Selasa, 01 Agustus 2017

Doko De Shiawase Chapter 6


Chapter 6
***


Akhirnya…acara Festival Dorama musim panas akan dimulai hari ini, hari Jum’at. Indahnya bunga sakura dan daun pohon ceri yang meramaikan setiap dahan-dahan pohonnya, berkilauan terkena sinar matahari pagi hari. Sehingga terasa sejuk dan fresh ketika terhirup bersamaan dengan oksigen disekitarnya. Gedung 1000 years ramai dikerubungi oleh 1000 siswa yang akan berperan aktiv diacara tersebut. Semuanya telah memakai kostum sesuai karakter horor pilihan mereka. Dan ada diantaranya yang menggunakan karakter kostum barbie okiku, barbie Licca chan dan barbie annabel yang tentunya mereka berasal dari suatu komunitas barbie paling mesteri dan paling menyedihkan disekolah.

Tapi selain itu tentunya ada yang lebih keren dari itu siap lagi kalau bukan Azuki dan Hanase yang masing-masing menggunakan karakter The Green Goblin dan Ratu Harionago. But…apa yang terjadi pada wajahnya Azuki? Foundation apa yang ia pakai?

“Ah…Shinichi? Bagaimana penampilanku hari ini? Apa terlihat kakkoi. Mizumi yang memake-upku.” Tampang innocent yang ia pasang sontak membuat Shinichi yang sedang mereview daftar nama-nama siswa 2-B dibawah pohon cemara sempat terkejut dan nyaris berteriak kemudian berlari lepas menjauh dari dua makhluk bumi jadi-jadian itu.

Dengan sedikit gemetar Shinichi bertanya-tanya sambil membelalakan kedua bola mata indahnya.
“..A..Azuki..wajahmu kenapa kotor sekali? seperti korban mal praktek operasi plastik yang tersebar di internet.”

“Hhhh..-____-. Sepertinya Shinichi tidak tahu goblin. Dan ini akibat Mizumi mancampurkan serbuk-serbuk aneh dengan foundationnyaaa.. aku tidak terimaaaa… ”Azuki merengek sambil berteriak tepat sekali dihadapan cerobong telinga kanan Mizumi.

“Berisik, bodoh. Kau bisa merusak pendengaranku!” Mizumi memukul tengkuk leher Azuki hingga Azuki terjatuh ketanah.

“I..Itai..” Azuki merasa kesakitan hingga ia tak mampu berdiri.

“Jam 8 tepat acara akan segera dimulai, sebaiknya kita segera berkumpul dilapangan.” Shinichi menyegerakan Hanase serta Azuki untuk berkumpul dilapangan.

“Ayo…” Hanase pergi tanpa menghiraukan Azuki yang mengerang kesakitan. Masa bodoh!

Setelah semuanya berkumpul diarea lapangan basket yang cukup megah dengan dihiasi hiasan seperti lampu-lampu kecil berwarna-warni untuk melengkapi keramaian dekorasi panggung. Serta beberapa hiasan dari bunga sakura berbahan plastik berwarna merah muda dan putih mempercantik background panggung tersebut.

Pukul 08:00.

Presdir Hyun Ra segera menaiki panggung untuk memberikan sambutan terlebih dahulu disertai dengan riuh tepuk tangan dari para siswa 1000 years. Presdis Hyun Ra memang cukup handal dalam mengelola sekolah 1000 years. Bangunan sekolah yang sudah direnovasi itu berkat usaha Presdir Hyun Ra. Tapi tunggu…Merasa ada yang aneh..


Ya Tuhan…itu seperti bukan Presdir Hyun Ra, ia mengganti cat rambutnya warna blonde sehingga ia terlihat berbeda sekali. Seperti Ratu Elizabeth? Tidak itu takan pernah terjadi. Dan, potongan rambut apa itu? Oh rupanya Presdir memanjangkan rambutnya juga..Di Curly? hingga melambai-lambai setengah punggung apa ia ingin meniru Rapunzel? Mungkin saja.
Ia memakai baju kimono berwarna merah dengan corak bunga-bunga kecil berwarna merah muda dan putih dan obi berwarna putih tak lupa juga dilengkapi dengan alas kakinya yang disebut zori.. Ia hanya memakai aksesoris sederhana dirambutnya yaitu memakai pita berwarna putih dengan kombinasi merah muda lagi, kenyataannya Presdir memang menyukai warna merah muda. Bahkan ruangan pribadinya pun dicat dengan warna merah muda, ia juga menyukai hello kitty oleh sebab itu hari ini ia memake-up wajahnya yang rupawan sekawaii hello kitty. Ia jadi terlihat lebih muda daripada hari-hari biasa ketika disekolah. Wajar saja semua itu ia lakukan karena dia barusaja jalan-jalan ke London. Ia memang mudah terjerumus pada segala kebudayaan yang pernah ia temui didunia.

“Ohayoo Gozaimasu 1000 years high school Seitora. Kabar kalian semua baik bukan?! Yah..aku sangat sangat merindukan kalian setelah seminggu lamanya aku pergi ke London, aku takan lupa untuk menceritakannya pada kalian tentunya dilain waktu, ok. Hari ini aku bahagia sekali bisa menyaksikan acara Festival dorama musim panas yang diadakan setiap tahun disekolah kita. Harapanku adalah…Tampilkanlah yang terbaik untuk menjadi pemenang ok. Are you with me student?”

“Haiii…..”

“Terimakasih..” Presdir Hyun Ra telah mengakhiri sambutannya dan turun meninggalkan panggung.

 Sambutan dilanjutkan oleh seorang wakil kepala sekolah yaitu Tuan Hanauri Ooya. Ia memaparkan aturan-aturan dalam pementasan nanti serta kriteria penilaian juri. Dan diakhir sambutan ia menginformasikan bahwa para koordinator harus mendaftarkan ulang kelasnya.




***


#panitiapendaftaran

Youja baru saja tiba dilokasi, ia memang selalu tak bisa tepat waktu. Bahkan disaat penting seperti itu ia sempat menggoda Rie yang sedang dalam keseriusannya. Tapi sejujurnya Youja merasa terpesona melihat penampilan Rie sedikit berbeda. Rambut panjangnya ia urai…Kawaii ne..terlihat jelas sosok seorang Ratu kegelapan duduk berdampingan dengan musuh besarnya. Begitu akrabnya.

“Ohayoo, Rie-chan !” Ugh! Sok manis sekali dia. Menggelikan !

"Onegai shimasu, Rie-chan ^^” Aish…Rie tak sudi sekali melihat wajahnya, nampak busuk, munafik.

Youja segera duduk dikursi disamping Rie. Mereka terlihat seperti panitia, memang benar mereka sedang bertugas menjadi panitia pendaftaran.

“Kau yakin semuanya sudah terdata Marie?” Dua orang siswa kelas 3-A hendak melakukan pendaftaran ulang pada panitia namun ketika mereka melihat siapakah panitianya? Saikou Rie.

“Eh? Bagaimana bisa Si gadis Wolf Girl itu menjadi panitia pendaftaran? Bersama Youja Nagata? Apa yakin pihak panitia menunjuk dirinya? Apa mereka tidak takut gadis itu akan melukai peserta disini?” Tsk!...Menyakitkan mendengar celotehan yang begitu pedas sekali.

“Tak perlu banyak bicara. Cepat berikan format itu!” Wae?? Youja membela Rie? Apa hanya sekedar mencari perhatian Rie?

“What? Ia membelanya?” seorang temannyapun merasa heran.

“Alangkah baiknya jika kalian tidak berdiri lama-lama disini.”  ‘Krek’ satu kalimat Youja berhasil mengusir mereka.

“Bagus sekali kau tidak mempedulikan mereka. Reaksi yang patut dicontoh.”. Terserah apa yang mau Youja katakan, yang jelas Rie tidak ingin siapapun mengganggu konsentrasinya.
Anginnya terasa sepoi-sepoi, dan mampu mengombang-ambing daun-daun dan bunga-bunga yang sedang bermekaran disekitar mereka. Rambut panjang yang berwarna coklat nan takjub dipandang mata milik Rie pun ikut menjuntai hingga wajahnya tertutupi, hanya batang hidungnya yang nampak. Ketika itu Youja tanpa sengaja meliuk kearah Rie dan ia sedikit terguncang, sungguh…harum nian rambut Rie..

Sampo apa yang ia pakai sehingga wanginya begitu semerbak mendamaikan arus angin. Sehingga Youja kesulitan untuk menatap dan melihat wajahnya untuk dia ajak bicara. Tapi karena sikapnya yang selalu dingin ia menjadi lebih mirip sadako, meski ia tidak pakai kostum horor ia sudah terlihat menyeramkan. Semua orangpun menjadi takut menjadi mangsanya.

Dengan refleksnya ia menyibakkan rambut Rie yang menutupi wajahnya dengan pelan. ‘’Ya

Tuhan…Dia…cantik sekali, belum pernah aku melihatnya sesempurna ini.’’

Youja sempat bergumam dalam hati. Shinichi pun terperanjat ketika ia akan menuju tempat pendaftaran. Ia melihat jelas lengan Youja meraba rambut indah Rie dan belum juga melepaskannya. Deg…Deg…Deg… Jantung Shinichi tiba-tiba saja berdegup kencang dengan kecepatan 150 km/detik.

Dengan secepat kilat Rie menyadarinya. Dan…

‘Ctakk!’  

“Apa yang kau lakukan? Jangan berani macam-macam, disini kita sedang bertugas!” Waaaa…Rie menangkis pergelangan tangan Youja hingga Youja meringis kesakitan. Shinichipun terkekeh melihat adegan tragis itu. Kini jantungnya kembali normal. Dan ia melanjutkan langkahnya menuju pendaftaran.

“Ini, Saiko.” Shinichi menyerahkan mapnya pada Rie, namun belum sempat Rie mengambilnya, Youja yang meraihnya duluan.

“Yak..sudah cukup Shinichi.” Hee? Memang siapa yang mengajak Youja berbicara. Tidak ada kan? Ia memang terlalu percaya diri.

“Aku ingin kau melihat pertunjukkan kelas kita Saikou.” Shinichi sempat meminta permohonan kecil pada Rie. Tak tanggung-tanggung rie pun mengangguk. Yak hanya mengangguk. Bilapun ada yang lain pasti menggeleng.
Shinichi tersenyum kearah Rie tanpa Rie mengetahuinya karena ia masih terlalu fokus pada pekerjaannya. Shinichi berbalik dan beranjak darisana.

“Rie…apa kau membenci Shinichi?” Tsk! Lagi-lagi Youja mengajukan pertanyaan yang tak begitu penting.

“Jangan mengganggu konsentrasiku.” Duuuarrr….Rasakan kau Youja. Ungkapan itu membuat Youja akhirnya berhenti bicara.

***


“Ya, saudara-saudara kita lanjut penampilan berikutnya dari kelas 2-B. beri tepuk tangan yang meriah…” Kini giliran kelas 2-B untuk tampil memerankan dorama.

Mereka terdiri dari Azuki, Hanase, Ashega, Kao, Tanaka, Yoo, Ibuki, Haru, Jinki, dan Miuri. Tim mereka mengambil judul Green Goblin pemangsa Harionago. Yang membuat skenario sendiri adalah Shinichi. Ia sangat pintar mengarang karna sastra merupakan study favoritnya. Cerita seekor goblin bertarung melawan kerajaan O-bake yang dikepalai oleh Ratu Harionago si wanita dengan rambut berduri. Ia memiliki 7 prajurit dari jelmaan hewan melata yaitu laba-laba merangkak.

Peran Azuki, Hanase maupun yang lainnya sangat perfect  sekali. Semua penonton dan juripun merasa terkagum-kagum melihat aksi mereka.

Karakter yang mereka improvisasi sangat benar-benar berbeda dengan aslinya. Mereka benar-benar-siswa yang kreativ dalam seni. Tentu saja mereka mengikuti club teater, yang pada kenyataannya mereka sudah amat terlatih.

Riuh tepuk tangan para penonton meramaikan gedung tersebut. Semuanya sangat amat terhibur dengan performance mereka.

“Success…Kerja bagus teman-teman..! kalian sangat amazing. Haha kalian membuatku bangga.” Shinichipun merasa sangat puas. Tak habis-habisnya ia mengucapkan selamat dan bersalaman pada Azuki dan yang lainnya.

“Ini berkat kerjasama kita semua Shinichi.  Arigatou.”  Ungkap Azuki seraya tersenyum pada Shinichi. Senyum kebahagiaan tentunya.

Tapi sedari tadi ia tidak melihat penampakan Rie. Rie tidak muncul sama sekali bahkan mungkin ia tidak menyaksikan pertunjukan kelasnya.

Shinichi terus bertanya-tanya kemanakah Rie. Ia ingin melihat Rie merasa takjub dan setidaknya punya rasa apresiasi pada teman-temannya. Shinichi benar-benar merasa curiga, heran. Sebenarnya apa yang menyebabkan Rie bersikap apatis seperti itu. Shinichi merasa tidak yakin kalau itu karakter Rie yang sebenarnya. Ia harus bertindak dan melakukan sesuatu. Tapi apa? Kepada siapa ia harus mengadu?



***

#pulangsekolah

Saikou Rie berjalan sangat terburu-buru, memang jam berapa sekarang? Jam 15:00 masih sangat siang untuk pulang kerumah. Kenapa Rie selalu pergi dengan tergesa-gesa ketika pukul 3 sore? Untuk membayar hutang penasarannya Hanase berlari mengejar Rie dengan tujuan ia juga ingin mengajak Rie pulang bersama.

“Rie-chan…chotto..Rie-chan…” Sekarang Hanase berada menghadap padanya.

“…Ya tuhan…Cepat sekali kau berjalan? Hingga aku kewalahan mengejarmu.”

“Nani?”

“Um…Apa kau punya waktu untuk pulang bersamaku? Sekali saja Rie-chan. Aku mohon.” Hanase sedikit merengek pada Rie. Ia memang sangat ingin sekali pulang bersama Rie, belanja bersama Rie, belajar bersama Rie hingga melakukan hal-hal kecil bersama dengan Rie. Tapi semua itu terasa sulit sekali untuk didapatkan.

“Aku ada urusan yang sangat penting.” Lagi-lagi Rie juga menolak ajakan Hanase dan insiden ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Shinichi.

“….Baiklah. aku rasa lain waktu saja. Jaa ne Rie-chan.” Hanase membiarkan Rie pergi meninggalkannya. Ia sungguh merasa sakit hati. Lalu Shinichi tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Hanase.

“Aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu Hanase. Kau cukup tegar bukan?”
“Um! Tuhan tak sayang padaku.” Hanase hanya mengangguk sedih.

“Aku akan mencoba mengungkap rahasia dibalik sikap Saikou selama ini. Jujur, aku merasa itu bukan sifat aslinya Saikou. Aku tahu ia bukan wanita sekejam itu.”

“Eh? Shinichi? Kau tidak mempercayai Rie-chan?”

“Hmh…Aku rasa begitu. Aku akan mengunjungi rumahnya dan menanyakan yang sebenarnya pada Lee. Aku yakin ini adalah sebuah masalah.” Pendapat yang sangat efektif sekali.

“Kau percaya padaku kan Hanase? Aku akan memberitahumu dan juga Azuki setelah aku berhasil menemukan jalan keluarnya. Dan kau juga ingin menjadi teman baik Saikou kan?...Ayo kita lakukan!” Sebuah keputusan yang sangat cemerlang. Kekarismaan Shinichi memang tak tertandingi.

Shinichi memutuskan untuk pergi menemui Lee sendirian. Ia tidak mengajak kedua temannya karena ia tidak ingin melibatkan banyak orang yang akan membebani nantinya.





***


#rumahSaikouRie

‘tok…tok…tok..’

Lee yang membukakan pintunya. Kebetulan ia hari ini hanya bekerja setengah hari. Dan Lee mempersilakan Shinichi masuk dan duduk disofanya yang empuk. Beberapa menit ia membuatkan minum untuk Shinichi. Dan Shinichi meneguknya perlahan-lahan hingga tersisa setengah. Rupanya ia dehidrasi setelah sekian lama berjalan dari sekolah menuju rumah Rie. Tapi beruntung Rie belum tiba dirumah.

“Ada apa Shinichi? Kau tiba-tiba saja mendadak kemari. Kau ingin bertemu Rie kah? Ia kebetulan belum pulang. Apakah ia pergi seminar?!”

Ck! 

Seminar? Seminar apa yang kau maksud Lee?”

“Ah ya…Rie mengikuti pelatihan semacam multimedia bersama para editor yang mahir di Shibuya.”

Jadi…ia pergi kesana?! Hanya seorang diri? Kau tidak ikut?”

“Hah…Itu sama sekali bukan hobby ku.”

“Naruhodo…”

Lee meletakkan setoples selai strawberry dan dua buah roti tawar berukuran sedang. Ia ingin membuat roti sandwich untuk Shinichi. Lee memang sangat suka roti sandwich dengan berbagai rasa. Jadi Shinichi sudah tidak merasa aneh lagi.

“Yak…Ada perlu apa kau datang kemari jika bukan untuk menemui Rie?” Lee melahap roti sandwich yang barusan ia buat untuk dirinya.

“Etto…sebelumnya aku ingin meminta maaf karena mungkin kedatanganku kemari dengan niat yang kurang sopan.”

Lee menghentikan acara makannya seketika. Ia terkejut dengan pertanyaan Shinichi.

“Memang apa yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Ini mengenai Saikou.”

“..? apa yang terjadi pada Yeoboku? Apa seseorang melukainya atau menerkamnya?” Wkss…menggelikan sekali mendengar Lee mengucapkan Yeoboku.

“Iie..Sou jya arimasen. Apa Saikou memang selalu bersikap seperti itu sebelumnya?”

“…Ah. Jadi kau menanyakan keadaannya. Baiklah.. aku tahu pasti kau akan menanyakan hal itu suatu saat nanti. Dan sekarang sudah saatnya aku memberi penjelasan padamu.”

Shinichi merasa tercengang. Ternyata Lee mengetahui atau lebih tepatnya bisa membaca pikiran Shinichi. Baik. Shinichi akan memasang telinga baik-baik untuk mendengar penjelasan sebenarnya dari Lee.

***









‘A treason would never be safe’
 (Author)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...