Chapter 3
***
Keadaan
Rie sekarang masih panik. Apa dia harus membawa Shinichi pergi kedokter? Itu
tidak mungkin! Mana ada dokter yang praktek malam-malam begini sedangkan diuar
juga masih hujan deras. Ia melihat jam
dinding yang ada dikamarnya, pukul 22:00 p.m. Apa yang harus ia lakukan?Rie
sama sekali tidak menyimpan obat apapun dikotak P3k nya ia belum membeli
persediaan.
Rie terus memutar balikan otaknya apa dan
bagaimana? Dia benar-benar bingung. Kenapa dia harus sepanik ini dan kenapa dia
dihadapkan dengan situasi seperti ini?
Baiklah….mau
tidak mau ia harus keluar membeli obat untuk Shinichi.
‘cklek’
‘sreeeettttt’
Secepat kilat Rie mengayuh sepedanya, sementara
diluar masih hujan deras. Rie ingin mencari apotik yang barangkali masih buka.
Tanpa payung bahkan pelindung apapun Rie mengayuh sepedanya berusaha menemukan
apotik terdekat. Rie terus berdoa agar Shinichi bisa tetap bertahan karena
takut suhu badannya makin meningkat juga ia segera menemukan apotiknya.
‘Apotik…Kemarilah…Bantu temanku, Shinichi!’
Tanpa sadar ia mendoakan Shinichi meski dalam
keadaan panik. Ia mulai peduli rupanya.
‘ckiiiiiittt…!’
Rie segera menginjak remnya keras-keras karena
ia telah melihat sebuah apotik yang masih buka diseberang jalan, lalu iapun
segera beranjak menuju apotik dan membeli obat yang ia butuhkan untuk Shinichi.
Akhirnya, dapat…Berhasil.
Rie kembali menaiki dan cepat-cepat mengayuh
sepedanya setelah ia mendapat obatnya, ia sebenarnya sangat khawatir terhadap
keadaan Shinichi saat ini.
Hujannya sangat menusuk kesetiap permukaan
kulit Rie dan ia mulai merasa kedinginan. Ia hanya bisa berdoa semoga saja ia
tidak terserang demam ditengah perjalanan.
‘cklek’
Rie langsung bergegas menuju kamar dimana
Shinichi berada. Dan ia segera memberikan obat pada Shinichi dan mengompres
kepalanya dengan air hangat. Setelah itu Rie segera berganti pakaian karena ia
basah kuyup dan iapun segera kembali kekamar.
Melihat keadaan Shinichi yang sepertinya agak
membaik meski sedikit paling tidak dia sudah tidak mengigau lagi. Rie merasa
lelah dan ia pun segera pergi tidur namun sebelum itu ia mempunyai niat baik,
selimut miliknya ia berikan untuk menghangatkan tubuh Shinichi padahal dia
sangat membutuhkannya karena dia baru saja hujan hujanan. Hhh`` mengenaskan.
Dan bergegaslah Rie pergi tidur karena waktu
sudah menunjukan pukul 22:20 p.m, sudah cukup malam ia tidak ingin sampai
kesiangan besok pagi.
***
#keesokanharinya
Shinichi terbangun dan membuka sedikit-sedikit
matanya karena terasa sedikit perih dan ketika ia melihat jam dinding yang
berbentuk dango itu ternyata Pukul 04:00 a.m. Lalu iapun tersadar ada sesuatu
yang menempel dikeningnya. Ternyata kompresan yang diberikan Rie semalam belum
juga lepas atau terjatuh. Maka Iapun melepaskannya dan menelisik kesekitar
ternyata dia berada dikamar Rie lalu ia mendapati Rie tertidur di sofa yang ada
didekat cermin tanpa selimut melindungi tubuhnya.
Shinichi mengingat ngingat kejadian
semalam….Yak ia ingat bahwa Rie memberinya obat dan meletakkan selimut padanya
dan mengompresnya. Meski Shinichi sedang sakit sampai mengigau memanggil ibunya
namun ia tetap sadar ketika keesokan harinya.
Dan Iapun turun dari ranjang yang berukuran
singlebed kemudian ia berjalan menghampiri Rie yang sedang tertidur pulas
disofa. Shinichi menatap setiap detail wajah Rie, begitu cantik, kawaii, meski
ia sedang tertidur. Terlihat jelas hidungnya yang indah, bibirnya yang manis
dan perfect. Ingin sekali Shinichi menyentuhnya namun terlintas dibenaknya jika
ia melakukan itu Rie tak akan segan segan mencabik-cabik hidung Shinichi hingga
tak tumbuh lagi. wkwwkwkwk
‘Kau itu baik Saikou…aku baru tahu, kau peduli.’ Tanpa sadar Shinichi telah memuji
Rie meski dalam hati.
Dan….Shinichi melamun…
Tsk!
“….Kau..!” Rie terbangun sekaligus terkejut
ketika ia mendapati Shinichi tepat berada didepannya.
Shinichi tersentak dari lamunannya. “…Etto…Ohayo
Saikou.” Pagi-pagi begini Shinichi merekahkan senyuman dan sapaan manisnya pada
Rie, betapa bahagianya.
Rie merubah posisinya menjadi duduk berhadapan
dengan Shinichi.
“Sudah sembuh.” Pertanyaan kah? Tentu saja
bukan tapi itu pernyataan.
“…Etto, arigatou na Saikou.” Kini mereka
berbicara tepat berhadapan.Tersenyum nya Shinichi pada Rie sempat membuat muka
Rie sedikit memerah.
“Daijoubu.” Respon singkat -__-
“Aku merasa kau baik padaku, jadi aku sangat berterima
kasih, aku sangat merepotkanmu semalam.”
“Separah itu kau sakit.”
“Aku berhutang padamu. Aku akan membalasnya Saikou.”
“…….” Diam lagi. Rie malah beralih untuk pergi
mandi dan meninggalkan Shinichi dikamarnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 06:00 a.m. Rie
menyiapkan sarapan karena ia harus berangkat pagi-pagi sekali. Rie membuat roti
sandwich isi coklat dan kacang, tak lupa ia juga menyiapkan untuk Shinichi. Dan
kini mereka sedang sarapan pagi bersama-sama dimeja makan dekat pintu menuju
dapur.
“Kalau
masih belum membaik jangan kesekolah.” Waw…saran yang hebat Rie. Kali ini ia
mengucapkan kata-kata yang lumayan dramatis, yah…paling tidak lebih baik dari
sebelumnya. Sepertinya ia sudah mulai bisa beradaptasi dengan Shinichi.
“Baiklah
saran yang bagus…lagipula seragamku masih belum kering. Aku juga tidak akan
pulang sebelum kau pulang dari sekolah.” Ucap Shinichi sambil melahap roti
sandwich buatan Rie. Dan juga ia meneguk segelas susu hangat…Wah nikmatnya
pagi-pagi begini perut Shinichi sudah terisi penuh.
“Sebentar
lagi kakakku akan datang.” Rie berjalan menuju rak sepatu dan segera melesat keluar pintu tanpa
berpamitan pada Shinichi.
“Aku akan mengajaknya bicara.” Seru Shinichi
dari dalam rumah entah Rie mendengarnya atau tidak, ia tak peduli.
***
#sekolah……
Sudah
pukul 06:30 a.m. Rie sudah tiba
disekolah dan ia langsung membuka bagnya dan mengambil sebuah buku yang tidak
terlalu tebal seperti kemarin. Mengambil posisi duduk yang menurutnya merasa
nyaman dan tentunya Rie tak pernah telat
datang kesekolah, bahkan Hanase dan Azukipun lebih lelet darinya. Kini hanya
baru Rie seorang yang berada didalam kelas, ia tidak merasa aneh atau takut
sedikitpun karena memang setiap hari ia selalu datang lebih awal dan ruangan
masih sepi.
Hanya
hembusan angin yang terasa sangat segar berasal dari jendela sebelah timur
membuat rambut panjang nan indah milik Rie menjuntai dan melambai-lambai
seperti iklan shampoo. Terlihat jelas parasnya yang super areumdawo.
‘sssreeekk’
Pintu
kelas sebelah barat terbuka, dan ternyata Hanase baru datang. Dan ia hendak menyapa Rie.
“Heee? Rie-chan Ohayo. Kau pagi-pagi sekali.”
“Ohayo.” Cukup hanya itu jawabannya.
“Hh` masih sepi ternyata padahal aku sudah
bersemangat sekali hari ini. Ya Tuhan kemana makhluk-makhluk bumi ini?” Hanase
mengeluh sambil mengambil posisi di tempat duduknya.
‘Krrriingg…bel berbunyi
tepat pukul 07:00 a.m’
Semua
siswa bergerombol masuk kelas..Hhh` ternyata sebelumnya mereka tidak masuk
kelas tapi menunggu bel berdering dan lebih memilih untuk menunggu ditaman,
empang dan sebagainya.
“Ohayo
Hanase…’….’Rie.” kali ini Azuki bernekad untuk menyapa selamat pagi pada Rie,
sepertinya ia juga punya nyali untuk menghadapi wanita macam Rie.
“Ohayo…” Hanase dan Rie menjawab bersamaan
sampai membuat Azuki dan Hanase sendiri terkejut, kenapa bisa terjadi.
“….Dimana Shinichi?” Dia menjelajah kesekitar
kelas mencari raga Shinichi.
“Sedang sakit.” Sang juara merespon pertanyaan
Azuki sempat membuat Azuki menganga selebar-lebarnya.
“Hhh…Apakah Shinichi?” Hanya desisan pelan yang
diucapkan Azuki untuk dirinya sendiri. Dan ia segera menuju kursinya. Dan Chiba-sensei segera msuk
kelas untuk memulai kelas pertama.
***
Jam istirahat ditaman belakang sekolah,
terdapat seorang wanita berambut panjang sedang duduk dikursi taman sambil
membaca buku, siapa lagi kalau bukan Saikou Rie si kutu buku. Tentunya ia hanya
sendiri tanpa siapapun disampingnya, hewan, tumbuhan, alien bahkan manusiapun
tak terdapati disana. Entah mengapa Rie selalu sendirian memang pada
kenyataannya tak ada yang mau berteman dengannya semenjak semua tahu bahwa Rie
adalah orang yang dingin dan sulit diajak bicara.
Tiba-tiba seseorang mengejutkan Rie dengan nada
bicara yang sedikit mengejek keluar dari balik pohon besar dekat kursi
tersebut.
“Saikou Rie gadis jenius 1000 years high
school?” konyol sekali pertanyaan yang diajukan Youja Nagata spesies dari kelas 2-A. Ia juga merupakan orang yang
senang menyendiri macam Rie, argumennya sangat menyayat hati jika mendengarnya
berbicara. Ia juga cukup populer dikalangan wanita juga pria dari mulai kelas 1
hingga kelas 3 telah mengenalnya meski sebagian…hanya sebagian.
Namun ia cukup berkarisma bahkan ia sangat
cocok menjadi penasihat yang faktanya semua argumen yang ia ucapkan meski
menyayat hati tapi 98% selalu benar. Sudah banyak orang utamanya para remaja
wanita yang berkonsultasi padanya tentang masalah mereka dan akhirnya mujarab
juga.
Dan Youja memilih duduk berdekatan dengan Rie
karena memang hanya satu-satunya kursi taman itu yang muat hanya untuk 2 orang
saja. Tindakan Youja sangat sangat membuat Rie gempar sampai buku yang sedang
dibacanya nyaris jatuh kekolam ikan yang ada disamping kursi tersebut.
“……” tak ada respon sama sekali dari Rie.
“Apa kau merasa kesepian hingga menyendiri
disini?” Pertanyaan konyol kedua. Sejujurnya Youja memang tampan terlihat dari
corak mukanya yang khas Jepang, matanya kecil tapi tidak terlalu sipit,
rambutnya seperti Choi Minho SHINee tahun 2013 berwarna brown-red. Warna
brown-red ini memang sangat populer juga blooming dan menjadi favorit para
remaja diJepang bahkan Asia.
“Bukan urusanmu.” Tsk!….jawaban itu melesat
secepat kilat ditelinga Youja, tapi sepertinya ia laki-laki yang kebal dalam
menghadapi hal seperti ini.
“Jadi sampai sejauh ini kau belum punya teman?”
Rie tak sabar ingin mengelaknya. “bukankah kau
yang merasa kesepian?”
“Orang pintar nan cantik sepertimu tak punya
teman…menyedihkan.”
Deg…
Apa apaan Youja bicara seperti itu sungguh ini
pelecehan.
“Pikirkan dirimu sendiri.” Gggrrr….serangan
yang tiada habisnya. Rie merasa geger dan sama sekali tidak menatap sedikitpun
pada Youja.
“Hmh.. (tersenyum
tipis). Tidak kusangka teman-teman
dikelasmu setega ini padamu.” Muak..Sudah muak dengan semua ini, Rie ingin
sekali memukul wajahnya, tapi ia harus menahannya jangan sampai ia membuat onar
disekolah karena tindakan kriminal.
‘hiraukan…’
“Apa kau yakin akan bertahan atas rumor barumu
yang barusaja menyebar beberapa hari ini? Hhh…Wolf Girl. Kejam sekali.”
Apa ? ternyata mereka telah menciptakan julukan
baru untuk Rie. Wolf Girl…apa itu? Kejamnya mereka menyamakan Rie dengan
srigala. Meski kenyataannya sikap Rie sekejam srigala namun apa mereka sadar?
paras Rie tak seburuk itu.
“Sebaiknya jangan urusi masalah pribadiku.”
Yosh….Akhirnya Rie pergi meninggalkan Youja yang menyebalkan itu, dasar tak
tahu malu sudah mengata-ngatai Rie sebengis itu sama saja ia meremehkan Saikou
Rie.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
‘Krriiingg….bel pun berbunyi dan saatnya pulang.’
***
“Tadaima.” Rie sudah tiba dirumah, cepat sekali
ia.
“Ah…Chingu
kau sudah pulang nak.” Lagi-lagi
Lee memperlakukan Rie seperti ini lagi. Ia menghampiri Rie dan mencium
keningnya layaknya keluarga yang tak pernah bertemu selama 2 tahun. Jelas-jelas
Rie paling tidak suka diperlakukan seperti itu, menjijikan.
“Aaa..” Belum sempat Rie bicara Lee sudah
menyangkalnya seolah ia tahu apa yang ingin Rie katakan.
“Ia sedang membantuku membuat miso didapur. Ia
juga sudah menjelaskan semuanya dari awal, jadi sekarang ayo cepat ganti baju
dan makan.” Lee menyuruh Rie berganti pakaian…Memang Rie anak TK? Benar-benar
Lee seperti seorang ibu-ibu rumah tangga yang sedang ditinggal suaminya keluar
kota dan memiliki anak tunggal.
“Rie…cepatlah sayang kami sudah menunggumu.”
Lee berteriak dari bawah tangga menunggu Rie keluar kamar. Tak lama kemudian
Riepun muncul dan segera turun menuju meja makan.
“Ini untukmu..dan ini untukmu.” Menyerahkan dua
mangkuk miso pada Rie dan Shinichi. Waahh…Perhatian
betul Samazama Lee ia memang sangat cocok dan berbakat menjadi seorang ibu. ^_^
“Aku
harus segera pulang setelah ini. Aku sudah berjanji pada Saikou akan pulang
ketika dia sudah pulang kerumah.” Shinichi mengawali perbincangan sambil melahap miso dengan nikmatnya.
Miso buatan Lee memang sedap tak ada duanya.
“Secepat itukah Shinichi? Kenapa kau tidak
menginap satu hari lagi saja disini? Lagipula ibumu belum pulang bukan?” Sambil
meniup miso yang masih panas Lee masih sempat menjawab. Rie terkejut hingga ia
tersedak. Dengan cekatan Lee segera memberinya minum.
“Kau terlalu lapar rupanya hingga kau tersedak.
” Pernyataan memalukan. Rie hanya bersabar mendengar ucapan Lee.
“Hahaha…Lee aku juga punya tempat tinggal mana
mungkin aku harus menumpang terus dirumah orang lain?!” Sepertinya Shinichi
mulai teringat dengan habitat serta induknya ia ingin segera pulang.
“Yasudah…habiskan dulu makananmu aku tak tega
melihatpun kelaparan ditengah jalan nanti.” Kyaa…Lee yang benar saja matanya
melihat ke arah Shinichi karena memang sedang bicara padanya, tapi apa yang Lee
lakukan dengan tangannya. Ia berniat memberi minum pada adiknya tapi malah menumpahkannya
akibatnya pakaian Rie menjadi basah. Apa mungkin Rie suka sekali dengan
basah-basahan apa ia setengah siluman lumba-lumba? Sudah 3 hari berturut-turut
ia mengalami hal ini.
Setelah semuanya selesai Shinichi segera
merapikan barang-barangnya dan akhirnya berpamitan pulang pada Lee juga Rie.
Tak lupa juga ia mengucapkan banyak terimaskasih pada keduanya karena telah
memberinya keselamatan.
Hari
yang melelahkan…..
***
‘Pretended is never be safe ’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar