IKEMEN
TO KURO SHOUJO
(Cogan Vs Cewek Iblis)
Cast
Haruka Collins Saruwa Nicole
Kazukuro Neal Sayumi Reeca
Fujima
Wiley Yagami Zero
Genre : Suspense, Life School,
Adolescence, Less Sport
Nb : Dibuat dalam rangka memperingati suasana hati yang sedang gegana #Author #abaikan
Dozo....
***
“Aku, Haruka Collins
bersumpah untuk tidak akan pernah jatuh cinta terhadap pria-pria tampan bahkan
pria jalang sekalipun ketika aku sudah menjadi seorang mahasiswa. Karena aku…. benci mereka
pria-pria yang selalu menebar pesona dan ingin membuat debut di kampus, huh!
Sungguh tak bisa dimaafkan.” Haruka berkaca didepan cermin besar dikamar
miliknya sambil mendengus sebal pada dirinya sendiri seolah ia sedang
menasehati seseorang.
Haruka tengah
bersiap-siap untuk pergi ke kampus sebab hari ini merupakan hari pertama ia
menjadi mahasiswa Tokyo University. Haruka memutuskan untuk mengubah dirinya
yang lama menjadi dirinya yang baru namun rupanya ia telah merancang beberapa
rencana dan strategi untuk menjadi seorang mahasiswa yang baik sekaligus
panutan kampus dan para dosen.
Namun sebenarnya
Haruka merupakan typical orang yang hangat dan pengertian but, ia bilang ia
sudah lelah dengan itu semua.
Meski begitu bukan
berarti ia tidak memiliki teman seorangpun justru dua orang teman sejati nya
selalu menemaninya bersama hingga berada di kampus dan fakultas yang sama yaitu
Saruwa Nicole dan Sayumi Reeca yaitu fakultas sastra bahasa asing. Haruka
memiliki orang-orang yang dianggapnya musuh terbesar but, hanya untuk dirinya
dan berlainan dengan kedua temannya.
Haruka berjalan dengan
langkah yang lebar dan juga tegas seperti langkah pria juga wajahnya yang
nampak sombong dan cuek yang mengartikan ‘Jangan bertanya padaku.’ Entah karena
apa ia menjadi kejam bahkan warga kampus menyebutnya dengan embel-embel Kuro
Shoujo atau Wanita iblis. Haha.
“Haru! Good morning.
Kau duduk disebelahku ok.” Saruwa Nicole menyapanya pertama kali. Ia merupakan
gadis yang….diam namun terlalu
banyak gengsi dan sangat menginginkan pria seperti Kazukuro Neal si pria super
sempurna tingkat 2 dan jelas ia merupakan kakak kelasnya dulu ketika di SMA.
“Ini masih pagi,
setidaknya tersenyumlah sedikit, Haru-chi.” Sayumi Reeca menyapanya tak
selembut Saruwa karena ia typical orang yang suka bercanda dan kurang pandai
menjaga rahasia dia juga amat menyukai pria tampan yang selalu ia sebut-sebut
setiap hari yaitu Yagami Zero yang merupakan kakak kelasnya juga dulu.
“Ah, kalian berdua tak
perlu sok baik padaku dan menganggap seolah-olah aku adalah anak baru.” Haruka
melipat kedua tangannya seraya duduk dikursi yang kosong tepat disamping
Saruwa.
“Haru apa kau tahu
hari ini aku sangat amat bahagia sekali akhirnya aku bisa satu kampus dengan
Zero-kun, oh Zero-kun…” Sayumi memamerkan
kesenangannya pada Haruka seraya tersenyum sambil berimajinasi liar.
“Sungguh! Aku tak
ingin mendengar itu pagi-pagi begini.” Haruka nampak kesal melihat Sayumi yang
selalu menampakkan harapannya pada Yagami didepan Haruka dan membuatnya ingin
muntah karena ini bukan yang pertama kali.
“Eeeh? Memangnya apa
yang salah denganku huh? Kau memang jahat dan tak peduli padaku.” Sayumi
berkacak pinggang dan menceramahi Haruka hingga bola matanya yang sedikit lebar
itu setengah keluar.
“Sudahlah…aku pergi.” Tanpa
merespon Haruka dengan cermatnya meninggalkan Sayumi dan Saruwa.
---
Buk…
What? Nampaknya Haruka
menabrak sesuatu.
“Ash..” Haruka
meringis sambil mengusap-usap keningnya karena terbentur pada awak pemuda
tinggi itu.
“Kau tidak apa-apa
nona? Nampaknya kau kesakitan, mau kuobati?” laki-laki itu mendekatkan wajahnya
pada Haruka seraya menadahkan tangannya.
Ketika itu Harukapun
syok…Tsk!
“Huh. Terimakasih.”
Haruka menyunggingkan bibirnya dan menolak tawaran pemuda tampan itu.
“Oh begitu? Tidak
sopan sekali kau nona. Pantaskah kau menjadi seorang mahasiswi disini?”
Tiba-tiba lelaki itu berbalik namun sepertinya keadaan menjadi lain. Harusnya
drama terjadi disini tapi kenapa aura perang yang tumbuh seketika.
Harukapun membalikan badannya
dan tak mau kalah bicara.
“Haruskah aku bicara
dengan orang sombong sepertimu huh?”
“Huh..Seharusnya kau
minta maaf karena kau yang menabrakku, bukankah kau tahu aku siapa disini?”
Kazukoro Neal benar-benar menantang perang pagi-pagi begini, yang benar saja.
Kazukuro Neal, sekali
lagi Kazukuro Neal adalah mahasiswa yang paling popular dan super sempurna
kenyataannya memang dari dulu ia sudah popular bahkan Tokyo dianggap sebagai
kota terbaik karena prestasi Kazu. But, dia itu orangnya sombong meski banyak
yang bilang ia tampan, ia cerdas dan tubuhnya tinggi hampir setara dengan Tokyo
tower. Ia orang yang keras dan pandai menggoda wanita.
“Hanya karena kau
popular huh? Dengar kau Kazukuro. Mustahil bagiku untuk melakukan hal-hal yang
orang lain lakukan. Haruskah aku memujamu begitu? Tsk! Memalukan sekali.” What?
Haruka mengeluarkan kata-kata kejam dan….menyayat hati. Ia meninggikan
suaranya sambil jari telunjuknya ia arahkan tepat didepan muka Kazu hingga para
mahasiswa yang berada disekitar sontak terkejut dan membelalakan mata.
“Kau itu seorang
wanita tapi berani sekali berkata begitu.” Kazu tetap harus terlihat cool dan
jangan sampai ikut memanas jika itu terjadi maka citranya pasti menurun.
“Bukan urusanmu. Dan
aku tidak ingin berurusan denganmu. Jadi jangan so’ menjadi hero dikampus ini
hanya sekedar mencari sensasi!” Haruka benar-benar bermulut iblis sampai ia
berani mengata-ngatai campus star sejahat itu. Bahkan ia tidak merasa berdosa
sekalipun dan langsung pergi.
Kazu menggertakan rahangnya
kesal dan segera kembali ke kelas.
***
Yagami terlihat
tergesa-gesa dilorong kampus sambil membenahi jaketnya serta merapikan
rambutnya yang sedikit tipis itu sambil bersiul karena ini adalah hari yang
cerah bagi flaming prince seperti dia. Yagami Zero, pria yang amat disukai
Sayumi ini typical orang yang suka memamerkan ketampanannya didepan para wanita
dan juga menjual harapan pada mereka ia merupakan keturunan China dan Korea
juga Jepang oleh karena itu ia memiliki mata sipit yang khas yang bisa membuat
wanita terpikat.
Sekerumunan
geng nampak terpikat dan meronta-ronta ah tidak…tepatnya mencari perhatian
Yagami. Ia merupakan mahasiswa fakultas Teknik sedangkan Kazu berada di fakultas
Pendidikan.
“Morning..”
Yagami menebarkan senyuman termanisnya kepada sekumpulan geng tersebut sambil
melambai-lambaikan tangannya. Namun langkahnya terhenti seketika saat tepat ia
berpapasan dengan Kuro Shoujo atau Haruka. Tak hanya Yagami namun termasuk
sekumpulan geng dan para mahasiswa yang berlalu lalangpun tiba-tiba berhenti
dan menatapnya miris dan sinis.
“Bukankah
dia itu yang menghina Kazukuro-sama kan.” Sekumpulan geng itu berbisik-bisik
ria seraya menatap kejam kearah Haruka.
“Iya,
dia mahasiswa tingkat pertama yang tidak memiliki sopan santun.” Timpal salah
satu temannya.
Tanpa
mempedulikan orang disekitar bahkan Yagami sekalipun Haruka tetap lurus
berjalan menghiraukan segalanya.
“Ah,
Kau wanita iblis sombong sekali.” Yagami dengan luwesnya menjambak rambut Haruka
yang tidak terlalu panjang itu dan menariknya kehadapannya. Haruka meringis dan
menebas lengan Yagami dengan kasar.
“Ck!
Lepaskan! Dasar lelaki tak tahu diri!” Haruka kembali membentak campus star
yang satu ini. Nampaknya ia sungguh benci dengan para bintang kampus terpopular
ini padahal mereka itu tampan-tampan sekali. Orang lain pun nampak ingin
mencubit pipi mulus mereka. Kyahaha.
“Apa?
Siapa yang tak tahu diri huh? Lancang sekali kau menghinaku begitu!” Yagami
tidak peduli orang mau berkata apa padanya yang jelas ia pun muak dengan Haruka
yang tidak bisa diampuni wataknya itu.
“Huh?
Ada apa denganmu huh? Kau orang yang paling memuakkan yang pernah aku lihat.”
“Kau
itu yang lebih muak lagi, tidak punya sopan santun, dengar! Aku adalah kakak
tingkatmu dan kau harus menghormatiku karena aku telah mengenalmu sejak dulu.
Camkan itu wanita iblis!” Yagami terpancing emosi hingga menekankan telunjuknya
ke kening Haruka.
“Oh…Kau seorang bintang
yang kasar sekali beraninya bertingkah sekejam itu dihadapan fansmu. Tidakkah
kau malu?! Permisi.” Haruka menurunkan telunjuk Yagami perlahan dan ingin
beranjak pergi.
Tapi,
Yagami belum merasa puas dengan semua itu.
“Awas
kau wanita jalang aku akan melaporkanmu kepada direktur.” Yagami meneriaki
Haruka dari kejauhan tanpa respon lagi dari Haruka.
“Wanita
itu benar-benar tak bisa kumaafkan.” Yagami menggerutu seadanya dan segera
menuju ruang kelas.
***
Bugh..! Brak..!
Yagami melemparkan
tasnya ke meja bundar yang terdapat diruang club olahraga. Ia memboloskan
jadwal mata kuliah pertama karena kekesalan yang dialaminya menimpanya dipagi
hari. Mukanya berwarna merah panas menggebu-gebu layaknya tersiram alcohol.
Yagami terus mendesah dan menggerutu sambil mengacak rambutnya kasar sehingga
membuat teman-temanya ingin bertanya.
“Ada apa Zero? Apa kau
membolos lagi?” Tegur Fujima Wiley yang merupakan mahasiswa fakultas
Pshocology. Fujima ini merupakan ketua atau tepatnya seorang CEO kampus dan
segala kegiatan atau kompetisi lainnya ia yang menghandlenya sekaligus menjadi
kandidat. Fujima juga merupakan deretan campus star dan bisa dibilang yang
paling ramah dan tak pernah menodai wanita apalagi menggoda. Ia pandai menjaga
image dan tidak mau terlalu mencolok, iapun adalah kakak kelas Haruka ketika
SMA.
Mereka bertiga atau
berempat entah berlima merupakan deretan kriteria yang paling disegani dikampus
tak heran jika banyak yang memujanya.
“Ck! Jika dia bukan
wanita akan kuhabisi sampai tak tersisa sedikitpun.” Tatapan Yagami berubah menjadi
sangar sambil memukul kedua kepalan tangannya satu sama lain secara bergantian.
“Apa maksudmu? Siapa
yang sedang kau bicarakan huh? Kau seperti sedang kerasukan saja.” Fujima
terkekeh melihat tingkah laku Yagami yang setengah tak sadarkan diri itu.
“Hhh~ Kau tahu Kuro
Shoujo di kampus kita? Dia itu brengsek dan menyebalkan.”Yagami membuka matanya
lebar-lebar sambil menekankan suaranya kehadapan Fujima.
“Kuro Shoujo? Siapa?”
Fujima nampak heran sambil menahan tawanya yang akan membuncah.
“Hah? Jelas HARUKA
COLLINS! Sungguh mustahil jika kau tak mengenalnya.”
“Haruka?” Fujima
tertegun sejenak mendengar nama yang tak asing baginya sambil menelisik dan
mengingat wajah Haruka dikala mereka duduk di bangku SMA.
“Ya! Aku jengkel
sekali padanya entah itu adalah Haruka dari Hekasenkan atau bukan, dia seperti
orang asing bagiku dan sama sekali bukan juniorku.” Yagami memutar bola matanya
sinis seraya melipat kedua tangannya angkuh.
“Apa dia berubah?
Kenapa kau jengkel? Apa dia melakukan sesuatu seperti membuat onar?”
“Lebih baik kau tegur
saja dia dan jangan Tanya padaku! Kau tahu, dia telah berani merendahkanku dan
juga Neal dan itu tak bisa dimaafkan.” Yagami menggebrak meja bundar putih itu
dengan kedua tangannya. Kini ia nampak lebih seram dan garang.
“Kau tidak perlu marah
sambil merusak piranti club mahasiswa, Zero.” Entah sejak kapan Kazu sudah
berada didalam ruangan dan segera meregangkan suasana.
“Hhh! Jelas aku tidak
bisa diam saja, Neal, dia itu benar-benar keterlaluan dan harus diberikan
pelajaran.” Yagami tetap menggertak.
“Memang kau ingin
memberikan pelajaran apa? Matematika kah? Sejarah kah? Bisakah kau tenang
sedikit, Yagami Zero. Kau pikir aku tidak kesal padanya.” Kazu menumpangkan
kakinya diatas kursi dengan wajah yang tak lazim.
“…Biar aku yang berikan
dia pelajaran.” Mendadak Fujima bersuka rela mengajukan diri namun dengan
senyum yang sumringah dan aura positif.
“Oh? Jadi kau mau
mencobanya, Wiley? Kaupun harus tau seberapa jalangnya dia. Dan aku tidak mau
tahu buatlah dia menyesal.” Kali ini kemarahan Yagami benar-benar membludak dan
tak bisa ditahan. Ia mencengkram bahu Fujima dengan penuh keyakinan.
“Kau juga tidak perlu
meniru kata-katanya yang kasar itu, Zero. Kalu begitu kaupun sama saja
dengannya.” Kazu memutar kursinya sambil memainkan ponsel canggihnya itu.
“Kau mendengarnya?
Haha Kalau begitu aku pergi dulu.” Fujima menggoda Yagami yang sudah tidak bisa
menggertak lagi. Ia memang selalu kalah jika Kazu yang melawannya.
***
Terdapat segerombolan
mahasiswa yang keluar dari ruang kelas bahasa inggris tentunya mereka sudah
menyelasaikan mata kuliah yang berlangsung selama 2 jam setengah disertai dosen
yang cukup….ngggh! membuat para
mahasiswa mengeluh. Tak lupa ketiga wanita yang diakui sebagai 2 putri dan seorang
iblis waw siapa lagi jika bukan Saruwa, Sayumi dan…Haruka si aura kegelapan. Haha.
Mereka berjalan bergandengan menuju kantin karena waktu menunjukkan jam makan
siang.
But, dengan kasarnya
Haruka melepaskan gandengan kedua temannya yang dianggapnya terlalu berlebihan,
mereka pikir sedang menggandeng pengantin ke pelaminan huh. Tentu saja Haruka
merasa risih dan enggan berjalan ditengah-tengah mereka dan segera memisahkan
diri berjalan didepan mereka berdua.
“Ahh, aku lapar
sekali, Nico-chin.” Sayumi mendaratkan kepalanya kepundak Saruwa dengan berlaga
ingin bermesraan bersamanya.
“Sayu, kenapa kau
panggil namaku dengan sebutan seperti itu?”
“Eh..Terserah aku
saja. Sudah kau jangan banyak bicara dan cepat beli makanan aku lapar, ya kan Korin-san.
Hahah.” Tawa Sayumi dan Saruwa membuncah ketika mereka memanggil marga Haruka
dengan aksen bahasa Jepang.
“Diamlah kalian
berdua. Berhenti memanggilku seperti itu.” Tak dimanapun muka Haruka nampak
selalu terlihat sedang merasa sebal dan tak pernah tersenyum bahkan
terbahak-bahak rasanya tidak mungkin. Sementara kedua temannya hanya
menertawainya.
“Oh! Kazukuro-kun.”
Mendadak Saruwa menghentikan langkahnya seketika melihat Kazu berjalan menuju
kantin pula.
“Ah! Pasti Yagami-kun
juga bersamanya, Nico-chin.” Sayumi ikut menimpali ucapan Saruwa dan langsung
terbawa suasana, merekapun segera berlari kearah kantin sebab tak mau
ketinggalan melihat sosok Diva campus. Haruka memutar bola matanya tak peduli
dan sama sekali tak mengikuti mereka.
“Anu…Aku mau pesan juga
bi.” Sayumi langsung menerobos loker
kantin untuk memesan makanan.
“Kazukuro-kun. Kau mau
pesan juga.” Sayumi tanpa basa basi menegur Kazu yang sedang berdiri disamping
mereka. Sementara Saruwa hanya mematung tanpa suara karena saking grogi melihat
karisma Kazu.
“Sudah jelas bukan.
Haha. Kemana temanmu yang satu itu?” Kazu mencoba menggoda mereka dengan
menanyakan keberadaan Haruka yang padahal dia sendiri sudah mengetahuinya bahwa
Haruka tidak disana.
“Oh, Haruka…Dia…eh, kemana Haru?!” Saruwa terkejut ketika tahu bahwa Haruka tidak
mengikuti mereka berdua pergi kekantin.
“Huh, apakah dia
menghindariku? Pecundang sekali.” Kazu menyunggingkan bibirnya ketus.
“…Bukan, maksudku
mungkin dia sudah makan.” Saruwa mencoba menjelaskan dengan sedikit
terbata-bata.
“Oh begitu, bilang
padanya aku tidak akan memaafkannya atas insiden kemarin.” Kazu segera
mengambil hidangan yang telah disiapkan untuknya oleh bibi kantin dan berpamitan
kepada Saruwa dan Sayumi. Mereka berdua tercengang dan bingung dengan perkataan
Kazu barusan.
---
Haruka berjalan menuju
perpustakaan untuk mencari buku referensi namun ketika ia akan masuk nampak seorang
pria tampan nan imut itu mencegahnya. Ia adalah…
“Apa maksud dan maumu?
Menyingkir!” tak perlu basa basipun Haruka langsung menyemburkan kata-kata
kasar pada pemuda yang juga satu almamater dengannya ketika SMA, sekaligus
kakak kelasnya, dia bernama Atsushi Carley. Dia berada di fakultas yang sama
dengan Yagami. Entah ia punya urusan apa dengan si Kuro Shoujo ini.
“Eh…Kejamnya kau Haruka
Collins! Kau bahkan tak menyapa kakak tingkatmu dengan baik padahal kau seorang
wanita.” Atsushi berdiri disamping pintu sambil menggoda amarah Haruka. Rupanya
dia sedang menantang.
“Aku sama sekali tidak
ingin melihat wajahmu dan menyingkirlah kau menghalangi jalanku.”
“Hmh~ kau tahu bahwa
kau sudah menjadi perbincangan public? Akupun ingin tahu seperti apa dirimu?
Aku tak mengenalmu saat kita berada di Hekasenkan tapi ternyata kau adik
kelasku, haha.”
Atsushi tertawa
terbahak-bahak hingga gigi gingsulnya nampak sedikit dan membuat auranya
menjadi sangat kawaii dan tampan.
“Aku tak peduli.
Minggir!” Haruka memicingkan matanya dan mendorong tubuh Atsushi hingga ia tak
menghalangi jalan lagi.
Akhirnya Haruka bisa
masuk keperpustakaan dan melangsungkan tujuannya, ia segera menuju ke bagian
buku yang dicarinya yaitu Manga. Tunggu! Bukankah ia mencari buku referensi
kenapa ia malah menerobos Manga. Oh tidak! Haruka sangat suka sekali manga
terutama manga shoujo. Ia berkenan duduk seharian diperpus jikalau ada manga
terbaru telah terbit.
Haruka mengambil acak
5 buah manga terbaru dan segera menduduki deretan kursi kosong yang didapati
hanya ada beberapa orang mahasiswa yang sedang membaca pula.
Tanpa peduli Haruka
mengambil kursi acak dan dengan gesit membuka isi manga yang diambilnya itu,
kemudian seorang mahasiswa yang tengah membaca tepat didepannya tiba-tiba terkekeh
saat mendengar Haruka membaca manga dengan bersuara.
Haruka mendadak
berhenti dan memperhatikan orang yang berani menertawakannya itu. Haruka
memicingkan matanya tajam dan lanjut membaca kembali. Kemudian orang itu
tertawa lagi agak keras ketika Haruka membacakan percakapan yang ada di Manga
tersebut.
“…Kau menertawakanku?!”
Tanya Haruka dingin.
Lelaki itu lalu
menutup buku yang dibacanya dan menatap Haruka sambil tertawa.
“Ya! Aku
mentertawakanmu. Ada masalah? Haha.” Fujima terus mentertawakan Haruka hingga
petugas perpustakaan mengisyaratkan mereka untuk diam.
“…Apa maumu?” Wajah
Haruka nampak kesal hingga ia harus membulatkan bola matanya dan menatap tajam
Fujima.
“Tidak…kau lucu sekali
mendubbing manga seperti itu. Haha.”
“Kau mengganggu sekali!”
Haruka berniat untuk berpindah tempat duduk. Namun Fujima tetap menggodanya
untuk mencegahnya.
“Kau mau menyerah
saja? Aku tidak akan mengganggumu tenang saja.” Fujima kembali membuka bukunya
yang super tebal itu sambil menahan tawanya.
“Ssh! Berhenti dan
diamlah!” Haruka mendengus pelan sambil memelototi Fujima dan kembali untuk
membaca percakapan selanjutnya.
“Kkkkkk….” Tiba-tiba Fujima
terkekeh agak keras hingga mahasiswa yang lain menatapnya heran. Menyadari itu,
maka Harukapun memutuskan untuk berpindah tempat duduk. Haruka berdiri dengan
rasa kesal dan berjalan ke kursi yang ada didekat jendela. Namun Fujima malah mengikutinya
untuk berpindah diposisi yang sama pula, entah apa itu yang diinginkan oleh
Fujima.
Kemudian Harukapun
tidak ingin kalah maka ia berpindah ketempat semula namun Fujima juga turut
mengikutinya yang pada akhirnya membuat emosi Haruka meluap hingga kaki kiri
Haruka menabrak kaki kursi yang dilewatinya dan kursi itupun terjatuh begitu
keras hingga membuat orang-orang sekitar mengalihkan pandangannya kepada
mereka.
Gubrak…
“Hey, kenapa kalian
sangat berisik sekali ! lebih baik kalian keluar sekarang juga!” Sontak petugas
perpustakaan keluar dari kursinya dan beranjak memarahi mereka dan menyuruh
mereka pergi. Sementara Fujima dan Haruka hanya menunduk sambil meminta maaf
pada petugas tersebut.
“Ah, kami minta maaf.”
Fujima menundukkan badannya kepada petugas tersebut sedangkan Haruka hanya
membungkuk tanpa sepatah katapun lalu mereka segera beranjak keluar.
“…Kau menyebalkan.
Gara-gara kau aku tidak bisa membaca manga dengan tenang! Dasar tak tahu diri.
Ck!” setibanya diambang pintupun Haruka langsung meluapkan amarahnya pada
Fujima karena ia benar-benar jengkel, oleh karenanya ia tidak bisa membaca
bahkan meminjam satupun manga yang diambilnya.
Tanpa ingin mendengar
respon dari Fujima Harukapun segera pergi dari pandangannya dengan langkah yang
lebar dan kekesalan yang diambang batas.
Fujima hanya tersenyum
menyaksikan keanehan yang terjangkit pada Haruka sekaligus merasa heran mengapa
Haruka sangat lain dengan Haruka yang dulu bahkan perbedaannya pun 180 derajat.
Fujima berpikir bahwa ia bukanlah Haruka namun orang lain.
***
Bulan ini merupakan
musim semi dimana bunga sakura bermekaran nan indahnya dan jalan-jalan setapak
yang lapisi reruntuhan bunga sakura terlihat sangat menawan dipandang dari
kejauhanpun dan udara yang sangat segar mendampingi hari yang cerah untuk
beraktivitas. Tidaklah aneh dan heran akan kegiatan sehari-hari Haruka yaitu
pergi kekampus, bekerja dan melakukan aktivitas seperti membaca manga, pergi
ketoko buku, dan ketaman. Ia lebih memilih tempat-tempat yang alamiah dan ilmiah
dibanding yang lainnya seperti menonton atau pergi ke aquarium.
Hari ini merupakan
bulan kesekian Haruka menjadi mahasiswa Tokyo University, tentu banyak sekali
pengalaman yang menurutnya pahit yang ia dapatkan. Meski begitu, iapun ingin
mengetahui apa yang akan terjadi sekarang, besok, lusa, dan nanti…
“…Oh Haru. Kau baru
datang. Kenapa kau membolos pada jam pertama?” Sayumi menepuk-nepukkan spons
kewajahnya yang sudah ia bedaki sangat tebal itu dan mengoles lip balm pada
bibirnya yang sudah agak seperti kismis kering dan mengecupkannya didepan cermin
sambil bersenandung ‘Yagami-kuuuunn’ dengan amat centilnya.
“Hey, Sayu apa kau
tahu?”Haruka mendekatkan bibirnya tepat ketelinga Sayumi rupanya ia ingin
membisikkan sesuatu.
“Um?” Sayumi
mendekatkan telinganya lebih dekat.
“Mukamu menyebalkan!”
“Hah? Apa kau bilang?”
Sayumi hendak berancang-ancang untuk memukul Haruka.
“Kalian hentikan.
Haru. Kazukuro-kun mencarimu. Kau kemana saja? Kenapa kau membolos huh?” Entah
darimana datangnya Saruwa yang tiba-tiba muncul dihadapan Haruka dan Sayumi
sambil setengah berkacak pada Haruka yang kenyataannya memang membolos pada jam
pertama.
“Hah? Apa urusannya
denganku? Ya aku membolos dan bukan masalah bagimu kan.” Haruka membuka tutup
kaleng minumannya dan meneguknya separuh.
“Mana kutahu. Lebih
baik kau temui dia sekarang, kelihatannya dia marah padamu. Aku tidak mengerti
kau punya masalah apa dengan mereka senior kita, Haru? Aku mendengar semua isu
buruk tentangmu sebulan penuh ini dan semuanya berkaitan dengan mereka. Kenapa
Haru kau selalu bertengkar dengan mereka? Huh? Jawab aku Haru!” Saruwa
mengguncangkan tubuh Haruka dengan keras sambil terus menerus melontarkan
pertanyaan yang berhubungan dengan Campus star hingga minuman kaleng yang
sedang dipegang Haruka tumpah beberapa tetes dan menodai kemeja Haruka.
“Ish! Apa-apaan kau
ini Saruwa Nicole!” Haruka membentak Saruwa sambil mengibaskan kedua cengkraman
Saruwa dan segera membersihkan noda akibat cipratan minuman tersebut. Namun tak
sempat mereka menyelesaikan masalah barusan, tiba-tiba seseorang memanggil nama
Haruka diambang pintu.
“Nona Haruka Collins,
bisakah kau ikut denganku?” Suara Kazu menggema sekaligus meleburkan suasana
kelas sastra seketika dan ia menerobos masuk tanpa perintah atau izin sekalipun
dari warga sekitar.
Aura Harukapun berubah
dengan cepat menjadi kelabu disertai api berwarna hitam mengitarinya mungkin
asap pembakaran, haha.
“Apa maumu?” Haruka
melipat kedua tangannya sambil mengalihkan pandangannya masam. Tanpa perintah
sekalipun Kazu langsung memasuki kelas tanpa izin dan segera mengahampiri
Haruka.
“Kubilang kau ikut
denganku sekarang juga!” Kazu menatap kejam wajah Haru hingga kilat-kilat api
terpancar dari kedua mata mereka yang sedang saing bertatapan.
“Tidak mau. Aku tidak
pernah ada urusan denganmu. Pergi dari sini.”
Saruwa dan Sayumi
sempat tercengang melihat tragedy yang sedang berlangsung tersebut dan mereka
tak bisa berkata-kata bahkan melerainya sekalipun.
“Sudah jangan banyak
bicara atau aku akan memaksamu.” Kazu mencengkram lengan Haru dengan keras dan
akan menggeretnya keluar untuk mengikuti perintahnya, namun Haruka tetap
berusaha melepaskan cengkraman tersebut dengan menarik bahkan memukul tangan
Kazu, namun Kazu malah memperkuat cengkramannya.
“Lepaskan, bodoh. Kau
sudah memperlakukanku dengan kasar. Argh! Lepaskan! Aku tidak mau ikut
denganmu, dasar tak tahu diri.” Haruka terus meronta-ronta hingga diambang
pintu sementara semua mahasiswa yang berlalu lalangpun memperhatikan mereka
yang nampak seperti adegan penculikan atau penjambretan.
Haruka mencoba
melepaskan cengkraman Kazu yang amat keras dengan mengigit tangan Kazu, ia
menancapkan kedua gigi kelincinya itu tepat dipergelangan lengan Kazu, sontak
Kazu mengerang dan akhirnya cengkramannya terlepaskan.
“Arrggh! Sssh! Dasar
kau anjing liar.” Kazu mengusap-usap tangannya yang terdapat bekas gigitan
Haruka, berwarna merah.
“Sudah kubilang aku
tidak mau, kau saja yang bodoh.”
Kazupun tidak akan
kalah kali ini ia sudah muak dan jengkel tanpa sepatah katapun Kazu langsung
menarik lengan Haruka kuat-kuat dan menggeretnya agar ikut bersamanya dan
sempat membuat tubuh Haruka setengah tergoncang.
Tanpa peduli pandangan
orang terhadap Kazu kali ini ia benar-benar merasa tak tahan lagi untuk
mengalah pada Haruka. Ia hanya melemparkan senyum terbaiknya pada orang-orang
yang bertanya mengenai maksudnya membawa Haruka.
Saat tiba didepan
ruangan Club mahasiswa Haruka memberanikan diri untuk menendang tulang kering
Kazu namun tampaknya usahanya kali ini gagal, Kazu bisa menghindarinya.
“Ayo masuk!” Kazu menggertak
dan menarik lengan Haruka dengan paksa. Sedangkan Haruka meringis dan mengerang
kesakitan sambil terus berusaha melepaskannya dengan menarik lengan baju Kazu
yang nyaris sobek karena tipis dan juga menginjak-injak sepatu Kazu yang baru
saja tadi pagi semiran. Dan akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke ruang club
olahraga tanpa Kazu harus mempedulikan baju dan sepatu juga yang lainnya.
“Argh! Sakit. Bodoh!” Kazu
melepaskan lengan Haruka hingga berbekas tanda merah bekas cengkraman Kazu di
pergelangan tangan kanan Haruka. Haruka mengelus-elus lengannya karena
kesakitan.
Beberapa mahasiswa
tingkat 2 yang sedang duduk dikursi ruang club olahraga pun bingung dan heran
apa yang barusan mereka berdua lakukan, penganiayaan kah?
“Hey, Neal ada apa
denganmu dan dirinya?” Fujima sempat menghentikan aktivitas menulisnya dan
menatap heran.
“Kenapa kau membawa
wanita iblis ini kemari huh? Dengan hanya melihatnya saja aku tidak sudi.
Menjijikan.” Yagami menjelek-jelekkan Haruka dengan nada bicara seperti
wanita-wanita jalang dan nenek tua sambil memicingkan mata sipitnya itu.
“Dia yang akan menjadi
kandidat pelengkap tim Carley.” Kazu mengambil tempat duduk yang berada disamping
Yagami.
“HAH? Kau ini sudah
gila. Untuk apa kita mencari kandidat sejalang itu. Kenapa kau tidak mencari
yang lain. Kau benar-benar gila, Neal.” Yagami mengacak rambutnya kasar.
“Kau. Jangan seenaknya
bicara. Aku sama sekali tidak pernah mau berurusan dengan kalian apalagi kau.
Lebih baik aku pergi.” Haruka hendak membuka pintu dan melangkahkan kakinya
keluar dari ruang club olahraga.
“Kau tidak bisa
seenaknya pergi. Kau harus menuruti perintahku untuk mengikuti kompetisi ini.”
Kazu mencegah Haruka yang nyaris keluar dari pintu.
“Hah? Untuk apa aku
terlibat dalam hal seperti ini?! Bahkan ini tidaklah lebih penting dari
kepentinganku, permisi.” Haruka membalikkan tubuhnya dan berhasil lolos.
Sedangkan kandidat
lainpun hanya bisa menggelengkan kepala mereka dan menghela nafas kasar.
“Apa benar kau gila
Neal? Tidak kusangka kau memilih yang seperti itu.” Reina yang merupakan
kandidat pelari tercepat ini merupakan satu-satunya wanita yang juga satu SMA
dengan Kazu, Fujima,
Yagami, juga Haruka
yang selalu ikut diajang Pekan Olahraga Nasional.
“…Tidak ada pilihan
lain, karena kompetisi ini membutuhkan orang yang memiliki pengalaman paling
tidak pernah mengikuti ajang ini dan aku sudah tahu dimana titik-titik
kelemahan dan kelebihan Haruka.” Kazu memutar kursinya sambil tersenyum licik.
“Tapi pada akhirnya
dia seperti itu kau tetap mau memakai kemampuannya? Huh konyol sekali. Awas
saja jika aku satu tim dengannya, aku mengundurkan diri.” Yagami secara
otomatispun tidak setuju jika Haruka dijadikan kandidat lari estafet
internasional ini, ia terlanjur membencinya dan mengancam Kazu agar tidak
menyatukan dirinya dengan Haruka.
“Sudah kau tidak perlu
banyak bicara, biar aku yang mengaturnya.”
“Neal benar, lagipula
tidak baikkan jika merendahkan kemampuan orang lain. Um?” Fujima yang sedari
tadi terkesima dengan perdebatan hebat baru angkat bicara, dan ia selalu sabar
dan tersenyum menghadapi keputusan yang ada dan menerimanya walau tahu Haruka
pasti tidak akan bersedia.
***
Kazu memakirkan mobil
sedan hitam miliknya di parking area sebelah kiri gedung utama kemudian membuka
pintu mobil dengan sangat elegannya dengan menggendong tasnya seperti pegawai kantor,
memakai kemeja panjang dengan dilapisi cardigan biru gelap nampak santai namun
berkarisma. Lalu tanpa sengaja ia menemukan adik tingkatnya yaitu Saruwa yang
sedang tengah kesulitan memarkirkan sepeda antic miliknya. Ya! Memang terlihat
jauh sekali perbedaannya antara Kazu dengan mahasiswa lainnya. Ia yang kini
telah sukses menjadi jawara Tokyo bukan dengan mengayuh sepeda lagi namun mobil
mewah yang ia dapatkan atas kejuaraannya tahun lalu.
Kazu mencoba
menghampiri Saruwa untuk sedikit menawarkan bantuan.
“Kau butuh bantuan
nona? Kelihatannya kau tak sanggup memarkirkan sepeda berat itu.” Kazu
tersenyum licik kearah Saruwa meski niat ingin menolongnya tapi tetap saja
kalimatnya terkesan sombong.
“Kazukuro-kun…” Meski begitu Saruwa
tetap melayang sekaligus terkesima dengan penampilan Kazu hari ini. Ini seperti
mimpi ia bertemu pangeran di tengah padang rumput ah tidak tepatnya ditengah
hutan belantara dan pangeran itu turun dari seekor kuda putih yang ditungganginya
lalu beranjak menolong seorang gadis desa yang sedang kesusahan.
Saruwa merasa seperti
terdapat banyak binar-binar cahaya diwajah Kazu yang masih segar dan juga harum
badannya yang membuat Saruwa terhanyut dalam cintanya terhadap Kazu.
Kazu membunyikan bel
yang terdapat di stang sepeda itu dan sontak membuat Saruwa tersadar dari
lamunan liarnya.
Kriiingg…
“Waaa…!” Saruwa berteriak
sambil menjatuhkan sepedanya secara spontan. Kazu hanya terkekeh
menertawakannya.
Gubrak…!
“Ah, maafkan aku. Kau
mengejutkanku saja.” Saruwa segera membangunkan sepedanya namun nampaknya ia
tidak kuat hanya untuk mengangkat kedua stangnyapun.
“Biarkan aku
membantumu, haha.” Kazu membantu Saruwa membangunkan sepeda itu hingga berhasil
ia parkirkan sesuai dengan tempatnya.
“Lain kali lebih kau
naik kereta atau yang lainnya saja, jadi tidak perlu repot-repot membawa sepeda
tua ini.”
Saruwa membelalakan
matanya tak terima Kazu berkata hal itu padanya, itu sama saja dengan mengejek
harga dirinya.
“Ohoho…tidak apa. Aku lebih
suka naik sepeda dibanding mengantri di stasiun..” Saruwa tetap tersenyum meski
Kazu berniat menyombongkan diri dihadapannya.
“Syukurlah kau tidak
seperti temanmu. Hmh! Ya Aku duluan kalo begitu, sampai nanti.” Mendengar Kazu
berpamitan Saruwa berpikiran untuk memasuki kampus bersama-sama, namun tak lama
setelah ia berpamitan Kazu membalikkan tubuhnya kembali nampaknya ada yang lupa
untuk ia sampaikan pada Saruwa atau mungkin saja ingin mengajaknya berjalan
bersama.
“Oh ya! Saru. Tolong
sampaikan pada temanmu untuk hadir setelah jadwal selesai di ruang club
olahraga. Aku tunggu.” Saruwa yang sudah setengah tersenyum dan percaya diri
kini hanya membulatkan bola matanya dan menghentikan langkahnya.
“Eh? Siapa maksudmu?”
“Hh~ Haruka.”
“Um! Baiklah akan
kusampaikan.”
Saruwa nampak sedikit
kecewa setelah Kazu meninggalkannya sendirian dibelakangnya, wajah Saruwa
nampak menyesal dan mengehembuskan nafasnya kasar, nampaknya harapan ia kali
ini gagal untuk menarik perhatian Kazu, padahal sudah sejak SMA Saruwa menyukai
Kazu hingga sekarang Kazu tak pernah memberikan respon yang lebih daripada
hubungan senior dan junior.
Bahkan hingga Kazu
telah bergonta-ganti kekasihpun Saruwa belum pernah menjadi kandidatnya
sekalipun padahal Kazu mengetahui perasaan Saruwa terhadapnya but, kenyataan
memang lain. Meski begitu kelihatannya Saruwa masih tidak ingin menyerah untuk
bisa mendapatkan sedikitnya perhatian dari Kazu, ia ingin terus berusaha hingga
Kazu bisa membalas perasaannya suatu saat nanti.
***
Terdengar suara riuh
ricuh seperti dua orang sedang melakukan ajang perdebatan sengit disebelah
timur atau tepatnya lorong menuju ruang club olahraga. Seorang pemuda tampan
nampak sedang menggeret-geret seorang mahasiswi yang kelihatannya adalah Haruka
dan….Yagami, kali ini
Yagami yang turun tangan atas pertanggung jawabannya pada Kazu karena ia telah
diperintahkan untuk membawa paksa Haruka agar mengikuti latihan sebelum
kompetisi berlangsung. Meskipun beberapa kali Yagami menolak namun hal itu
terkalahkan oleh rasa kesalnya yang kelewat batas pada Haruka.
Kini Yagami bukan
hanya menarik kedua lengan Haruka namun ia segan menjambak rambut Haruka dan
perilakunya nampak seperti…ibu tiri. Selain itu
ia menjinjing kerah kemeja Haruka layaknya hewan peliharaan, sungguh biadab
sekali Yagami Zero ini. Yagami merupakan diva campus yang bisa dianggap paling
kejam terhadap urusan menyiksa orang yang memang membuatnya naik pitam.
Alasannya ia melakukan
itu ialah agar membuat korbannya kapok dan jera, namun lain halnya dengan
Haruka ia tetap teguh pendirian. Meski Yagami membentaknya sangat keras ketika
itu Haruka tetap melawannya.
Haruka beberapa kali
meringis kesakitan karena Yagami beberapa kali menjambak rambutnya hingga
beberapa helaipun ikut rontok. Haruka menginjak sekaligus menendang kaki Yagami
namun Yagami membalasnya dengan menggeretnya dilantai.
“Argh! Lepaskan. Dasar
kau laki-laki tak tahu diri!” Haruka meneriaki Yagami dihadapannya sambil
berusaha menahan dan melepaskan cengkraman Yagami.
“Apa katamu? Kau wanita
jalang. Sudah kubilang kan untuk mengikuti perintahku.” Yagami menarik lengan
Haruka keruangan club dan melepaskannya dengan cara yang tidak wajar yaitu membanting
lebih tepatnya melempar Haruka hingga ia terjatuh dan hampir menabrak meja
bundar yang ada ditengah-tengah ruangan sehingga nampak sekali tragedy ini
seperti adegan drama ibu dan anak tiri.
Gubrak…! Ckiit! Gusrak!
“Arghh! Ssssh!” Haruka
terjatuh dilantai setengah terbaring dan terhuyung meringis kesakitan hingga
hampir meneteskan air mata karena biar bagaimanapun ia wanita dan berperasaan.
Sementara itu anggota
lainnya sontak terkejut dan membelalakan matanya lebar selebar-lebarnya dan
reflek Fujima segera menolong Haruka yang masih tergeletak dan membantunya
berdiri.
“Hh! tak perlu kau
membantunya, Wiley. Percuma saja.” Yagami menatap dengan wajah angkuh dan
memanas.
“Kau manusia biadab!”
Haruka menggertak dan segera menyingkir dari genggaman tangan Fujima yang
barusaja menolongnya.
“Kau yang iblis!”
Yagami tak mau kalah, ia menengadahkan wajahnya sambil melotot kearah Haruka
dan berkacak.
“Zero. Hentikan! Apa
yang kau lakukan huh? Jika direktur mengetahui ini kau akan langsung ditindak.”
Kazupun yang tadinya ikut kesal kini malah terlihat membela Haruka.
Kemarahannya malah berbalik kepada Yagami.
“Ya ya baiklah, jika
aku yang ditindak maka kau yang harus disalahkan!” Jari telunjuk Yagami
mengarah pada Haruka dengan wajah angkuhnya itu.
Haruka memutar bola
matanya kesal dan mendengus pelan dalam hatinya. Sementara Fujima terlihat
nanar memandang Haruka yang terdapat beberapa bekas cengkraman tangan Yagami di
pergelangan tangannya sebab kemeja yang dipakai Haruka tidak terlalu panjang
maka jelas noda berwarna merah itu nampak, juga rambutnya yang sudah berantakan
karena Yagami terus menjambakinya. Rasanya ingin sekali Fujima memberikan
pertolongan meski dengan memberinya plester atau membawanya keruang kesehatan,
namun niat itu ia urungkan kembali.
“Sudah! Biarkan dia
istirahat dulu, setelah itu kita lanjutkan simulasi.” Kazu kembali ke kursinya
dan mengambil beberapa berkas untuk simulasi.
Haruka hanya duduk
terdiam memisahkan diri dengan tim lainnya sambil membenahi pakaian dan
mengikat rambutnya kembali dan hanya menatap kejendela.
“Baiklah, apa aku
harus menyebutkan peraturannya sebelum kita mulai?” Fujima mencoba memperbaiki
keadaan dengan berdiri di depan papan tulis untuk menjelaskan beberapa metode
kompetisi itu. Sebab Fujima merupakan CEO kampus jadi ia yang selalu memimpin serta
memimbingnya, dan ruangan ini khusus diperuntukan untuk basecamp diva campus
sekaligus tempat mereka beradu ketangkasan teori dalam melatih teknik-teknik
yang mereka kuasai.
Karena ini bukanlah
merupakan kompetisi olahraga biasa namun terdapat sesi tanya jawab dan teori
apabila lolos ke babak semi final dan juga grand final yang fungsinya untuk
menguji kemampuan tambahan juga mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka.
***
Haruka menelengkupkan
wajahnya malas diatas meja miliknya dan beberapa kali menghembuskan nafasnya
kasar dan wajahnya yang nampak masam sedari pagi tadi hingga Teppei sensei
mengakhiri jam kuliahnya. Beberapa buku ia lantarkan begitu saja dan persis
sekali meja Haruka bukanlah meja seorang mahasiswi lebih tepatnya meja seorang
koki pokoknya terlihat berantakan dan tak rapi seperti biasanya. Sepertinya
Haruka sedang berada dalam kekelabuan.
Sementara Saruwa dan
Sayumi hanya melihatnya heran dan bertanya-tanya ada apa dengannya? Sayumi
menggeser kursinya kesamping Haruka dan begitu juga dengan Saruwa.
“Hey, Haru! Ada apa
denganmu? Nampaknya kau malas sekali hari ini.” Sayumi menggigit coklat yang
entah sejak kapan ia membelinya.
“Oh ya, Haru. Aku
dengar kau ikut menjadi kandidat untuk lari estafet pada ajang tahun ini?! Wah!
Kau sungguh hebat, Haru. Kau harus semangat pasti kami akan mendukungmu! Ya kan
Sayumi?!” Ekspresi Saruwa amat sumringah ketika mendengar kabar tersebut
tentunya dari Kazu dan kawan-kawan bahkan pengumumannya sudah ditempelkan
dimading dan semua mahasiswa telah mengetahui berita tentang Haru juga.
Karena pekan olahraga
akan berlangsung 2 minggu lagi untuk itu Kazu menyuruh Haruka untuk berlatih
hampir setiap hari setelah pulang kuliah meskipun Haruka berusaha untuk
melarikan diri tapi Kazu dan yang lainnya berhasil mencegahnya meski harus
tetap memaksanya. Maka dari itu Haruka nampak tidak bersemangat beberapa hari
terakhir ini.
“Kau tahu, ini
merupakan kesempatan emas untukmu. Jika kau mengikutinya kaupun akan menjadi
popular seperti Yagami-kun.” Nada bicara Sayumi yang so’ dewasa itu menampakkan
sekali keantusiasannya ketika ia menekankan ucapan pada kata Yagami-kun.
Saruwapun ikut mengangguk keras meyakinkan Haruka meski sebenarnya mereka hanya
ingin menyemangati dua campus star pujaannya.
“Hah? Kau bicara apa?”
Haruka mengangkat kepalanya malas disertai rambut jabrik alias poninya yang
hampir menutupi permukaan wajahnya.
“Haru, bagaimanapun
kau harus menerimanya, karena ini sudah menjadi takdirmu. Lagipula jika kau
kesulitan kau bisa meminta bantuan Fujima-kun bukan.” Sayumi sedikit menggoda
Haruka sebab ia tahu masa lalu Haruka bersama Fujima namun ia tidak pernah
mengungkitnya lagi karena Haruka yang memintanya. Namun,Sayumi dan Saruwa
menjadikan masa lalu Haruka sebagai senjata mereka agar dapat mengubah Haruka
seperti dulu lagi.
“Dia tidak ada
hubungannya denganku. Dan jangan pernah sebut masa laluku didepan siapapun,
Sayumi. Aku benci itu.” Haruka keluar dari tempat duduknya dan pergi entah
kemana. Saruwa dan Sayumi menatap satu sama lain.
“Menurutmu, siapa yang
menyebabkan dia seperti ini, Saru?” Sayumi menatap punggung Haruka nanar yang
semakin menjauh dari ruang kelas.
“Hmh~ Kau sudah tahu
jawabannya bukan.” Saruwa tersenyum tipis pada Sayumi seolah mengerti apa
maksudnya.
“Permisi, apakah nona
Haruka Collins ada disini?” tiba-tiba sosok Kazukuro Neal muncul diambang pintu
kelas sastra dan mencari Haruka dengan suara lantang. Kemudian Saruwa segera
menghampirinya dan mengajaknya bicara diluar. Sayumi melipat kedua tangannya
dan ekspresinya yang mengisyaratkan Saruwa untuk menemui Kazu.
“Kazukuro-kun, kau
mencari Haruka?” Kini mereka berdua mengobrol tepat di kursi yang berada
didepan kelas sastra.
“Ya, kemana dia? Apa
dia kabur lagi?” Kazu menelisik kesekitar mencari sosok Haruka namun sepertinya
ia berada ditempat yang jauh.
“Sepertinya begitu.
Tadi kami sempat berbincang mengenai ajang pekan olahraga nanti. Dan sepertinya
ia tidak menyukainya dan langsung pergi. Dia juga terlihat tidak semangat
akhir-akhir ini.” Saruwa menjelaskannya sedetail mungkin hingga Kazu
termanggut-manggut alias paham betul maksudnya itu.
“Aku heran padanya.
Sejak dulu ketika di Hekasenkan kalian suka mengikuti ajang olahraga besar
seperti ini kan tapi kenapa ia terlalu menampakkan ketidaksukaannya pada
kompetisi ini sekarang? Aku juga heran terhadap sikapnya yang berubah drastis
itu. Menurutku dia memiliki gangguan psikologis. Huh.” Kazu mengernyitkan
dahinya sambil menyunggingkan bibir tipisnya itu sembari ingin mengorek rahasia
yang diketahui Saruwa mengenai Haruka.
“Ya, kurasa begitu.
Menurutku dia begitu karena Fujima-kun.” Saruwa menelisik masa lalunya ketika
Haruka menceritakan dirinya pergi berkencan terakhir dengan Fujima lalu Fujima
memutuskan hubungannya tiba-tiba dan tanpa sebab bahkan kata-kata.
“Hah? Kau serius?”
Kazu setengah cengo mendengar pernyataan Saruwa. Ia tidak menyangka bahwa
penyebabnya itu adalah masa lalu yang bertemu dimasa depan atas dasar cinta.
“Ah haha. Aku juga
sedikit heran dengan maksud Haruka tapi dia bilang ini cara yang terbaik yang
ia lakukan.” Saruwa mulai menjelaskannya satu persatu.
“Um…lalu?”Kazu menunggu
penjelasan selanjutnya sambil menopang dagunya dan menatap mulut Saruwa yang
sedang komat-kamit.
“Ketika itu, Haruka
melakukan kencan terakhirnya dengan Fujima-kun namun mereka pergi dengan orang
ketiga yaitu teman sebaya Haruka, dan Haruka tak tega meninggalkan temannya
yang pada akhirnya ia harus mengorbankan Fujima-kun menjadi orang ketiganya,
tapi nampaknya Fujima-kun tidak senang atas perlakuan Haruka sejak saat itu,
dan seminggu setelah upacara kelulusan Haruka berniat untuk memberikan
persembahan namun Fujima-kun tidak datang menemuinya, bahkan menghubunginya.
Sejak saat itulah Haruka ingin melupakan semuanya dengan murubah dirinya
menjadi seperti sekarang.” Saruwa menghembuskan nafasnya lega.
“Oh, begitu. Hmh~
kisah murahan sekali. Apa dia bodoh?” Kazu tertawa licik disertai muka kesalnya
mendengar cerita yang ia anggap murahan itu.
Sedangkan Saruwa hanya
menyeringai namun ingin sekali memukul tengkuk leher Kazu yang nampak
menyebalkan itu. Sebenarnya kisah siapa yang dianggapnya murahan bahkan lebih
rendah dari kisah Fujima dan Haruka? Ia pikir Saruwa tidak pernah tahu kisah
cinta segitiganya ketika Kazu SMA hingga mengakibatkan pertengkaran antara
wanita satu dan yang lain.
“Baiklah, aku akan
menyuruh Wiley untuk segera menyelesaikannya.” Kazu terbangun dari tempat
duduknya dan segera beranjak menemui Fujima, Saruwa sempat terkejut
mendengarnya.
“Eh? Apa yang akan kau
lakukan?” Saruwapun ikut berdiri.
“Aku ingin mereka
segera menyelesaikannya hingga aku tidak harus terlibat pula dalam hal ini. Dan
aku tidak ingin pekan olahraga internasional tahun ini gagal total… Bye, aku pergi dulu.”
Kazu memutar balik tubuhnya dan segera pergi meninggalkan Saruwa yang masih
setengah tercengang. Saruwa nampak menyesal ketika itu, jika saja ia bukan
menceritakan soal Haruka mungkin keajaiban lain akan terjadi padanya dan Kazu.
Namun disisi lain ia juga ingin membantu masalah yang tak begitu rumit ini.
***
Yagami, Fujima,
Atsushi, Reina dan juga Kazu sedang berlatih sprint 100 meter di lapangan dan
Kazu berhasil menempati juara pertama, Fujima kedua disusul oleh Atsushi,
Yagami setelah itu Reina. Untuk masalah sprint atau lari tercepat Yagami memang
tidak terlalu pandai bahkan terkadang Reina berhasil mengalahkannya. Lain
halnya dengan Kazu, Fujima dan Atsushi yang memang menyukai olahraga, walau
begitu mereka selalu berlatih secara kompak dan saling membantu satu sama lain.
Namun sepertinya Harukapun tidak ada di TKP, mungkin ia sudah pulang atau
memang tidak kembali sejak tadi.
Kini mereka berlima
tengah beristirahat sambil meneguk minuman yang mereka bawa masing-masing.
Cucuran keringat membasahi rambut dan baju mereka karena teriknya matahari
siang ini. Yagami menyirami wajahnya dengan sisa air minumnya itu dengan
extreme nya hingga rambutnya nampak sekali basah kuyup dan ia
menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya bintang iklan shampoo seperti di tv
tentunya hal biasa yang Yagami lakukan yaitu untuk mencari sensasi. -___-.
Kazu menatap Fujima
dan memperhatikan tingkahnya yang agak aneh sedari tadi. Fujima terlihat
sedikit gelisah sambil melirik kesekitar lapangan dan setelah itu menghembuskan
nafasnya kasar meski tidak terlalu ia nampakkan. Kazu menghampiri Fujima dan
duduk santai disampingnya.
“…Ada yang kau
khawatirkan, Wiley?” pertanyaan Kazu sontak membuat Fujima terkejut sekaligus
heran mengapa mendadak Kazu bertanya seperti itu.
“Um? Apa?”
“Kau mencarinya?” Kazu
muai menggodanya sambil terus memandang ketiga temannya yang sedang bergurau.
“Siapa maksudmu?”
Fujima tetap belum paham arus perbincangan Kazu.
“Hh~ Kusarankan kau
segera selesaikan masalahmu dengan Haruka sehingga kompetisi ini bisa berjalan
lancar.”
Fujima mengerutkan
dahinya heran.
“Masalah apa? Dan apa
yang kau bicarakan, Neal?”
“Aku tidak mau tahu,
dan hanya kau yang tahu. Jangan kau biarkan seorang wanita menderita karenamu.”
Kazu membisikkannya pada telinga Fujima. Kali ini Fujima tidak bisa
menyembunyikan kepura-puraannya didepan Kazu.
“Menderita? Siapa yang
bicara seperti itu?”
“Entahlah, hanya
perasaanku saja. Kau sudah dewasa, bung jadi selesaikanlah secara dewasa pula,
ok.” Kazu menepuk pundak Fujima sambil tertawa licik dan kembali melanjutkan
latihan.
Fujima hanya terdiam
dan tak bisa menyanggah perkataan Kazu barusan dan itu artinya ia paham apa
yang harus ia lakukan. Fujima menyelesaikan latihannya dan berpamitan kepada
teman-temannya dan secepat kilat ia menuju ruang ganti dan setelah itu ia
mencari keberadaan Haruka. Semoga Haruka masih tinggal dikampus. Fujima belum
mengetahui alasan Haruka yang sebenarnya, bahkan jika dikatakan pacaranpun
kurang tepat karena hubungan mereka hanya sebatas teman kencan meski sama-sama
memiliki perasaan.
Fujima bukan orang
yang banyak bicara jika ia ingin melakukan sesuatu maka akan ia lakukan dengan
sendirinya, begitupun ketika proses pencarian Haruka ia nampak tenang sambil
menelusuri setiap koridor kampus dan kelas.
Tanpa sengaja dan
secara kebetulan ia berpapasan dengan Haruka di depan ruang laboratorium.
Mereka terkejut satu sama lain dan menghentikan langkahnya sejenak.
“…Ah kebetulan sekali,
aku ingin bertemu denganmu.” Fujima tetap menyambut ramah dengan
mempersembahkan senyuman terbaiknya. Haruka merasakan aura masa lalu sejenak
dan ia segera sadarkan diri.
“Lain kali saja.”
Haruka bergegas pergi dan menolak ajakan Fujima, namun Fujima sempat menarik
lengan Haruka dari belakang dan membawa Haruka pergi bersamanya. Beruntung
beberapa mahasiswa sudah tidak dikampus jadi tidak ada yang melihat mereka.
Ketika itu Haruka
membelalakan matanya dan mengibaskan genggaman Fujima.
“Apa maumu huh?” Kini
Haruka terlihat garang dan menatap Fujima setengah jijik, tapi Fujima
menghiraukannya dan menarik kembali tangan Haruka agar ikut bersamanya meski
beberapa kali Haruka menolak namun Fujima tetap memperlakukannya dengan keren.
Entah Fujima akan membawa Haruka kemana ia terus berjalan lurus sampai pada
akhirnya mereka berhenti di danau yang terdapat ditengah taman. Lalu Fujima
melepaskan genggamannya.
“Apa maksudmu
membawaku kemari?” Haruka nampak kesal.
“Aku ingin bicara
denganmu. Kita selesaikan masalah ini sekarang juga.”
Haruka terkejut dan
mulutnya menganga lebar.
“Hah? Aku tidak punya
masalah denganmu.” Haruka memalingkan wajahnya.
“…Kau seperti ini
gara-gara aku, bukan?” Fujima duduk di batu yang terdapat dipinggir danau itu.
“…….” Haruka terdiam dan
tidak berani menatap wajah Fujima hingga Fujima harus mengulang pertanyaannya
kembali.
“Hh! apa kau
menyadarinya? Aku sama sekali tidak ingin membicarakan tentang masa lalu,
karena aku benci masa lalu.”
Fujima tersenyum
seraya menatap Haruka yang sedang kesal tersebut.
“Apapun itu yang
berhubungan dengan masa lalu, aku minta maaf.” Fujima berdiri dihadapan Haruka.
“Bagimu aku adalah
masa lalumu dan kau meminta maaf setelah itu selesai?”
“…Um, kita bisa
memulainya dari awal dan melupakan masa lalu itu. Lagi pula kau membencinya kan
jadi itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan sekarang, benar kan?”
“Kau…! Terlalu
meremehkanku. Kau pikir dengan begitu aku bisa terharu dan berbuat baik
padamu?! Kau dengan mudahnya bicara begitu seharusnya kau yang harus lebih
berpikir bahwa kau telah sering mencampakkanku bahkan berbohong padaku.” Suara
Haruka meninggi dan semakin meninggi. Ia mengacungkan telunjuknya kehadapan
Fujima dan sempat membuat Fujima menelan ludah sejenak.
“…Baiklah, Haru. Mungkin
aku tidak mengerti perasaanmu dulu dan sekarang, oleh karena itu maafkan aku.
Seperti yang aku bilang aku ingin segera masalah ini terselesaikan dan kau
tidak seperti ini lagi.” Fujima menatap mata Haruka sendu.
“Memang kau pikir aku
begini karena apa? Aku benci kau.” Haruka sedikit berbinar nampaknya ia akan
menangis sebentar lagi. Ia segera membalikan tubuhnya dan bergegas meninggalkan
Fujima.
“Haruskah aku bilang
aku menyukaimu dan setelah itu kau akan berubah?” Fujima mengucapkannya dengan
lantang karena Haruka sudah menjauh beberapa meter darinya.
Langkah Haruka
terhenti dan kembali berbalik.
“Kau! Jangan pernah
muncul dihadapanku. Bodoh!” Haruka sempat menitikan air mata karena merasa
dirinya telah dipermainkan Fujima dan berlari entah kemana. Sementara Fujima
hanya terdiam dan syok.
Adegan ini disaksikan
oleh Kazu, Yagami, Atsushi dan juga Reina bahkan Saruwa dan Sayumi tentu di
sudut tempat yang berbeda. Mereka hanya tersenyum bahkan heran dengan mereka
berdua yang mempersulit masalah mereka sendiri. Yang pada intinya Haruka benci
ketika dianggap dirinya rendah dan merasa dimanfaatkan oleh orang seperti
Fujima Wiley. Yang padahal ia menyukai Fujima tulus namun Fujima selalu menarik
ulur perasaan Haruka.
***
Hari ini merupakan
hari Pekan Olahraga Nasional dimulai atau biasa disebut dengan Nippon Spring
Games karena ajang ini dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dimusim panas yang
mana tahun ini berlangsung di Hokkaido tepatnya dihalaman gedung Olahraga.
Terdapat beberapa puluh bahkan ratusan mahasiswa yang mengikuti ajang ini tentu
mereka berasal dari universitas ternama diseluruh Jepang yang sudah menjadi
legenda champion sejak dulu. Ada berbagai macam olahraga yang di tandingkan,
namun Kazu dan kawan-kawan hanya mengikuti 2 kompetisi diantaranya sprint dan
lari estafet (ekiden).
Kompetisi sprint
dilakukan secara individu sedangkan lari estafet dilakukan secara berkelompok
yang terdiri dari 10 orang yaitu Kazu, Fujima, Yagami, Reina, Atsushi juga Kuga
dan Shina juga kedua mahasiswa lainnya yang merupakan mahasiswa fakultas
olahraga dan… Haruka karena Kazu
yang memilihnya sebagai tim pelengkap untuk kompetisi ini.
Sedangkan yang
mengikuti lomba lari marathon 150 meter yaitu Kazu sebagai perwakilan putra dan
lari marathon 100 meter yaitu Reina sebagai perwakilan putri. Kini mereka yang
seharusnya datang ber-10 hanya 9 yang terlihat sedang berkumpul di tepi
lapangan untuk melakukan pendaftaran ulang.
“Ash! Kemana si wanita
iblis itu? Kenapa dia belum datang juga? Menyebalkan sekali.” Yagami berkacak
sambil menelisik sekitar lapangan yang luasnya sekitar 2,5 kali lipat lapangan
tenis.
Mereka berlima telah
bersiap-siap untuk melaksanakan upacara pembukaan tapi rupanya Haruka tidak
nampak tepatnya tidak datang pada ajang ini, entah kemana ia, apakah ia
melarikan diri?
“Neal, sebaiknya kau
cepat hubungi dia karena acaranya akan mulai sebentar lagi.” Yagami terus
menerus mengamuk meminta Kazu untuk menghubungi Haruka, tapi tidak ada jawaban
darinya sekalipun entah itu pesan maupun panggilan.
“Ada apa Zero? Apa
Kuro shoujo membuat masalah lagi?” Atsushi ikut menyambungkan perbincangan yang
terlihat penasaran itu.
“Ah! Kau lihat sendiri
bukan, dia seorang pengecut dan tak bertanggung jawab. Ia pasti berniat menggagalkan
ajang ini.” Yagami memicingkan mata sipitnya itu sambil menerawang jauh.
“…Ini semua salahku.
Haruka tidak datang karena aku. Jika aku tidak membahasnya kemarin mungkin
tidak akan seperti ini.” Tiba-tiba Fujima mendesah sendu pada Kazu seolah menyesali
perbuatannya kemarin. Jika saja ia tidak membicarakannya secepat itu mungkin
Haruka akan datang.
“Kau tidak perlu
merasa bersalah begitu. Kita lihat saja nanti. Masih ada waktu sebelum
pertandingan dimulai.” Kazu menenangkan Fujima yang tengah dalam keadaan
setengah terpuruk kemudian mereka menuju barisan untuk melaksanakan upacara
pembukaan yang di pimpin oleh menteri pendidikan dan olahraga.
Setelah berlangsung
sekitar 15 menit untuk upacara pembukaan semua peserta bersiap-siap untuk
bertanding dan melihat beberapa lawan mainnya di papan score yang terdapat
didekat meja juri dan penonton.
Sekejap Atsushi
terkejut ketika mendapati lawan mainnya itu Universitas Perfectural Osaka yang
dimana mahasiswanya sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler khususnya
olahraga dan sempat memenangkan juara kedua marathon 2 tahun lalu.
“Ah! Hei Reina, lihat
siapa lawan main kita. Ternyata kita akan melawan mereka juga.” Atsushi menatap
papan score miris dan menundukkan kepalanya lesu karena pesimis terlebih dahulu.
“Kenapa kau lesu
begitu, Carley. Ayolah bersemangat.” Reina menepuk punggung Atsushi.
“Kau tak perlu
khawatir begitu Carley, jika kau memasang wajah seperti itu kau sudah dianggap
lemah oleh mereka.” Kazu menunjuk kepada mahasiswa yang memiliki badan kekar
diseberang lapangan itu.
“Baiklah. Kau benar.”
“Ck! Kenapa dia belum
datang juga Neal? Pertandingan akan dimulai beberapa menit lagi dan lari
estafet ada di urutan ke-5.” Emosi Yagami kembali meningkat sambil menggertak
Kazu. Namun Kazu usahakan untuk tetap santai agar citranya tak menurun.
“Lebih baik kau diam,
Zero. Aku muak melihatmu marah-marah sejak tadi. Aku juga sudah menghubunginya,
tapi tetap tidak ada jawaban.” Kazu gusar menghadapi Yagami yang seperti anak
kecil meminta uang pada orang tuanya.
“Baiklah, semua
peserta lari estafet dipersilakan untuk mempersiapkan diri.” Salah seorang
panitia memberikan intruksi.
Seluruh peserta lomba
lari estafet segera memisahkan diri dan memakai perlengkapan mereka, seperti
kaos olahraga kelompok, ikat kepala dan yang lainnya. Setelah itu panitia
menyuruh untuk berbaris sesuai kelompok dan nomor urut.
Kini mereka berlima
mulai gelisah karena Haruka belum juga datang. Kazu menggertakkan rahangnya
berkali-kali, Yagami berada dipusat gejolak emosinya juga Atsushi dan Reina
yang berada diambang kegelisahan dan kecemasan dan berkali-kali mengigit bibir
bawah mereka secara kompak. Sedangkan Fujima hanya berwajah datar dan tatapan
kosong mengarah pada tengah-tengah lapangan.
Seorang panitia mulai
menyebutkan urutan nomor yang akan bertanding, namun secara kebetulan pertandingan
lari estafet ini dilangsungkan dengan 5 kelompok pertama yang akan maju. Dan
nomor urut 5 diminta untuk maju kebarisan area lomba yaitu Kazu dan
kawan-kawan.
Panitia menghitung
serta mengabsen masing-masing kelompok dan ketika ia menghitung kelompok 5
ternyata mereka kekurangan satu anggota.
“Kelompok kalian
kurang satu anggota., apakah ia belum tiba?” seorang panitia yang parasnya
terlihat menakutkan itu bertanya pada Fujima karena ia berada dibarisan paling
depan.
“Ah…mungkin sebentar lagi
dia datang.” Fujima menjawab seadanya, sedangkan peserta lain mulai berdesis
heran. Dari situpun nampak sekali bahwa mereka tidak kompak antara satu dan
lainnya.
“Tapi ini sudah akan
dimulai, jika teman kalian tidak juga datang dalam 1 menit terakhir ini maka
kalian didiskualifikasi.” Sorot mata panitia itu amat tajam hingga nyaris
membuat Atsushi mati kutu.
“Dia akan segera
datang, pak.” Kazu mengeluarkan suaranya dengan lantang dan sangat percaya
diri.
“Baiklah.” Panitia itu
melihat jam tangan yang dipakainya untuk mulai menghitung waktu yang hanya 1
menit itu. Waktupun mulai berjalan dan terus berjalan hingga menunjukkan di
detik ke 25, Harukapun belum terlihat meski hanya sebatang hidung mungilnya
itu.
Kini suasana mulai
tegang dan cemas disertai bisikan-bisikan aneh dari para penonton dan juri yang
sudah siap melangsungkan acara tersebut. Dan waktupun sudah melaju di detik ke
10, panitia itu menatap wajah Fujima tajam.
“Waktu akan segera
berakhir, jika teman kalian tidak kunjung datang maka kalian didiskualifikasi.”
Panitia itu terus menegangkan suasana dengan bunyi jarum jam yang tinggal
beberapa detik terakhir.
5…4…3…2…1.
“Yak. Mohon maaf
kelompok 5 tidak dapat mengikuti kompetisi ini dengan kata lain kalian di
diskualifikasi.” Panitia itu nyaris membunyikan pluit yang digantung
dilehernya. Paras wajah Kazu dan yang lainnyapun menampakkan kekecewaan. But… keajaiban terjadi.
--------------
“Siapa yang kau
diskualifikasi pak tua?” Haruka muncul tiba-tiba dibelakang Yagami dan lengkap
memakai semua perlengkapannya. Sontak seluruh peserta dan orang-orang disana
nampak kaget juga panitia itu ia tertegun sejenak untuk berpikir karena heran.
“Apa kau tidak melihat
aku berdiri disini, huh?” Haruka berdiri dengan angkuhnya seraya melipat kedua
tangannya dan menatap tajam panitia tersebut.
“Ah…apa? Tapi tadi
kelompok kalian memang kurang 1 anggota.” Panitia itu sedikit gelagapan.
“Sudahlah. Cepat
dimulai pertandingannya, kau tidak lihat semuanya kepanasan?!” Haruka menggeser
posisinya berada di belakang Fujima.
Kazu tersenyum licik
menyaksikan tingkah Haruka yang agak menyebalkan itu, tapi beruntung
kelompoknya tidak di diskualifikasi, jika Ya maka Universitas Tokyo tidak akan
diijinkan untuk mengikuti ajang ini lagi.
Sementara itu panitia
segera membunyikan pluitnya pertanda pertandingan dimulai. Seluruh peserta lari
estafet bersiap diposisi mereka. Urutan kelompok Kazu yaitu Kuga merupakan
pelari pertama karena larinya sangat cepat bahkan bisa mengalahkan atlit, haha.
Pelari kedua yaitu Shina, ketiga Kazu, keempat Reina dan seterusnya hingga
pelari terakhir itu Fujima.
Pluit keduapun
dibunyikan dan mulailah pelari pertama berlari sambil membawa tasuki
(selempang) yang akan dibawanya untuk dioper ke pelari selanjutnya. Kini tasuki
sudah berada di tangan Atsushi sebagai pelari ketiga kemudian Atsushi berlari
untuk segera mengoper tasuki ini kepada pelari selanjutnya yaitu Haruka.
Atsushi berlari dengan
kencang dan sepertinya sosok Haruka sudah terlihat sedang berdiri tepat
beberapa meter dari hadapannya. Wajah Haruka tetap dingin namun sedikit nampak
keantusiasannya yang sempat berbinar beberapa detik setelah itu menyusut
menjadi ketegangan karena Atsushi sudah mulai mendekat dan ‘grep’ Atsushi
segera mengoper tasuki ke genggaman Haruka, Haruka mulai berlari dengan sepenuh
tenaga, berlari kencang untuk meraih Fujima tentunya untuk mengoper tasuki itu.
Butir-butir keringat sudah mulai menetes dari kepala, dan keningnya hingga poni
Haruka terlihat basah dan juga pakaian olahraganya karena ia sedang banjir
keringat ditengah-tengah ketegangan.
Fujima menatap Haruka
penuh yang masih beberapa meter darinya, ia memejamkan matanya dan menarik
nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, dan membuka matanya kembali lalu
ketika itu ia mendapati Haruka yang tinggal beberapa langkah lagi meraihnya.
Fujima bersiap-siap menghadapkan dirinya kearah Haruka dan menganggukkan
kepalanya teguh, dan akhirnya Haruka sampai juga dihadapan Fujima kemudian
berhenti sejenak dengan nafas yang amat tersengal-sengal sambil menatap Fujima
datar lalu mengalungkan tasuki berwarna merah itu ke leher Fujima. Beberapa
detik tersirat aliran dramatic dan senandung lagu ‘First Love’ milik Utada
Hikaru. XD
“Terimakasih…Haru.” Fujima melintas
berlari meninggalkan Haruka dan segera menuju ke garis finish. Dengan suasana
hati yang setengah menggebu-gebu Fujima terus berlari mengitari belokan arus
lintas perlombaan, sementara yang lainnya meneriaki Fujima dari kejauhan kecuali
Haruka. Fujima berlari dengan sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil menyusul
salah seorang peserta dari Hiroshima Gakuen.
Teriakan Kazu, Yagami
dan yang lainnya semakin keras dan histeris ketika mendapati Fujima berada di
urutan paling depan dan tinggal beberapa meter mendekati garis finish. Dan
akhirnya…..
Goal…!
***
Seluruh mahasiswa
berbondong-bondong menyusuri koridor kampus menuju auditorium karena hari ini
akan ada jumpa pers bersama sang liga champion Nippon Games marathon 150 meter
putra atas nama Kazukuro Neal dan marathon 100 meter putri atas nama Reina
Sayuki dan juga juara pertama lomba lari estafet yang dijuarai oleh Kazu dan
kawan-kawan. Terdengar riuh tepuk tangan dan teriakan histeris yang berasal
dari para mahasiswi yang juga mengakui dirinya sebagai Kazunatics, dengan
riasan wajah yang tebal layaknya badut ancol dan juga pakaian yang nampak
sedikit terbuka itu sungguh bukan menebar pesona namun menebar bisa beracun.
Dengan logat bicaranya yang genit dan tak lazim itu sambil mengumandangkan
‘Kuro-chiin!’ memalukan sekali.
Semua menyambut Kazu
dengan sumringah termasuk para dosen dan staff yang juga ikut menyaksikannya
karena banyak sekali wartawan yang datang ke kampus dan mewawancarai mereka,
tak heran jika Haruka tidak pernah berada ditempat yang sama dengan posisi
mereka saat ini. Anak itu!
Saruwa dan Sayumi pun
ikut serta berdesak-desakan diauditorium karena sangat ingin mengucapkan
selamat dan berjabat tangan dengan kedua pujaan mereka. Sayumi menyikut wanita
yang ada disampingnya hingga pingsan sebab ia tidak dapat melihat sosok Yagami
karena terhalang oleh tubuhnya yang lebih tinggi dari Sayu. Saruwa menganga
sangat lebar dan syok. Mereka berdua kini berjalan mendekati mimbar dan
sekerumun para champion itu.
“Yagami-kun…!” Seru Sayumi sambil
membenahi rambutnya.
Yagami menghampiri
suara yng memanggil namanya itu.
“Oh, Kau. Kenapa?”
“Wah…Selamat ya,
Yagami-kun, kau hebat sekali.” Sayumi mengulurkan tangan kanannya dan langsung
menarik paksa tangan Yagami agar menyambutnya salamnya.
“Ya, terimakasih,
Sayu-chan.” Yagami menarik tangannya kembali dan mengelapkannya ke jas yang
dipakainya.
“Ah, boleh kita
berfoto bersama?” Sayumi segera menyiapkan kamera, ia memang tidak pernah mau
ketinggalan untuk berfoto di sesi tertentu, terutama jika ada Yagami.
“Cheessee…!” Sayumi mengacungkan kedua jari nya sambil
berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah Yagami, namun gagal.
Ckreek!
“Sayu! Kau ini enak
sekali bisa berfoto dengannya, sementara aku di terlantarkan.” Saruwa
mengerucutkan bibirnya kesal dan memalingkan wajahnya.
“Hehe, nanti juga
giliranmu, Saru. Akan ku ambil gambar kalian berdua.” Alis Sayu mengisyaratkan
sesuatu pada Saru sambil matanya melirik kearah Kazu lalu Saruwa.
Tanpa sengaja Kazu
bertatapan dengan Saruwa dan sontak mereka terkejut satu sama lain namun Kazu
malah memberinya senyuman cerah atas kemenangannya pada Saruwa. Saruwa yang
tidak sempat memalingkan wajahnya juga ikut membalas senyumnya yang ia anggap
sangat berharga. Meski Saruwa tahu bahwa ia tidak akan bisa menggapai seorang
Kazukuro Neal namun ia selalu mengaguminya dan menganggap bahwa Kazu adalah
orang yang paling berkesan baginya.
Ketika itu, Saruwa
tidak sengaja melihat Fujima yang nampak sedang keheranan mencari sesorang.
Bola matanya terus beredar kesekitar auditorium, lalu Saruwa mencoba
menghampiri Fujima seolah ia mengerti maksud tindakan Fujima.
“Fujima-kun…”
Fujima menoleh kearah
Saruwa seraya mengerutkan dahinya bingung.
“Dia ada ditaman, jika
tidak di atap.” Saruwa menunjukkan tempat keberadaan Haruka yang sedang
dicarinya saat itu. Fujima terdiam sejenak dengan tatapan kosong, Kazu menepuk
pundak Fujima halus dan mengisyaratkan Fujima untuk pergi menemuinya dan
memperbaiki masalah mereka yang masih terlalu simpang siur. Fujima hanya sekali
mengangguk dan melesat pergi meninggalkan auditorium.
Kazu menatap pundak
Fujima dan tersenyum licik lalu menghembuskan nafasnya kasar. Sementara Yagami
hanya bisa mengusap dadanya berkali-kali.
***
“Kenapa kau disini?
Seharusnya kau menghadiri acara jumpa pers bersama kami.” Fujima mendapati
Haruka di atap gedung setelah sekian menit berputar-putar mengelilingi kampus.
“Katakan alasanmu,
Haru!” Fujima mendekatkan langkahnya tepat dibelakang Haruka yang tengah
berdiri menatap permukaan kota Tokyo. Rambutnya yang melambai tak cukup panjang
itu menjuntai terombang-ambing oleh angin spring dan mendinginkan suasana
mereka berdua.
“Kau tidak perlu tahu,
karena sudah tahu, kan. Aku tidak ingin terlibat dengan itu.” Haru masih belum
membalikkan badannya.
“…Tapi kau juga yang
mengangkat kampus kita kelayar kaca dan berhasil menjadi juara. Kau tidak akan
mudah mendapatkan kesempatan seperti ini, jadi hargailah meski hanya sedikit.”
“Tidak, terimakasih.
Aku merasa keberatan dengan itu. Lagipula kampus hanya ingin meminjam nama
kalian sebagai alasan reputasi. Jadi jangan cepat puas.” Haruka menatap Fujima
tajam.
“Sudahlah, kita
hentikan pembicaraan itu.” Fujima mengalihkan pembicaraanya dan mengambil kursi
yang ada tepat disebelahnya.
“….” Haruka tidak
merespon, dan segera berancang-ancang pergi.
“Tunggu! Apakah kau
akan melarikan diri lagi?”
Langkah Haruka terhenti
dan berbalik.
“…Apa maumu? Jika kau
ingin mengajak berkelahi bukan sekarang saatnya.”
“…Haru. Aku ingin kau
kembali.” Fujima terbangun dari duduknya.
Haruka tertegun dan
berpikir sejenak maksud perkataan Fujima. Kini mereka hanya terdiam tanpa kata
dan hanya hembusan angin yang terdengar.
“Kali ini, aku mohon
padamu. Kembalilah seperti dulu.” Suara Fujima berubah menjadi sendu.
“…Hah? Kurang penjelasan
apa aku padamu?” Haruka tetap dengan suaranya yang datar.
“…Aku, ingin kau… kembali…” Fujima belum
menyelesaikan ucapannya Harupun segera menyanggahnya.
“Berisik!! /
Bersamamu!” Ucapan terakhir Fujima tidak jelas karena Haruka berteriak.
“Aku ingin kau kembali
padaku, Haru!” Fujima melangkahkan kakinya untuk mendekati tubuh Haru seraya
menatap dan memohon padanya.
“…Tidak! Itu tidak
mungkin.”
“Aku mohon. Jika
memang ini bisa mengubahmu menjadi seperti dulu.” Fujima merendahkan tubuhnya
didepan Haruka.
“…Maaf! Aku tidak bisa.
Dan tidak akan mungkin untukku. Dengar! Aku tidak akan pernah kembali ke masa
lalu dimana aku harus selalu mengharapkanmu, Fujima-kun.” Kini nampaknya suara
Haruka sudah tidak lagi meninggi. Mungkin ia lelah.
“…Aku minta maaf, aku
mengaku bersalah. Aku akan mengevaluasi semuanya.”
“Apa untungnya untukku
bahkan untuk dirimu? Kita tidak bisa merubah takdir, apapun alasannya.” Haruka
menatap sedikit sendu dan kali ini ia tidak berbicara dengan nada berteriak dan
semacamnya.
“…Aku akan menepati
janjiku, meski janji terdahulu.”
“…Kalau begitu aku
pergi.” Haruka membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah kearah pintu. Namun
Fujima masih belum puas untuk bisa menaklukan Haruka.
“…Aku mencintaimu,
Haruka!” Fujima melantangkan suaranya dengan sepenuh jiwa raga, memang ini kali
pertamanya ia mengungkapkan isi hatinya yang ada dizaman SMA dahulu. -__-
“…Cukup, Fujima-kun. Aku
tidak ingin mendengar apapun yang bertema masa lalu darimu. Jalani hidupmu
sendiri dan jangan pernah menatap masa lalu.” Haruka sedikit meninggikan
suaranya sebab jarak mereka berada antara 1 meter.
“…Sayonara!” Haruka
mengakhiri pembicaraannya dan kini benar-benar meninggalkan sosok Fujima Wiley
sendirian. Sementara Fujima hanya tertegun tanpa membalas ucapan bahkan salam
perpisahan Haruka, ia menyunggingkan bibirnya seolah ingin menitikkan air mata
dan memalingkan wajahnya menatap langit dan permukaan kota yang menjadi saksi
perpisahan sengit Fujima dan Haruka.
-END-
We couldn’t save a possibility
from yesterday
When we save a possibility for
tomorrow, we couldn’t vary the first destiny in any reasons
Nevertheless, a first memory will
become only an oldest page….
(Miyo_chan)