Chapter 7
***
Shinichi kelihatan sangat penasaran sekali
ingin cepat-cepat mendengar cerita dan dongeng dari Lee. Kali ini wajah Shinichi lebih mirip baby
anjing podle sedang mencari mangsa, kemudian dielus-elus oleh majikannya. Wakakak.
Sangat begitu antusias. Tepat diruang tengah dimana mereka selalu berkumpul
pada saat makan pagi, makan siang atau makan malam. Dan perbincangan mereka
juga dihadiri ole dua cangkir teh hangat yang barusan Lee mengambilnya dari
dapur dan diletakkan diatas meja berwarna hijau berbentuk persegi.
Lee akan menceritakannya dari awal….
“Saikou Rie merupakan adik kesayanganku.” Sudah
pasti Shinichi tahu hal itu. Kenapa ia menjelaskan lagi. Langsung keintinya
saja.
“3
tahun yang lalu orang tua kami meninggal dunia. Ibu meninggal karena jatuh dari
ketinggian ketika ia bekerja dihotel. Dan ia sempat berpesan padaku dan juga Rie. Ia memintaku menjaganya
dengan baik… Karena ia sangat khawatir aku menyakitinya karena kami selalu
bertengkar. Ibu juga berpesan agar Rie selalu giat belajar sehingga ia bisa
berguna untuk orang banyak.” Begitu sangat terharu Shinichi mendengarnya dan
tanpa mengalihkan pandangan kemanapun. Hei…ini baru awal tahan dulu air matamu.
“Rie bisa melanjutkan sekolah ke 1000 years
karena mendapat beasiswa. Bukan hanya sekarang tapi memang sejak dari dulu ia
selalu memperoleh beasiswa karena ia sangat pintar. Dan selalu menjadi juara
disekolah. Ia juga menjadi kebanggaan semua orang. Fakta membuktikan
terlahirnya nama Saikou Rie sendiri memiliki arti keberuntungan besar. Hanya
Rie yang intelegensinya bisa diandalkan semua orang. Ayahku sempat kecewa
padaku karena aku tidak seperti Rie, juga sulit diatur. Ibu juga mengatakan
jika Rie ingin menjadi orang yang sukses jangan lepas belajar dan harus serius.
Itu merupakan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh ibu. Sedangkan aku tak
pernah mendapat dukungan apapun…terutama dari ayahku.”
Shinichi belum berani menyangkal Lee, ia masih
ingin benar-benar mendenngarkannya.
“Sebulan setelah ibu meninggal. Tepat dimana
Rie akan menghadapi ujian. Rie balajar dengan keras..sampai ayah tiada henti
memujinya dan mencampakkanku. Aku sempat depresi dalam beberapa minggu, tapi
kurasa itu percuma…”
Lee menghela nafas beberapa detik, kemudian ia
melanjutkannya lagi.
“Lalu ayah sempat menanyakan cita-cita Rie jika
ia sudah besar nanti. Dan Rie pun menjawab bahwa dirinya ingin menjadi seorang
ilmuan, melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan fisika ataupun kimia. Namun
ayah sempat mengelak. Aku mendengar percakapan mereka diluar kamar Rie…Ayah
bilang, lebih baik Rie menjadi pengacara atau jaksa yang bisa memiliki
penghasilan yang cukup memenuhi kebutuhannya, dan ia juga bilang kalau menjadi
ilmuan akan melukai dirinya karena terdapat cairan cairan berbahaya untuk
bereksperimen.”
“……………………………..”
“Kemudian
Rie mengajukan pilihan yang kedua yaitu menjadi guide karena bisa menjelajah
dunia..tapi..ayahpun menolaknya lagi. Ia juga bilang kalau menjadi guide
resikonya lebih berat dan ia akan menjadi jauh dengan keluarga, dan ayah tak
mau itu terjadi. Akhirnya ayah merekomendasikan Rie untuk menjadi seorang
editor dan meneruskan jalur ayahnya, itu lebih baik.”
Sangat
mengharukan…Shinichipun tidak sempat berkata-kata.
“Sebelumnya
ayah memintaku untuk menjadi editor, namun aku menolaknya, tetap menolaknya.
Ayah tidak mengijinkanku untuk menjadi psikolog. Padahal psikolog bukan
merupakan profesi yang aneh.. Dan pada akhirnya permintaan ayah diperuntukan
pada Rie. Aku tahu Rie tidak suka teknik desain dan menggambar adalah hal yang
paling dibencinya. Tapi
ayah tetap memaksakan Rie. Saking sayangnya Rie pada ayah, iapun rela
menerimanya. Rie orang yang amat ambisius meski hal sekecil apapun yang tidak
mungkin terjadi padanya, ia tetap kukuh untuk membuatnya menjadi nyata. Tepat
seminggu setelah perbincangan ayah dengan Rie. Tiba-tiba ayah terkena serangan
jantung dan dilarikan kerumah sakit juga mendapat perawatan medis selama 2
minggu hingga akhirnya ia menghabiskan saat-saat terakhirnya dirumah sakit.
Meski sudah setengah sekarat ayah tetap menitipkan pesan itu pada Rie bahkan
tanpa meminta persetujuanku. Rie hanya harus menurut tanpa mengelak sedikitpun.”
“Sebulan setelah kematian ayah, kamipun
memutuskan untuk pindah rumah ke Shibuya, disinilah tempat kami sekarang. Namun
sesuatu terjadi pada Rie, ia mengalami depresi karena ayah dan ibu telah
meninggalkan kami, juga pesan-pesan yang mereka titipkan pada Rie sontak
membuat Rie terus memikirkannya. Aku terus mengayominya hingga Rie mau
bersekolah di Shibuya, namun dampaknya masih membekas sampai sekarang. Ia
memang terlalu ambisius. Ia mengalami tekanan yang cukup berat, dan…ia terlalu
menuntut dirinya untuk menjadi sempurna yang pada kenyataannya semua itu bukan
kemauannya… Menjadi seorang editor juga bukan impiannya.”
Shinichi masih setia mendengarkan Lee..Air mata
Lee mulai menetes satu persatu saat mengingat semua kejadian masa lalu. Iapun
berteriak tak kuat menahan isak tangisnya.
“Aku…hiks..hiks..sangat menyayangi Yeobokuuuuuuu,
hiks..hiks… Aku ingin membahagiakannya…hiks..hiks..
Selama ini ia sulit untuk tersenyum apalagi untuk bahagia.”
“…Berapa
umurmu waktu itu?” Shinichi
mulai bertanya setelah sekian lama Lee yang bercerita.
“Umurku 17 tahun dan Rie 14 tahun.”
Shinichi
juga nyaris ikut menitikkan airmata melihat Lee menangis histeris..
“…Kau
kakak yang baik Lee.” Shinichi berusaha menenangkannya. Ia mengelus punggung
Lee dengan halus.
“Hiks…Tapi
itu belum seberapa Shinichi, dibandingkan ayah, aku tidak ada apa-apanya. Semua itu menyebabkan Rie kini menderita
Pshycosomatic. Dan juga ketika ia benar-benar terlalu menahan masalahnya. Ia
akan mengalami histeris…juga selaput pembuluh darahnya akan membengkak dan
melebar sehingga..hiks…hiks…Rie tidak bisa berpikir sama sekali. Dan bisa
mengalami depresi dengan stadium akhir. Karena…ia sangat begitu tertekan bahkan
lebih dari sebelum-sebelumnya.”
“…Aku
akan menyembuhkannya, Lee. Dan aku juga akan mendobrak benteng yang telah
menghalangi hati nuraninya..Aku berjanji padamu.” Lee mencoba untuk memeluk
Shinichi karena kesedihan yang menghalaunya, namun Shinichi tampak ingin
menolaknya, ia tidak ingin sampai ada orang yang tak sengaja melihatnya
berpelukan dengan Lee sehingga sisi karisma Shinichi akan menurun karena orang
menganggap mereka….Yaoi! Ck!
“…Yokatta, Shinichi. Aku percaya padamu. Aku akan mendukungmu. Aku yakin kau akan berhasil. Bawalah Rie kejurang kebahagiaan
yang selama ini sedang ia cari. Luruskanlah langkah Rie yang selama ini telah
membawa Rie kedalam gua kegelapan. Kau harus mendobrak benteng itu.Ganbarimashio!”
Lee menyemangati Shinichi. Dan disamping itu
juga ia ingin mengembalikan adiknya seperti semula sejak Rie baru lahir,
tangisannya membuat orang lain berbahagia.
Sepanjang perjalanan pulang, Shinichi terus
memikirkan strategi untuk menghadapi Rie nanti. Ia terus membolak-balikkan
otaknya tanpa henti. Seperti akan melawan musuh besar
saja. Ha! Tentu!
***
Pagi hari cuaca terasa segar, sejuk untuk
dihirup. Bunga sakura nan indah mulai berjatuhan karena sudah mendekati musim
gugur. Suasana sekolah yang amat tentram . seluruh siswa 1000 years tentunya
sedang melangsungkan kegiatan belajar mereka disetiap kelasnya.
Shinichi duduk berada dibarisan belakang
sejajar dengan Rie. Ia terus meratapi rambut panjang Rie yang sedang melambai
indah diterpa angin dari celah-celah jendela kelas. Shinichi
sama sekali bukan sedang memikirkan hal-hal aneh tentang Rie. Ia sedang mencari
cara bagaimana agar semua perkataan yang akan ia susun tak akan melukai Rie
ketika mengajaknya berbicara nanti.
Pandangan
Shinichi belum juga lepas dari Saikou Rie yang sontak membuat Azuki tersadar
bahwa ada situasi yang aneh. Azuki duduk disamping Shinichi otomatis ia tahu
setiap kegiatan yang Shinichi lakukan sampai Shinichi sedang mengupilpun
diketahui oleh Azuki tanpa sengaja. Namun itu menjadi rahasia mereka berdua. Dan jangan ada yang
mengatakannya pada siapapun. Oke!
“Shinichi…” Azuki bicara sedikit berbisik pada
Shinichi dan membuat Shinichi tersadar dan berhasil melepas pandangannya dari
Rie. Shinichipun melirik kearah Azuki.
“Apa yang sedang kau lakukan dengan bola matamu
itu? Aku perhatikan sedari tadi kau memandang Rie terus?Aaa…jangan-jangan kau…”
Belum sempat Azuki melanjutkan kalimatnya, Shinichi dengan seregap menginjak
kaki Azuki dan Azuki mengaum.
“Aw…!” Shinichi langsung beralih tanpa
memperdulikan Azuki yang sedang merasa kesakitan.
Seluruh warga kelas 2-B pun ikut terkejut dan memperhatikan
Azuki dengan serempak.
“Etto…hanya
digigit serangga, wari…” Senyum Azuki nampak memalukan didepan teman-temannya
juga Nakamura-sensei. Sedangkan Shinichi terkekeh geli mentertawakan Azuki.
“Awas kau Shinichi, akan
kubalas nanti” Azuki bergumam atas kekesalannya
didalam lubuk hati.
‘Kringggg……’ bel kelas pertama sudah
selesai. Nakamura-senseipun mengakhiri pembelajarannya.
“Aisatsu
suru!” seorang siswi mengintruksikan kepada semuanya untuk memberikan salam
pada Nakamura-sensei.
“Yakkk…..akhirnya aku bisa tidur beberapa
menit.” Kao merasa lega hingga ia mengucapkan kata-kata itu seenaknya meskipun
ini disekolah.
Shinichi segera bertindak dan menghampiri meja
Rie, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Ia menarik nafas
sedalam-dalamnya hingga perutnya membuncit dan membuangnya lepas keudara tanpa
mengandung racun sama sekali.
“…Saikou…jika kau ada waktu, aku ingin bicara
denganmu seusai pulang nanti. Ditaman.” Kenapa mesti ditaman? Memang kenapa
kalau dikelas? Baiklah Shinichi merasa tidak aman jika harus membicarakan hal
penting hanya berdua dengan Rie dikelas, maka ia memilih tempat yang cocok.
“Dan…hanya kau dan aku.” Nampaknya Shinichi
sangat gugup menghadapi Saikou Rie, mungkin ia takut menyakitinya. Dan tanpa
respon apapun dari Rie, Shinichi sudah yakin bahwa Rie akan datang menemuinya.
Rie merasa heran sekaligus curiga. Mengapa
tiba-tiba Shinichi mengajukan permintaan
seperti itu padanya?
***
Tepat
pukul 16:00 p.m Rie sedang duduk dibawah pohon sakura dimana lagi kalau bukan
dikursi taman yang mungil itu. Dan ia selalu dalam keadaan membaca buku bahkan
untuk menunggu seseorangpun ia bersedia melakukannya. Langit begitu cerah
dengan sorotan cahaya matahari di sore hari nampak jelas sekali gambaran taman
1000 years yang begitu luas dengan dipenuhi susunan pohon sakura dan pohon ceri
disetiap lapak jalannya. Sangat indah dan flaming juga awesome meski ada
beberapa tumbuhan bunga anggrek berwarna ungu yang tak mengurangi keindahan
taman 1000 years secuilpun.
“Ah,
Saikou kau sudah menunggu lama? Gomenasai ne, aku dipanggil kekantor sebentar
oleh Chiba-sensei.” Sungguh gemetar sangat tubuh Shinichi ketika itu. Namun ia
harus memberanikan diri untuk membicarakannya karena memang sangat penting
untuk Lee, Rie juga untuknya.
“Doushite?”
Rie tak ingin wajahnya berpaling sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya.
Dengan sangat berlumuran keringat Shinichipun
mengawali pembicaraannya. “…Apa kau menyesal berteman dengan kami?” Cukup
sekali saja Rie merasa tersentak atas pertanyaan yang didengarnya.
“Nan desuka?” Akhirnya Rie mulai penasaran
dengan pertanyaan Shinichi.
“Aku, Hanase juga Azuki sudah menganggapmu
sebagai teman kami. Meski aku tidak pernah merajuk untuk memintamu menjadi
temanku. Kami…sangat peduli padamu. Bahkan jika kau masuk kedalam jurang
sekalipun kami akan membantumu untuk memanjat dari jurang itu dan
menyelamatkanmu. Ah..sebelumnya aku ingin berterima kasih sekali lagi padamu
sebab kau bersedia mengijinkanku menginap dirumahmu. Aku tidak bilang pada
Azuki ataupun Hanase.”
“……” Tubuh Rie mendadak bergetar tak bisa usik
sedikitpun.
“…Sekarang aku ingin bertanya…apakah kau
bahagia?” Shinichi beralih dan mengalihkan pandangan Rie untuk sama-sama
menatapnya. Rie hanya terdiam membisu…
“Semua orang tahu kau siswi yang cerdas…apa kau
bahagia?” Rie masih terdiam.
“Em?
Jawab Saikou?” Shinichi
tetap ramah menghadapinya dan ia melanjutkan pertanyaannya. Dia pikir ini acara
super deal atau game semacamnya hingga semuanya berisi pertanyaan. Apa ia tidak
merasa kasihan pada Rie yang sedang terdiam dengan pandangan kosong?!
“…Aku tahu apa yang kau rasakan sebenarnya,
selama kau menjadi siswi disini utamanya.” Rie makin geger mendengarnya namun
ia tak bisa bertindak apapun, bahkan mengucapkan satu dua katapun ia tak mampu.
“Tapi sebelumnya aku minta maaf padamu Saikou
mungkin aku sudah sedikit mencampuri masalahmu. Tapi justru itu aku ingin
membebaskanmu.” Bola mata nan indah milik Shinichi menatap Rie begitu dalam,
Rie belum ingin menatapnya… ia masih harus berpikir.
“Lee sudah menjelaskan semuanya padaku.”
“…Apa yang kau inginkan dari keluargaku?”
“Iie,
bukan itu maksudku. Saikou…selama ini kau sudah salah paham pada kami. Aku
sudah tahu kisah keluargamu, dari mulai orang tuamu meninggal, impian
sejatimu…dan…”
“Kau
tidak perlu menjelaskannya…Seberapa pentingkah urusan keluargaku dengan
urusanmu?” Kali ini Rie menatap tajam Shinichi. Aish…bola mata Shinichi yang
indah nyaris terkalahkan oleh ketajaman bola mata Rie.
“Lee ingin kau bahagia. Itu alasan pertamanya.
Dan bukan hanya Lee, tapi Hanase, Azuki, dan juga…diriku.” Shinichi mempertegas
tatapannya pada Rie dan kini ia sedikit lebih mendekatkan pandangannya dengan
Rie.
“Kau
sama sekali tak punya hak untuk ikut campur!”
“Aku
akan memberitahu alasanku menanyakan itu semua pada Lee….Aku..ingin
menghancurkan tembok penghalang yang kini membentengi hati jasmani dan
rohanimu, Saikou.”
“……..”
Rie masih menatapnya tajam. Yang perlu diwaspadai sekarang adalah…Jangan sampai
Rie menerkam hidung lancip Shinichi yang sangat mempesona itu.
“…Aku
tahu kau merasa tidak nyaman dengan keadaanmu sekarang…menjadi orang cerdas
memang impian semua orang, tapi jika bersikap angkuh pada semua orang, mereka
tidak akan pernah mendapat kebahagiaan bahkan menyentuhnyapun itu
mustahil…benarkan Saikou?”
“Aku tidak meminta pendapatmu mengenai itu!”
“Kurasa aku tidak bermaksud beradu argumen
denganmu. (Gomenne…aku mengatakan ini
padamu, Saikou…) Kau…mengutuk dirimu menjadi sangat keras kepala. Bukankah
kau juga tahu bahagia itu seperti apa?” Shinichi sebetulnya sangat tak tega
mengungkapkannya, tapi…ini memang sudah takdir dan amanat. Celaka bila ia tidak
benar-benar menyampaikannnya.
Rie sudah muak mendengar semua ini, ia ingin
segera menghindar dan menjauh serta pulang kerumah dan makan karena ia sangat
lapar, ah sudahlah…tunda dulu, ini lebih penting.
“Jika kau merasa tersakiti oleh dirimu sendiri,
kenapa kau tak menghentikan prilakumu ini Saikou?” Shinichi
berhasil mencegahnya ketika Rie akan kabur diam-diam membelakanginya. Akhirnya
shinichi memberanikan diri menghampiri Rie dan mencengkram kuat-kuat bahu Rie
yang anggun itu, Waks… hingga Rie tak bisa lari kemanapun.
“Katakan
kalau semua ini bohong…kau berbohong padaku kan Saikou? Sebenarnya kau juga ingin peduli
pada kami bukan? Kau ingin berteman baik dengan kami bukan? Ha?...Kenapa tidak
kau lakukan? Jika kau merasa tertekan, maka hentikanlah…itu akan membuatmu
lebih baik.” Tanpa hentakan atau emosi sedikitpun Shinichi mengatakannya, sebab
ia tahu Rie seorang wanita, ia tidak berani jika harus menyentaknya.
“Kau juga tidak ingin menjadi editor bukan?
Maka hentikanlah kemunafikanmu itu. Percuma saja kau mengikuti seminar dengan
keterpaksaan. Sama sekali tidak akan berjalan lancar…satu lagi…aku sangat
memohon padamu…” Mimik muka Shinichi kali ini benar-benar penuh harap pada Rie.
Shinichi sedikit meneduhkan tatapannya padaRie. Rie hanya menunduk berusaha
menahan air mata yang sebentar lagi akan berlinang.
“Aku ingin kau mencabut semua tuntutan yang
telah kau buat…dan jadilah dirimu sendiri…terlalu ambisius itu akan membawa
dampak jelek untukmu. Sama sekali tidak ada yang diuntungkan. Semua akan terasa
sia-sia yang padahal dibalik itu semua kau ingin berguna untuk semuanya kan?!
Tindakanmu, kelakuanmu, sangat tidak ada gunanya. Semuanya malah saling
tersakiti. Semuanya ingin berteman baik denganmu. Mereka ingin mengobrol
denganmu..apalagi Hanase, ia sangat ingin pulang sekolah bersama-sama denganmu
juga belajar bersama-sama.Tapi…kau selalu sibuk dan tak punya waktu. Semuanya
membutuhkan bantuanmu.Mau kah kau melakukannya…Saikou?”
Perlahan-lahan tangis isak Rie mulai
terdengar…hatinya benar-benar terasa tertusuk jangkar bukan duri atau panah
lagi. Sudah cukup Shinichi menceramahinya. Itu semua membuat Rie ingin
mengerang…meledakkan seluruh emosinya. Iapun gempar
melepaskan cengkraman Shinichi yang mulai melemah.
“…hiks…Anata
wa…” Tak sempat Rie
melanjutkan kalimatnya. Ia sudah merasa tak sanggup lagi dan berlari jauh entah
kemana. Meninggalkan Shinichi sendirian ditaman. Shinichi terlihat sedikit
bersalah pada Rie. Ia juga merasa sakit melihat Rie menangis pertama kali
dihadapannya.
Tiba-tiba…
“Kerja
yang bagus Shinichi…Kau telah berhasil mendobrak benteng itu.” Tsk! Youja?
Nyatanya dia menguping pembicaraan Shinichi dan Rie sejak tadi. Argh…ini
menjadi bukan pembicaraan empat mata karena Youja sempat menguping.
“Aku
sudah memperlihatkannya padamu. Jadi aku tidak perlu memberitahumu lagi.”
Shinichi memincingkan matanya tajam menatap Youja dan ia melesat pergi.
“Hhh…Kau memang Flaming Charisma,
Shinichi…”
***
‘Falsehood coming a misery’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar