Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 3

Chapter 3 
***

Keadaan Rie sekarang masih panik. Apa dia harus membawa Shinichi pergi kedokter? Itu tidak mungkin! Mana ada dokter yang praktek malam-malam begini sedangkan diuar juga masih hujan deras. Ia melihat  jam dinding yang ada dikamarnya, pukul 22:00 p.m. Apa yang harus ia lakukan?Rie sama sekali tidak menyimpan obat apapun dikotak P3k nya ia belum membeli persediaan.

Rie terus memutar balikan otaknya apa dan bagaimana? Dia benar-benar bingung. Kenapa dia harus sepanik ini dan kenapa dia dihadapkan dengan situasi seperti ini?

Baiklah….mau tidak mau ia harus keluar membeli obat untuk Shinichi.

‘cklek’

‘sreeeettttt’

Secepat kilat Rie mengayuh sepedanya, sementara diluar masih hujan deras. Rie ingin mencari apotik yang barangkali masih buka. Tanpa payung bahkan pelindung apapun Rie mengayuh sepedanya berusaha menemukan apotik terdekat. Rie terus berdoa agar Shinichi bisa tetap bertahan karena takut suhu badannya makin meningkat juga ia segera menemukan apotiknya.
‘Apotik…Kemarilah…Bantu temanku, Shinichi!’

Tanpa sadar ia mendoakan Shinichi meski dalam keadaan panik. Ia mulai peduli rupanya.

‘ckiiiiiittt…!’

Rie segera menginjak remnya keras-keras karena ia telah melihat sebuah apotik yang masih buka diseberang jalan, lalu iapun segera beranjak menuju apotik dan membeli obat yang ia butuhkan untuk Shinichi. Akhirnya, dapat…Berhasil.
Rie kembali menaiki dan cepat-cepat mengayuh sepedanya setelah ia mendapat obatnya, ia sebenarnya sangat khawatir terhadap keadaan Shinichi saat ini.

Hujannya sangat menusuk kesetiap permukaan kulit Rie dan ia mulai merasa kedinginan. Ia hanya bisa berdoa semoga saja ia tidak terserang demam ditengah perjalanan.

‘cklek’

Rie langsung bergegas menuju kamar dimana Shinichi berada. Dan ia segera memberikan obat pada Shinichi dan mengompres kepalanya dengan air hangat. Setelah itu Rie segera berganti pakaian karena ia basah kuyup dan iapun segera kembali kekamar.

Melihat keadaan Shinichi yang sepertinya agak membaik meski sedikit paling tidak dia sudah tidak mengigau lagi. Rie merasa lelah dan ia pun segera pergi tidur namun sebelum itu ia mempunyai niat baik, selimut miliknya ia berikan untuk menghangatkan tubuh Shinichi padahal dia sangat membutuhkannya karena dia baru saja hujan hujanan. Hhh`` mengenaskan.

Dan bergegaslah Rie pergi tidur karena waktu sudah menunjukan pukul 22:20 p.m, sudah cukup malam ia tidak ingin sampai kesiangan besok pagi.



***

#keesokanharinya

Shinichi terbangun dan membuka sedikit-sedikit matanya karena terasa sedikit perih dan ketika ia melihat jam dinding yang berbentuk dango itu ternyata Pukul 04:00 a.m. Lalu iapun tersadar ada sesuatu yang menempel dikeningnya. Ternyata kompresan yang diberikan Rie semalam belum juga lepas atau terjatuh. Maka Iapun melepaskannya dan menelisik kesekitar ternyata dia berada dikamar Rie lalu ia mendapati Rie tertidur di sofa yang ada didekat cermin tanpa selimut melindungi tubuhnya.

Shinichi mengingat ngingat kejadian semalam….Yak ia ingat bahwa Rie memberinya obat dan meletakkan selimut padanya dan mengompresnya. Meski Shinichi sedang sakit sampai mengigau memanggil ibunya namun ia tetap sadar ketika keesokan harinya.

Dan Iapun turun dari ranjang yang berukuran singlebed kemudian ia berjalan menghampiri Rie yang sedang tertidur pulas disofa. Shinichi menatap setiap detail wajah Rie, begitu cantik, kawaii, meski ia sedang tertidur. Terlihat jelas hidungnya yang indah, bibirnya yang manis dan perfect. Ingin sekali Shinichi menyentuhnya namun terlintas dibenaknya jika ia melakukan itu Rie tak akan segan segan mencabik-cabik hidung Shinichi hingga tak tumbuh lagi. wkwwkwkwk

‘Kau itu baik Saikou…aku baru tahu, kau peduli.’ Tanpa sadar Shinichi telah memuji Rie meski dalam hati.
Dan….Shinichi melamun…

Tsk!

“….Kau..!” Rie terbangun sekaligus terkejut ketika ia mendapati Shinichi tepat berada didepannya.

Shinichi tersentak dari lamunannya. “…Etto…Ohayo Saikou.” Pagi-pagi begini Shinichi merekahkan senyuman dan sapaan manisnya pada Rie, betapa bahagianya.

Rie merubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Shinichi.

“Sudah sembuh.” Pertanyaan kah? Tentu saja bukan tapi itu pernyataan.
“…Etto, arigatou na Saikou.” Kini mereka berbicara tepat berhadapan.Tersenyum nya Shinichi pada Rie sempat membuat muka Rie sedikit memerah.

“Daijoubu.” Respon singkat -__-

“Aku merasa kau baik padaku, jadi aku sangat berterima kasih, aku sangat merepotkanmu semalam.”

“Separah itu kau sakit.”

“Aku berhutang padamu. Aku akan membalasnya Saikou.”

“…….” Diam lagi. Rie malah beralih untuk pergi mandi dan meninggalkan Shinichi dikamarnya.

Jam dinding menunjukkan pukul 06:00 a.m. Rie menyiapkan sarapan karena ia harus berangkat pagi-pagi sekali. Rie membuat roti sandwich isi coklat dan kacang, tak lupa ia juga menyiapkan untuk Shinichi. Dan kini mereka sedang sarapan pagi bersama-sama dimeja makan dekat pintu menuju dapur.

“Kalau masih belum membaik jangan kesekolah.” Waw…saran yang hebat Rie. Kali ini ia mengucapkan kata-kata yang lumayan dramatis, yah…paling tidak lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya ia sudah mulai bisa beradaptasi dengan Shinichi.

“Baiklah saran yang bagus…lagipula seragamku masih belum kering. Aku juga tidak akan pulang sebelum kau pulang dari sekolah.” Ucap Shinichi sambil melahap roti sandwich buatan Rie. Dan juga ia meneguk segelas susu hangat…Wah nikmatnya pagi-pagi begini perut Shinichi sudah terisi penuh.

“Sebentar lagi kakakku akan datang.” Rie berjalan menuju rak sepatu dan segera melesat keluar pintu tanpa berpamitan pada Shinichi.

“Aku akan mengajaknya bicara.” Seru Shinichi dari dalam rumah entah Rie mendengarnya atau tidak, ia tak peduli.

***
#sekolah……

Sudah pukul 06:30 a.m.  Rie sudah tiba disekolah dan ia langsung membuka bagnya dan mengambil sebuah buku yang tidak terlalu tebal seperti kemarin. Mengambil posisi duduk yang menurutnya merasa nyaman dan tentunya Rie  tak pernah telat datang kesekolah, bahkan Hanase dan Azukipun lebih lelet darinya. Kini hanya baru Rie seorang yang berada didalam kelas, ia tidak merasa aneh atau takut sedikitpun karena memang setiap hari ia selalu datang lebih awal dan ruangan masih sepi.

Hanya hembusan angin yang terasa sangat segar berasal dari jendela sebelah timur membuat rambut panjang nan indah milik Rie menjuntai dan melambai-lambai seperti iklan shampoo. Terlihat jelas parasnya yang super areumdawo.

‘sssreeekk’

Pintu kelas sebelah barat terbuka, dan ternyata Hanase baru datang. Dan ia hendak menyapa Rie.

“Heee? Rie-chan Ohayo. Kau pagi-pagi sekali.”

“Ohayo.” Cukup hanya itu jawabannya.

“Hh` masih sepi ternyata padahal aku sudah bersemangat sekali hari ini. Ya Tuhan kemana makhluk-makhluk bumi ini?” Hanase mengeluh sambil mengambil posisi di tempat duduknya.

‘Krrriingg…bel berbunyi tepat pukul 07:00 a.m’

Semua siswa bergerombol masuk kelas..Hhh` ternyata sebelumnya mereka tidak masuk kelas tapi menunggu bel berdering dan lebih memilih untuk menunggu ditaman, empang dan sebagainya.

“Ohayo Hanase…’….’Rie.” kali ini Azuki bernekad untuk menyapa selamat pagi pada Rie, sepertinya ia juga punya nyali untuk menghadapi wanita macam Rie.

“Ohayo…” Hanase dan Rie menjawab bersamaan sampai membuat Azuki dan Hanase sendiri terkejut, kenapa bisa terjadi.
“….Dimana Shinichi?” Dia menjelajah kesekitar kelas mencari raga Shinichi.

“Sedang sakit.” Sang juara merespon pertanyaan Azuki sempat membuat Azuki menganga selebar-lebarnya.

“Hhh…Apakah Shinichi?” Hanya desisan pelan yang diucapkan Azuki untuk dirinya sendiri. Dan ia segera  menuju kursinya. Dan Chiba-sensei segera msuk kelas untuk memulai kelas pertama.

***

Jam istirahat ditaman belakang sekolah, terdapat seorang wanita berambut panjang sedang duduk dikursi taman sambil membaca buku, siapa lagi kalau bukan Saikou Rie si kutu buku. Tentunya ia hanya sendiri tanpa siapapun disampingnya, hewan, tumbuhan, alien bahkan manusiapun tak terdapati disana. Entah mengapa Rie selalu sendirian memang pada kenyataannya tak ada yang mau berteman dengannya semenjak semua tahu bahwa Rie adalah orang yang dingin dan sulit diajak bicara.


Tiba-tiba seseorang mengejutkan Rie dengan nada bicara yang sedikit mengejek keluar dari balik pohon besar dekat kursi tersebut.

“Saikou Rie gadis jenius 1000 years high school?” konyol sekali pertanyaan yang diajukan Youja Nagata spesies dari  kelas 2-A. Ia juga merupakan orang yang senang menyendiri macam Rie, argumennya sangat menyayat hati jika mendengarnya berbicara. Ia juga cukup populer dikalangan wanita juga pria dari mulai kelas 1 hingga kelas 3 telah mengenalnya meski sebagian…hanya sebagian.

Namun ia cukup berkarisma bahkan ia sangat cocok menjadi penasihat yang faktanya semua argumen yang ia ucapkan meski menyayat hati tapi 98% selalu benar. Sudah banyak orang utamanya para remaja wanita yang berkonsultasi padanya tentang masalah mereka dan akhirnya mujarab juga.

Dan Youja memilih duduk berdekatan dengan Rie karena memang hanya satu-satunya kursi taman itu yang muat hanya untuk 2 orang saja. Tindakan Youja sangat sangat membuat Rie gempar sampai buku yang sedang dibacanya nyaris jatuh kekolam ikan yang ada disamping kursi tersebut.

“……” tak ada respon sama sekali dari Rie.

“Apa kau merasa kesepian hingga menyendiri disini?” Pertanyaan konyol kedua. Sejujurnya Youja memang tampan terlihat dari corak mukanya yang khas Jepang, matanya kecil tapi tidak terlalu sipit, rambutnya seperti Choi Minho SHINee tahun 2013 berwarna brown-red. Warna brown-red ini memang sangat populer juga blooming dan menjadi favorit para remaja diJepang bahkan Asia.

“Bukan urusanmu.” Tsk!….jawaban itu melesat secepat kilat ditelinga Youja, tapi sepertinya ia laki-laki yang kebal dalam menghadapi hal seperti ini.

“Jadi sampai sejauh ini kau belum punya teman?”

Rie tak sabar ingin mengelaknya. “bukankah kau yang merasa kesepian?”

“Orang pintar nan cantik sepertimu tak punya teman…menyedihkan.”

Deg…
Apa apaan Youja bicara seperti itu sungguh ini pelecehan.

“Pikirkan dirimu sendiri.” Gggrrr….serangan yang tiada habisnya. Rie merasa geger dan sama sekali tidak menatap sedikitpun pada Youja.

“Hmh.. (tersenyum tipis). Tidak kusangka  teman-teman dikelasmu setega ini padamu.” Muak..Sudah muak dengan semua ini, Rie ingin sekali memukul wajahnya, tapi ia harus menahannya jangan sampai ia membuat onar disekolah karena tindakan kriminal.

‘hiraukan…’

“Apa kau yakin akan bertahan atas rumor barumu yang barusaja menyebar beberapa hari ini? Hhh…Wolf Girl. Kejam sekali.”

Apa ? ternyata mereka telah menciptakan julukan baru untuk Rie. Wolf Girl…apa itu? Kejamnya mereka menyamakan Rie dengan srigala. Meski kenyataannya sikap Rie sekejam srigala namun apa mereka sadar? paras Rie tak seburuk itu.

“Sebaiknya jangan urusi masalah pribadiku.” Yosh….Akhirnya Rie pergi meninggalkan Youja yang menyebalkan itu, dasar tak tahu malu sudah mengata-ngatai Rie sebengis itu sama saja ia meremehkan Saikou Rie.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

‘Krriiingg….bel pun berbunyi dan saatnya pulang.’



***


“Tadaima.” Rie sudah tiba dirumah, cepat sekali ia.

“Ah…Chingu kau sudah pulang nak.” Lagi-lagi Lee memperlakukan Rie seperti ini lagi. Ia menghampiri Rie dan mencium keningnya layaknya keluarga yang tak pernah bertemu selama 2 tahun. Jelas-jelas Rie paling tidak suka diperlakukan seperti itu, menjijikan.

“Aaa..” Belum sempat Rie bicara Lee sudah menyangkalnya seolah ia tahu apa yang ingin Rie katakan.

“Ia sedang membantuku membuat miso didapur. Ia juga sudah menjelaskan semuanya dari awal, jadi sekarang ayo cepat ganti baju dan makan.” Lee menyuruh Rie berganti pakaian…Memang Rie anak TK? Benar-benar Lee seperti seorang ibu-ibu rumah tangga yang sedang ditinggal suaminya keluar kota dan memiliki anak tunggal.

“Rie…cepatlah sayang kami sudah menunggumu.” Lee berteriak dari bawah tangga menunggu Rie keluar kamar. Tak lama kemudian Riepun muncul dan segera turun menuju meja makan.

“Ini untukmu..dan ini untukmu.” Menyerahkan dua mangkuk miso pada Rie dan Shinichi. Waahh…Perhatian betul Samazama Lee ia memang sangat cocok dan berbakat menjadi seorang ibu. ^_^

“Aku harus segera pulang setelah ini. Aku sudah berjanji pada Saikou akan pulang ketika dia sudah pulang kerumah.” Shinichi mengawali perbincangan sambil melahap miso dengan nikmatnya. Miso buatan Lee memang sedap tak ada duanya.

“Secepat itukah Shinichi? Kenapa kau tidak menginap satu hari lagi saja disini? Lagipula ibumu belum pulang bukan?” Sambil meniup miso yang masih panas Lee masih sempat menjawab. Rie terkejut hingga ia tersedak. Dengan cekatan Lee segera memberinya minum.

“Kau terlalu lapar rupanya hingga kau tersedak. ” Pernyataan memalukan. Rie hanya bersabar mendengar ucapan Lee.

“Hahaha…Lee aku juga punya tempat tinggal mana mungkin aku harus menumpang terus dirumah orang lain?!” Sepertinya Shinichi mulai teringat dengan habitat serta induknya ia ingin segera pulang.

“Yasudah…habiskan dulu makananmu aku tak tega melihatpun kelaparan ditengah jalan nanti.” Kyaa…Lee yang benar saja matanya melihat ke arah Shinichi karena memang sedang bicara padanya, tapi apa yang Lee lakukan dengan tangannya. Ia berniat memberi minum pada adiknya tapi malah menumpahkannya akibatnya pakaian Rie menjadi basah. Apa mungkin Rie suka sekali dengan basah-basahan apa ia setengah siluman lumba-lumba? Sudah 3 hari berturut-turut ia mengalami hal ini.

Setelah semuanya selesai Shinichi segera merapikan barang-barangnya dan akhirnya berpamitan pulang pada Lee juga Rie. Tak lupa juga ia mengucapkan banyak terimaskasih pada keduanya karena telah memberinya keselamatan.

Hari yang melelahkan…..

***







Pretended is never be safe ’
(Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...