Liburan
musim gugur tahun keduaku pun sudah di mulai semenjak satu bulan berlalu aku
berkencan dengan Koukei di kedai es krim. Aku masih saja sibuk memikirkan apa
yang terjadi pada Koukei yang mendadak mengajakku ke kedai es krim, apakah ia
sadar bahwa itu adalah kencan?! Sebenarnya aku menyadari itu kencan pun setelah
di beritahu Misaki, saking tidak berpengalamannya aku. Semenjak liburan dimulai
pun aku tak henti memikirkan Koukei, mendadak tersenyum didepan cermin, berulang kali membaca isi pesan
Koukei yang sudah berminggu-minggu sambil terlena ke dalam anganku, mengambil
sebuah pulpen kosong yang sudah nampak agak usang, yang merupakan pemberian Koukei—tidak tepatnya aku yang menjadikan benda
itu sebagai tanda khusus perasaan Koukei yang padahal ia hanya iseng melempari
pulpen itu padaku kala aku menjahilinya tempo hari.
Drrt...drrt... Ponselku bergetar,
lalu dengan gesitnya aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di sofa. Plip.
Dari : Kak Koukei
Pesan :
Suzu, hari Minggu besok kamu sibuk? Aku kebetulan diminta Toda buat
nemenin dia ke pantai mau
berenang, tapi dia bawa cewek misterius. Aku takut dia kenapa-kenapa, kamu mau ikut
gak?
Hyung!!! DUAR! DUAR!
“A-A-A-PA?????”
Aku
sontak terkejut, membelalakan mataku bahkan mulutku menganga selebar mungkin, keringat
dingin mulai menetes ke seluruh permukaan tubuhku, tanganku mendadak keram tak
bisa di gerakkan sedikitpun, tak lupa mukaku yang mendadak berubah menjadi
pucat pasi sungguh tak karuan diriku yang telah dibuat bisu senyap oleh Koukei
yang secara langsung mengajakku berkencan untuk kedua kalinya??? dan kini bukan
hanya kami berdua, tapi kami akan melakukan kencan ganda??? “Oh, No way!!!” Teriakku diruang tamu.
“Hey,
kenapa kamu teriak-teriak? Dapet sms dari siapa sih sampe segitunya? Senior mu
itu ya jangan-jangan?” Tanya Ibuku yang sedang merajut.
Glup! “I-iya.”
Jawabku gelagapan.
“Kenapa
katanya?”
“Aku
di ajak ke pantai, Bu hari Minggu besok, ya...katanya sih cuma nemenin
Kak Toda aja, dia mau
berenang.” Jelasku seraya akan mengetik balasan pesan tersebut.
Ke : Kak Koukei
Pesan :
Oh gitu...emang cewek
misterius itu siapa, Kak? Nyeremin deh kayanya, hahaha.
Kirim.
Drrt...drrt...
Dari : Kak Koukei
Pesan :
Haha, nanti juga kamu tahu. Oya, tapi jangan rame-rame ya, nanti dikira mau tawuran lagi
:D.
“(Gak salah lagi, dia―maksudku
Toda ngajak kencan ganda sama Koukei , nah, tapi kenapa harus sama aku?)” Gerutuku
dalam hati. Lalu aku pun langsung menerima tawaran Koukei dan bergegas untuk
membongkar isi lemariku kemudian menyortir pakaian yang akan ku pakai hari
Minggu nanti, padahal ini saja baru hari Jumat. Rasanya meski masih 2 hari lagi
tapi rasa nervous-ku sudah tak terkendalikan dengan baik,
belum ketemu saja jantungku sudah bergejolak naik turun apalagi jika aku
bertemu dengannya nanti, apa aku bisa bicara normal dengannya layaknya sms-an
seperti biasa. Pasti diluar dugaan.
Akhirnya hari Minggu yang mendebarkan itupun tiba. Tepat Pukul 11 Koukei
tiba disekitar rumahku yang ia sebut komplek itu, ia rupanya kebingungan
mencari-cari dimana bangunan rumahku yang tak begitu besar itu berada, sembari
memegang ponselnya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar juga seraya mengirim
pesan padaku dan kemudian bertanya, “Aku udah masuk komplek nih, rumahmu yang
mana?” Aku pun terkekeh membaca isi pesan Koukei tersebut, kemudian aku segera
keluar sambil menarik nafas ku dalam-dalam “Hpppp....Huuuhhh...tenang lah Suzu,
relax. OK.” Kataku pada diriku
sendiri.
Lalu aku membuka pintu gerbang rumahku dan....Sparkling! Cahaya silau memancar menyilaukan pandanganku, rupanya
itu berasal dari Koukei yang membuat detak jantungku semakin bergejolak,
rasanya panas, tapi juga dingin, melihat Koukei begitu bercahaya memakai
pakaian casualnya nampak amat berbeda dengan saat ia mengenakan seragam sekolah
seperti yang selalu aku lihat setiap hari, kali ini ia nampak seperti—masih anak SMA.
Namun hari ini, aku semakin dIbuat mabuk kepayang, kepalaku terasa pening tapi hasrat
ini seperti mengikatkan seutas tali yang menarik tubuhku menghampiri Koukei yang
masih berdiri di depan rumah tetanggaku.
Aku merasa ini adalah kencan sungguhan, aku
yang mengenakan dress berwarna orange muda selutut yang dengan tak
segannya Ibuku membuatkan dress
cantik ini untukku serta cardigan warna biru muda sebagai outfit tambahan, aku merasa seolah sedang menjadi wanita bukanlah
anak SMA polos biasa.
Oh, tidak! Aku tercengang! Getaran serta debaran ini semakin menjadi-jadi,
aku berjalan semakin mendekat ke arahnya, aku tak berani memanggil namanya
meski hanya dengan panggilan ‘Kak’ dari kejauhan, aku khawatir tetanggaku yang
sedang bekerja bakti dihari libur meng-update
gosip tentangku. Aku pun hanya melambaikan tangan kananku yang sedikit
melemas, akhirnya Koukei menyadari keberadaanku yang sudah berdiri di depannya,
lalu ia tersenyum lebar sambil berkata, “Hey!”, aku pun merasa semakin terjerat
ke dalam jebakan senyumannya.
“Udah dari tadi ya, Kak?” Tanyaku.
“Engga kok, baru 5 menit-an, aku nyari-nyari rumah kamu gak ketemu, eh
taunya yang itu toh, hehe.” Jelasnya seraya terkekeh.
Aku terkejut kesekian kalinya, ia bilang ia telah berusaha mencari rumahku
selama 5 menit, itu merupakan waktu yang berharga yang ia habiskan hanya untuk
melakukan hal yang menurutku konyol, kenapa ia tidak langsung saja bertanya
padaku yang justru tidak akan mempersulit dan membiarkannya membuang waktu 5
menit itu. Itulah kelebihan Koukei yang tak pernah ku tahu.
Lalu Koukei segera mengambil sepeda motor miliknya kemudian memberiku helm,
bodohnya aku tak bisa mengancingkan tali helm tersebut yang pada akhirnya
Koukei pun tak segan untuk membantuku. Baru kali ini Koukei membawa sepeda
motor, karena biasanya ia hanya menggunakan sepeda ke sekolah.
Deg! Deg! Deg!
Denyutan itu kambuh kembali ketika melihat Koukei menaiki sepeda motor yang
bisa dibilang mirip motor balap itu juga helm yang super canggih, membuatku tak
bisa mengalihkan pandangan, apalagi ketika Koukei memintaku untuk naik
dibelakangnya alias disepeda motor miliknya juga dibonceng olehnya, lalu ia pun berkata, “Ayo kita berangkat!” Aku pun langsung menuruti perkataannya
sembari merasakan suhu tubuhku yang seperti agak mengigil itu.
“(Astaga!
Aku terkena demam lagi, maksudku, demam asmara... Gimana nih?
Aku seneng banget.
Ini kedua kalinya aku duduk di tempat yang sama dengan Kak Koukei. Aku...
benar-benar jatuh cinta padanya..).” Ucapku dalam hati seraya memejamkan mataku
merasakan dinginnya angin musim gugur ini.
Aku menatap langit yang bahkan sudah nampak gelap ketika kami akan
berangkat dan
kelihatannya sebentar lagi akan hujan,tapi aku usahakan untuk tidak khawatir akan
itu, karena jika aku menolak ajakannya, maka ia pasti akan kecewa padaku.
Kurang
lebih 1 jam perjalanan akhirnya aku dan Koukei sampai di pantai Takeno yang
cukup jauh juga jaraknya dari rumah kami, belum lagi rumahku dan Koukei sangat
amat berjauhan tepatnya berlawanan arah. Saat sampai pintu masuk, aku tak
melihat batang hidungnya Toda sama sekali, padahal aku penasaran dengan wanita
misterius yang dibicarakan Koukei waktu itu.
“Mana
nih Toda?! Katanya janjian dipintu masuk.” Ucap Koukei sambil merogoh ranselnya
dan mengambil ponsel untuk segera menghubungi Toda. Tak lama kemudian Koukei
menyuruhku masuk ke area.
“Hmh,
ternyata dia sudah duluan, ya udah ayo masuk.” Ajaknya padaku, aku pun mengikutinya dari
belakang.
Pantai.
Sungguh menakjubkan, ini pun baru pertama kali nya aku pergi ke pantai dengan
seorang pria, bahkan saat itu pun aku tak bisa berjalan sejajar dengan Koukei
disampingnya, aku selalu membuntutinya dari belakang, Koukei sama sekali tak
pernah menegurku meski hal tersebut terjadi beberapa kali. Mungkin Koukei pun
merasa nervous ketika di dekat
wanita, bagaimana pun kejadian ini tidaklah normal, entahlah, apa Koukei sadar
bahwa ini merupakan kencan ganda, atau memang dia masih polos dan menganggap
ini hanya main-main bersama teman biasa.
Aku
selalu dIbuat penasaran oleh tindakan Koukei yang penuh misteri dan sulit
ditebak, aku pun masih belum mengerti betul apakah aku mencintainya atau hanya
mengaguminya.
Zonk! “Heh?What??”, aku pun terkejut
ketika mendapati Toda yang tengah berduaan dengan seorang wanita ‘misterius’
tepatnya kekasihnya yang juga satu angkatan dengannya, mereka berdua sedang
asik mengobrol mesra seraya berpegangan tangan satu sama lain di kursi pantai.
Aku langsung membelalakan mataku setelah itu memalingkan pandanganku dari pemandangan
tak layak tersebut.
Koukei
pun mengajakku duduk didepan Toda dan kekasihnya itu sebab sudah tersedia dua
kursi santai yang sepertinya memang untukku dan Koukei, aku pun sedikit bengong
kemudian menuruti permintaan Koukei karena aku pun cukup lelah setelah
perjalanan cukup panjang tadi.
“(Heh?
Tunggu. Kenapa aku jadi duduk disini. Buset dah kentara banget ini mah lagi
kencan ganda. Aduh gak nyangka si Toda bisa kaya gitu juga).” Kataku dalam hati seraya menunduk mengusap-usap keningku
heran.
Melihatku
yang nampak canggung, Toda pun akhirnya menyapaku, “Halo, Suzune.” Katanya
dengan wajah angkuhnya. Cih! Aku sangat benci sekali dengan ekspresinya yang
terlihat murahan itu. Lalu aku pun hanya membalasnya dengan mengangguk sambil
mengangkat kedua alisku dan sedikit menyeringai.
Toda
memicingkan matanya sambil menatapku dalam-dalam kemudian berkata, “Akhirnya
kamu tahu ya aku itu siapa, ku harap kamu tetap tutup mulut soal ini, OK,
nona?!” Aku mengernyitkan dahiku heran, “(Maksudnya ia ingin aku menjaga imagenya yang sebenarnya nakal ini?
Serakah banget dia)”, aku pun menjawab, “...Ah...tapi aku gak janji ya kak,
hehe.” lalu Toda menatapku setengah
mengancam beruntung Koukei
segera mengajakku pindah ke tempat lain untuk mencari spot untuk berfoto.
“Kou!” Seru Toda saat Koukei
dan aku berjalan melaluinya.
“Kenapa?” Tanya Koukei.
“Jalannya barengan dong, masa dia ditinggal?!” Kata Toda santai.
Gusrak! Aku
maupun Koukei sontak terkejut sekaligus tersipu mendengar Toda berkata
seolah-olah mengisyaratkan sebuah kode pada Koukei sehingga membuat aku menjadi
semakin canggung di depan Koukei, “(Memang keparat si Toda itu).” Ucapku kesal dalam hati. Untungnya
Koukei tidak menghiraukan kata-kata Toda barusan, lebih tepatnya Koukei hanya
memasang ekspresi seperti ‘apaan sih’ dan langsung menghindar dari pandangan
Toda dan kekasihnya itu.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi,
ada benarnya juga sih, masa iya kami berjalan cenderung nampak seperti majikan
dan…asisten pribadi. Tidak! Aku harus ingat bahwa aku hanya diminta untuk menemani
Koukei bukan kencan, pikir logikaku, namun tetap saja nuraniku berkata bahwa aku
ingin sekali berjalan berdampingan dengan langkah kaki yang sama persis
dengannya, aku tidak seharusnya hanya mengikuti jejak dimana Koukei berpijak,
aku pun kembali kalut dalam delusiku.
“Suzu! Mau aku potret gak? Pemandangannya lumayan nih. Ayo sini.” Tiba-tiba Koukei menawarkan
diri untuk menjadi seorang fotografer ?! Bukan! tapi dia ingin menghiburku, karena rasa canggung yang kami
berdua rasakan saat itu tak bisa dipungkiri lagi membuat Koukei kesulitan untuk
memulai pembicaraan yang menarik denganku.
“E-eh? Foto? Kakak mau aku
fotoin?” Tanyaku polos.
“Enggak, kamu aja sini yang
aku fotoin,” Katanya sambil menyiapkan kamera ponselnya. Aku pun mengernyit
heran sambil dengan polosnya aku mengikuti instruksinya.
“Nah, coba sebelah sini supaya
lautnya keliatan, hehe.” Katanya seraya mengarahkanku layaknya foto model. Ckrek! Ckrek! Aku sempat merasa malu
karena dilihat banyak orang, tapi apa boleh buat hal ini pasti takkan terulang
kedua kalinya. Dengan kibaran angin pantai yang menjuntaikan dress baruku yang kupakai selutut
disertai senyuman kecil nan polos ala cewek SMA merupakan koleksi foto
pertamaku yang tersimpan di ponsel
milik Koukei.
Tik…tik…tik…
rintikan hujan mulai terasa jatuh ke permukaan kulit wajahku, aku dan Koukei
pun segera berlari untuk berteduh ke bangunan kayu yang nampak seperti bekas
kedai yang terdapat di sekitar pantai, sayangnya hujan pun semakin deras hingga
membuat bajuku dan baju Koukei sedikit basah. Lalu kami pun duduk dikursi yang
kebetulan terdapat Toda dengan kekasihnya yang juga ikut berteduh disana.
Dan lagi, kali ini benar-benar
membuatku ingin muntah menyaksikan adegan pegangan tangan mesra antara Toda dan
kekasihnya. Aku pun kembali tercengang sambil begumam, “(Astaga! Rasa kagumku benar-benar hilang
padanya 100%).” kemudian aku pun memalingkan pandanganku
ke arah pantai, sementara Koukei malah tengah asik memainkan ponselnya, ketika
ku perhatikan, ternyata ia sedang mengedit beberapa fotoku yang barusan
diambil. Aku nyaris tertawa melihat tingkahnya yang agak kekanakan itu, aku
hanya menutup mulutku yang sedang terkekeh pelan.
Kemudian sepanjang kegiatan
mengeditnya itu, ia meminta beberapa pendapat padaku, aku sempat terharu pula
kenapa Koukei mau melakukan hal semacam itu, tidak adakah yang lebih penting
seperti mengajakku ngobrol, aku pun
bukan sahabat apalagi kekasihnya namun ia sangat menikmati kegiatannya
tersebut, memang sih ponselku belum secanggih milik Koukei jadi aku juga merasa
senang ia menghiburku
dengan cara seperti itu.
Hujan pun semakin deras hingga
cipratan airnya pun membasahi sebelah lengan cardiganku, sialnya aku tidak
membawa sweater atau semacamnya, aku
malah membawa baju ganti karena kupikir benar akan berenang dipantai. Aku mulai
merasa kedinginan dan mengusap-usap kedua telapak tanganku dan meniupnya untuk
menghangatkan tubuhku. Sialnya lagi Toda mencoba menghasut iman Koukei dengan
berkata, “Kou, duduknya jangan jauhan gitu dong, liat tuh dia kedinginan,
pegangin napa tangannya.” dengan luwesnya sambil ia mengelus-elus kedua tangan
kekasihnya yang duduk tepat berhadapan dengannya.
Rasanya ingin sekali aku
menghujat si bintang sekolah itu, sepertinya aku tak bisa tutup mulut tentang
seberapa nakalnya Toda di hadapan
wanita. Koukei hanya terdiam seraya menatap layar ponselnya juga membantah
seadanya, ia berusaha untuk tak tergoda oleh omongan si iblis Toda itu,
“Berisik banget tuh mulutmu, diem kenapa jangan ganggu kita.”
“(Kita?)”
Gumamku terkejut. Aku yang
masih polos pun tak bisa membantah apapun, aku hanya ingin segera pulang dan terlepas
dari ketidaknyamanan ini, aku semakin kedinginan, gusiku mulai menggertak
karena menggigil namun aku berusaha untuk bertahan menunggu hujan reda.
“Suzu, nih pake ini biar gak
dingin.” Koukei memberikan sepasang sarung tangan berwarna merah kepadaku.
Deg Deg!
Aku dIbuat dag-dig-dug lagi
olehnya, aku sempat agak celingukan dan bingung apakah harus menerimanya atau
tidak, sebab aku tahu Koukei juga kedinginan, lalu aku menolaknya dengan halus,
“Eh, gak apa-apa kok kak, Kakak aja yang pake, aku gak apa-apa kok seriusan.” meski
hanya pura-pura.
Koukei pun akhirnya merasa
tidak enak karena aku menolak, lalu ia bilang, “Ya udah kita bagi dua aja, aku
pake yang kiri kamu yang kanan biar adil, hehe.” kemudian ia memakai sarung tangan tersebut
begitu pun aku, dan kami mendekatkan tangan kami
yang nampak sekali keduanya berbeda, tanganku lebih kecil dibanding Koukei.
“Haha, kegedean ini mah.” Sahutku seraya tertawa. Sejujurnya aku merasa aneh
karena memakai sarung tangan sebelah, tapi karena Koukei tidak mempersiapkan
hal-hal seperti itu jadilah seperti ini.
Aku rasa, rasa kagumku
terhadap sosok Koukei Kageyama semakin bertambah level. Aku berharap bisa
menjadi pacar sungguhannya, tapi
kupikir itu sangat tidak mungkin untuk orang yang hanya kebetulan saja seperti
yang kualami saat ini.
***
‘Cinta yang polos itu bagaikan
bunga tanpa serbuk sari
terlihat elok namun bukanlah bunga yang sempurna,
dimana serbuk itu akan selalu dirindukan
kala yang pernah menjadi
polos beranjak dewasa’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar