Chapter 5
***
#pulangsekolah
Rie
berjalan nampak terburu-buru sepertinya ia mendapat berita yang membuat dirinya
untuk segera tiba dirumah. Dari kejauhan Shinichi memanggilnya. Ada perlu
apakah ia? Apa ia tidak tahu kalau Rie ada urusan yang lebih penting dibanding
harus menoleh kearahnya.
“Saikou!
Chotto !” Shinichi segera berlari menghampiri Rie yang sudah melangkah beberapa
centimeter dari gerbang sekolah. Namun seruan Shinichi hendak membuat langkah
Rie terhenti.
“Hhh…hhh…hh..”
Akibat Shinichi berlari mengejar Rie, membuat
nafas Shinichi tersengal-sengal dan menghambat vita suaranya untuk
keluar.
“…Nanda?”
“Boleh
aku pulang denganmu?” Shinichi mencoba menawarkan dirinya untuk pulang bersama
Rie. Tapi..
“Aku
harus pergi kesuatu tempat.”
“Eh?
Kalau begitu boleh aku ikut?” Kenapa Shinichi begitu ingin sekali pulang
bersama Rie, jelas-jelas Rie sudah menolaknya, Hmhhh`
“Aku
harus pergi sendiri.”
Deg…
Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut dari
Shinichi, Rie segera meloloskan diri.
“….?...?”
Sudahlah…alangkah
lebih baiknya jika Shinichi pulang sendiri saja, tak untung maupun rugi meski
ia pulang bersama Rie. Akhirnya Shinichi memutuskan untuk menyerah dan tak
mengejar Rie lagi.
Sebenarnya kemana Rie hendak pergi? Sebegitu
pentingkah tempat yang akan ia kunjungi itu hingga ia menolak tawaran Shinichi?
Cukup cepat Rie berjalan, hanya butuh waktu
15menit untuk sampai tujuan, kini Rie berada tepat didepan gedung yang lebih
mirip aula indoor. Tak ingin membuang-buang waktu Rie
pun segera memasuki gedung tersebut. Tempat apakah itu? Ternyata didalamnya
sudah banyak orang yang datang dan hanya beberapa kursi saja yang masih kosong.
Rie memilih tempat duduk yang terletak ditengah-tengah baris ke-3. Ia pun
menghela nafas karena akhirnya ia dapat menghadiri seminar khusus dengan para
editor terkenal di Tokyo.
Acarapun akan segera dimulai. Pembukaan
sambutan akan dipandu oleh Tuan Sora Kurosaki yang merupakan seorang editor
animasi dan kartun. Pria itu kira-kira berumur 35 tahun jauh lebih muda dari
ayahnya Rie yang bilamana sekarang masih hidup beliau berumur 50 tahun.
“Selamat
siang saudara-saudara sekalian. Saya ucapkan banyak terimakasih pada kalian yang
sudah bersedia mengikuti seminar ini. Tim kami disini bernama Animator Local
Corps. Perlu kalian ketahui bahwa tim kami ini bekerjasama dengan organisasi para
editor diseluruh Jepang. Tim kami juga sudah berpengalaman dalam editing film,
gambar serta berbagai macam video dengan tingkat editing effect yang amat
tinggi yang tentunya para pemerannya merupakan akrobatik handal. Kalian juga
bisa melihat hasil-hasil dari video editing kami serta daftar-daftar software
apa saja yang kami gunakan.”
Saikou
Rie…Apa ini cukup membosankan? Ternyata ia ingin menjadi seorang editor seperti
ayahnya hingga ia bersedia meluangkan waktunya untuk pergi seminar. Rie sangat begitu menyimak apa-apa
yang dijelaskan oleh pemandu. Matanya tak beralih sedikitpun, ia sangat
berkonsentrasi.
“Software yang sering kami pakai disini adalah
Adobe Ultimate CS6. Terbukti software ini dapat mengedit gambar, photo, video
dan lain sebagainya dan aplikasi ini juga memiliki multi fungsi jadi untuk
kalian yang ingin bergabung dengan tim kami tidak perlu khawatir untuk merasa
akan dirugikan karena fasilitas yang kami gunakan sangatlah canggih.”
Setelah pemandu menjelaskan sekian banyaknya
teknik maupun berbagai macam software yang pernah mereka gunakan, Tuan Sora
Kurosaki akhirnya membuka penawaran pendaftaran kepada setiap hadirin yang
hadir.
“Baiklah…kami akan sangat menghargai sekali
jika kalian mau ikut berpartisipasi dengan tim kami. Untuk itu silakan kalian
isi formulir yang akan saya bagikan dan jangan lupa untuk mencantumkan hari
atau jadwal kalian. Kebetulan kami mengambil jadwal pelatihan hanya 3 kali
dalam seminggu untuk para pemula.”
Semua orang yang hadir disana segera mengisi
formulir yang sudah dibagikan pemandu, namun apa yang sedang Rie pikirkan
sekarang? Seseorang disampingnya pun sempat bertanya karena melihat Rie
tiba-tiba melamun.
“Sumimasen, apa kau perlu bantuan?” Seorang
wanita berambut lurus sebahu dan berponi mencoba menawarkan bantuan pada Rie.
“Ah…tidak terimakasih.” Rie hanya tersenyum
tipis kepada wanita itu, ia tidak ingin seorangpun mengetahui apa yang sedang
ia pikirkan.
“Kau pemula?” Wanita itupun mencoba bertanya
lagi.
“Hai. Aku masih SMA tingkat 2.” Rie mencoba
menjelaskan.
“Eh? Kau masih kecil rupanya…apa menjadi
seorang editor itu impianmu sehingga kau mau mengikuti seminar ini?”
Sebenarnya Rie tidak ingin siapapun mengorek
masalah pribadinya termasuk menanyakan apa cita-citanya. Kenapa wanita ini sangat ingin tahu sekali kehidupan Rie.
“…Mungkin
begitu.”
“Oh…Baiklah,
ganbatte ne.” Wanita itu tersenyum ramah pada Rie dan Riepun membalasnya dengan
sangat sangat tidak ikhlas karena ia merasa sedikit kesal.
Setelah
semuanya selesai mengisi formmulir, lalu pemandu mengumpulkan kembali formulir
mereka. Dan pada saat
menuju tempat duduk Rie dan mengambil formulirnya Rie mencoba bertanya
sekaligus meminta saran.
“Sumimasen,
kiden…Aku mengikuti club disekolah. Jadi akan sedikit menghambat.”
“Eh?
Kau masih sekolah?...Yasudah aku mengijinkanmu untuk hadir kapan saja kau bisa.
Aku tidak akan memberatkanmu, nak.”
“Arigatou.”
Ternyata
Pemandu itu memberikan saran yang baik pada Rie sungguh kebaikannya tak bisa
dipungkiri. Kegiatan seminar telah dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Riepun
harus pulang lewat petang.
***
Lee
sedang mondar-mandir diruang tengah dekat sofa . lalu melihat kejendela pergi
keluar kembali lagi kedalam dan terus menengok jam dinding, apa yang sedang ia
pikirkan hingga harus melakukan adegan seperti dalam dorama itu? Sepertinya ia
sedang panik.
“Kemana
kau myhoney? Yeoboku? Kenapa belum pulang juga? Apa ada yang sedang menculikmu
ataukah meminjammu dariku tanpa sepengetahuanku? Apa kau sedang kencan dengan seseorang? Apa kau
sedang dimangsa demon? Ya tuhan…kemana dia?”
Wae?? Panjang nian pertanyaan Lee. Saking
pedulinya ia pada Rie ia terus mencemaskannya seharian. Beruntung malam ini
tidak turun hujan. Meskipun sekarang musim panas tapi masih kemungkinan turun
hujan bukan?! Lee terus mencemaskan dan mengucapkan pertanyaan-pertanyaan
terntang Rie. Lalu iapun berdoa…
“Ya Tuhan…Selamatkanlah adikku. Jika ada
srigala atau yakuza ataupun predator lainnya memangsanya maka setidaknya
sisakanlah sepasang ibu jari tangannya untukku. Tapi jika ia sedang berkencan
semoga saja teman kencannya menitipkan sesuatu yang menguntungkanku. Aku
mohon.” Pertanyaan sangat konyol. Apa Lee sudah gila mendoakan adiknya seperti
itu.
‘cklek’
“….Nani? Apa maksudmu nii-chan?” Tiba-tiba Rie
sudah berada dibelakang Lee, tidak…Rie pasti mendengar doa Lee barusan. Ia
kelihatan marah pada Lee, mukanya juga mulai memerah.
“Ehh? Rie? Sejak kapan kau berdiri disana?” Lee
kelihatan kebingungan ketika mendapati Rie berdiri setengah mengamuk
dihadapannya.
Tanpa memberi jawaban apapun, Rie pergi berlari
menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan menutup pintu sekeras-kerasnya hingga
mengakibatkan adanya lini.
“Ya Tuhan…Rie marah padaku. Bagaimana ini?” Lee
pun gelagapan setelah Rie begitu marah padanya. Muka cengonya yang menjadi ciri
khas Lee jika sedang kesulitan menjadi populer untuk dirinya sendiri.
***
Seminggu
setelahnya siswa 1000 years selesai melaksanakan ujian mid semester. Diminggu berikutnya seluruh siswa
sangat sibuk sekaligus bersemangat akan tibanya acara festival dorama musim
panas. Mereka mempersiapkan segala peralatan serta
bahan-bahan untuk membuat kostum dan make up.
Chiba-sensei
barusaja selesai memberi amanat pada siswanya kelas 2-B. kemudian ketika hendak
keluar ia melihat Rie sedang membaca sebuah buku fisika dimejanya. Chiba-sensei
sepertinya mempunyai niat untuk memanggil Rie terlihat dari sorot matanya
mengkilat seperti lampu studio. Dan benar saja ia memerlukan bantuan Rie.
“Rie…bisa kau ikut kekantor bersamaku
sekarang?”
Riepun mengangguk dan segera beranjak dari
tempat duduknya. Semua warga kelas 2-B menatapnya serempak seperti melihat
pertunjukkan sirkus.
Chiba-sensei meminta Rie untuk menjadi panitia
pendaftaran pada acara festival nanti. Rie pun tanpa berpikir panjang langsung
menerimanya.
“Mohon bantuannya Rie.”
“Baik.” Riepun menerima beberapa lembar kertas
yang berisi daftar siswa yang mengikuti pementasan dorama. Dan ia pun kembali
masuk kelas seraya mengambil posisi duduk.
“Ah..Saikou, apa yang kau bawa?” Tanpa sengaja
Shinichi melihat lembaran yang dipegang Rie karena ia hendak mengembalikan
spidol yang dipinjamnya juga.
“Oh ya…Kau mau ikut pementasannya bukan? Tak
usah khawatir jika kau belum menemukan kostum yang cocok aku akan
mencarikannya.” Dengan berbaik hati Shinichi bersedia menawarkan bantuan pada
Rie.
“Aku mendapat tugas jadi tak bisa ikut.”
“Benarkah? Apa dari Chiba-sensei?”
“Ia memintaku menjadi panitia pendaftaran.”
“Sou
ka…Ok, tak masalah. Ganbatte Saikou. ”
Support yang baik sekali Shinichi. Good job!
Ingin
sekali Rie berterima kasih atas dukungan Shinichi, namun ia sepertinya enggan
mengatakannya, ah tepatnya memang tak ingin. Entahlah….
#keesokanharinya
“Shinichi…Chiba-sensei memanggilmu.” Teriak Kao
dari ambang pintu kelas sebelah barat.
“Eh? ” Shinichipun menghentikan kegiatan
menyusun kostumnya dan ia segera pergi menemui Chiba-sensei.
10 menit Shinichi berjalan menuju ruang guru
dan akhirnya sampai juga.
“Kau memanggilku sensei?”
“Oh..Shinichi,
aku ingin memberikan format untuk kau isi nama-nama siswa 2-B. ini. Dan..satu
lagi, berhubung kau koordinator kelas, kau tidak diperbolehkan ikut pementasan,
kau hanya boleh mengawasi dan bertanggung jawab.” Chiba-sensei menyerahkan map
hijau yang berisi format daftar siswa.
“Wakarimashita.”
Ketika
Shinichi hendak melangkah keluar ruangan, tanpa sengaja matanya melihat kearah
meja Yiruwa-sensei. Ternyata ia melihat Youja sedang bercakap-cakap dengan
Yiruwa-sensei. Sempat
tebesit dibenak Shinichi insiden 2 minggu lalu perdebatan antara Youja dengan
Rie.
Shinichi betul-betul sangat penasaran apa yang
menjadi penyebab perdebatan mereka ditempo hari. Tak lama kemudian Youjapun
keluar dari ruangan guru. Ia terperanjat kaget mendengar suara karisma
Shinichi.
“Bagaimana kabarmu Youja Nagata sobatku?” Hee??
Sobat? Rupanya mereka adalah teman sekelas sejak SMP, namun mereka tak berteman
cukup baik, Shinichi menganggap Youja sebagai musuh bebuyutannya. Oleh karena
itu mereka tak pernah mau akur.
Youja pun sangat peka terhadap seruan Shinichi
yang amat flaming. Hahaha.
“Shinichi Yama…Baik. Kau juga pindah kesini
rupanya Hah..tak kusangka kau mengikutiku.” Aish…sungguh
memalukan jika seorang credible prince harus mengikuti sosok the dark phantom
macam Youja, sungguh tak ellegant sama sekali.
“Haruskah
aku melakukan hal itu? Jika bukan karena pekerjaan pamanku akupun tak akan
singgah disekolah ini.”
Ups…Shinichi
sekarang tinggal bersama pamannya. Ayahnya
bekerja diluar negri, dan bekerja
sebagai pilot penerbangan luar negri dan ibunya sudah meninggal ketika
melahirkan Shinichi dirumah sakit.
“Ok..apa yang kau mau dariku? Sampai kau setia
menungguku disini?”
Karena mereka berdua tidak ingin siapapun
mendengar percapakan mereka akhirnya mereka berpindah lokasi menuju keatap. Dan Shinichi kembali membuka topik.
“Kau
kenal dekat dengan Saikou?”
“Eh?
Kau menanyakan hal itu? Apa
kau sudah gila? Kau teman sekelasnya bukan?” Waw…dahsyat, Youja ternyata
mengetahui dimana kelas yang Shinichi tempati. Apa ia punya indra keenam? Atau
mungkin ia seorang indigo? Ah tidak tidak…ia lebih pantas menjadi Princess
Ichigo yang artinya Putri Strawberry
wahaahaha. Parasnya memang tampak terlihat charming juga amai.
“K..kau , bagaimana kau bisa tahu?”
“Tentu saja. Aku melihat absensi seluruh siswa
ketika mendapat tugas untuk merekap kehadiran siswa 1000 years. Yak..Shinichi
jelaskan apa urusanmu mengenai Saikou Rie sampai kau harus merepotkanku berada
ditempat ini?”
“Sejak kapan kau berteman dengannya?
Dan…sedekat apa kau dengannya?” Shinichi nampaknya ingin menelisik hubungan
antara Youja dengan Rie.
“Oh? Jadi kau juga belum berteman dengannya?
Ha? Apakah? Kau kalah denganku sepertinya Shinichi Yama.” Apa? Menantang sekali Youja. Ia ingin meremehkan Shinichi rupanya.
Main-main.
“Aku
tidak sedang mengajak bertanding denganmu dalam hal apapun. Bisakah kau jelaskan padaku alasanmu
bertindak seperti itu pada Saikou?”
“Hhh…(menghela
nafas ). Aku tidak mengerti kenapa kau menanyakan hal ini padaku.
Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa Rie tidak mau berteman denganmu hingga
ia harus selalu menyendiri? Seharusnya kau yang lebih peka terhadapnya. Untuk
menjadi seorang teman saja kau lemah menanggapinya. Apalagi jika kau
menginginkan lebih dari itu?” Tsk! Kenapa Si Youja ini selalu membuat semua
orang marah…?
“….” Sungguh Shinichi mendadak tak bisa
mengungkap apapun. Ia stuck. Jangan sampai sisi flamingnya hilang gara-gara
ucapan Youja.
“Jika kau ingin membahas soal hubunganku dengan
Rie. Kau harus mau peduli padanya jika memang kau berada dikelas yang sama.
Bukannya kau terkenal sangat berkarisma. Tapi kenyataannya kau bisa terkalahkan
dalam hal ini. Hhh. .” Senyuman bengis terlukis kejam
diwajah Youja dan sempat membuat Shinichi speechless.
“Aa..Shinichi
jika kau sudah berhubungan baik dengan Rie, beritahu aku, ok. Dan satu
lagi…dengan sangat beruntungnya aku menjadi panitia bidang pendaftaran untuk
festival nanti.” Ejekan Youja sama sekali tidak membuat Shinichi runtuh
seketika.
“Ah? apa? benarkah” Informasi
Youja sontak membuat Shinichi tak bisa bergerak sedikitpun. Entah perasaan apa
yang Shinichi rasakan. Kesal mungkin?! Hatinya mengerang.
***
Festival
dorama musim panas akan berlangsung satu minggu lagi. Kini warga kelas 2-B
sedang sibuk merancang kostum sekaligus memasang segala pernak-pernak dan
aksesoris dikostum mereka. Beberapa crew sedang menyusun konsep dan strategi apa yang akan mereka
gunakan.
“Yak…Shinichi apa ada yang kurang?” Ashega
mencoba meminta pendapat pada Shinichi seraya memberikan lampiran yang telah ia
buat.
“Kurasa sudah cukup. Kerja yang bagus Ashega.”
Shinichi menepuk bahu Ashega yang terlihat nampak semangat sekali atas
keberhasilannya.
“Baiklah
semuanya, setelah ini kita adakan briefing.”
“Haiiiii…”
Semuanya serempak menjawab.
***
‘Slowly doing good thing is very enjoy’
(Author)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar