Selasa, 01 Agustus 2017

IKEMEN TO KURO SHOUJO (Short Story-2)



IKEMEN TO KURO SHOUJO
(Cogan Vs Cewek Iblis)
Cast 

Haruka Collins          Saruwa Nicole

Kazukuro Neal         Sayumi Reeca

Fujima Wiley            Yagami Zero

Genre : Suspense, Life School, Adolescence, Less Sport

Nb : Dibuat dalam rangka memperingati suasana hati yang sedang gegana #Author #abaikan
        Dozo....



***
“Aku, Haruka Collins bersumpah untuk tidak akan pernah jatuh cinta terhadap pria-pria tampan bahkan pria jalang sekalipun ketika aku sudah menjadi seorang mahasiswa. Karena aku. benci mereka pria-pria yang selalu menebar pesona dan ingin membuat debut di kampus, huh! Sungguh tak bisa dimaafkan.” Haruka berkaca didepan cermin besar dikamar miliknya sambil mendengus sebal pada dirinya sendiri seolah ia sedang menasehati seseorang.

Haruka tengah bersiap-siap untuk pergi ke kampus sebab hari ini merupakan hari pertama ia menjadi mahasiswa Tokyo University. Haruka memutuskan untuk mengubah dirinya yang lama menjadi dirinya yang baru namun rupanya ia telah merancang beberapa rencana dan strategi untuk menjadi seorang mahasiswa yang baik sekaligus panutan kampus dan para dosen.

Namun sebenarnya Haruka merupakan typical orang yang hangat dan pengertian but, ia bilang ia sudah lelah dengan itu semua.

Meski begitu bukan berarti ia tidak memiliki teman seorangpun justru dua orang teman sejati nya selalu menemaninya bersama hingga berada di kampus dan fakultas yang sama yaitu Saruwa Nicole dan Sayumi Reeca yaitu fakultas sastra bahasa asing. Haruka memiliki orang-orang yang dianggapnya musuh terbesar but, hanya untuk dirinya dan berlainan dengan kedua temannya.

Haruka berjalan dengan langkah yang lebar dan juga tegas seperti langkah pria juga wajahnya yang nampak sombong dan cuek yang mengartikan ‘Jangan bertanya padaku.’ Entah karena apa ia menjadi kejam bahkan warga kampus menyebutnya dengan embel-embel Kuro Shoujo atau Wanita iblis. Haha.

“Haru! Good morning. Kau duduk disebelahku ok.” Saruwa Nicole menyapanya pertama kali. Ia merupakan gadis yang.diam namun terlalu banyak gengsi dan sangat menginginkan pria seperti Kazukuro Neal si pria super sempurna tingkat 2 dan jelas ia merupakan kakak kelasnya dulu ketika di SMA.

“Ini masih pagi, setidaknya tersenyumlah sedikit, Haru-chi.” Sayumi Reeca menyapanya tak selembut Saruwa karena ia typical orang yang suka bercanda dan kurang pandai menjaga rahasia dia juga amat menyukai pria tampan yang selalu ia sebut-sebut setiap hari yaitu Yagami Zero yang merupakan kakak kelasnya juga dulu.

“Ah, kalian berdua tak perlu sok baik padaku dan menganggap seolah-olah aku adalah anak baru.” Haruka melipat kedua tangannya seraya duduk dikursi yang kosong tepat disamping Saruwa.

“Haru apa kau tahu hari ini aku sangat amat bahagia sekali akhirnya aku bisa satu kampus dengan Zero-kun, oh Zero-kun” Sayumi memamerkan kesenangannya pada Haruka seraya tersenyum sambil berimajinasi liar.

“Sungguh! Aku tak ingin mendengar itu pagi-pagi begini.” Haruka nampak kesal melihat Sayumi yang selalu menampakkan harapannya pada Yagami didepan Haruka dan membuatnya ingin muntah karena ini bukan yang pertama kali.

“Eeeh? Memangnya apa yang salah denganku huh? Kau memang jahat dan tak peduli padaku.” Sayumi berkacak pinggang dan menceramahi Haruka hingga bola matanya yang sedikit lebar itu setengah keluar.

“Sudahlahaku pergi.” Tanpa merespon Haruka dengan cermatnya meninggalkan Sayumi dan Saruwa.

---

Buk

What? Nampaknya Haruka menabrak sesuatu.

“Ash..” Haruka meringis sambil mengusap-usap keningnya karena terbentur pada awak pemuda tinggi itu.

“Kau tidak apa-apa nona? Nampaknya kau kesakitan, mau kuobati?” laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Haruka seraya menadahkan tangannya.

Ketika itu Harukapun syokTsk!

“Huh. Terimakasih.” Haruka menyunggingkan bibirnya dan menolak tawaran pemuda tampan itu.

“Oh begitu? Tidak sopan sekali kau nona. Pantaskah kau menjadi seorang mahasiswi disini?” Tiba-tiba lelaki itu berbalik namun sepertinya keadaan menjadi lain. Harusnya drama terjadi disini tapi kenapa aura perang yang tumbuh seketika.

Harukapun membalikan badannya dan tak mau kalah bicara.

“Haruskah aku bicara dengan orang sombong sepertimu huh?”

“Huh..Seharusnya kau minta maaf karena kau yang menabrakku, bukankah kau tahu aku siapa disini?” Kazukoro Neal benar-benar menantang perang pagi-pagi begini, yang benar saja.

Kazukuro Neal, sekali lagi Kazukuro Neal adalah mahasiswa yang paling popular dan super sempurna kenyataannya memang dari dulu ia sudah popular bahkan Tokyo dianggap sebagai kota terbaik karena prestasi Kazu. But, dia itu orangnya sombong meski banyak yang bilang ia tampan, ia cerdas dan tubuhnya tinggi hampir setara dengan Tokyo tower. Ia orang yang keras dan pandai menggoda wanita.

“Hanya karena kau popular huh? Dengar kau Kazukuro. Mustahil bagiku untuk melakukan hal-hal yang orang lain lakukan. Haruskah aku memujamu begitu? Tsk! Memalukan sekali.” What? Haruka mengeluarkan kata-kata kejam dan.menyayat hati. Ia meninggikan suaranya sambil jari telunjuknya ia arahkan tepat didepan muka Kazu hingga para mahasiswa yang berada disekitar sontak terkejut dan membelalakan mata.

“Kau itu seorang wanita tapi berani sekali berkata begitu.” Kazu tetap harus terlihat cool dan jangan sampai ikut memanas jika itu terjadi maka citranya pasti menurun.

“Bukan urusanmu. Dan aku tidak ingin berurusan denganmu. Jadi jangan so’ menjadi hero dikampus ini hanya sekedar mencari sensasi!” Haruka benar-benar bermulut iblis sampai ia berani mengata-ngatai campus star sejahat itu. Bahkan ia tidak merasa berdosa sekalipun dan langsung pergi.

Kazu menggertakan rahangnya kesal dan segera kembali ke kelas.

***

Yagami terlihat tergesa-gesa dilorong kampus sambil membenahi jaketnya serta merapikan rambutnya yang sedikit tipis itu sambil bersiul karena ini adalah hari yang cerah bagi flaming prince seperti dia. Yagami Zero, pria yang amat disukai Sayumi ini typical orang yang suka memamerkan ketampanannya didepan para wanita dan juga menjual harapan pada mereka ia merupakan keturunan China dan Korea juga Jepang oleh karena itu ia memiliki mata sipit yang khas yang bisa membuat wanita terpikat.

Sekerumunan geng nampak terpikat dan meronta-ronta ah tidaktepatnya mencari perhatian Yagami. Ia merupakan mahasiswa fakultas Teknik sedangkan Kazu berada di fakultas Pendidikan.

“Morning..” Yagami menebarkan senyuman termanisnya kepada sekumpulan geng tersebut sambil melambai-lambaikan tangannya. Namun langkahnya terhenti seketika saat tepat ia berpapasan dengan Kuro Shoujo atau Haruka. Tak hanya Yagami namun termasuk sekumpulan geng dan para mahasiswa yang berlalu lalangpun tiba-tiba berhenti dan menatapnya miris dan sinis.

“Bukankah dia itu yang menghina Kazukuro-sama kan.” Sekumpulan geng itu berbisik-bisik ria seraya menatap kejam kearah Haruka.

“Iya, dia mahasiswa tingkat pertama yang tidak memiliki sopan santun.” Timpal salah satu temannya.

Tanpa mempedulikan orang disekitar bahkan Yagami sekalipun Haruka tetap lurus berjalan menghiraukan segalanya.

“Ah, Kau wanita iblis sombong sekali.” Yagami dengan luwesnya menjambak rambut Haruka yang tidak terlalu panjang itu dan menariknya kehadapannya. Haruka meringis dan menebas lengan Yagami dengan kasar.

“Ck! Lepaskan! Dasar lelaki tak tahu diri!” Haruka kembali membentak campus star yang satu ini. Nampaknya ia sungguh benci dengan para bintang kampus terpopular ini padahal mereka itu tampan-tampan sekali. Orang lain pun nampak ingin mencubit pipi mulus mereka. Kyahaha.

“Apa? Siapa yang tak tahu diri huh? Lancang sekali kau menghinaku begitu!” Yagami tidak peduli orang mau berkata apa padanya yang jelas ia pun muak dengan Haruka yang tidak bisa diampuni wataknya itu.

“Huh? Ada apa denganmu huh? Kau orang yang paling memuakkan yang pernah aku lihat.”

“Kau itu yang lebih muak lagi, tidak punya sopan santun, dengar! Aku adalah kakak tingkatmu dan kau harus menghormatiku karena aku telah mengenalmu sejak dulu. Camkan itu wanita iblis!” Yagami terpancing emosi hingga menekankan telunjuknya ke kening Haruka.

“OhKau seorang bintang yang kasar sekali beraninya bertingkah sekejam itu dihadapan fansmu. Tidakkah kau malu?! Permisi.” Haruka menurunkan telunjuk Yagami perlahan dan ingin beranjak pergi.

Tapi, Yagami belum merasa puas dengan semua itu.

“Awas kau wanita jalang aku akan melaporkanmu kepada direktur.” Yagami meneriaki Haruka dari kejauhan tanpa respon lagi dari Haruka.

“Wanita itu benar-benar tak bisa kumaafkan.” Yagami menggerutu seadanya dan segera menuju ruang kelas.

***

Bugh..! Brak..!

Yagami melemparkan tasnya ke meja bundar yang terdapat diruang club olahraga. Ia memboloskan jadwal mata kuliah pertama karena kekesalan yang dialaminya menimpanya dipagi hari. Mukanya berwarna merah panas menggebu-gebu layaknya tersiram alcohol. Yagami terus mendesah dan menggerutu sambil mengacak rambutnya kasar sehingga membuat teman-temanya ingin bertanya.

“Ada apa Zero? Apa kau membolos lagi?” Tegur Fujima Wiley yang merupakan mahasiswa fakultas Pshocology. Fujima ini merupakan ketua atau tepatnya seorang CEO kampus dan segala kegiatan atau kompetisi lainnya ia yang menghandlenya sekaligus menjadi kandidat. Fujima juga merupakan deretan campus star dan bisa dibilang yang paling ramah dan tak pernah menodai wanita apalagi menggoda. Ia pandai menjaga image dan tidak mau terlalu mencolok, iapun adalah kakak kelas Haruka ketika SMA.

Mereka bertiga atau berempat entah berlima merupakan deretan kriteria yang paling disegani dikampus tak heran jika banyak yang memujanya.

“Ck! Jika dia bukan wanita akan kuhabisi sampai tak tersisa sedikitpun.” Tatapan Yagami berubah menjadi sangar sambil memukul kedua kepalan tangannya satu sama lain secara bergantian.

“Apa maksudmu? Siapa yang sedang kau bicarakan huh? Kau seperti sedang kerasukan saja.” Fujima terkekeh melihat tingkah laku Yagami yang setengah tak sadarkan diri itu.

“Hhh~ Kau tahu Kuro Shoujo di kampus kita? Dia itu brengsek dan menyebalkan.”Yagami membuka matanya lebar-lebar sambil menekankan suaranya kehadapan Fujima.

“Kuro Shoujo? Siapa?” Fujima nampak heran sambil menahan tawanya yang akan membuncah.

“Hah? Jelas HARUKA COLLINS! Sungguh mustahil jika kau tak mengenalnya.”

“Haruka?” Fujima tertegun sejenak mendengar nama yang tak asing baginya sambil menelisik dan mengingat wajah Haruka dikala mereka duduk di bangku SMA.

“Ya! Aku jengkel sekali padanya entah itu adalah Haruka dari Hekasenkan atau bukan, dia seperti orang asing bagiku dan sama sekali bukan juniorku.” Yagami memutar bola matanya sinis seraya melipat kedua tangannya angkuh.

“Apa dia berubah? Kenapa kau jengkel? Apa dia melakukan sesuatu seperti membuat onar?”

“Lebih baik kau tegur saja dia dan jangan Tanya padaku! Kau tahu, dia telah berani merendahkanku dan juga Neal dan itu tak bisa dimaafkan.” Yagami menggebrak meja bundar putih itu dengan kedua tangannya. Kini ia nampak lebih seram dan garang.

“Kau tidak perlu marah sambil merusak piranti club mahasiswa, Zero.” Entah sejak kapan Kazu sudah berada didalam ruangan dan segera meregangkan suasana.

“Hhh! Jelas aku tidak bisa diam saja, Neal, dia itu benar-benar keterlaluan dan harus diberikan pelajaran.” Yagami tetap menggertak.

“Memang kau ingin memberikan pelajaran apa? Matematika kah? Sejarah kah? Bisakah kau tenang sedikit, Yagami Zero. Kau pikir aku tidak kesal padanya.” Kazu menumpangkan kakinya diatas kursi dengan wajah yang tak lazim.

Biar aku yang berikan dia pelajaran.” Mendadak Fujima bersuka rela mengajukan diri namun dengan senyum yang sumringah dan aura positif.

“Oh? Jadi kau mau mencobanya, Wiley? Kaupun harus tau seberapa jalangnya dia. Dan aku tidak mau tahu buatlah dia menyesal.” Kali ini kemarahan Yagami benar-benar membludak dan tak bisa ditahan. Ia mencengkram bahu Fujima dengan penuh keyakinan.

“Kau juga tidak perlu meniru kata-katanya yang kasar itu, Zero. Kalu begitu kaupun sama saja dengannya.” Kazu memutar kursinya sambil memainkan ponsel canggihnya itu.

“Kau mendengarnya? Haha Kalau begitu aku pergi dulu.” Fujima menggoda Yagami yang sudah tidak bisa menggertak lagi. Ia memang selalu kalah jika Kazu yang melawannya.

***

Terdapat segerombolan mahasiswa yang keluar dari ruang kelas bahasa inggris tentunya mereka sudah menyelasaikan mata kuliah yang berlangsung selama 2 jam setengah disertai dosen yang cukup.ngggh! membuat para mahasiswa mengeluh. Tak lupa ketiga wanita yang diakui sebagai 2 putri dan seorang iblis waw siapa lagi jika bukan Saruwa, Sayumi danHaruka si aura kegelapan. Haha. Mereka berjalan bergandengan menuju kantin karena waktu menunjukkan jam makan siang.

But, dengan kasarnya Haruka melepaskan gandengan kedua temannya yang dianggapnya terlalu berlebihan, mereka pikir sedang menggandeng pengantin ke pelaminan huh. Tentu saja Haruka merasa risih dan enggan berjalan ditengah-tengah mereka dan segera memisahkan diri berjalan didepan mereka berdua.

“Ahh, aku lapar sekali, Nico-chin.” Sayumi mendaratkan kepalanya kepundak Saruwa dengan berlaga ingin bermesraan bersamanya.

“Sayu, kenapa kau panggil namaku dengan sebutan seperti itu?”

“Eh..Terserah aku saja. Sudah kau jangan banyak bicara dan cepat beli makanan aku lapar, ya kan Korin-san. Hahah.” Tawa Sayumi dan Saruwa membuncah ketika mereka memanggil marga Haruka dengan aksen bahasa Jepang.

“Diamlah kalian berdua. Berhenti memanggilku seperti itu.” Tak dimanapun muka Haruka nampak selalu terlihat sedang merasa sebal dan tak pernah tersenyum bahkan terbahak-bahak rasanya tidak mungkin. Sementara kedua temannya hanya menertawainya.

“Oh! Kazukuro-kun.” Mendadak Saruwa menghentikan langkahnya seketika melihat Kazu berjalan menuju kantin pula.

“Ah! Pasti Yagami-kun juga bersamanya, Nico-chin.” Sayumi ikut menimpali ucapan Saruwa dan langsung terbawa suasana, merekapun segera berlari kearah kantin sebab tak mau ketinggalan melihat sosok Diva campus. Haruka memutar bola matanya tak peduli dan sama sekali tak mengikuti mereka.

“AnuAku mau pesan juga bi.” Sayumi langsung menerobos  loker kantin untuk memesan makanan.

“Kazukuro-kun. Kau mau pesan juga.” Sayumi tanpa basa basi menegur Kazu yang sedang berdiri disamping mereka. Sementara Saruwa hanya mematung tanpa suara karena saking grogi melihat karisma Kazu.

“Sudah jelas bukan. Haha. Kemana temanmu yang satu itu?” Kazu mencoba menggoda mereka dengan menanyakan keberadaan Haruka yang padahal dia sendiri sudah mengetahuinya bahwa Haruka tidak disana.

“Oh, HarukaDiaeh, kemana Haru?!” Saruwa terkejut ketika tahu bahwa Haruka tidak mengikuti mereka berdua pergi kekantin.

“Huh, apakah dia menghindariku? Pecundang sekali.” Kazu menyunggingkan bibirnya ketus.

Bukan, maksudku mungkin dia sudah makan.” Saruwa mencoba menjelaskan dengan sedikit terbata-bata.

“Oh begitu, bilang padanya aku tidak akan memaafkannya atas insiden kemarin.” Kazu segera mengambil hidangan yang telah disiapkan untuknya oleh bibi kantin dan berpamitan kepada Saruwa dan Sayumi. Mereka berdua tercengang dan bingung dengan perkataan Kazu barusan.

---

Haruka berjalan menuju perpustakaan untuk mencari buku referensi namun ketika ia akan masuk nampak seorang pria tampan nan imut itu mencegahnya. Ia adalah

“Apa maksud dan maumu? Menyingkir!” tak perlu basa basipun Haruka langsung menyemburkan kata-kata kasar pada pemuda yang juga satu almamater dengannya ketika SMA, sekaligus kakak kelasnya, dia bernama Atsushi Carley. Dia berada di fakultas yang sama dengan Yagami. Entah ia punya urusan apa dengan si Kuro Shoujo ini.

“EhKejamnya kau Haruka Collins! Kau bahkan tak menyapa kakak tingkatmu dengan baik padahal kau seorang wanita.” Atsushi berdiri disamping pintu sambil menggoda amarah Haruka. Rupanya dia sedang menantang.

“Aku sama sekali tidak ingin melihat wajahmu dan menyingkirlah kau menghalangi jalanku.”

“Hmh~ kau tahu bahwa kau sudah menjadi perbincangan public? Akupun ingin tahu seperti apa dirimu? Aku tak mengenalmu saat kita berada di Hekasenkan tapi ternyata kau adik kelasku, haha.”
Atsushi tertawa terbahak-bahak hingga gigi gingsulnya nampak sedikit dan membuat auranya menjadi sangat kawaii dan tampan.

“Aku tak peduli. Minggir!” Haruka memicingkan matanya dan mendorong tubuh Atsushi hingga ia tak menghalangi jalan lagi.

Akhirnya Haruka bisa masuk keperpustakaan dan melangsungkan tujuannya, ia segera menuju ke bagian buku yang dicarinya yaitu Manga. Tunggu! Bukankah ia mencari buku referensi kenapa ia malah menerobos Manga. Oh tidak! Haruka sangat suka sekali manga terutama manga shoujo. Ia berkenan duduk seharian diperpus jikalau ada manga terbaru telah terbit.

Haruka mengambil acak 5 buah manga terbaru dan segera menduduki deretan kursi kosong yang didapati hanya ada beberapa orang mahasiswa yang sedang membaca pula.

Tanpa peduli Haruka mengambil kursi acak dan dengan gesit membuka isi manga yang diambilnya itu, kemudian seorang mahasiswa yang tengah membaca tepat didepannya tiba-tiba terkekeh saat mendengar Haruka membaca manga dengan bersuara.

Haruka mendadak berhenti dan memperhatikan orang yang berani menertawakannya itu. Haruka memicingkan matanya tajam dan lanjut membaca kembali. Kemudian orang itu tertawa lagi agak keras ketika Haruka membacakan percakapan yang ada di Manga tersebut.

Kau menertawakanku?!” Tanya Haruka dingin.

Lelaki itu lalu menutup buku yang dibacanya dan menatap Haruka sambil tertawa.

“Ya! Aku mentertawakanmu. Ada masalah? Haha.” Fujima terus mentertawakan Haruka hingga petugas perpustakaan mengisyaratkan mereka untuk diam.

Apa maumu?” Wajah Haruka nampak kesal hingga ia harus membulatkan bola matanya dan menatap tajam Fujima.

“Tidakkau lucu sekali mendubbing manga seperti itu. Haha.”

“Kau mengganggu sekali!” Haruka berniat untuk berpindah tempat duduk. Namun Fujima tetap menggodanya untuk mencegahnya.

“Kau mau menyerah saja? Aku tidak akan mengganggumu tenang saja.” Fujima kembali membuka bukunya yang super tebal itu sambil menahan tawanya.

“Ssh! Berhenti dan diamlah!” Haruka mendengus pelan sambil memelototi Fujima dan kembali untuk membaca percakapan selanjutnya.

“Kkkkkk.” Tiba-tiba Fujima terkekeh agak keras hingga mahasiswa yang lain menatapnya heran. Menyadari itu, maka Harukapun memutuskan untuk berpindah tempat duduk. Haruka berdiri dengan rasa kesal dan berjalan ke kursi yang ada didekat jendela. Namun Fujima malah mengikutinya untuk berpindah diposisi yang sama pula, entah apa itu yang diinginkan oleh Fujima.

Kemudian Harukapun tidak ingin kalah maka ia berpindah ketempat semula namun Fujima juga turut mengikutinya yang pada akhirnya membuat emosi Haruka meluap hingga kaki kiri Haruka menabrak kaki kursi yang dilewatinya dan kursi itupun terjatuh begitu keras hingga membuat orang-orang sekitar mengalihkan pandangannya kepada mereka.

Gubrak

“Hey, kenapa kalian sangat berisik sekali ! lebih baik kalian keluar sekarang juga!” Sontak petugas perpustakaan keluar dari kursinya dan beranjak memarahi mereka dan menyuruh mereka pergi. Sementara Fujima dan Haruka hanya menunduk sambil meminta maaf pada petugas tersebut.

“Ah, kami minta maaf.” Fujima menundukkan badannya kepada petugas tersebut sedangkan Haruka hanya membungkuk tanpa sepatah katapun lalu mereka segera beranjak keluar.

Kau menyebalkan. Gara-gara kau aku tidak bisa membaca manga dengan tenang! Dasar tak tahu diri. Ck!” setibanya diambang pintupun Haruka langsung meluapkan amarahnya pada Fujima karena ia benar-benar jengkel, oleh karenanya ia tidak bisa membaca bahkan meminjam satupun manga yang diambilnya.

Tanpa ingin mendengar respon dari Fujima Harukapun segera pergi dari pandangannya dengan langkah yang lebar dan kekesalan yang diambang batas.

Fujima hanya tersenyum menyaksikan keanehan yang terjangkit pada Haruka sekaligus merasa heran mengapa Haruka sangat lain dengan Haruka yang dulu bahkan perbedaannya pun 180 derajat. Fujima berpikir bahwa ia bukanlah Haruka namun orang lain.

***

Bulan ini merupakan musim semi dimana bunga sakura bermekaran nan indahnya dan jalan-jalan setapak yang lapisi reruntuhan bunga sakura terlihat sangat menawan dipandang dari kejauhanpun dan udara yang sangat segar mendampingi hari yang cerah untuk beraktivitas. Tidaklah aneh dan heran akan kegiatan sehari-hari Haruka yaitu pergi kekampus, bekerja dan melakukan aktivitas seperti membaca manga, pergi ketoko buku, dan ketaman. Ia lebih memilih tempat-tempat yang alamiah dan ilmiah dibanding yang lainnya seperti menonton atau pergi ke aquarium.

Hari ini merupakan bulan kesekian Haruka menjadi mahasiswa Tokyo University, tentu banyak sekali pengalaman yang menurutnya pahit yang ia dapatkan. Meski begitu, iapun ingin mengetahui apa yang akan terjadi sekarang, besok, lusa, dan nanti

Oh Haru. Kau baru datang. Kenapa kau membolos pada jam pertama?” Sayumi menepuk-nepukkan spons kewajahnya yang sudah ia bedaki sangat tebal itu dan mengoles lip balm pada bibirnya yang sudah agak seperti kismis kering dan mengecupkannya didepan cermin sambil bersenandung ‘Yagami-kuuuunn’ dengan amat centilnya.

“Hey, Sayu apa kau tahu?”Haruka mendekatkan bibirnya tepat ketelinga Sayumi rupanya ia ingin membisikkan sesuatu.

“Um?” Sayumi mendekatkan telinganya lebih dekat.

“Mukamu menyebalkan!”

“Hah? Apa kau bilang?” Sayumi hendak berancang-ancang untuk memukul Haruka.

“Kalian hentikan. Haru. Kazukuro-kun mencarimu. Kau kemana saja? Kenapa kau membolos huh?” Entah darimana datangnya Saruwa yang tiba-tiba muncul dihadapan Haruka dan Sayumi sambil setengah berkacak pada Haruka yang kenyataannya memang membolos pada jam pertama.

“Hah? Apa urusannya denganku? Ya aku membolos dan bukan masalah bagimu kan.” Haruka membuka tutup kaleng minumannya dan meneguknya separuh.

“Mana kutahu. Lebih baik kau temui dia sekarang, kelihatannya dia marah padamu. Aku tidak mengerti kau punya masalah apa dengan mereka senior kita, Haru? Aku mendengar semua isu buruk tentangmu sebulan penuh ini dan semuanya berkaitan dengan mereka. Kenapa Haru kau selalu bertengkar dengan mereka? Huh? Jawab aku Haru!” Saruwa mengguncangkan tubuh Haruka dengan keras sambil terus menerus melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan Campus star hingga minuman kaleng yang sedang dipegang Haruka tumpah beberapa tetes dan menodai kemeja Haruka.

“Ish! Apa-apaan kau ini Saruwa Nicole!” Haruka membentak Saruwa sambil mengibaskan kedua cengkraman Saruwa dan segera membersihkan noda akibat cipratan minuman tersebut. Namun tak sempat mereka menyelesaikan masalah barusan, tiba-tiba seseorang memanggil nama Haruka diambang pintu.

“Nona Haruka Collins, bisakah kau ikut denganku?” Suara Kazu menggema sekaligus meleburkan suasana kelas sastra seketika dan ia menerobos masuk tanpa perintah atau izin sekalipun dari warga sekitar.

Aura Harukapun berubah dengan cepat menjadi kelabu disertai api berwarna hitam mengitarinya mungkin asap pembakaran, haha.

“Apa maumu?” Haruka melipat kedua tangannya sambil mengalihkan pandangannya masam. Tanpa perintah sekalipun Kazu langsung memasuki kelas tanpa izin dan segera mengahampiri Haruka.

“Kubilang kau ikut denganku sekarang juga!” Kazu menatap kejam wajah Haru hingga kilat-kilat api terpancar dari kedua mata mereka yang sedang saing bertatapan.

“Tidak mau. Aku tidak pernah ada urusan denganmu. Pergi dari sini.”

Saruwa dan Sayumi sempat tercengang melihat tragedy yang sedang berlangsung tersebut dan mereka tak bisa berkata-kata bahkan melerainya sekalipun.

“Sudah jangan banyak bicara atau aku akan memaksamu.” Kazu mencengkram lengan Haru dengan keras dan akan menggeretnya keluar untuk mengikuti perintahnya, namun Haruka tetap berusaha melepaskan cengkraman tersebut dengan menarik bahkan memukul tangan Kazu, namun Kazu malah memperkuat cengkramannya.

“Lepaskan, bodoh. Kau sudah memperlakukanku dengan kasar. Argh! Lepaskan! Aku tidak mau ikut denganmu, dasar tak tahu diri.” Haruka terus meronta-ronta hingga diambang pintu sementara semua mahasiswa yang berlalu lalangpun memperhatikan mereka yang nampak seperti adegan penculikan atau penjambretan.

Haruka mencoba melepaskan cengkraman Kazu yang amat keras dengan mengigit tangan Kazu, ia menancapkan kedua gigi kelincinya itu tepat dipergelangan lengan Kazu, sontak Kazu mengerang dan akhirnya cengkramannya terlepaskan.

“Arrggh! Sssh! Dasar kau anjing liar.” Kazu mengusap-usap tangannya yang terdapat bekas gigitan Haruka, berwarna merah.

“Sudah kubilang aku tidak mau, kau saja yang bodoh.”

Kazupun tidak akan kalah kali ini ia sudah muak dan jengkel tanpa sepatah katapun Kazu langsung menarik lengan Haruka kuat-kuat dan menggeretnya agar ikut bersamanya dan sempat membuat tubuh Haruka setengah tergoncang.

Tanpa peduli pandangan orang terhadap Kazu kali ini ia benar-benar merasa tak tahan lagi untuk mengalah pada Haruka. Ia hanya melemparkan senyum terbaiknya pada orang-orang yang bertanya mengenai maksudnya membawa Haruka.

Saat tiba didepan ruangan Club mahasiswa Haruka memberanikan diri untuk menendang tulang kering Kazu namun tampaknya usahanya kali ini gagal, Kazu bisa menghindarinya.

“Ayo masuk!” Kazu menggertak dan menarik lengan Haruka dengan paksa. Sedangkan Haruka meringis dan mengerang kesakitan sambil terus berusaha melepaskannya dengan menarik lengan baju Kazu yang nyaris sobek karena tipis dan juga menginjak-injak sepatu Kazu yang baru saja tadi pagi semiran. Dan akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke ruang club olahraga tanpa Kazu harus mempedulikan baju dan sepatu juga yang lainnya.

“Argh! Sakit. Bodoh!” Kazu melepaskan lengan Haruka hingga berbekas tanda merah bekas cengkraman Kazu di pergelangan tangan kanan Haruka. Haruka mengelus-elus lengannya karena kesakitan.

Beberapa mahasiswa tingkat 2 yang sedang duduk dikursi ruang club olahraga pun bingung dan heran apa yang barusan mereka berdua lakukan, penganiayaan kah?

“Hey, Neal ada apa denganmu dan dirinya?” Fujima sempat menghentikan aktivitas menulisnya dan menatap heran.

“Kenapa kau membawa wanita iblis ini kemari huh? Dengan hanya melihatnya saja aku tidak sudi. Menjijikan.” Yagami menjelek-jelekkan Haruka dengan nada bicara seperti wanita-wanita jalang dan nenek tua sambil memicingkan mata sipitnya itu.

“Dia yang akan menjadi kandidat pelengkap tim Carley.” Kazu mengambil tempat duduk yang berada disamping Yagami.

“HAH? Kau ini sudah gila. Untuk apa kita mencari kandidat sejalang itu. Kenapa kau tidak mencari yang lain. Kau benar-benar gila, Neal.” Yagami mengacak rambutnya kasar.

“Kau. Jangan seenaknya bicara. Aku sama sekali tidak pernah mau berurusan dengan kalian apalagi kau. Lebih baik aku pergi.” Haruka hendak membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang club olahraga.

“Kau tidak bisa seenaknya pergi. Kau harus menuruti perintahku untuk mengikuti kompetisi ini.” Kazu mencegah Haruka yang nyaris keluar dari pintu.

“Hah? Untuk apa aku terlibat dalam hal seperti ini?! Bahkan ini tidaklah lebih penting dari kepentinganku, permisi.” Haruka membalikkan tubuhnya dan berhasil lolos.

Sedangkan kandidat lainpun hanya bisa menggelengkan kepala mereka dan menghela nafas kasar.

“Apa benar kau gila Neal? Tidak kusangka kau memilih yang seperti itu.” Reina yang merupakan kandidat pelari tercepat ini merupakan satu-satunya wanita yang juga satu SMA dengan Kazu, Fujima,
Yagami, juga Haruka yang selalu ikut diajang Pekan Olahraga Nasional.

Tidak ada pilihan lain, karena kompetisi ini membutuhkan orang yang memiliki pengalaman paling tidak pernah mengikuti ajang ini dan aku sudah tahu dimana titik-titik kelemahan dan kelebihan Haruka.” Kazu memutar kursinya sambil tersenyum licik.

“Tapi pada akhirnya dia seperti itu kau tetap mau memakai kemampuannya? Huh konyol sekali. Awas saja jika aku satu tim dengannya, aku mengundurkan diri.” Yagami secara otomatispun tidak setuju jika Haruka dijadikan kandidat lari estafet internasional ini, ia terlanjur membencinya dan mengancam Kazu agar tidak menyatukan dirinya dengan Haruka.

“Sudah kau tidak perlu banyak bicara, biar aku yang mengaturnya.”

“Neal benar, lagipula tidak baikkan jika merendahkan kemampuan orang lain. Um?” Fujima yang sedari tadi terkesima dengan perdebatan hebat baru angkat bicara, dan ia selalu sabar dan tersenyum menghadapi keputusan yang ada dan menerimanya walau tahu Haruka pasti tidak akan bersedia.


***

Kazu memakirkan mobil sedan hitam miliknya di parking area sebelah kiri gedung utama kemudian membuka pintu mobil dengan sangat elegannya dengan menggendong tasnya seperti pegawai kantor, memakai kemeja panjang dengan dilapisi cardigan biru gelap nampak santai namun berkarisma. Lalu tanpa sengaja ia menemukan adik tingkatnya yaitu Saruwa yang sedang tengah kesulitan memarkirkan sepeda antic miliknya. Ya! Memang terlihat jauh sekali perbedaannya antara Kazu dengan mahasiswa lainnya. Ia yang kini telah sukses menjadi jawara Tokyo bukan dengan mengayuh sepeda lagi namun mobil mewah yang ia dapatkan atas kejuaraannya tahun lalu.

Kazu mencoba menghampiri Saruwa untuk sedikit menawarkan bantuan.

“Kau butuh bantuan nona? Kelihatannya kau tak sanggup memarkirkan sepeda berat itu.” Kazu tersenyum licik kearah Saruwa meski niat ingin menolongnya tapi tetap saja kalimatnya terkesan sombong.

“Kazukuro-kun” Meski begitu Saruwa tetap melayang sekaligus terkesima dengan penampilan Kazu hari ini. Ini seperti mimpi ia bertemu pangeran di tengah padang rumput ah tidak tepatnya ditengah hutan belantara dan pangeran itu turun dari seekor kuda putih yang ditungganginya lalu beranjak menolong seorang gadis desa yang sedang kesusahan.

Saruwa merasa seperti terdapat banyak binar-binar cahaya diwajah Kazu yang masih segar dan juga harum badannya yang membuat Saruwa terhanyut dalam cintanya terhadap Kazu.

Kazu membunyikan bel yang terdapat di stang sepeda itu dan sontak membuat Saruwa tersadar dari lamunan liarnya.

Kriiingg

“Waaa!” Saruwa berteriak sambil menjatuhkan sepedanya secara spontan. Kazu hanya terkekeh menertawakannya.

Gubrak!

“Ah, maafkan aku. Kau mengejutkanku saja.” Saruwa segera membangunkan sepedanya namun nampaknya ia tidak kuat hanya untuk mengangkat kedua stangnyapun.

“Biarkan aku membantumu, haha.” Kazu membantu Saruwa membangunkan sepeda itu hingga berhasil ia parkirkan sesuai dengan tempatnya.

“Lain kali lebih kau naik kereta atau yang lainnya saja, jadi tidak perlu repot-repot membawa sepeda tua ini.”

Saruwa membelalakan matanya tak terima Kazu berkata hal itu padanya, itu sama saja dengan mengejek harga dirinya.

“Ohohotidak apa. Aku lebih suka naik sepeda dibanding mengantri di stasiun..” Saruwa tetap tersenyum meski Kazu berniat menyombongkan diri dihadapannya.

“Syukurlah kau tidak seperti temanmu. Hmh! Ya Aku duluan kalo begitu, sampai nanti.” Mendengar Kazu berpamitan Saruwa berpikiran untuk memasuki kampus bersama-sama, namun tak lama setelah ia berpamitan Kazu membalikkan tubuhnya kembali nampaknya ada yang lupa untuk ia sampaikan pada Saruwa atau mungkin saja ingin mengajaknya berjalan bersama.

“Oh ya! Saru. Tolong sampaikan pada temanmu untuk hadir setelah jadwal selesai di ruang club olahraga. Aku tunggu.” Saruwa yang sudah setengah tersenyum dan percaya diri kini hanya membulatkan bola matanya dan menghentikan langkahnya.

“Eh? Siapa maksudmu?”

“Hh~ Haruka.”

“Um! Baiklah akan kusampaikan.”

Saruwa nampak sedikit kecewa setelah Kazu meninggalkannya sendirian dibelakangnya, wajah Saruwa nampak menyesal dan mengehembuskan nafasnya kasar, nampaknya harapan ia kali ini gagal untuk menarik perhatian Kazu, padahal sudah sejak SMA Saruwa menyukai Kazu hingga sekarang Kazu tak pernah memberikan respon yang lebih daripada hubungan senior dan junior.

Bahkan hingga Kazu telah bergonta-ganti kekasihpun Saruwa belum pernah menjadi kandidatnya sekalipun padahal Kazu mengetahui perasaan Saruwa terhadapnya but, kenyataan memang lain. Meski begitu kelihatannya Saruwa masih tidak ingin menyerah untuk bisa mendapatkan sedikitnya perhatian dari Kazu, ia ingin terus berusaha hingga Kazu bisa membalas perasaannya suatu saat nanti.


***


Terdengar suara riuh ricuh seperti dua orang sedang melakukan ajang perdebatan sengit disebelah timur atau tepatnya lorong menuju ruang club olahraga. Seorang pemuda tampan nampak sedang menggeret-geret seorang mahasiswi yang kelihatannya adalah Haruka dan.Yagami, kali ini Yagami yang turun tangan atas pertanggung jawabannya pada Kazu karena ia telah diperintahkan untuk membawa paksa Haruka agar mengikuti latihan sebelum kompetisi berlangsung. Meskipun beberapa kali Yagami menolak namun hal itu terkalahkan oleh rasa kesalnya yang kelewat batas pada Haruka.

Kini Yagami bukan hanya menarik kedua lengan Haruka namun ia segan menjambak rambut Haruka dan perilakunya nampak sepertiibu tiri. Selain itu ia menjinjing kerah kemeja Haruka layaknya hewan peliharaan, sungguh biadab sekali Yagami Zero ini. Yagami merupakan diva campus yang bisa dianggap paling kejam terhadap urusan menyiksa orang yang memang membuatnya naik pitam.

Alasannya ia melakukan itu ialah agar membuat korbannya kapok dan jera, namun lain halnya dengan Haruka ia tetap teguh pendirian. Meski Yagami membentaknya sangat keras ketika itu Haruka tetap melawannya.

Haruka beberapa kali meringis kesakitan karena Yagami beberapa kali menjambak rambutnya hingga beberapa helaipun ikut rontok. Haruka menginjak sekaligus menendang kaki Yagami namun Yagami membalasnya dengan menggeretnya dilantai.

“Argh! Lepaskan. Dasar kau laki-laki tak tahu diri!” Haruka meneriaki Yagami dihadapannya sambil berusaha menahan dan melepaskan cengkraman Yagami.

“Apa katamu? Kau wanita jalang. Sudah kubilang kan untuk mengikuti perintahku.” Yagami menarik lengan Haruka keruangan club dan melepaskannya dengan cara yang tidak wajar yaitu membanting lebih tepatnya melempar Haruka hingga ia terjatuh dan hampir menabrak meja bundar yang ada ditengah-tengah ruangan sehingga nampak sekali tragedy ini seperti adegan drama ibu dan anak tiri.

Gubrak! Ckiit! Gusrak!

“Arghh! Ssssh!” Haruka terjatuh dilantai setengah terbaring dan terhuyung meringis kesakitan hingga hampir meneteskan air mata karena biar bagaimanapun ia wanita dan berperasaan.

Sementara itu anggota lainnya sontak terkejut dan membelalakan matanya lebar selebar-lebarnya dan reflek Fujima segera menolong Haruka yang masih tergeletak dan membantunya berdiri.

“Hh! tak perlu kau membantunya, Wiley. Percuma saja.” Yagami menatap dengan wajah angkuh dan memanas.

“Kau manusia biadab!” Haruka menggertak dan segera menyingkir dari genggaman tangan Fujima yang barusaja menolongnya.

“Kau yang iblis!” Yagami tak mau kalah, ia menengadahkan wajahnya sambil melotot kearah Haruka dan berkacak.

“Zero. Hentikan! Apa yang kau lakukan huh? Jika direktur mengetahui ini kau akan langsung ditindak.” Kazupun yang tadinya ikut kesal kini malah terlihat membela Haruka. Kemarahannya malah berbalik kepada Yagami.

“Ya ya baiklah, jika aku yang ditindak maka kau yang harus disalahkan!” Jari telunjuk Yagami mengarah pada Haruka dengan wajah angkuhnya itu.

Haruka memutar bola matanya kesal dan mendengus pelan dalam hatinya. Sementara Fujima terlihat nanar memandang Haruka yang terdapat beberapa bekas cengkraman tangan Yagami di pergelangan tangannya sebab kemeja yang dipakai Haruka tidak terlalu panjang maka jelas noda berwarna merah itu nampak, juga rambutnya yang sudah berantakan karena Yagami terus menjambakinya. Rasanya ingin sekali Fujima memberikan pertolongan meski dengan memberinya plester atau membawanya keruang kesehatan, namun niat itu ia urungkan kembali.

“Sudah! Biarkan dia istirahat dulu, setelah itu kita lanjutkan simulasi.” Kazu kembali ke kursinya dan mengambil beberapa berkas untuk simulasi.

Haruka hanya duduk terdiam memisahkan diri dengan tim lainnya sambil membenahi pakaian dan mengikat rambutnya kembali dan hanya menatap kejendela.

“Baiklah, apa aku harus menyebutkan peraturannya sebelum kita mulai?” Fujima mencoba memperbaiki keadaan dengan berdiri di depan papan tulis untuk menjelaskan beberapa metode kompetisi itu. Sebab Fujima merupakan CEO kampus jadi ia yang selalu memimpin serta memimbingnya, dan ruangan ini khusus diperuntukan untuk basecamp diva campus sekaligus tempat mereka beradu ketangkasan teori dalam melatih teknik-teknik yang mereka kuasai.

Karena ini bukanlah merupakan kompetisi olahraga biasa namun terdapat sesi tanya jawab dan teori apabila lolos ke babak semi final dan juga grand final yang fungsinya untuk menguji kemampuan tambahan juga mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka.


***

Haruka menelengkupkan wajahnya malas diatas meja miliknya dan beberapa kali menghembuskan nafasnya kasar dan wajahnya yang nampak masam sedari pagi tadi hingga Teppei sensei mengakhiri jam kuliahnya. Beberapa buku ia lantarkan begitu saja dan persis sekali meja Haruka bukanlah meja seorang mahasiswi lebih tepatnya meja seorang koki pokoknya terlihat berantakan dan tak rapi seperti biasanya. Sepertinya Haruka sedang berada dalam kekelabuan.

Sementara Saruwa dan Sayumi hanya melihatnya heran dan bertanya-tanya ada apa dengannya? Sayumi menggeser kursinya kesamping Haruka dan begitu juga dengan Saruwa.

“Hey, Haru! Ada apa denganmu? Nampaknya kau malas sekali hari ini.” Sayumi menggigit coklat yang entah sejak kapan ia membelinya.

“Oh ya, Haru. Aku dengar kau ikut menjadi kandidat untuk lari estafet pada ajang tahun ini?! Wah! Kau sungguh hebat, Haru. Kau harus semangat pasti kami akan mendukungmu! Ya kan Sayumi?!” Ekspresi Saruwa amat sumringah ketika mendengar kabar tersebut tentunya dari Kazu dan kawan-kawan bahkan pengumumannya sudah ditempelkan dimading dan semua mahasiswa telah mengetahui berita tentang Haru juga.

Karena pekan olahraga akan berlangsung 2 minggu lagi untuk itu Kazu menyuruh Haruka untuk berlatih hampir setiap hari setelah pulang kuliah meskipun Haruka berusaha untuk melarikan diri tapi Kazu dan yang lainnya berhasil mencegahnya meski harus tetap memaksanya. Maka dari itu Haruka nampak tidak bersemangat beberapa hari terakhir ini.

“Kau tahu, ini merupakan kesempatan emas untukmu. Jika kau mengikutinya kaupun akan menjadi popular seperti Yagami-kun.” Nada bicara Sayumi yang so’ dewasa itu menampakkan sekali keantusiasannya ketika ia menekankan ucapan pada kata Yagami-kun. Saruwapun ikut mengangguk keras meyakinkan Haruka meski sebenarnya mereka hanya ingin menyemangati dua campus star pujaannya.

“Hah? Kau bicara apa?” Haruka mengangkat kepalanya malas disertai rambut jabrik alias poninya yang hampir menutupi permukaan wajahnya.

“Haru, bagaimanapun kau harus menerimanya, karena ini sudah menjadi takdirmu. Lagipula jika kau kesulitan kau bisa meminta bantuan Fujima-kun bukan.” Sayumi sedikit menggoda Haruka sebab ia tahu masa lalu Haruka bersama Fujima namun ia tidak pernah mengungkitnya lagi karena Haruka yang memintanya. Namun,Sayumi dan Saruwa menjadikan masa lalu Haruka sebagai senjata mereka agar dapat mengubah Haruka seperti dulu lagi.

“Dia tidak ada hubungannya denganku. Dan jangan pernah sebut masa laluku didepan siapapun, Sayumi. Aku benci itu.” Haruka keluar dari tempat duduknya dan pergi entah kemana. Saruwa dan Sayumi menatap satu sama lain.

“Menurutmu, siapa yang menyebabkan dia seperti ini, Saru?” Sayumi menatap punggung Haruka nanar yang semakin menjauh dari ruang kelas.

“Hmh~ Kau sudah tahu jawabannya bukan.” Saruwa tersenyum tipis pada Sayumi seolah mengerti apa maksudnya.

“Permisi, apakah nona Haruka Collins ada disini?” tiba-tiba sosok Kazukuro Neal muncul diambang pintu kelas sastra dan mencari Haruka dengan suara lantang. Kemudian Saruwa segera menghampirinya dan mengajaknya bicara diluar. Sayumi melipat kedua tangannya dan ekspresinya yang mengisyaratkan Saruwa untuk menemui Kazu.

“Kazukuro-kun, kau mencari Haruka?” Kini mereka berdua mengobrol tepat di kursi yang berada didepan kelas sastra.

“Ya, kemana dia? Apa dia kabur lagi?” Kazu menelisik kesekitar mencari sosok Haruka namun sepertinya ia berada ditempat yang jauh.

“Sepertinya begitu. Tadi kami sempat berbincang mengenai ajang pekan olahraga nanti. Dan sepertinya ia tidak menyukainya dan langsung pergi. Dia juga terlihat tidak semangat akhir-akhir ini.” Saruwa menjelaskannya sedetail mungkin hingga Kazu termanggut-manggut alias paham betul maksudnya itu.

“Aku heran padanya. Sejak dulu ketika di Hekasenkan kalian suka mengikuti ajang olahraga besar seperti ini kan tapi kenapa ia terlalu menampakkan ketidaksukaannya pada kompetisi ini sekarang? Aku juga heran terhadap sikapnya yang berubah drastis itu. Menurutku dia memiliki gangguan psikologis. Huh.” Kazu mengernyitkan dahinya sambil menyunggingkan bibir tipisnya itu sembari ingin mengorek rahasia yang diketahui Saruwa mengenai Haruka.

“Ya, kurasa begitu. Menurutku dia begitu karena Fujima-kun.” Saruwa menelisik masa lalunya ketika Haruka menceritakan dirinya pergi berkencan terakhir dengan Fujima lalu Fujima memutuskan hubungannya tiba-tiba dan tanpa sebab bahkan kata-kata.

“Hah? Kau serius?” Kazu setengah cengo mendengar pernyataan Saruwa. Ia tidak menyangka bahwa penyebabnya itu adalah masa lalu yang bertemu dimasa depan atas dasar cinta.

“Ah haha. Aku juga sedikit heran dengan maksud Haruka tapi dia bilang ini cara yang terbaik yang ia lakukan.” Saruwa mulai menjelaskannya satu persatu.
“Umlalu?”Kazu menunggu penjelasan selanjutnya sambil menopang dagunya dan menatap mulut Saruwa yang sedang komat-kamit.

“Ketika itu, Haruka melakukan kencan terakhirnya dengan Fujima-kun namun mereka pergi dengan orang ketiga yaitu teman sebaya Haruka, dan Haruka tak tega meninggalkan temannya yang pada akhirnya ia harus mengorbankan Fujima-kun menjadi orang ketiganya, tapi nampaknya Fujima-kun tidak senang atas perlakuan Haruka sejak saat itu, dan seminggu setelah upacara kelulusan Haruka berniat untuk memberikan persembahan namun Fujima-kun tidak datang menemuinya, bahkan menghubunginya. Sejak saat itulah Haruka ingin melupakan semuanya dengan murubah dirinya menjadi seperti sekarang.” Saruwa menghembuskan nafasnya lega.

“Oh, begitu. Hmh~ kisah murahan sekali. Apa dia bodoh?” Kazu tertawa licik disertai muka kesalnya mendengar cerita yang ia anggap murahan itu.

Sedangkan Saruwa hanya menyeringai namun ingin sekali memukul tengkuk leher Kazu yang nampak menyebalkan itu. Sebenarnya kisah siapa yang dianggapnya murahan bahkan lebih rendah dari kisah Fujima dan Haruka? Ia pikir Saruwa tidak pernah tahu kisah cinta segitiganya ketika Kazu SMA hingga mengakibatkan pertengkaran antara wanita satu dan yang lain.

“Baiklah, aku akan menyuruh Wiley untuk segera menyelesaikannya.” Kazu terbangun dari tempat duduknya dan segera beranjak menemui Fujima, Saruwa sempat terkejut mendengarnya.

“Eh? Apa yang akan kau lakukan?” Saruwapun ikut berdiri.

“Aku ingin mereka segera menyelesaikannya hingga aku tidak harus terlibat pula dalam hal ini. Dan aku tidak ingin pekan olahraga internasional tahun ini gagal total Bye, aku pergi dulu.” Kazu memutar balik tubuhnya dan segera pergi meninggalkan Saruwa yang masih setengah tercengang. Saruwa nampak menyesal ketika itu, jika saja ia bukan menceritakan soal Haruka mungkin keajaiban lain akan terjadi padanya dan Kazu. Namun disisi lain ia juga ingin membantu masalah yang tak begitu rumit ini.


***



Yagami, Fujima, Atsushi, Reina dan juga Kazu sedang berlatih sprint 100 meter di lapangan dan Kazu berhasil menempati juara pertama, Fujima kedua disusul oleh Atsushi, Yagami setelah itu Reina. Untuk masalah sprint atau lari tercepat Yagami memang tidak terlalu pandai bahkan terkadang Reina berhasil mengalahkannya. Lain halnya dengan Kazu, Fujima dan Atsushi yang memang menyukai olahraga, walau begitu mereka selalu berlatih secara kompak dan saling membantu satu sama lain. Namun sepertinya Harukapun tidak ada di TKP, mungkin ia sudah pulang atau memang tidak kembali sejak tadi.

Kini mereka berlima tengah beristirahat sambil meneguk minuman yang mereka bawa masing-masing. Cucuran keringat membasahi rambut dan baju mereka karena teriknya matahari siang ini. Yagami menyirami wajahnya dengan sisa air minumnya itu dengan extreme nya hingga rambutnya nampak sekali basah kuyup dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya layaknya bintang iklan shampoo seperti di tv tentunya hal biasa yang Yagami lakukan yaitu untuk mencari sensasi. -___-.

Kazu menatap Fujima dan memperhatikan tingkahnya yang agak aneh sedari tadi. Fujima terlihat sedikit gelisah sambil melirik kesekitar lapangan dan setelah itu menghembuskan nafasnya kasar meski tidak terlalu ia nampakkan. Kazu menghampiri Fujima dan duduk santai disampingnya.

Ada yang kau khawatirkan, Wiley?” pertanyaan Kazu sontak membuat Fujima terkejut sekaligus heran mengapa mendadak Kazu bertanya seperti itu.

“Um? Apa?”

“Kau mencarinya?” Kazu muai menggodanya sambil terus memandang ketiga temannya yang sedang bergurau.

“Siapa maksudmu?” Fujima tetap belum paham arus perbincangan Kazu.

“Hh~ Kusarankan kau segera selesaikan masalahmu dengan Haruka sehingga kompetisi ini bisa berjalan lancar.”

Fujima mengerutkan dahinya heran.

“Masalah apa? Dan apa yang kau bicarakan, Neal?”

“Aku tidak mau tahu, dan hanya kau yang tahu. Jangan kau biarkan seorang wanita menderita karenamu.” Kazu membisikkannya pada telinga Fujima. Kali ini Fujima tidak bisa menyembunyikan kepura-puraannya didepan Kazu.

“Menderita? Siapa yang bicara seperti itu?”

“Entahlah, hanya perasaanku saja. Kau sudah dewasa, bung jadi selesaikanlah secara dewasa pula, ok.” Kazu menepuk pundak Fujima sambil tertawa licik dan kembali melanjutkan latihan.

Fujima hanya terdiam dan tak bisa menyanggah perkataan Kazu barusan dan itu artinya ia paham apa yang harus ia lakukan. Fujima menyelesaikan latihannya dan berpamitan kepada teman-temannya dan secepat kilat ia menuju ruang ganti dan setelah itu ia mencari keberadaan Haruka. Semoga Haruka masih tinggal dikampus. Fujima belum mengetahui alasan Haruka yang sebenarnya, bahkan jika dikatakan pacaranpun kurang tepat karena hubungan mereka hanya sebatas teman kencan meski sama-sama memiliki perasaan.

Fujima bukan orang yang banyak bicara jika ia ingin melakukan sesuatu maka akan ia lakukan dengan sendirinya, begitupun ketika proses pencarian Haruka ia nampak tenang sambil menelusuri setiap koridor kampus dan kelas.

Tanpa sengaja dan secara kebetulan ia berpapasan dengan Haruka di depan ruang laboratorium. Mereka terkejut satu sama lain dan menghentikan langkahnya sejenak.

Ah kebetulan sekali, aku ingin bertemu denganmu.” Fujima tetap menyambut ramah dengan mempersembahkan senyuman terbaiknya. Haruka merasakan aura masa lalu sejenak dan ia segera sadarkan diri.

“Lain kali saja.” Haruka bergegas pergi dan menolak ajakan Fujima, namun Fujima sempat menarik lengan Haruka dari belakang dan membawa Haruka pergi bersamanya. Beruntung beberapa mahasiswa sudah tidak dikampus jadi tidak ada yang melihat mereka.

Ketika itu Haruka membelalakan matanya dan mengibaskan genggaman Fujima.

“Apa maumu huh?” Kini Haruka terlihat garang dan menatap Fujima setengah jijik, tapi Fujima menghiraukannya dan menarik kembali tangan Haruka agar ikut bersamanya meski beberapa kali Haruka menolak namun Fujima tetap memperlakukannya dengan keren. Entah Fujima akan membawa Haruka kemana ia terus berjalan lurus sampai pada akhirnya mereka berhenti di danau yang terdapat ditengah taman. Lalu Fujima melepaskan genggamannya.

“Apa maksudmu membawaku kemari?” Haruka nampak kesal.

“Aku ingin bicara denganmu. Kita selesaikan masalah ini sekarang juga.”

Haruka terkejut dan mulutnya menganga lebar.

“Hah? Aku tidak punya masalah denganmu.” Haruka memalingkan wajahnya.

Kau seperti ini gara-gara aku, bukan?” Fujima duduk di batu yang terdapat dipinggir danau itu.

…….” Haruka terdiam dan tidak berani menatap wajah Fujima hingga Fujima harus mengulang pertanyaannya kembali.

“Hh! apa kau menyadarinya? Aku sama sekali tidak ingin membicarakan tentang masa lalu, karena aku benci masa lalu.”

Fujima tersenyum seraya menatap Haruka yang sedang kesal tersebut.

“Apapun itu yang berhubungan dengan masa lalu, aku minta maaf.” Fujima berdiri dihadapan Haruka.

“Bagimu aku adalah masa lalumu dan kau meminta maaf setelah itu selesai?”

Um, kita bisa memulainya dari awal dan melupakan masa lalu itu. Lagi pula kau membencinya kan jadi itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan sekarang, benar kan?”

“Kau! Terlalu meremehkanku. Kau pikir dengan begitu aku bisa terharu dan berbuat baik padamu?! Kau dengan mudahnya bicara begitu seharusnya kau yang harus lebih berpikir bahwa kau telah sering mencampakkanku bahkan berbohong padaku.” Suara Haruka meninggi dan semakin meninggi. Ia mengacungkan telunjuknya kehadapan Fujima dan sempat membuat Fujima menelan ludah sejenak.

Baiklah, Haru. Mungkin aku tidak mengerti perasaanmu dulu dan sekarang, oleh karena itu maafkan aku. Seperti yang aku bilang aku ingin segera masalah ini terselesaikan dan kau tidak seperti ini lagi.” Fujima menatap mata Haruka sendu.

“Memang kau pikir aku begini karena apa? Aku benci kau.” Haruka sedikit berbinar nampaknya ia akan menangis sebentar lagi. Ia segera membalikan tubuhnya dan bergegas meninggalkan Fujima.

“Haruskah aku bilang aku menyukaimu dan setelah itu kau akan berubah?” Fujima mengucapkannya dengan lantang karena Haruka sudah menjauh beberapa meter darinya.

Langkah Haruka terhenti dan kembali berbalik.

“Kau! Jangan pernah muncul dihadapanku. Bodoh!” Haruka sempat menitikan air mata karena merasa dirinya telah dipermainkan Fujima dan berlari entah kemana. Sementara Fujima hanya terdiam dan syok.

Adegan ini disaksikan oleh Kazu, Yagami, Atsushi dan juga Reina bahkan Saruwa dan Sayumi tentu di sudut tempat yang berbeda. Mereka hanya tersenyum bahkan heran dengan mereka berdua yang mempersulit masalah mereka sendiri. Yang pada intinya Haruka benci ketika dianggap dirinya rendah dan merasa dimanfaatkan oleh orang seperti Fujima Wiley. Yang padahal ia menyukai Fujima tulus namun Fujima selalu menarik ulur perasaan Haruka.


***



Hari ini merupakan hari Pekan Olahraga Nasional dimulai atau biasa disebut dengan Nippon Spring Games karena ajang ini dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dimusim panas yang mana tahun ini berlangsung di Hokkaido tepatnya dihalaman gedung Olahraga. Terdapat beberapa puluh bahkan ratusan mahasiswa yang mengikuti ajang ini tentu mereka berasal dari universitas ternama diseluruh Jepang yang sudah menjadi legenda champion sejak dulu. Ada berbagai macam olahraga yang di tandingkan, namun Kazu dan kawan-kawan hanya mengikuti 2 kompetisi diantaranya sprint dan lari estafet (ekiden).

Kompetisi sprint dilakukan secara individu sedangkan lari estafet dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 10 orang yaitu Kazu, Fujima, Yagami, Reina, Atsushi juga Kuga dan Shina juga kedua mahasiswa lainnya yang merupakan mahasiswa fakultas olahraga dan Haruka karena Kazu yang memilihnya sebagai tim pelengkap untuk kompetisi ini.

Sedangkan yang mengikuti lomba lari marathon 150 meter yaitu Kazu sebagai perwakilan putra dan lari marathon 100 meter yaitu Reina sebagai perwakilan putri. Kini mereka yang seharusnya datang ber-10 hanya 9 yang terlihat sedang berkumpul di tepi lapangan untuk melakukan pendaftaran ulang.

“Ash! Kemana si wanita iblis itu? Kenapa dia belum datang juga? Menyebalkan sekali.” Yagami berkacak sambil menelisik sekitar lapangan yang luasnya sekitar 2,5 kali lipat lapangan tenis.

Mereka berlima telah bersiap-siap untuk melaksanakan upacara pembukaan tapi rupanya Haruka tidak nampak tepatnya tidak datang pada ajang ini, entah kemana ia, apakah ia melarikan diri?

“Neal, sebaiknya kau cepat hubungi dia karena acaranya akan mulai sebentar lagi.” Yagami terus menerus mengamuk meminta Kazu untuk menghubungi Haruka, tapi tidak ada jawaban darinya sekalipun entah itu pesan maupun panggilan.

“Ada apa Zero? Apa Kuro shoujo membuat masalah lagi?” Atsushi ikut menyambungkan perbincangan yang terlihat penasaran itu.

“Ah! Kau lihat sendiri bukan, dia seorang pengecut dan tak bertanggung jawab. Ia pasti berniat menggagalkan ajang ini.” Yagami memicingkan mata sipitnya itu sambil menerawang jauh.

Ini semua salahku. Haruka tidak datang karena aku. Jika aku tidak membahasnya kemarin mungkin tidak akan seperti ini.” Tiba-tiba Fujima mendesah sendu pada Kazu seolah menyesali perbuatannya kemarin. Jika saja ia tidak membicarakannya secepat itu mungkin Haruka akan datang.

“Kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Kita lihat saja nanti. Masih ada waktu sebelum pertandingan dimulai.” Kazu menenangkan Fujima yang tengah dalam keadaan setengah terpuruk kemudian mereka menuju barisan untuk melaksanakan upacara pembukaan yang di pimpin oleh menteri pendidikan dan olahraga.

Setelah berlangsung sekitar 15 menit untuk upacara pembukaan semua peserta bersiap-siap untuk bertanding dan melihat beberapa lawan mainnya di papan score yang terdapat didekat meja juri dan penonton.

Sekejap Atsushi terkejut ketika mendapati lawan mainnya itu Universitas Perfectural Osaka yang dimana mahasiswanya sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler khususnya olahraga dan sempat memenangkan juara kedua marathon 2 tahun lalu.

“Ah! Hei Reina, lihat siapa lawan main kita. Ternyata kita akan melawan mereka juga.” Atsushi menatap papan score miris dan menundukkan kepalanya lesu karena pesimis terlebih dahulu.

“Kenapa kau lesu begitu, Carley. Ayolah bersemangat.” Reina menepuk punggung Atsushi.

“Kau tak perlu khawatir begitu Carley, jika kau memasang wajah seperti itu kau sudah dianggap lemah oleh mereka.” Kazu menunjuk kepada mahasiswa yang memiliki badan kekar diseberang lapangan itu.

“Baiklah. Kau benar.”

“Ck! Kenapa dia belum datang juga Neal? Pertandingan akan dimulai beberapa menit lagi dan lari estafet ada di urutan ke-5.” Emosi Yagami kembali meningkat sambil menggertak Kazu. Namun Kazu usahakan untuk tetap santai agar citranya tak menurun.

“Lebih baik kau diam, Zero. Aku muak melihatmu marah-marah sejak tadi. Aku juga sudah menghubunginya, tapi tetap tidak ada jawaban.” Kazu gusar menghadapi Yagami yang seperti anak kecil meminta uang pada orang tuanya.

“Baiklah, semua peserta lari estafet dipersilakan untuk mempersiapkan diri.” Salah seorang panitia memberikan intruksi.

Seluruh peserta lomba lari estafet segera memisahkan diri dan memakai perlengkapan mereka, seperti kaos olahraga kelompok, ikat kepala dan yang lainnya. Setelah itu panitia menyuruh untuk berbaris sesuai kelompok dan nomor urut.

Kini mereka berlima mulai gelisah karena Haruka belum juga datang. Kazu menggertakkan rahangnya berkali-kali, Yagami berada dipusat gejolak emosinya juga Atsushi dan Reina yang berada diambang kegelisahan dan kecemasan dan berkali-kali mengigit bibir bawah mereka secara kompak. Sedangkan Fujima hanya berwajah datar dan tatapan kosong mengarah pada tengah-tengah lapangan.

Seorang panitia mulai menyebutkan urutan nomor yang akan bertanding, namun secara kebetulan pertandingan lari estafet ini dilangsungkan dengan 5 kelompok pertama yang akan maju. Dan nomor urut 5 diminta untuk maju kebarisan area lomba yaitu Kazu dan kawan-kawan.

Panitia menghitung serta mengabsen masing-masing kelompok dan ketika ia menghitung kelompok 5 ternyata mereka kekurangan satu anggota.

“Kelompok kalian kurang satu anggota., apakah ia belum tiba?” seorang panitia yang parasnya terlihat menakutkan itu bertanya pada Fujima karena ia berada dibarisan paling depan.

“Ahmungkin sebentar lagi dia datang.” Fujima menjawab seadanya, sedangkan peserta lain mulai berdesis heran. Dari situpun nampak sekali bahwa mereka tidak kompak antara satu dan lainnya.

“Tapi ini sudah akan dimulai, jika teman kalian tidak juga datang dalam 1 menit terakhir ini maka kalian didiskualifikasi.” Sorot mata panitia itu amat tajam hingga nyaris membuat Atsushi mati kutu.

“Dia akan segera datang, pak.” Kazu mengeluarkan suaranya dengan lantang dan sangat percaya diri.

“Baiklah.” Panitia itu melihat jam tangan yang dipakainya untuk mulai menghitung waktu yang hanya 1 menit itu. Waktupun mulai berjalan dan terus berjalan hingga menunjukkan di detik ke 25, Harukapun belum terlihat meski hanya sebatang hidung mungilnya itu.

Kini suasana mulai tegang dan cemas disertai bisikan-bisikan aneh dari para penonton dan juri yang sudah siap melangsungkan acara tersebut. Dan waktupun sudah melaju di detik ke 10, panitia itu menatap wajah Fujima tajam.

“Waktu akan segera berakhir, jika teman kalian tidak kunjung datang maka kalian didiskualifikasi.” Panitia itu terus menegangkan suasana dengan bunyi jarum jam yang tinggal beberapa detik terakhir.

54321.

“Yak. Mohon maaf kelompok 5 tidak dapat mengikuti kompetisi ini dengan kata lain kalian di diskualifikasi.” Panitia itu nyaris membunyikan pluit yang digantung dilehernya. Paras wajah Kazu dan yang lainnyapun menampakkan kekecewaan. But keajaiban terjadi.

--------------

“Siapa yang kau diskualifikasi pak tua?” Haruka muncul tiba-tiba dibelakang Yagami dan lengkap memakai semua perlengkapannya. Sontak seluruh peserta dan orang-orang disana nampak kaget juga panitia itu ia tertegun sejenak untuk berpikir karena heran.

“Apa kau tidak melihat aku berdiri disini, huh?” Haruka berdiri dengan angkuhnya seraya melipat kedua tangannya dan menatap tajam panitia tersebut.

“Ahapa? Tapi tadi kelompok kalian memang kurang 1 anggota.” Panitia itu sedikit gelagapan.

“Sudahlah. Cepat dimulai pertandingannya, kau tidak lihat semuanya kepanasan?!” Haruka menggeser posisinya berada di belakang Fujima.

Kazu tersenyum licik menyaksikan tingkah Haruka yang agak menyebalkan itu, tapi beruntung kelompoknya tidak di diskualifikasi, jika Ya maka Universitas Tokyo tidak akan diijinkan untuk mengikuti ajang ini lagi.

Sementara itu panitia segera membunyikan pluitnya pertanda pertandingan dimulai. Seluruh peserta lari estafet bersiap diposisi mereka. Urutan kelompok Kazu yaitu Kuga merupakan pelari pertama karena larinya sangat cepat bahkan bisa mengalahkan atlit, haha. Pelari kedua yaitu Shina, ketiga Kazu, keempat Reina dan seterusnya hingga pelari terakhir itu Fujima.

Pluit keduapun dibunyikan dan mulailah pelari pertama berlari sambil membawa tasuki (selempang) yang akan dibawanya untuk dioper ke pelari selanjutnya. Kini tasuki sudah berada di tangan Atsushi sebagai pelari ketiga kemudian Atsushi berlari untuk segera mengoper tasuki ini kepada pelari selanjutnya yaitu Haruka.

Atsushi berlari dengan kencang dan sepertinya sosok Haruka sudah terlihat sedang berdiri tepat beberapa meter dari hadapannya. Wajah Haruka tetap dingin namun sedikit nampak keantusiasannya yang sempat berbinar beberapa detik setelah itu menyusut menjadi ketegangan karena Atsushi sudah mulai mendekat dan ‘grep’ Atsushi segera mengoper tasuki ke genggaman Haruka, Haruka mulai berlari dengan sepenuh tenaga, berlari kencang untuk meraih Fujima tentunya untuk mengoper tasuki itu. Butir-butir keringat sudah mulai menetes dari kepala, dan keningnya hingga poni Haruka terlihat basah dan juga pakaian olahraganya karena ia sedang banjir keringat ditengah-tengah ketegangan.

Fujima menatap Haruka penuh yang masih beberapa meter darinya, ia memejamkan matanya dan menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, dan membuka matanya kembali lalu ketika itu ia mendapati Haruka yang tinggal beberapa langkah lagi meraihnya. Fujima bersiap-siap menghadapkan dirinya kearah Haruka dan menganggukkan kepalanya teguh, dan akhirnya Haruka sampai juga dihadapan Fujima kemudian berhenti sejenak dengan nafas yang amat tersengal-sengal sambil menatap Fujima datar lalu mengalungkan tasuki berwarna merah itu ke leher Fujima. Beberapa detik tersirat aliran dramatic dan senandung lagu ‘First Love’ milik Utada Hikaru. XD
                                                                                              
“TerimakasihHaru.” Fujima melintas berlari meninggalkan Haruka dan segera menuju ke garis finish. Dengan suasana hati yang setengah menggebu-gebu Fujima terus berlari mengitari belokan arus lintas perlombaan, sementara yang lainnya meneriaki Fujima dari kejauhan kecuali Haruka. Fujima berlari dengan sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil menyusul salah seorang peserta dari Hiroshima Gakuen.

Teriakan Kazu, Yagami dan yang lainnya semakin keras dan histeris ketika mendapati Fujima berada di urutan paling depan dan tinggal beberapa meter mendekati garis finish. Dan akhirnya..
Goal!

***
Seluruh mahasiswa berbondong-bondong menyusuri koridor kampus menuju auditorium karena hari ini akan ada jumpa pers bersama sang liga champion Nippon Games marathon 150 meter putra atas nama Kazukuro Neal dan marathon 100 meter putri atas nama Reina Sayuki dan juga juara pertama lomba lari estafet yang dijuarai oleh Kazu dan kawan-kawan. Terdengar riuh tepuk tangan dan teriakan histeris yang berasal dari para mahasiswi yang juga mengakui dirinya sebagai Kazunatics, dengan riasan wajah yang tebal layaknya badut ancol dan juga pakaian yang nampak sedikit terbuka itu sungguh bukan menebar pesona namun menebar bisa beracun. Dengan logat bicaranya yang genit dan tak lazim itu sambil mengumandangkan ‘Kuro-chiin!’ memalukan sekali.

Semua menyambut Kazu dengan sumringah termasuk para dosen dan staff yang juga ikut menyaksikannya karena banyak sekali wartawan yang datang ke kampus dan mewawancarai mereka, tak heran jika Haruka tidak pernah berada ditempat yang sama dengan posisi mereka saat ini. Anak itu!

Saruwa dan Sayumi pun ikut serta berdesak-desakan diauditorium karena sangat ingin mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan kedua pujaan mereka. Sayumi menyikut wanita yang ada disampingnya hingga pingsan sebab ia tidak dapat melihat sosok Yagami karena terhalang oleh tubuhnya yang lebih tinggi dari Sayu. Saruwa menganga sangat lebar dan syok. Mereka berdua kini berjalan mendekati mimbar dan sekerumun para champion itu.

“Yagami-kun!” Seru Sayumi sambil membenahi rambutnya.

Yagami menghampiri suara yng memanggil namanya itu.

“Oh, Kau. Kenapa?”

“WahSelamat ya, Yagami-kun, kau hebat sekali.” Sayumi mengulurkan tangan kanannya dan langsung menarik paksa tangan Yagami agar menyambutnya salamnya.

“Ya, terimakasih, Sayu-chan.” Yagami menarik tangannya kembali dan mengelapkannya ke jas yang dipakainya.

“Ah, boleh kita berfoto bersama?” Sayumi segera menyiapkan kamera, ia memang tidak pernah mau ketinggalan untuk berfoto di sesi tertentu, terutama jika ada Yagami.

“Cheessee…!  Sayumi mengacungkan kedua jari nya sambil berusaha mendekatkan wajahnya dengan wajah Yagami, namun gagal.

Ckreek!

“Sayu! Kau ini enak sekali bisa berfoto dengannya, sementara aku di terlantarkan.” Saruwa mengerucutkan bibirnya kesal dan memalingkan wajahnya.

“Hehe, nanti juga giliranmu, Saru. Akan ku ambil gambar kalian berdua.” Alis Sayu mengisyaratkan sesuatu pada Saru sambil matanya melirik kearah Kazu lalu Saruwa.

Tanpa sengaja Kazu bertatapan dengan Saruwa dan sontak mereka terkejut satu sama lain namun Kazu malah memberinya senyuman cerah atas kemenangannya pada Saruwa. Saruwa yang tidak sempat memalingkan wajahnya juga ikut membalas senyumnya yang ia anggap sangat berharga. Meski Saruwa tahu bahwa ia tidak akan bisa menggapai seorang Kazukuro Neal namun ia selalu mengaguminya dan menganggap bahwa Kazu adalah orang yang paling berkesan baginya.

Ketika itu, Saruwa tidak sengaja melihat Fujima yang nampak sedang keheranan mencari sesorang. Bola matanya terus beredar kesekitar auditorium, lalu Saruwa mencoba menghampiri Fujima seolah ia mengerti maksud tindakan Fujima.

“Fujima-kun

Fujima menoleh kearah Saruwa seraya mengerutkan dahinya bingung.

“Dia ada ditaman, jika tidak di atap.” Saruwa menunjukkan tempat keberadaan Haruka yang sedang dicarinya saat itu. Fujima terdiam sejenak dengan tatapan kosong, Kazu menepuk pundak Fujima halus dan mengisyaratkan Fujima untuk pergi menemuinya dan memperbaiki masalah mereka yang masih terlalu simpang siur. Fujima hanya sekali mengangguk dan melesat pergi meninggalkan auditorium.

Kazu menatap pundak Fujima dan tersenyum licik lalu menghembuskan nafasnya kasar. Sementara Yagami hanya bisa mengusap dadanya berkali-kali.



***

“Kenapa kau disini? Seharusnya kau menghadiri acara jumpa pers bersama kami.” Fujima mendapati Haruka di atap gedung setelah sekian menit berputar-putar mengelilingi kampus.

“Katakan alasanmu, Haru!” Fujima mendekatkan langkahnya tepat dibelakang Haruka yang tengah berdiri menatap permukaan kota Tokyo. Rambutnya yang melambai tak cukup panjang itu menjuntai terombang-ambing oleh angin spring dan mendinginkan suasana mereka berdua.

“Kau tidak perlu tahu, karena sudah tahu, kan. Aku tidak ingin terlibat dengan itu.” Haru masih belum membalikkan badannya.

Tapi kau juga yang mengangkat kampus kita kelayar kaca dan berhasil menjadi juara. Kau tidak akan mudah mendapatkan kesempatan seperti ini, jadi hargailah meski hanya sedikit.”

“Tidak, terimakasih. Aku merasa keberatan dengan itu. Lagipula kampus hanya ingin meminjam nama kalian sebagai alasan reputasi. Jadi jangan cepat puas.” Haruka menatap Fujima tajam.

“Sudahlah, kita hentikan pembicaraan itu.” Fujima mengalihkan pembicaraanya dan mengambil kursi yang ada tepat disebelahnya.

.” Haruka tidak merespon, dan segera berancang-ancang pergi.

“Tunggu! Apakah kau akan melarikan diri lagi?”

Langkah Haruka terhenti dan berbalik.

Apa maumu? Jika kau ingin mengajak berkelahi bukan sekarang saatnya.”

Haru. Aku ingin kau kembali.” Fujima terbangun dari duduknya.

Haruka tertegun dan berpikir sejenak maksud perkataan Fujima. Kini mereka hanya terdiam tanpa kata dan hanya hembusan angin yang terdengar.

“Kali ini, aku mohon padamu. Kembalilah seperti dulu.” Suara Fujima berubah menjadi sendu.

Hah? Kurang penjelasan apa aku padamu?” Haruka tetap dengan suaranya yang datar.

Aku, ingin kau kembali” Fujima belum menyelesaikan ucapannya Harupun segera menyanggahnya.

“Berisik!! / Bersamamu!” Ucapan terakhir Fujima tidak jelas karena Haruka berteriak.

“Aku ingin kau kembali padaku, Haru!” Fujima melangkahkan kakinya untuk mendekati tubuh Haru seraya menatap dan memohon padanya.

Tidak! Itu tidak mungkin.”

“Aku mohon. Jika memang ini bisa mengubahmu menjadi seperti dulu.” Fujima merendahkan tubuhnya didepan Haruka.

Maaf! Aku tidak bisa. Dan tidak akan mungkin untukku. Dengar! Aku tidak akan pernah kembali ke masa lalu dimana aku harus selalu mengharapkanmu, Fujima-kun.” Kini nampaknya suara Haruka sudah tidak lagi meninggi. Mungkin ia lelah.

Aku minta maaf, aku mengaku bersalah. Aku akan mengevaluasi semuanya.”

“Apa untungnya untukku bahkan untuk dirimu? Kita tidak bisa merubah takdir, apapun alasannya.” Haruka menatap sedikit sendu dan kali ini ia tidak berbicara dengan nada berteriak dan semacamnya.

Aku akan menepati janjiku, meski janji terdahulu.”

Kalau begitu aku pergi.” Haruka membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah kearah pintu. Namun Fujima masih belum puas untuk bisa menaklukan Haruka.

Aku mencintaimu, Haruka!” Fujima melantangkan suaranya dengan sepenuh jiwa raga, memang ini kali pertamanya ia mengungkapkan isi hatinya yang ada dizaman SMA dahulu. -__-

Cukup, Fujima-kun. Aku tidak ingin mendengar apapun yang bertema masa lalu darimu. Jalani hidupmu sendiri dan jangan pernah menatap masa lalu.” Haruka sedikit meninggikan suaranya sebab jarak mereka berada antara 1 meter.

Sayonara!” Haruka mengakhiri pembicaraannya dan kini benar-benar meninggalkan sosok Fujima Wiley sendirian. Sementara Fujima hanya tertegun tanpa membalas ucapan bahkan salam perpisahan Haruka, ia menyunggingkan bibirnya seolah ingin menitikkan air mata dan memalingkan wajahnya menatap langit dan permukaan kota yang menjadi saksi perpisahan sengit Fujima dan Haruka.

-END-

We couldn’t save a possibility from yesterday
When we save a possibility for tomorrow, we couldn’t vary the first destiny in any reasons
Nevertheless, a first memory will become only an oldest page.
(Miyo_chan)

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...