Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 5


Chapter 5
***
#pulangsekolah

Rie berjalan nampak terburu-buru sepertinya ia mendapat berita yang membuat dirinya untuk segera tiba dirumah. Dari kejauhan Shinichi memanggilnya. Ada perlu apakah ia? Apa ia tidak tahu kalau Rie ada urusan yang lebih penting dibanding harus menoleh kearahnya.

“Saikou! Chotto !” Shinichi segera berlari menghampiri Rie yang sudah melangkah beberapa centimeter dari gerbang sekolah. Namun seruan Shinichi hendak membuat langkah Rie terhenti.

“Hhh…hhh…hh..” Akibat Shinichi berlari mengejar Rie, membuat  nafas Shinichi tersengal-sengal dan menghambat vita suaranya untuk keluar.

“…Nanda?”

“Boleh aku pulang denganmu?” Shinichi mencoba menawarkan dirinya untuk pulang bersama Rie. Tapi..

“Aku harus pergi kesuatu tempat.”

“Eh? Kalau begitu boleh aku ikut?” Kenapa Shinichi begitu ingin sekali pulang bersama Rie, jelas-jelas Rie sudah menolaknya, Hmhhh`

“Aku harus pergi sendiri.”

Deg…

Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut dari Shinichi, Rie segera meloloskan diri.

“….?...?”

Sudahlah…alangkah lebih baiknya jika Shinichi pulang sendiri saja, tak untung maupun rugi meski ia pulang bersama Rie. Akhirnya Shinichi memutuskan untuk menyerah dan tak mengejar Rie lagi.

Sebenarnya kemana Rie hendak pergi? Sebegitu pentingkah tempat yang akan ia kunjungi itu hingga ia menolak tawaran Shinichi?

Cukup cepat Rie berjalan, hanya butuh waktu 15menit untuk sampai tujuan, kini Rie berada tepat didepan gedung yang lebih mirip aula indoor. Tak ingin membuang-buang waktu Rie pun segera memasuki gedung tersebut. Tempat apakah itu? Ternyata didalamnya sudah banyak orang yang datang dan hanya beberapa kursi saja yang masih kosong. Rie memilih tempat duduk yang terletak ditengah-tengah baris ke-3. Ia pun menghela nafas karena akhirnya ia dapat menghadiri seminar khusus dengan para editor terkenal di Tokyo.

Acarapun akan segera dimulai. Pembukaan sambutan akan dipandu oleh Tuan Sora Kurosaki yang merupakan seorang editor animasi dan kartun. Pria itu kira-kira berumur 35 tahun jauh lebih muda dari ayahnya Rie yang bilamana sekarang masih hidup beliau berumur 50 tahun.

“Selamat siang saudara-saudara sekalian. Saya  ucapkan banyak terimakasih pada kalian yang sudah bersedia mengikuti seminar ini. Tim kami disini bernama Animator Local Corps. Perlu kalian ketahui bahwa tim kami ini bekerjasama dengan organisasi para editor diseluruh Jepang. Tim kami juga sudah berpengalaman dalam editing film, gambar serta berbagai macam video dengan tingkat editing effect yang amat tinggi yang tentunya para pemerannya merupakan akrobatik handal. Kalian juga bisa melihat hasil-hasil dari video editing kami serta daftar-daftar software apa saja yang kami gunakan.”

Saikou Rie…Apa ini cukup membosankan? Ternyata ia ingin menjadi seorang editor seperti ayahnya hingga ia bersedia meluangkan waktunya untuk pergi seminar. Rie sangat begitu menyimak apa-apa yang dijelaskan oleh pemandu. Matanya tak beralih sedikitpun, ia sangat berkonsentrasi.

“Software yang sering kami pakai disini adalah Adobe Ultimate CS6. Terbukti software ini dapat mengedit gambar, photo, video dan lain sebagainya dan aplikasi ini juga memiliki multi fungsi jadi untuk kalian yang ingin bergabung dengan tim kami tidak perlu khawatir untuk merasa akan dirugikan karena fasilitas yang kami gunakan sangatlah canggih.”

Setelah pemandu menjelaskan sekian banyaknya teknik maupun berbagai macam software yang pernah mereka gunakan, Tuan Sora Kurosaki akhirnya membuka penawaran pendaftaran kepada setiap hadirin yang hadir.

“Baiklah…kami akan sangat menghargai sekali jika kalian mau ikut berpartisipasi dengan tim kami. Untuk itu silakan kalian isi formulir yang akan saya bagikan dan jangan lupa untuk mencantumkan hari atau jadwal kalian. Kebetulan kami mengambil jadwal pelatihan hanya 3 kali dalam seminggu untuk para pemula.”

Semua orang yang hadir disana segera mengisi formulir yang sudah dibagikan pemandu, namun apa yang sedang Rie pikirkan sekarang? Seseorang disampingnya pun sempat bertanya karena melihat Rie tiba-tiba melamun.

“Sumimasen, apa kau perlu bantuan?” Seorang wanita berambut lurus sebahu dan berponi mencoba menawarkan bantuan pada Rie.

“Ah…tidak terimakasih.” Rie hanya tersenyum tipis kepada wanita itu, ia tidak ingin seorangpun mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.

“Kau pemula?” Wanita itupun mencoba bertanya lagi.

“Hai. Aku masih SMA tingkat 2.” Rie mencoba menjelaskan.

“Eh? Kau masih kecil rupanya…apa menjadi seorang editor itu impianmu sehingga kau mau mengikuti seminar ini?”

Sebenarnya Rie tidak ingin siapapun mengorek masalah pribadinya termasuk menanyakan apa cita-citanya. Kenapa wanita ini sangat ingin tahu sekali kehidupan Rie.

“…Mungkin begitu.”

“Oh…Baiklah, ganbatte ne.” Wanita itu tersenyum ramah pada Rie dan Riepun membalasnya dengan sangat sangat tidak ikhlas karena ia merasa sedikit kesal.

Setelah semuanya selesai mengisi formmulir, lalu pemandu mengumpulkan kembali formulir mereka. Dan pada saat menuju tempat duduk Rie dan mengambil formulirnya Rie mencoba bertanya sekaligus meminta saran.

“Sumimasen, kiden…Aku mengikuti club disekolah. Jadi akan sedikit menghambat.”

“Eh? Kau masih sekolah?...Yasudah aku mengijinkanmu untuk hadir kapan saja kau bisa. Aku tidak akan memberatkanmu, nak.”

“Arigatou.”

Ternyata Pemandu itu memberikan saran yang baik pada Rie sungguh kebaikannya tak bisa dipungkiri. Kegiatan seminar telah dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Riepun harus pulang lewat petang.


***

Lee sedang mondar-mandir diruang tengah dekat sofa . lalu melihat kejendela pergi keluar kembali lagi kedalam dan terus menengok jam dinding, apa yang sedang ia pikirkan hingga harus melakukan adegan seperti dalam dorama itu? Sepertinya ia sedang panik.

“Kemana kau myhoney? Yeoboku? Kenapa belum pulang juga? Apa ada yang sedang menculikmu ataukah meminjammu dariku tanpa sepengetahuanku? Apa kau sedang kencan dengan seseorang? Apa kau sedang dimangsa demon? Ya tuhan…kemana dia?”

Wae?? Panjang nian pertanyaan Lee. Saking pedulinya ia pada Rie ia terus mencemaskannya seharian. Beruntung malam ini tidak turun hujan. Meskipun sekarang musim panas tapi masih kemungkinan turun hujan bukan?! Lee terus mencemaskan dan mengucapkan pertanyaan-pertanyaan terntang Rie. Lalu iapun berdoa…

“Ya Tuhan…Selamatkanlah adikku. Jika ada srigala atau yakuza ataupun predator lainnya memangsanya maka setidaknya sisakanlah sepasang ibu jari tangannya untukku. Tapi jika ia sedang berkencan semoga saja teman kencannya menitipkan sesuatu yang menguntungkanku. Aku mohon.” Pertanyaan sangat konyol. Apa Lee sudah gila mendoakan adiknya seperti itu.

‘cklek’

“….Nani? Apa maksudmu nii-chan?” Tiba-tiba Rie sudah berada dibelakang Lee, tidak…Rie pasti mendengar doa Lee barusan. Ia kelihatan marah pada Lee, mukanya juga mulai memerah.

“Ehh? Rie? Sejak kapan kau berdiri disana?” Lee kelihatan kebingungan ketika mendapati Rie berdiri setengah mengamuk dihadapannya.

Tanpa memberi jawaban apapun, Rie pergi berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan menutup pintu sekeras-kerasnya hingga mengakibatkan adanya lini.

“Ya Tuhan…Rie marah padaku. Bagaimana ini?” Lee pun gelagapan setelah Rie begitu marah padanya. Muka cengonya yang menjadi ciri khas Lee jika sedang kesulitan menjadi populer untuk dirinya sendiri.

***

Seminggu setelahnya siswa 1000 years selesai melaksanakan ujian mid semester. Diminggu berikutnya seluruh siswa sangat sibuk sekaligus bersemangat akan tibanya acara festival dorama musim panas. Mereka mempersiapkan segala peralatan serta bahan-bahan untuk membuat kostum dan make up.

Chiba-sensei barusaja selesai memberi amanat pada siswanya kelas 2-B. kemudian ketika hendak keluar ia melihat Rie sedang membaca sebuah buku fisika dimejanya. Chiba-sensei sepertinya mempunyai niat untuk memanggil Rie terlihat dari sorot matanya mengkilat seperti lampu studio. Dan benar saja ia memerlukan bantuan Rie.

“Rie…bisa kau ikut kekantor bersamaku sekarang?”

Riepun mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya. Semua warga kelas 2-B menatapnya serempak seperti melihat pertunjukkan sirkus.

Chiba-sensei meminta Rie untuk menjadi panitia pendaftaran pada acara festival nanti. Rie pun tanpa berpikir panjang langsung menerimanya.

“Mohon bantuannya Rie.”

“Baik.” Riepun menerima beberapa lembar kertas yang berisi daftar siswa yang mengikuti pementasan dorama. Dan ia pun kembali masuk kelas seraya mengambil posisi duduk.

“Ah..Saikou, apa yang kau bawa?” Tanpa sengaja Shinichi melihat lembaran yang dipegang Rie karena ia hendak mengembalikan spidol yang dipinjamnya juga.

“Oh ya…Kau mau ikut pementasannya bukan? Tak usah khawatir jika kau belum menemukan kostum yang cocok aku akan mencarikannya.” Dengan berbaik hati Shinichi bersedia menawarkan bantuan pada Rie.

“Aku mendapat tugas jadi tak bisa ikut.”
“Benarkah? Apa dari Chiba-sensei?”

“Ia memintaku menjadi panitia pendaftaran.”

“Sou ka…Ok, tak masalah. Ganbatte Saikou. ” Support yang baik sekali Shinichi. Good job!
Ingin sekali Rie berterima kasih atas dukungan Shinichi, namun ia sepertinya enggan mengatakannya, ah tepatnya memang tak ingin. Entahlah….

#keesokanharinya

“Shinichi…Chiba-sensei memanggilmu.” Teriak Kao dari ambang pintu kelas sebelah barat.

“Eh? ” Shinichipun menghentikan kegiatan menyusun kostumnya dan ia segera pergi menemui Chiba-sensei.

10 menit Shinichi berjalan menuju ruang guru dan akhirnya sampai juga.

“Kau memanggilku sensei?”

“Oh..Shinichi, aku ingin memberikan format untuk kau isi nama-nama siswa 2-B. ini. Dan..satu lagi, berhubung kau koordinator kelas, kau tidak diperbolehkan ikut pementasan, kau hanya boleh mengawasi dan bertanggung jawab.” Chiba-sensei menyerahkan map hijau yang berisi format daftar siswa.

“Wakarimashita.”

Ketika Shinichi hendak melangkah keluar ruangan, tanpa sengaja matanya melihat kearah meja Yiruwa-sensei. Ternyata ia melihat Youja sedang bercakap-cakap dengan Yiruwa-sensei. Sempat tebesit dibenak Shinichi insiden 2 minggu lalu perdebatan antara Youja dengan Rie.

Shinichi betul-betul sangat penasaran apa yang menjadi penyebab perdebatan mereka ditempo hari. Tak lama kemudian Youjapun keluar dari ruangan guru. Ia terperanjat kaget mendengar suara karisma Shinichi.
“Bagaimana kabarmu Youja Nagata sobatku?” Hee?? Sobat? Rupanya mereka adalah teman sekelas sejak SMP, namun mereka tak berteman cukup baik, Shinichi menganggap Youja sebagai musuh bebuyutannya. Oleh karena itu mereka tak pernah mau akur.

Youja pun sangat peka terhadap seruan Shinichi yang amat flaming. Hahaha.

“Shinichi Yama…Baik. Kau juga pindah kesini rupanya Hah..tak kusangka kau mengikutiku.” Aish…sungguh memalukan jika seorang credible prince harus mengikuti sosok the dark phantom macam Youja, sungguh tak ellegant sama sekali.

“Haruskah aku melakukan hal itu? Jika bukan karena pekerjaan pamanku akupun tak akan singgah disekolah ini.”

Ups…Shinichi sekarang  tinggal bersama pamannya. Ayahnya  bekerja diluar negri, dan bekerja sebagai pilot penerbangan luar negri dan ibunya sudah meninggal ketika melahirkan Shinichi dirumah sakit.

“Ok..apa yang kau mau dariku? Sampai kau setia menungguku disini?”

Karena mereka berdua tidak ingin siapapun mendengar percapakan mereka akhirnya mereka berpindah lokasi menuju keatap. Dan Shinichi kembali membuka topik.

“Kau kenal dekat dengan Saikou?”

“Eh? Kau menanyakan hal itu? Apa kau sudah gila? Kau teman sekelasnya bukan?” Waw…dahsyat, Youja ternyata mengetahui dimana kelas yang Shinichi tempati. Apa ia punya indra keenam? Atau mungkin ia seorang indigo? Ah tidak tidak…ia lebih pantas menjadi Princess Ichigo  yang artinya Putri Strawberry wahaahaha. Parasnya memang tampak terlihat charming juga amai.

“K..kau , bagaimana kau bisa tahu?”

“Tentu saja. Aku melihat absensi seluruh siswa ketika mendapat tugas untuk merekap kehadiran siswa 1000 years. Yak..Shinichi jelaskan apa urusanmu mengenai Saikou Rie sampai kau harus merepotkanku berada ditempat ini?”

“Sejak kapan kau berteman dengannya? Dan…sedekat apa kau dengannya?” Shinichi nampaknya ingin menelisik hubungan antara Youja dengan Rie.

“Oh? Jadi kau juga belum berteman dengannya? Ha? Apakah? Kau kalah denganku sepertinya Shinichi Yama.” Apa? Menantang sekali Youja. Ia ingin meremehkan Shinichi rupanya. Main-main.

“Aku tidak sedang mengajak bertanding denganmu dalam hal apapun. Bisakah kau jelaskan padaku alasanmu bertindak seperti itu pada Saikou?”

“Hhh…(menghela nafas ). Aku tidak mengerti kenapa kau menanyakan hal ini padaku. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa Rie tidak mau berteman denganmu hingga ia harus selalu menyendiri? Seharusnya kau yang lebih peka terhadapnya. Untuk menjadi seorang teman saja kau lemah menanggapinya. Apalagi jika kau menginginkan lebih dari itu?” Tsk! Kenapa Si Youja ini selalu membuat semua orang marah…?

“….” Sungguh Shinichi mendadak tak bisa mengungkap apapun. Ia stuck. Jangan sampai sisi flamingnya hilang gara-gara ucapan Youja.

“Jika kau ingin membahas soal hubunganku dengan Rie. Kau harus mau peduli padanya jika memang kau berada dikelas yang sama. Bukannya kau terkenal sangat berkarisma. Tapi kenyataannya kau bisa terkalahkan dalam hal ini. Hhh. .” Senyuman bengis terlukis kejam diwajah Youja dan sempat membuat Shinichi speechless.

“Aa..Shinichi jika kau sudah berhubungan baik dengan Rie, beritahu aku, ok. Dan satu lagi…dengan sangat beruntungnya aku menjadi panitia bidang pendaftaran untuk festival nanti.” Ejekan Youja sama sekali tidak membuat Shinichi runtuh seketika.

Ah? apa? benarkah” Informasi Youja sontak membuat Shinichi tak bisa bergerak sedikitpun. Entah perasaan apa yang Shinichi rasakan. Kesal mungkin?! Hatinya mengerang.
***

Festival dorama musim panas akan berlangsung satu minggu lagi. Kini warga kelas 2-B sedang sibuk merancang kostum sekaligus memasang segala pernak-pernak dan aksesoris dikostum mereka. Beberapa crew sedang menyusun konsep dan strategi apa yang akan mereka gunakan.

“Yak…Shinichi apa ada yang kurang?” Ashega mencoba meminta pendapat pada Shinichi seraya memberikan lampiran yang telah ia buat.
“Kurasa sudah cukup. Kerja yang bagus Ashega.” Shinichi menepuk bahu Ashega yang terlihat nampak semangat sekali atas keberhasilannya.

“Baiklah semuanya, setelah ini kita adakan briefing.”

“Haiiiii…” Semuanya serempak menjawab.




***



‘Slowly doing good thing is very enjoy’
 (Author)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...