Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 7



Chapter 7
***
Shinichi kelihatan sangat penasaran sekali ingin cepat-cepat mendengar cerita dan dongeng dari Lee.  Kali ini wajah Shinichi lebih mirip baby anjing podle sedang mencari mangsa, kemudian dielus-elus oleh majikannya. Wakakak. Sangat begitu antusias. Tepat diruang tengah dimana mereka selalu berkumpul pada saat makan pagi, makan siang atau makan malam. Dan perbincangan mereka juga dihadiri ole dua cangkir teh hangat yang barusan Lee mengambilnya dari dapur dan diletakkan diatas meja berwarna hijau berbentuk persegi.

Lee akan menceritakannya dari awal….

“Saikou Rie merupakan adik kesayanganku.” Sudah pasti Shinichi tahu hal itu. Kenapa ia menjelaskan lagi. Langsung keintinya saja.

“3 tahun yang lalu orang tua kami meninggal dunia. Ibu meninggal karena jatuh dari ketinggian ketika ia bekerja dihotel. Dan ia sempat berpesan padaku dan juga Rie. Ia memintaku menjaganya dengan baik… Karena ia sangat khawatir aku menyakitinya karena kami selalu bertengkar. Ibu juga berpesan agar Rie selalu giat belajar sehingga ia bisa berguna untuk orang banyak.” Begitu sangat terharu Shinichi mendengarnya dan tanpa mengalihkan pandangan kemanapun. Hei…ini baru awal tahan dulu air matamu.
“Rie bisa melanjutkan sekolah ke 1000 years karena mendapat beasiswa. Bukan hanya sekarang tapi memang sejak dari dulu ia selalu memperoleh beasiswa karena ia sangat pintar. Dan selalu menjadi juara disekolah. Ia juga menjadi kebanggaan semua orang. Fakta membuktikan terlahirnya nama Saikou Rie sendiri memiliki arti keberuntungan besar. Hanya Rie yang intelegensinya bisa diandalkan semua orang. Ayahku sempat kecewa padaku karena aku tidak seperti Rie, juga sulit diatur. Ibu juga mengatakan jika Rie ingin menjadi orang yang sukses jangan lepas belajar dan harus serius. Itu merupakan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh ibu. Sedangkan aku tak pernah mendapat dukungan apapun…terutama dari ayahku.”

Shinichi belum berani menyangkal Lee, ia masih ingin benar-benar mendenngarkannya.

“Sebulan setelah ibu meninggal. Tepat dimana Rie akan menghadapi ujian. Rie balajar dengan keras..sampai ayah tiada henti memujinya dan mencampakkanku. Aku sempat depresi dalam beberapa minggu, tapi kurasa itu percuma…”

Lee menghela nafas beberapa detik, kemudian ia melanjutkannya lagi.

“Lalu ayah sempat menanyakan cita-cita Rie jika ia sudah besar nanti. Dan Rie pun menjawab bahwa dirinya ingin menjadi seorang ilmuan, melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan fisika ataupun kimia. Namun ayah sempat mengelak. Aku mendengar percakapan mereka diluar kamar Rie…Ayah bilang, lebih baik Rie menjadi pengacara atau jaksa yang bisa memiliki penghasilan yang cukup memenuhi kebutuhannya, dan ia juga bilang kalau menjadi ilmuan akan melukai dirinya karena terdapat cairan cairan berbahaya untuk bereksperimen.”

“……………………………..”

“Kemudian Rie mengajukan pilihan yang kedua yaitu menjadi guide karena bisa menjelajah dunia..tapi..ayahpun menolaknya lagi. Ia juga bilang kalau menjadi guide resikonya lebih berat dan ia akan menjadi jauh dengan keluarga, dan ayah tak mau itu terjadi. Akhirnya ayah merekomendasikan Rie untuk menjadi seorang editor dan meneruskan jalur ayahnya, itu lebih baik.”

Sangat mengharukan…Shinichipun tidak sempat berkata-kata.

“Sebelumnya ayah memintaku untuk menjadi editor, namun aku menolaknya, tetap menolaknya. Ayah tidak mengijinkanku untuk menjadi psikolog. Padahal psikolog bukan merupakan profesi yang aneh.. Dan pada akhirnya permintaan ayah diperuntukan pada Rie. Aku tahu Rie tidak suka teknik desain dan menggambar adalah hal yang paling dibencinya. Tapi ayah tetap memaksakan Rie. Saking sayangnya Rie pada ayah, iapun rela menerimanya. Rie orang yang amat ambisius meski hal sekecil apapun yang tidak mungkin terjadi padanya, ia tetap kukuh untuk membuatnya menjadi nyata. Tepat seminggu setelah perbincangan ayah dengan Rie. Tiba-tiba ayah terkena serangan jantung dan dilarikan kerumah sakit juga mendapat perawatan medis selama 2 minggu hingga akhirnya ia menghabiskan saat-saat terakhirnya dirumah sakit. Meski sudah setengah sekarat ayah tetap menitipkan pesan itu pada Rie bahkan tanpa meminta persetujuanku. Rie hanya harus menurut tanpa mengelak sedikitpun.”


“Sebulan setelah kematian ayah, kamipun memutuskan untuk pindah rumah ke Shibuya, disinilah tempat kami sekarang. Namun sesuatu terjadi pada Rie, ia mengalami depresi karena ayah dan ibu telah meninggalkan kami, juga pesan-pesan yang mereka titipkan pada Rie sontak membuat Rie terus memikirkannya. Aku terus mengayominya hingga Rie mau bersekolah di Shibuya, namun dampaknya masih membekas sampai sekarang. Ia memang terlalu ambisius. Ia mengalami tekanan yang cukup berat, dan…ia terlalu menuntut dirinya untuk menjadi sempurna yang pada kenyataannya semua itu bukan kemauannya… Menjadi seorang editor juga bukan impiannya.”


Shinichi masih setia mendengarkan Lee..Air mata Lee mulai menetes satu persatu saat mengingat semua kejadian masa lalu. Iapun berteriak tak kuat menahan isak tangisnya.

“Aku…hiks..hiks..sangat menyayangi Yeobokuuuuuuu, hiks..hiks… Aku ingin membahagiakannya…hiks..hiks.. Selama ini ia sulit untuk tersenyum apalagi untuk bahagia.”

“…Berapa umurmu waktu itu?” Shinichi mulai bertanya setelah sekian lama Lee yang bercerita.

“Umurku 17 tahun dan Rie 14 tahun.”

Shinichi juga nyaris ikut menitikkan airmata melihat Lee menangis histeris..
“…Kau kakak yang baik Lee.” Shinichi berusaha menenangkannya. Ia mengelus punggung Lee dengan halus.

“Hiks…Tapi itu belum seberapa Shinichi, dibandingkan ayah, aku tidak ada apa-apanya. Semua itu menyebabkan Rie kini menderita Pshycosomatic. Dan juga ketika ia benar-benar terlalu menahan masalahnya. Ia akan mengalami histeris…juga selaput pembuluh darahnya akan membengkak dan melebar sehingga..hiks…hiks…Rie tidak bisa berpikir sama sekali. Dan bisa mengalami depresi dengan stadium akhir. Karena…ia sangat begitu tertekan bahkan lebih dari sebelum-sebelumnya.”


 “…Aku akan menyembuhkannya, Lee. Dan aku juga akan mendobrak benteng yang telah menghalangi hati nuraninya..Aku berjanji padamu.” Lee mencoba untuk memeluk Shinichi karena kesedihan yang menghalaunya, namun Shinichi tampak ingin menolaknya, ia tidak ingin sampai ada orang yang tak sengaja melihatnya berpelukan dengan Lee sehingga sisi karisma Shinichi akan menurun karena orang menganggap mereka….Yaoi! Ck!

“…Yokatta, Shinichi. Aku percaya padamu. Aku akan mendukungmu. Aku yakin kau akan berhasil. Bawalah Rie kejurang kebahagiaan yang selama ini sedang ia cari. Luruskanlah langkah Rie yang selama ini telah membawa Rie kedalam gua kegelapan. Kau harus mendobrak benteng itu.Ganbarimashio!”

Lee menyemangati Shinichi. Dan disamping itu juga ia ingin mengembalikan adiknya seperti semula sejak Rie baru lahir, tangisannya membuat orang lain berbahagia.

Sepanjang perjalanan pulang, Shinichi terus memikirkan strategi untuk menghadapi Rie nanti. Ia terus membolak-balikkan otaknya tanpa henti. Seperti akan melawan musuh besar saja. Ha! Tentu!


***


Pagi hari cuaca terasa segar, sejuk untuk dihirup. Bunga sakura nan indah mulai berjatuhan karena sudah mendekati musim gugur. Suasana sekolah yang amat tentram . seluruh siswa 1000 years tentunya sedang melangsungkan kegiatan belajar mereka disetiap kelasnya.

Shinichi duduk berada dibarisan belakang sejajar dengan Rie. Ia terus meratapi rambut panjang Rie yang sedang melambai indah diterpa angin dari celah-celah jendela kelas. Shinichi sama sekali bukan sedang memikirkan hal-hal aneh tentang Rie. Ia sedang mencari cara bagaimana agar semua perkataan yang akan ia susun tak akan melukai Rie ketika mengajaknya berbicara nanti.

Pandangan Shinichi belum juga lepas dari Saikou Rie yang sontak membuat Azuki tersadar bahwa ada situasi yang aneh. Azuki duduk disamping Shinichi otomatis ia tahu setiap kegiatan yang Shinichi lakukan sampai Shinichi sedang mengupilpun diketahui oleh Azuki tanpa sengaja. Namun itu menjadi rahasia mereka berdua. Dan jangan ada yang mengatakannya pada siapapun. Oke!

“Shinichi…” Azuki bicara sedikit berbisik pada Shinichi dan membuat Shinichi tersadar dan berhasil melepas pandangannya dari Rie. Shinichipun melirik kearah Azuki.

“Apa yang sedang kau lakukan dengan bola matamu itu? Aku perhatikan sedari tadi kau memandang Rie terus?Aaa…jangan-jangan kau…” Belum sempat Azuki melanjutkan kalimatnya, Shinichi dengan seregap menginjak kaki Azuki dan Azuki mengaum.

“Aw…!” Shinichi langsung beralih tanpa memperdulikan Azuki yang sedang merasa kesakitan.

Seluruh warga kelas 2-B pun ikut terkejut dan memperhatikan Azuki dengan serempak.

“Etto…hanya digigit serangga, wari…” Senyum Azuki nampak memalukan didepan teman-temannya juga Nakamura-sensei. Sedangkan Shinichi terkekeh geli mentertawakan Azuki.

“Awas kau Shinichi, akan kubalas nanti” Azuki bergumam atas kekesalannya didalam lubuk hati.

Kringggg……’ bel kelas pertama sudah selesai. Nakamura-senseipun mengakhiri pembelajarannya.

“Aisatsu suru!” seorang siswi mengintruksikan kepada semuanya untuk memberikan salam pada Nakamura-sensei.

“Yakkk…..akhirnya aku bisa tidur beberapa menit.” Kao merasa lega hingga ia mengucapkan kata-kata itu seenaknya meskipun ini disekolah.

Shinichi segera bertindak dan menghampiri meja Rie, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Ia menarik nafas sedalam-dalamnya hingga perutnya membuncit dan membuangnya lepas keudara tanpa mengandung racun sama sekali.

“…Saikou…jika kau ada waktu, aku ingin bicara denganmu seusai pulang nanti. Ditaman.” Kenapa mesti ditaman? Memang kenapa kalau dikelas? Baiklah Shinichi merasa tidak aman jika harus membicarakan hal penting hanya berdua dengan Rie dikelas, maka ia memilih tempat yang cocok.

“Dan…hanya kau dan aku.” Nampaknya Shinichi sangat gugup menghadapi Saikou Rie, mungkin ia takut menyakitinya. Dan tanpa respon apapun dari Rie, Shinichi sudah yakin bahwa Rie akan datang menemuinya.

Rie merasa heran sekaligus curiga. Mengapa tiba-tiba Shinichi  mengajukan permintaan seperti itu padanya?



*** 

Tepat pukul 16:00 p.m Rie sedang duduk dibawah pohon sakura dimana lagi kalau bukan dikursi taman yang mungil itu. Dan ia selalu dalam keadaan membaca buku bahkan untuk menunggu seseorangpun ia bersedia melakukannya. Langit begitu cerah dengan sorotan cahaya matahari di sore hari nampak jelas sekali gambaran taman 1000 years yang begitu luas dengan dipenuhi susunan pohon sakura dan pohon ceri disetiap lapak jalannya. Sangat indah dan flaming juga awesome meski ada beberapa tumbuhan bunga anggrek berwarna ungu yang tak mengurangi keindahan taman 1000 years secuilpun.


“Ah, Saikou kau sudah menunggu lama? Gomenasai ne, aku dipanggil kekantor sebentar oleh Chiba-sensei.” Sungguh gemetar sangat tubuh Shinichi ketika itu. Namun ia harus memberanikan diri untuk membicarakannya karena memang sangat penting untuk Lee, Rie juga untuknya.

“Doushite?” Rie tak ingin wajahnya berpaling sedikitpun dari buku yang sedang dibacanya.

Dengan sangat berlumuran keringat Shinichipun mengawali pembicaraannya. “…Apa kau menyesal berteman dengan kami?” Cukup sekali saja Rie merasa tersentak atas pertanyaan yang didengarnya.

“Nan desuka?” Akhirnya Rie mulai penasaran dengan pertanyaan Shinichi.

“Aku, Hanase juga Azuki sudah menganggapmu sebagai teman kami. Meski aku tidak pernah merajuk untuk memintamu menjadi temanku. Kami…sangat peduli padamu. Bahkan jika kau masuk kedalam jurang sekalipun kami akan membantumu untuk memanjat dari jurang itu dan menyelamatkanmu. Ah..sebelumnya aku ingin berterima kasih sekali lagi padamu sebab kau bersedia mengijinkanku menginap dirumahmu. Aku tidak bilang pada Azuki ataupun Hanase.”

“……” Tubuh Rie mendadak bergetar tak bisa usik sedikitpun.

“…Sekarang aku ingin bertanya…apakah kau bahagia?” Shinichi beralih dan mengalihkan pandangan Rie untuk sama-sama menatapnya. Rie hanya terdiam membisu…

“Semua orang tahu kau siswi yang cerdas…apa kau bahagia?” Rie masih terdiam.

“Em? Jawab Saikou?” Shinichi tetap ramah menghadapinya dan ia melanjutkan pertanyaannya. Dia pikir ini acara super deal atau game semacamnya hingga semuanya berisi pertanyaan. Apa ia tidak merasa kasihan pada Rie yang sedang terdiam dengan pandangan kosong?!

“…Aku tahu apa yang kau rasakan sebenarnya, selama kau menjadi siswi disini utamanya.” Rie makin geger mendengarnya namun ia tak bisa bertindak apapun, bahkan mengucapkan satu dua katapun ia tak mampu.

“Tapi sebelumnya aku minta maaf padamu Saikou mungkin aku sudah sedikit mencampuri masalahmu. Tapi justru itu aku ingin membebaskanmu.” Bola mata nan indah milik Shinichi menatap Rie begitu dalam, Rie belum ingin menatapnya… ia masih harus berpikir.

“Lee sudah menjelaskan semuanya padaku.”

“…Apa yang kau inginkan dari keluargaku?”

“Iie, bukan itu maksudku. Saikou…selama ini kau sudah salah paham pada kami. Aku sudah tahu kisah keluargamu, dari mulai orang tuamu meninggal, impian sejatimu…dan…”

“Kau tidak perlu menjelaskannya…Seberapa pentingkah urusan keluargaku dengan urusanmu?” Kali ini Rie menatap tajam Shinichi. Aish…bola mata Shinichi yang indah nyaris terkalahkan oleh ketajaman bola mata Rie.

“Lee ingin kau bahagia. Itu alasan pertamanya. Dan bukan hanya Lee, tapi Hanase, Azuki, dan juga…diriku.” Shinichi mempertegas tatapannya pada Rie dan kini ia sedikit lebih mendekatkan pandangannya dengan Rie.

“Kau sama sekali tak punya hak untuk ikut campur!”

“Aku akan memberitahu alasanku menanyakan itu semua pada Lee….Aku..ingin menghancurkan tembok penghalang yang kini membentengi hati jasmani dan rohanimu, Saikou.”

“……..” Rie masih menatapnya tajam. Yang perlu diwaspadai sekarang adalah…Jangan sampai Rie menerkam hidung lancip Shinichi yang sangat mempesona itu.

“…Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan keadaanmu sekarang…menjadi orang cerdas memang impian semua orang, tapi jika bersikap angkuh pada semua orang, mereka tidak akan pernah mendapat kebahagiaan bahkan menyentuhnyapun itu mustahil…benarkan Saikou?”

“Aku tidak meminta pendapatmu mengenai itu!”

“Kurasa aku tidak bermaksud beradu argumen denganmu. (Gomenne…aku mengatakan ini padamu, Saikou…) Kau…mengutuk dirimu menjadi sangat keras kepala. Bukankah kau juga tahu bahagia itu seperti apa?” Shinichi sebetulnya sangat tak tega mengungkapkannya, tapi…ini memang sudah takdir dan amanat. Celaka bila ia tidak benar-benar menyampaikannnya.

Rie sudah muak mendengar semua ini, ia ingin segera menghindar dan menjauh serta pulang kerumah dan makan karena ia sangat lapar, ah sudahlah…tunda dulu, ini lebih penting.

“Jika kau merasa tersakiti oleh dirimu sendiri, kenapa kau tak menghentikan prilakumu ini Saikou?” Shinichi berhasil mencegahnya ketika Rie akan kabur diam-diam membelakanginya. Akhirnya shinichi memberanikan diri menghampiri Rie dan mencengkram kuat-kuat bahu Rie yang anggun itu, Waks… hingga Rie tak bisa lari kemanapun.

“Katakan kalau semua ini bohong…kau berbohong padaku kan Saikou? Sebenarnya kau juga ingin peduli pada kami bukan? Kau ingin berteman baik dengan kami bukan? Ha?...Kenapa tidak kau lakukan? Jika kau merasa tertekan, maka hentikanlah…itu akan membuatmu lebih baik.” Tanpa hentakan atau emosi sedikitpun Shinichi mengatakannya, sebab ia tahu Rie seorang wanita, ia tidak berani jika harus menyentaknya.

“Kau juga tidak ingin menjadi editor bukan? Maka hentikanlah kemunafikanmu itu. Percuma saja kau mengikuti seminar dengan keterpaksaan. Sama sekali tidak akan berjalan lancar…satu lagi…aku sangat memohon padamu…” Mimik muka Shinichi kali ini benar-benar penuh harap pada Rie. Shinichi sedikit meneduhkan tatapannya padaRie. Rie hanya menunduk berusaha menahan air mata yang sebentar lagi akan berlinang.
“Aku ingin kau mencabut semua tuntutan yang telah kau buat…dan jadilah dirimu sendiri…terlalu ambisius itu akan membawa dampak jelek untukmu. Sama sekali tidak ada yang diuntungkan. Semua akan terasa sia-sia yang padahal dibalik itu semua kau ingin berguna untuk semuanya kan?! Tindakanmu, kelakuanmu, sangat tidak ada gunanya. Semuanya malah saling tersakiti. Semuanya ingin berteman baik denganmu. Mereka ingin mengobrol denganmu..apalagi Hanase, ia sangat ingin pulang sekolah bersama-sama denganmu juga belajar bersama-sama.Tapi…kau selalu sibuk dan tak punya waktu. Semuanya membutuhkan bantuanmu.Mau kah kau melakukannya…Saikou?”

Perlahan-lahan tangis isak Rie mulai terdengar…hatinya benar-benar terasa tertusuk jangkar bukan duri atau panah lagi. Sudah cukup Shinichi menceramahinya. Itu semua membuat Rie ingin mengerang…meledakkan seluruh emosinya. Iapun gempar melepaskan cengkraman Shinichi yang mulai melemah.

“…hiks…Anata wa…” Tak sempat Rie melanjutkan kalimatnya. Ia sudah merasa tak sanggup lagi dan berlari jauh entah kemana. Meninggalkan Shinichi sendirian ditaman. Shinichi terlihat sedikit bersalah pada Rie. Ia juga merasa sakit melihat Rie menangis pertama kali dihadapannya.

Tiba-tiba…

“Kerja yang bagus Shinichi…Kau telah berhasil mendobrak benteng itu.” Tsk! Youja? Nyatanya dia menguping pembicaraan Shinichi dan Rie sejak tadi. Argh…ini menjadi bukan pembicaraan empat mata karena Youja sempat menguping.

“Aku sudah memperlihatkannya padamu. Jadi aku tidak perlu memberitahumu lagi.” Shinichi memincingkan matanya tajam menatap Youja dan ia melesat pergi.

“Hhh…Kau memang Flaming Charisma, Shinichi…”

***

‘Falsehood coming a misery’
 (Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...