Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 8


Chapter 8
***


#tepisungai

Isak tangis seorang wanita terdengar sedikit menyeramkan ditepi sungai yang terletak dibawah jembatan katulistiwa antara kota Shibuya dengan jalan raya dimalam hari yang tidak terlalu gelap karena belum terlalu larut. Tiada hentinya ia menangis, sepertinya ia sedang mengalami depresi berat, ia nyaris berguling-guling dirumput yang didudukinya. Hhh namun sepertinya ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, sebab kebanyakan orang depresi jalan keluarnya adalah…bunuh diri.

Yak…kenapa kau Saikou Rie? Bersedihkah? Kenapa kau harus berada ditepi sungai, itu sangat berbahaya. Jika ada hewan buas sejenis predator yang memakanmu pasti tangisan Lee akan menggelegar bagai petir angin tornado  yang bisa melanda seluruh kawasan luar Asia.

Ia tak bisa menahan rasa sakit yang menyebar luas keseluruh organ tubuhnya. Air matanya terus berlinang hingga membentuk sebuah pulau mini.

***


‘Turrrruuuuuuuuutttttt’

PIP’

“Moshi-moshi…” Lee mengangkat telpon dari seseorang.

“Lee….Apa Saikou sudah pulang?”

“Um..Mada. Dia belum kembali. Nandesuka ? Shinichi?”

“……..” Tidak ada jawaban sama sekali dari Shinichi.

“Kau…telah mengatakannya?”

“Sou…desu!”

“Umh…Yokatta. Usaha yang bagus. Aku akan menemuinya, pasti dia pergi ke suatu tempat. Arigatou ne Shinichi.”

‘PIP’

Lee bukannya merasa sedih tapi ia malah merasa senang karena Shinichi melakukannya.

Ia pun segera mengambil dan memakai jaket kesukaannya yang berwarna hijau muda dan celana jeans panjang berwarna hitam. Lee keluar dan mengunci pintu dan ia memilih untuk berjalan kaki daripada menggunakan kendaraaan atau semacamnya. Sekarang sudah pukul 20:00 p.m, Lee akan menyusul Rie. Tentunya ia sudah tahu dimana Rie biasa merenung atau menenangkan diri.

Lee segera berlari ketika ia menelisik kesekitar sungai dan mendapati Rie sedang termenung meratapi air sungai yang tak begitu banjir.



Lee dengan cepat-cepat menuruni anak tangga untuk menuju tempat dimana Rie berada. Dan Lee bukannya menenangkan Rie atau memeluknya ia malah meniru posisi duduk Rie. Hhh``.

“…Kau bisa menangis juga Yeoboku? Hm?” Aish…pertanyaan retoris yang sesunggguhnya Lee sudah mengetahui keadaan Rie yang sebenarnya.

“hiks…hiks…hiks…” Rie masih dalam keadaan menunduk dan tak memperlihatkan tangisannya sama sekali. Ia memang tidak pernah ingin menangis dihadapan Lee..Tapi takdir berkata lain kali ini.

“Hah..aku memang sengaja meminta Shinichi melakukan itu. Jadi Shinichi sama sekali tidak bersalah.”

“Hiks…Tapi…itu sungguh membuatku sakit…hiks…Kenapa kau…jahat padaku..hiks..Oneesama.”
Rie ingin sekali memarahi Lee, tapi ia tak mampu menahan isak tangisnya.

“Karena Aku ingin kau bahagia layaknya saat kau masih tinggal di Sapporo.”

“Hiks…Kau selalu berpikir bahwa aku selalu menderita, begitu? Hiks…”

“Hai…Sou desune Yeoboku.” Lee mendaratkan kedua tangannya pada kedua pipi mungil Rie. Dan menatap Rie dalam-dalam. Hhh` seperti bukan kakak dengan adik. Romantic! Kyaaaa!

Tanpa harus menunggu sangkalan dari Rie, Lee segera memeluk Rie erat-erat dan mengecup dengan lembut rambut indah Rie.

“Daisuki…hiks...nii-chan...hiks” Sekali lagi Lee mengecup rambut Rie. Terasa sekali bahwa Lee sangat amat menyayangi Rie sebagai adik kesayangannya. Tentu Lee menyayanginya dari lubuk hati yang paling mendasar. Apakah Rie juga seperti itu?

Riepun menguatkan kedua tangannya untuk enggan lepas dari pelukan Lee, ia begitu merasa hancur dan makin histeris, air matanya mengalir deras membasahi jaket ellegant milik Lee. Rie sangat  membutuhkan sandaran deritanya.

“…Demo..hiks..Otousan ga daisuki…Heu…hiks..hiks…”

“Hai…Wakatta.” Lee memeluknya sambil memejamkan mata, ia juga sempat menitikan air mata dan jatuh kerambut Rie. Padahal Rie baru saja sampoan tadi pagi sejak ia akan berangkat kesekolah. Tapi itu tak jadi masalah jika bisa membuat diri Rie tenang meski hanya setetes air mata. Tidak haram hukumnya sama sekali.

Setelah semua ritual mereka selesai..merekapun segera pulang kerumah dan setelah mereka tiba Lee berupaya untuk menenangkan Rie dengan menyuruhnya pergi tidur dan melupakan kejadian hari ini. Tapi…mustahil sekali Rie akan melupakannya. Ia sedang tidak terjangkit alzheimer saat ini.

“Kau…tidurlah yang nyenyak, Yeoboku! (Cup) ” Lee mengecup kening Rie saat Rie berbaring ditempat tidur dikamarnya yang belum juga mengistirahatkan matanya. Rie hanya memandang keluar jendela yang menempel dengan ranjangnya. Kini air matanya sudah surut.

Lee menutup pintu kamar Rie dan membiarkannya tertidur lelap karena waktu sudah menunjukan pukul 22:15 p.m


***





‘Crying is one way to be silent’
(Author)






#sekolah

Seluruh warga kelas 2-B nampak ceria sekali hari ini. Saling bercanda tawa nampak seperti sebuah keluarga besar. Namun disamping itu rupanya ada 3 orang siswa yang sedang tidak terlihat bahagia seperti yang lain, mereka hanya termenung..merenung…dan seperti sedang bersedih. Memang itu faktanya…saat Shinichi memberitahu yang telah terjadi kemarin petang pada Hanase dan juga Azuki mereka menjadi ikut-ikut setengah depresi. Mereka shock juga mendengar kebenaran yang telah diungkap Shinichi.

Mereka belum melakukan tindakan apapun, mereka hanya diam dikursinya masing-masing dan menatap kosong meja mereka.

Hanase sibuk berdoa dalam hatinya, sepertinya ia belum kekuil sampai ia harus menyibukannya dikelas.

“Hhh…Ya tuhan…dunia apa yang kau ciptakan untuk kami ini? Apa ini sebuah planet kramat? Ya tuhan…dengarkan aku.! Kumohon !” Hanase membaringkan kepalanya lemas kemeja.

“Kita harus mengunjunginya…” Azukipun mulai membuka suara. Ia telah mengemukakan sebuah asumsi yang cukup relevan.

“Sebaiknya jangan sekarang…aku yakin Saikou tidak akan mau menerima kita…terutama aku.”

“Tapi aku sangat merindukannya Shinichi..Ya tuhan…aku ingin sekali bicara padanya.” Hanase mengeluh pada Shinichi.

“Aku rasa ini bukan waktu yang tepat…Aku tidak ingin kalian menambahkan beban perasaan pada Saikou yang sedang merasa down sekarang. Kalian memikirkan dampaknya bukan?” Shinichi mencoba menegaskan argumennya yang belum bisa dipahami Hanase.

“Baiklah…Kita akan membiarkannya tenang selama seminggu.” Eh? Apa itu tidak terlalu lama Azuki? Yang benar saja..

“Jika sampai hari selasa Saikou belum juga masuk, kita baru akan mengunjunginya. Bagaimana?”

“Itu lebih baik…” Azuki menyetujui pendapat Shinichi.

“Haaaahh…Wakarimashita.” Hanase hanya bisa berkeluh kesah.


***


“Yeoboku…Aku membuatkan sup spesial untukmu. Kau harus menghabiskannya ya, nak.” Lee memasuki kamar Rie sembari membawa semangkuk sup daging sapi dengan campuran sea food dan segelas air mineral dinampannya. Lee melihat Rie masih berbaring diranjangnya padahal ini sudah pukul 06:00. Lee juga tidak pergi bekerja hari ini karena dia ingin menjaga Rie yang sedang dalam keadaan kritis.

“Ah..Ternyata kau masih tidur…” But…Rupanya Rie bukannya belum terbangun, matanya sudah melek alias terbuka. Namun jika diperhatikan, pandangan Rie hanya tertuju pada pemandangan diluar jendela kamarnya. Ia juga tidak merespon kedatangan Lee kekamarnya.

Lee mencoba menelisik secara detail setiap lekukan kantung matanya, ‘seperti orang sehabis begadang’. Lee bergumam dalam hati. Saat ia mengingat kejadian semalam ketika ia menyuruh Rie tidur, mata Rie memang masih terbuka. Dan faktanya, Rie tidak tidur semalaman. Pandangannya datar dan kosong. Itulah alasan kenapa kantung mata Rie seperti mata panda.

“…Jadi..semalam kau tidak tidur, nak?” Lee mencoba bertanya yang barangkali ia akan mendapat jawaban atau sedikit respon dari Rie.

Tapi Rie hanya terdiam, terpaku membisu, dia sama sekali tidak menatap Lee bahkan bicara sedikitpun.

Lee menepuk halus pipi Rie dan meraba kening Rie barangkali ia sakit demam. Tapi suhu tubuhnya nampak normal. Hanya otaknya sepertinya sedang tidak bekerja.

“Rie-chan…Daijoubu desuka? Apa yang terjadi padamu? Hei..! sadarlah! Yeobo!”
Lee mengangkat tubuh Rie kepangkuannya dan mengguncangkan secara halus tubuh semampai Rie. Tapi tetap tak ada yang berubah, Rie hanya terdiam. Tatapannya tetap kosong.

Benar dugaan Lee, Rie akan mengalami depresi berat lebih dari peristiwa yang ia alami sebelumnya. Didalam otaknya sudah banyak sekali masalah kehidupannya yang amat rumit dan mengakibatkan dirinya seperti ini.

Lee perlahan-lahan menitikan air mata dan jatuh satu persatu kepipi halus Rie yang sama sekali tak berpengaruh apapun.

“Hiks…Aku sudah memaafkanmu, yeobo. Hiks…” Lee mengatakan itu karena ia sudah tahu Rie akan meminta maaf padanya, hanya saja otak Rie sedang tidak bekerja secara normal dan menyulitkan Rie untuk mengeluarkan suaranya. Lee sempat menangis beberapa menit. Dan ia segera menyadarkan dirinya bahwa Rie tidak akan sembuh dengan mendengar tangisan Lee.

Lalu Lee memutuskan untuk menghubungi Shinichi lanjut ke Hanase serta Azuki. Lee meminta mereka untuk segera datang kerumahnya untuk membantu Lee menyadarkan Rie. Akhirnya mereapun menyetujuinya, kebetulan ini adalah hari minggu, hari libur jadi mereka tidak pergi kemana-mana.

Rencana yang telah mereka buat yaitu mengunjungi Rie pada hari selasa telah mereka gagalkan karena Lee sangat membutuhkannya sekarang, hari ini!

Tak lebih dari satu jam akhirnya merekapun tiba dirumah Rie bersama-sama karena mereka sudah buat janji terlebih dahulu.

‘tok…tok…tok..’

Shinichi yang mengetuk pintunya terlebih dahulu.

‘cklek’  Lee yang membukakannya karena memang tak ada orang lain selain mereka berdua.

“Ah..kalian, ayo masuk!” Lee tersenyum kearah mereka bertiga, namun sepertinya Hanase bertanya-tanya siapa lelaki muda itu? Tampan dan rupawan seperti seorang diva kelas dunia.

“Shinichi…siapa dia?” Hanase berbisik pada Shinichi sebab rasa penasarannya.

“Ia kakaknya Rie, Lee.” Shinichi pun menjawabnya setengah berbisik sambil memasuki rumah Rie yang tak begitu luas dibagian ruang tengahnya.

 *____* ‘BLING BLING’ .

Mata Hanase terbelalak begitu mengetahui bahwa Rie memiliki kakak yang amat tampan. Hanase nampaknya terpesona pada Lee ia enggan melepaskan pandangannya dari pemuda tampan itu.

Lee mengajak mereka bertiga memasuki kamar Rie untuk memberitahu keadaan Rie sekarang.

Mereka begitu terkejut melihat Rie terdampar mengenaskan diranjangnya, memakai kaos putih polos semacam sweter, dan rambutnya yang diurai berwarna coklat muda serta dikerubungi selimut yang menghangatkan tubuhnya.

Mereka sempat terbata-bata dan merasa setengah speechless. Dan menatapnya sedikit nanar.

“Rie sudah seperti itu sejak malam…aku kira ia bisa tidur nyenyak, tapi kenyataannya ia tidak tidur atau memejamkan mata sekalipun.” Lee menjelaskan seadanya kepada mereka bertiga.

“Gomen…aku belum tahu siapa namamu.” Hanase mencoba mengajak Lee berkenalan disaat genting seperti ini?

“Samazama Lee…” Lee merekahkan senyum anggunnya pada Hanase dan sontak membuat Hanase semakin menggeliat ingin mencubitnya, aduh aduh…

“Aaa…Samazama-kun, apa Rie-chan sudah dibawa kedokter?” Kini pertanyaan Hanase lebih spesifik.

“Tidak…Aku tidak akan membawanya kesana, cukup dengan kalian berada disini, disampingnya, kurasa dia akan segera membaik.”

“Um…sudah sejak kapan Rie seperti ini?” Azukipun ikut bertanya.

“Dua hari yang lalu…Hhh…Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada kalian atas segala sikap dan tingkah laku Rie pada kalian. Aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih karena kalian telah bersedia untuk menjadi temannya. Kalian mau mengertikannya. Mungkin selama ini juga Rie tak pernah meminta maaf atau berterima kasih pada kalian. Maka dari itu aku yang mengatakannya untuk mewakilkannya.” Lee menjelaskan semuanya secara rinci, semua yang ingin Rie katakan.

“Um! Nandemonai, Lee. Kami mengerti itu.” Shinichi merespon semua ungkapan Lee.

Hanase ingin mencoba mendekat dan mengajak Rie berbicara…semoga Tuhan bersamanya untuk menolongnya.

“…Rie-chan…Ini aku Hanase. Aku datang kemari bersama Azuki dan juga Shinichi.. Kami sangat merindukanmu, kelas terasa sepi sekali tak ada kau Rie-chan..Hiks…Kami ingin belajar bersama-sama denganmu lagi. Hiks…” Hanase mulai menumpahkan air matanya. Ia segera menghentikan kalimatnya , tak kuat menahan tangis.

“…Aku juga ingin meminta maaf padamu, Saikou. Mungkin aku terlalu cepat mengatakan hal itu padamu. Aku benar-benar minta maaf.” Shinichipun ikut berpartisipasi melanjutkan kalimat Hanase, dan terakhir disusul oleh Azuki.

“…Akupun ingin meminta maaf padamu, Rie. Selama ini aku sudah tidak percaya padamu. Aku merasa tertolong sekali ketika kau mau mengerjakan PR-ku. Aku ingin kau kembali kesekolah dan bergabung dengan kami lagi.”

Segala macam permintaan telah mereka utarakan pada Rie. Tapi belum ada reaksi apapun yang berefek pada Rie.

“Rie mendengarnya, kalian tak perlu khawatir. Hanya butuh beberapa menit.” Lee sangat begitu paham apa yang dipikirkan Rie. Dan setelah 5 menit berjalan sesudah percakapan mereka berlalu. Tk…Tk…Tk..

“…Go…Go…Gomenasai…” Akhirnya Rie mau membuka suaranya. Namun sepertinya agak sedikit rumpang dan tak terdengar begitu jelas. Lee mencoba menghampirinya.

“Nande? Apa yang ingin kau katakan, Yeobo?” Lee memang sangat sangat peerhatian pada Rie.

“…Hks…Gomenasai…Hiks…Gomenasai..GOMENASAAAAAIIII…Aheuu…hiks…hiks..hiks..”.

Akhirnya sebuah teriakan histeris keluar dari mulut Rie setelah sekian lama dan mengisi seluruh bangunan rumah Rie. Terdengar hingga menggema ditelinga mereka. Semua unek-unek yang Rie simpan selama ini dan mengendap selama bertahun-tahun, akhirnya sedah bisa terpecahkan. Kini…Lee, Shinichi, Azuki juga Hanase menyaksikan sendiri betapa meledaknya Rie. Permintaan maafnya yang bisa didengar semua orang kini mereka menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri.

Lee segera memeluk tubuh Rie erat-erat, lebih erat dari kawat tiang listrik. Lee mencoba menenangkan Rie, adik kesayangannya, jangan sampai ia bertindak kriminal terhadap dirinya sendiri.

Hanasepun menjadi sedikit histeris mendengarnya. Azuki segera menenangkannya juga. Kenapa mereka berdua jadi seperti orang kesurupan? Tidak! Tak perlu memanggil paranormal!

Shinichi sempat tertegun sejenak. Tentunya ia juga merasa sangat terharu dan ingin meneteskan air mata. Dan..iapun meneteskanya dengan berbalik membelakangi mereka dan segera menghapusnya.

***



‘Honestly is better way’
(Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...