Chapter 8
***
#tepisungai
Isak
tangis seorang wanita terdengar sedikit menyeramkan ditepi sungai yang terletak
dibawah jembatan katulistiwa antara kota Shibuya dengan jalan raya dimalam hari
yang tidak terlalu gelap karena belum terlalu larut. Tiada hentinya ia
menangis, sepertinya ia sedang mengalami depresi berat, ia nyaris
berguling-guling dirumput yang didudukinya. Hhh namun sepertinya ia
mengurungkan niatnya untuk bunuh diri, sebab kebanyakan orang depresi jalan
keluarnya adalah…bunuh diri.
Yak…kenapa
kau Saikou Rie? Bersedihkah?
Kenapa kau harus berada ditepi sungai, itu sangat berbahaya. Jika ada hewan
buas sejenis predator yang memakanmu pasti tangisan Lee akan menggelegar bagai
petir angin tornado yang bisa melanda seluruh
kawasan luar Asia.
Ia tak bisa menahan rasa sakit yang menyebar
luas keseluruh organ tubuhnya. Air matanya terus berlinang hingga membentuk
sebuah pulau mini.
***
‘Turrrruuuuuuuuutttttt’
‘PIP’
“Moshi-moshi…” Lee mengangkat telpon dari
seseorang.
“Lee….Apa Saikou sudah pulang?”
“Um..Mada. Dia belum kembali. Nandesuka ?
Shinichi?”
“……..” Tidak ada jawaban sama sekali dari
Shinichi.
“Kau…telah mengatakannya?”
“Sou…desu!”
“Umh…Yokatta. Usaha yang bagus. Aku akan
menemuinya, pasti dia pergi ke suatu tempat. Arigatou ne Shinichi.”
‘PIP’
Lee bukannya merasa sedih tapi ia malah merasa
senang karena Shinichi melakukannya.
Ia pun segera mengambil dan memakai jaket
kesukaannya yang berwarna hijau muda dan celana jeans panjang berwarna hitam.
Lee keluar dan mengunci pintu dan ia memilih untuk berjalan kaki daripada
menggunakan kendaraaan atau semacamnya. Sekarang sudah pukul 20:00 p.m, Lee
akan menyusul Rie. Tentunya ia sudah tahu dimana Rie biasa merenung atau
menenangkan diri.
Lee segera berlari ketika ia menelisik
kesekitar sungai dan mendapati Rie sedang termenung meratapi air sungai yang tak
begitu banjir.
Lee dengan cepat-cepat menuruni anak tangga
untuk menuju tempat dimana Rie berada. Dan Lee bukannya menenangkan Rie atau
memeluknya ia malah meniru posisi duduk Rie. Hhh``.
“…Kau bisa menangis juga Yeoboku? Hm?”
Aish…pertanyaan retoris yang sesunggguhnya Lee sudah mengetahui keadaan Rie
yang sebenarnya.
“hiks…hiks…hiks…” Rie masih dalam keadaan
menunduk dan tak memperlihatkan tangisannya sama sekali. Ia memang tidak pernah
ingin menangis dihadapan Lee..Tapi takdir berkata lain kali ini.
“Hah..aku
memang sengaja meminta Shinichi melakukan itu. Jadi Shinichi sama sekali tidak
bersalah.”
“Hiks…Tapi…itu
sungguh membuatku sakit…hiks…Kenapa kau…jahat padaku..hiks..Oneesama.”
Rie
ingin sekali memarahi Lee, tapi ia tak mampu menahan isak tangisnya.
“Karena
Aku ingin kau bahagia layaknya saat kau masih tinggal di Sapporo.”
“Hiks…Kau
selalu berpikir bahwa aku selalu menderita, begitu? Hiks…”
“Hai…Sou
desune Yeoboku.” Lee mendaratkan kedua tangannya pada kedua pipi mungil Rie.
Dan menatap Rie dalam-dalam. Hhh` seperti bukan kakak dengan adik. Romantic!
Kyaaaa!
Tanpa
harus menunggu sangkalan dari Rie, Lee segera memeluk Rie erat-erat dan
mengecup dengan lembut rambut indah Rie.
“Daisuki…hiks...nii-chan...hiks” Sekali lagi Lee mengecup rambut
Rie. Terasa sekali bahwa Lee sangat amat menyayangi Rie sebagai adik
kesayangannya. Tentu Lee menyayanginya dari lubuk hati yang paling mendasar.
Apakah Rie juga seperti itu?
Riepun
menguatkan kedua tangannya untuk enggan lepas dari pelukan Lee, ia begitu
merasa hancur dan makin histeris, air matanya mengalir deras membasahi jaket
ellegant milik Lee. Rie sangat membutuhkan sandaran deritanya.
“…Demo..hiks..Otousan ga daisuki…Heu…hiks..hiks…”
“Hai…Wakatta.”
Lee memeluknya sambil memejamkan mata, ia juga sempat menitikan air mata dan
jatuh kerambut Rie. Padahal Rie baru saja sampoan tadi pagi sejak ia akan
berangkat kesekolah. Tapi itu tak jadi masalah jika bisa membuat diri Rie
tenang meski hanya setetes air mata. Tidak haram hukumnya sama sekali.
Setelah
semua ritual mereka selesai..merekapun segera pulang kerumah dan setelah mereka
tiba Lee berupaya untuk menenangkan Rie dengan menyuruhnya pergi tidur dan
melupakan kejadian hari ini. Tapi…mustahil sekali Rie akan melupakannya. Ia
sedang tidak terjangkit alzheimer saat ini.
“Kau…tidurlah
yang nyenyak, Yeoboku! (Cup) ” Lee
mengecup kening Rie saat Rie berbaring ditempat tidur dikamarnya yang belum juga
mengistirahatkan matanya. Rie hanya memandang keluar jendela yang menempel dengan ranjangnya. Kini
air matanya sudah surut.
Lee menutup pintu kamar Rie dan membiarkannya
tertidur lelap karena waktu sudah menunjukan pukul 22:15 p.m
***
‘Crying is one way to be silent’
(Author)
#sekolah
Seluruh
warga kelas 2-B nampak ceria sekali hari ini. Saling bercanda tawa nampak
seperti sebuah keluarga besar. Namun disamping itu rupanya ada 3 orang siswa
yang sedang tidak terlihat bahagia seperti yang lain, mereka hanya
termenung..merenung…dan seperti sedang bersedih. Memang itu faktanya…saat
Shinichi memberitahu yang telah terjadi kemarin petang pada Hanase dan juga
Azuki mereka menjadi ikut-ikut setengah depresi. Mereka shock juga mendengar
kebenaran yang telah diungkap Shinichi.
Mereka
belum melakukan tindakan apapun, mereka hanya diam dikursinya masing-masing dan
menatap kosong meja mereka.
Hanase
sibuk berdoa dalam hatinya, sepertinya ia belum kekuil sampai ia harus
menyibukannya dikelas.
“Hhh…Ya tuhan…dunia apa yang kau ciptakan untuk
kami ini? Apa ini sebuah planet kramat? Ya tuhan…dengarkan aku.! Kumohon !”
Hanase membaringkan kepalanya lemas kemeja.
“Kita harus mengunjunginya…” Azukipun mulai
membuka suara. Ia telah mengemukakan sebuah asumsi yang cukup relevan.
“Sebaiknya jangan sekarang…aku yakin Saikou
tidak akan mau menerima kita…terutama aku.”
“Tapi aku sangat merindukannya Shinichi..Ya
tuhan…aku ingin sekali bicara padanya.” Hanase mengeluh pada Shinichi.
“Aku rasa ini bukan waktu yang tepat…Aku tidak
ingin kalian menambahkan beban perasaan pada Saikou yang sedang merasa down
sekarang. Kalian memikirkan dampaknya bukan?” Shinichi mencoba menegaskan
argumennya yang belum bisa dipahami Hanase.
“Baiklah…Kita akan membiarkannya tenang selama
seminggu.” Eh? Apa itu tidak terlalu lama Azuki? Yang benar saja..
“Jika sampai hari selasa Saikou belum juga
masuk, kita baru akan mengunjunginya. Bagaimana?”
“Itu lebih baik…” Azuki menyetujui pendapat
Shinichi.
“Haaaahh…Wakarimashita.” Hanase hanya bisa berkeluh kesah.
***
“Yeoboku…Aku
membuatkan sup spesial untukmu. Kau harus menghabiskannya ya, nak.” Lee memasuki kamar Rie sembari
membawa semangkuk sup daging sapi dengan campuran sea food dan segelas air
mineral dinampannya. Lee melihat Rie masih berbaring diranjangnya padahal ini
sudah pukul 06:00. Lee juga tidak pergi bekerja hari ini karena dia ingin
menjaga Rie yang sedang dalam keadaan kritis.
“Ah..Ternyata kau masih tidur…” But…Rupanya Rie
bukannya belum terbangun, matanya sudah melek alias terbuka. Namun jika
diperhatikan, pandangan Rie hanya tertuju pada pemandangan diluar jendela
kamarnya. Ia juga tidak merespon kedatangan Lee kekamarnya.
Lee mencoba menelisik secara detail setiap
lekukan kantung matanya, ‘seperti orang
sehabis begadang’. Lee bergumam dalam hati. Saat ia mengingat kejadian
semalam ketika ia menyuruh Rie tidur, mata Rie memang masih terbuka. Dan
faktanya, Rie tidak tidur semalaman. Pandangannya datar dan kosong. Itulah
alasan kenapa kantung mata Rie seperti mata panda.
“…Jadi..semalam kau tidak tidur, nak?” Lee
mencoba bertanya yang barangkali ia akan mendapat jawaban atau sedikit respon
dari Rie.
Tapi Rie hanya terdiam, terpaku membisu, dia
sama sekali tidak menatap Lee bahkan bicara sedikitpun.
Lee menepuk halus pipi Rie dan meraba kening
Rie barangkali ia sakit demam. Tapi suhu tubuhnya nampak normal. Hanya otaknya
sepertinya sedang tidak bekerja.
“Rie-chan…Daijoubu desuka? Apa yang terjadi
padamu? Hei..! sadarlah! Yeobo!”
Lee mengangkat tubuh Rie kepangkuannya dan
mengguncangkan secara halus tubuh semampai Rie. Tapi tetap tak ada yang
berubah, Rie hanya terdiam. Tatapannya tetap kosong.
Benar dugaan Lee, Rie akan mengalami depresi
berat lebih dari peristiwa yang ia alami sebelumnya. Didalam otaknya sudah banyak
sekali masalah kehidupannya yang amat rumit dan mengakibatkan dirinya seperti
ini.
Lee perlahan-lahan menitikan air mata dan jatuh
satu persatu kepipi halus Rie yang sama sekali tak berpengaruh apapun.
“Hiks…Aku sudah memaafkanmu, yeobo. Hiks…” Lee
mengatakan itu karena ia sudah tahu Rie akan meminta maaf padanya, hanya saja
otak Rie sedang tidak bekerja secara normal dan menyulitkan Rie untuk
mengeluarkan suaranya. Lee sempat menangis beberapa menit. Dan ia segera
menyadarkan dirinya bahwa Rie tidak akan sembuh dengan mendengar tangisan Lee.
Lalu Lee memutuskan untuk menghubungi Shinichi
lanjut ke Hanase serta Azuki. Lee meminta mereka untuk segera datang kerumahnya
untuk membantu Lee menyadarkan Rie. Akhirnya mereapun menyetujuinya, kebetulan
ini adalah hari minggu, hari libur jadi mereka tidak pergi kemana-mana.
Rencana yang telah mereka buat yaitu
mengunjungi Rie pada hari selasa telah mereka gagalkan karena Lee sangat
membutuhkannya sekarang, hari ini!
Tak lebih dari satu jam akhirnya merekapun tiba
dirumah Rie bersama-sama karena mereka sudah buat janji terlebih dahulu.
‘tok…tok…tok..’
Shinichi
yang mengetuk pintunya terlebih dahulu.
‘cklek’ Lee yang membukakannya karena
memang tak ada orang lain selain mereka berdua.
“Ah..kalian, ayo masuk!” Lee tersenyum kearah
mereka bertiga, namun sepertinya Hanase bertanya-tanya siapa lelaki muda itu?
Tampan dan rupawan seperti seorang diva kelas dunia.
“Shinichi…siapa dia?” Hanase berbisik pada
Shinichi sebab rasa penasarannya.
“Ia kakaknya Rie, Lee.” Shinichi pun
menjawabnya setengah berbisik sambil memasuki rumah Rie yang tak begitu luas
dibagian ruang tengahnya.
*____* ‘BLING BLING’ .
Mata
Hanase terbelalak begitu mengetahui bahwa Rie memiliki kakak yang amat tampan. Hanase nampaknya terpesona pada Lee
ia enggan melepaskan pandangannya dari pemuda tampan itu.
Lee mengajak mereka bertiga memasuki kamar Rie
untuk memberitahu keadaan Rie sekarang.
Mereka begitu terkejut melihat Rie terdampar
mengenaskan diranjangnya, memakai kaos putih polos semacam sweter, dan
rambutnya yang diurai berwarna coklat muda serta dikerubungi selimut yang
menghangatkan tubuhnya.
Mereka sempat terbata-bata dan merasa setengah
speechless. Dan menatapnya sedikit nanar.
“Rie sudah seperti itu sejak malam…aku kira ia
bisa tidur nyenyak, tapi kenyataannya ia tidak tidur atau memejamkan mata
sekalipun.” Lee menjelaskan seadanya kepada mereka bertiga.
“Gomen…aku belum tahu siapa namamu.” Hanase
mencoba mengajak Lee berkenalan disaat genting seperti ini?
“Samazama Lee…” Lee merekahkan senyum anggunnya
pada Hanase dan sontak membuat Hanase semakin menggeliat ingin mencubitnya,
aduh aduh…
“Aaa…Samazama-kun, apa Rie-chan sudah dibawa
kedokter?” Kini pertanyaan Hanase lebih spesifik.
“Tidak…Aku tidak akan membawanya kesana, cukup
dengan kalian berada disini, disampingnya, kurasa dia akan segera membaik.”
“Um…sudah sejak kapan Rie seperti ini?”
Azukipun ikut bertanya.
“Dua hari yang lalu…Hhh…Sebelumnya aku ingin
meminta maaf pada kalian atas segala sikap dan tingkah laku Rie pada kalian.
Aku juga ingin mengucapkan banyak terima kasih karena kalian telah bersedia
untuk menjadi temannya. Kalian mau mengertikannya. Mungkin selama ini juga Rie
tak pernah meminta maaf atau berterima kasih pada kalian. Maka dari itu aku
yang mengatakannya untuk mewakilkannya.” Lee menjelaskan semuanya secara rinci,
semua yang ingin Rie katakan.
“Um! Nandemonai, Lee. Kami mengerti itu.”
Shinichi merespon semua ungkapan Lee.
Hanase ingin mencoba mendekat dan mengajak Rie
berbicara…semoga Tuhan bersamanya untuk menolongnya.
“…Rie-chan…Ini aku Hanase. Aku datang kemari
bersama Azuki dan juga Shinichi.. Kami sangat merindukanmu, kelas terasa sepi
sekali tak ada kau Rie-chan..Hiks…Kami ingin belajar bersama-sama denganmu
lagi. Hiks…” Hanase mulai menumpahkan air matanya. Ia segera menghentikan
kalimatnya , tak kuat menahan tangis.
“…Aku juga ingin meminta maaf padamu, Saikou.
Mungkin aku terlalu cepat mengatakan hal itu padamu. Aku benar-benar minta
maaf.” Shinichipun ikut berpartisipasi melanjutkan kalimat Hanase, dan terakhir
disusul oleh Azuki.
“…Akupun ingin meminta maaf padamu, Rie. Selama
ini aku sudah tidak percaya padamu. Aku merasa
tertolong sekali ketika kau mau mengerjakan PR-ku. Aku ingin kau kembali
kesekolah dan bergabung dengan kami lagi.”
Segala macam permintaan telah mereka utarakan
pada Rie. Tapi belum ada reaksi apapun yang berefek pada Rie.
“Rie mendengarnya, kalian tak perlu khawatir.
Hanya butuh beberapa menit.” Lee sangat begitu paham apa yang dipikirkan Rie.
Dan setelah 5 menit berjalan sesudah percakapan mereka berlalu. Tk…Tk…Tk..
“…Go…Go…Gomenasai…”
Akhirnya Rie mau membuka suaranya. Namun sepertinya agak sedikit rumpang dan
tak terdengar begitu jelas. Lee mencoba menghampirinya.
“Nande?
Apa yang ingin kau katakan, Yeobo?” Lee memang sangat sangat peerhatian pada
Rie.
“…Hks…Gomenasai…Hiks…Gomenasai..GOMENASAAAAAIIII…Aheuu…hiks…hiks..hiks..”.
Akhirnya
sebuah teriakan histeris keluar dari mulut Rie setelah sekian lama dan mengisi
seluruh bangunan rumah Rie. Terdengar hingga menggema ditelinga mereka. Semua unek-unek yang Rie simpan
selama ini dan mengendap selama bertahun-tahun, akhirnya sedah bisa
terpecahkan. Kini…Lee, Shinichi, Azuki juga Hanase menyaksikan sendiri betapa
meledaknya Rie. Permintaan maafnya yang bisa didengar semua orang kini mereka
menyaksikannya dengan mata kepala mereka sendiri.
Lee
segera memeluk tubuh Rie erat-erat, lebih erat dari kawat tiang listrik. Lee mencoba menenangkan Rie, adik
kesayangannya, jangan sampai ia bertindak kriminal terhadap dirinya sendiri.
Hanasepun menjadi sedikit histeris
mendengarnya. Azuki segera menenangkannya juga. Kenapa mereka berdua jadi
seperti orang kesurupan? Tidak! Tak perlu memanggil paranormal!
Shinichi sempat tertegun sejenak. Tentunya ia
juga merasa sangat terharu dan ingin meneteskan air mata. Dan..iapun
meneteskanya dengan berbalik membelakangi mereka dan segera menghapusnya.
***
‘Honestly is better way’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar