa menebak dari caramu membaca buku dan memilih tempat
yang cocok saat kau membacanya.”
“…..”
“Kalau memang kau suka menyendiri dan menyukai
kesepian kenapa kau tidak membaca buku diperpustakaan? Disana lebih aman dan
tenang, bahkan mungkin aku tidak akan mengganggumu. Tapi sayangnya lokasi yang
kau pilih tidak begitu kenyataannya. Kau selalu datang kesini padahal minggu
kemarin kau bertemu dan sempat berbincang denganku dan kau juga meninggalkanku
saat aku hendak bicara padamu. Dan kau juga tahu taman ini merupakan tempat
favorit para siswa disini itu artinya akan ada banyak yang mencelamu setelah
kau melewati koridor itu. Bukankah tak ada bedanya dengan kau berada dikelasmu
yang begitu membosankan?”
“Apa yang Youja katakan? Apa maksud dari semua itu? Ia ingin membuat Rie menderitakah?” Shinichi ingin
sekali berontak, tapi ia tidak boleh ikut mencampuri urusan Rie, berbahaya. Ia
hanya boleh mempertajam pendengarannya saja untuk ini.
“…Kau… memang seberapa peduli kau terhadapku sampai kau harus menceramahiku?” Rie menepis lengan Youja dari dagunya. Ia mendengus kesal. Menyesakkan.
“Hmh… Pertanyaan apa itu Saikou Rie? Jadi kau
ingin aku peduli padamu? Kalau begitu apa kau ingin menjadi pacarku?”
Deg…Tsk...Grrrrkkk…
Senyuman manis nan menjengkelkan itu merekah
dari bibir merahnya Youja. Tapi tawaran apa itu??? Menggelikkan. Apa ia
mengajak Rie untuk berkencan? Tidaakkk…Rie tidak boleh tersugesti atas
perkataannya. Ia hanya membual.
Rie hanya terbelalak tanpa mendesah atau
menyangkalnya sedikitpun. Ia serasa sesak bernafas apa itu sebuah penghinaan
untuknya?
Shinichi pun ikut terkejut hingga ia nyaris
tersedak ratu lebah yang sedang mengerubungi bunga sakura yang sedang merekah
akibat ia terlalu lama menganga hingga tenggorokannya terasa mengering dan
mengerak.
“Apa yang ingin Youja inginkan dari Rie? Ia ingin mengajaknya berkencan?
Tidak mungkin, lelucon macam apa ini sangat tidak berbobot sekali.” Shinichi terus menggerutu dalam hati
ia sangat ingin mengadukan kekesalannya pada pohon sakura yang tepat
dihadapannya, tapi ia tak tega jika setelahnya lengannya harus diperban.
“Ayo…kenapa kau hanya terdiam Rie? Apa itu
artinya kau menerimaku?” Konyol…benar-benar konyol. Memuakkan !
“Kau…Jangan pernah muncul dihadapanku lagi,
bodoh!” Kali ini Rie juga meninggalkan Youja sendirian lagi ia membara ingin
sekali rasanya ia merendamkan kepalanya kedalam freezer.
“Eh?...Tunggu Rie, kau melupakan bukumu.” Youja berteriak sekali lagi pada Rie yang
telah berlari menjauh darinya entah Rie mendengarnya atau tidak ia sungguh
sungguh meledak.
***
‘Lied is a stupid thing’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar