Kamis, 18 April 2019

Diary 17th_Love Trip 3: I think to be Friend


Aku berjalan menuju loker sepatu sembari mengobrol bersama teman-teman sekelasku karena waktu sudah menunjukkan pukul 4, di lihat nya diluar sedang turun rintik-rintik hujan meski tidak deras, lalu aku putuskan untuk menunggu hujan nya reda sambil berdiri menepi di teras depan pintu sekolah.
                “Waduh, hujan ya?!” Keluh seorang lelaki yang tak asing bagiku yang baru saja keluar, kemudian aku segera menimpali celotehan cemprengnya yang seperti nenek-nenek.
                “Udah tahu nanya lagi.” Ejekku tanpa melihat wajahnya.
                “Ih, kok ada kamu sih cabe rawit?! Ngapain berdiri disitu? Gak pulang?” Tanyanya.
                “Gak liat nih lagi ujan?”
                “Kan bisa pake payung kali.” Katanya dengan nada tinggi.
                “Ya orang gak bawa payung.” Balasku ketus.
                Pasti setiap kali aku bertemu dengan si Ketua OSIS bencong ini ada pertengkaran sengit, entah itu saling ejek julukan atau sahut-sahutan tak jelas, tapi meski begitu dia yang paling peduli padaku ketika dikelas. Namun, aku hanya heran kenapa banyak yang suka padanya hanya karena dia merupakan ketua OSIS, bahkan tak hanya aku yang menjadi teman dekat perempuannya, itu karena Hyuga sering menceritakan kehidupannya padaku kalau kami sedang dalam keadaan serius.
                Aku juga punya pemikiran yang sama dengan siswa lain sih, Hyuga itu memang baik, pintar, juga dikenal semua orang layaknya Toda dan kawan-kawan jika ku samakan. Namun terkadang aku juga merasa jijik dengan sifat kewanitaannya—lagi. Tapi, sifat kewanitaan yang kumaksud ini sangat natural berbeda dengan Koukei yang sebenarnya hanya kesan pertama sih aku berasumsi begitu.
                Kalau tersenyum pasti dia menutup mulutnya seperti yang para perempuan lakukan dengan tujuan agar terlihat ‘imut’. Oh Tuhan, sungguh aku tidak ingin berteman lagi dengannya jika memang seperti itu. Kedua, dia itu sainganku dikelas dan pandai sekali Matematika, wajahnya itu sangat mencolok ketika berada ditengah keramaian, dan... Satu hal lagi yang membuatku mudah menyadari keberadaannya, yaitu bau parfumnya yang menyengat hingga ku bisa mencium bau khasnya dari jarak 50cm. Aku sempat nyaris mabuk terhuyung-huyung.
                Sungguh membuatku ingin muntah.
                Akhirnya tak lama setelah itu, hujan pun berhenti. Aku melirik gumpalan awan yang masih nampak gelap, lalu segera memutuskan untuk cepat pulang dan sampai rumah.
                “Heh, cabe rawit. Pulang naik apa kamu?” Tanya Hyuga yang berjalan disampingku.
                “Kepo. Naik kereta lah.” Kataku setengah ketus.
                “Rumahmu di Chuo-ku barat daya kan, kebetulan aku pulang lewat situ.”
“Oh gitu...” Balasku datar.
Jleb! “(Buset dah gitu doang. Yaelah nih cewek gak peka amat ya?!)” Gerutu Hyuga.
“Yaudah, aku anterin yuk?! Dari pada kamu naik kereta, kan malah muter-muter.”
“Cie, jadi kamu tuh mau modus, hahaha. Ngomong aja napa gak usah sok-sok an ngode, huuu!” Ejekku sembari mentempeleng kepalanya.
“Aduh! Sakit tahu. Yaelah, siapa juga yang modus kali. Yaudah tunggu ya aku ambil sepedaku dulu di parkiran.” Katanya yang kemudian berlari ke parkiran dan bergegas mengambil  sepeda Hybrid merah miliknya lalu menghampiriku yang belum menunggu begitu lama.
“Nyok!”Sahut Hyuga seraya menyuruhku naik dibelakangnya.
“Gak usah deh, nanti kita ditangkap loh kalau ketahuan boncengan.” Sahutku.
“Gak bakal lah, tenang aja, udah buruan naik.” Jawab Hyuga.
Aku pun naik ke jok boncengan sepeda yang tidak terlalu tinggi itu kemudian tanganku berpegangan ke kursi jok Hyuga, aku tidak mau berpegangan pada pundaknya ataupun pinggangnya khawatir bau parfumnya akan menular pada seragamku dan aku tak mau nantinya ada gosip yang aneh-aneh. Ditengah perjalanan kami pun bercanda satu sama lain, bahkan saling melempar kata-kata kasar, tapi Hyuga tak pernah merasa tersinggung dengan ucapanku. Meski aku mengata-ngatai dirinya bencong dia hanya membalas dengan ejekan ‘cabe rawit’ padaku, termasuk ketika aku menceritakan tentang Koukei padanya ia pun selalu menanggapi semua keluh kesahku.
Tiba-tiba sosok Koukei terbesit di benakku lagi. Kenapa disaat seperti ini pun aku sempat bisa memikirkan Koukei. Imajinasiku pun mulai bergejolak, semua kepalaku dipenuhi wajah dan senyuman Koukei, semua kata-kata Koukei terngiang di seluruh permukaan otakku, hingga aku membayangkan bahwa Koukei lah yang memboncengiku dan mengantarku pulang saat ini.
Segera ku sadarkan diriku yang tengah melamun itu lalu aku mengucapkan terima kasih pada Hyuga yang sudah mengantarku tepat didepan rumahku.
                Betapa busuknya diriku saat itu, ketika bersama Hyuga aku menceritakan tentang Koukei padanya, namun ketika aku bersama Koukei aku pun menceritakan tentang Hyuga padanya. Aku berpikir betapa munafik dan serakahnya diriku terhadap kedua insan tersebut.
                Pagi ini aku bangun kesiangan hingga nyaris telat ke sekolah, tapi beruntungnya aku masih tepat waktu. Sesampainya di kelas nafasku tersengal-sengal saking lelah nya ku berlari mengejar waktu dari stasiun ke SMA Ehime. Pelajaran pertama yaitu Matematika, satu-satunya mata pelajaran yang paling ku benci sampai akhir hayat, ditambah gurunya yang super menyebalkan yang bahkan menuntut siswa nya untuk menghafal semua rumus yang diberikan.
                Namun, beruntungnya hari ini ia meminta anak-anak untuk kerja kelompok dan secara kebetulan pula aku satu kelompok dengan Hyuga. Aku pun menarik nafas lega karena Hyuga pandai jadi aku tak perlu menyusahkan diri untuk mengerjakan soal sendirian.
                “Hadeh, cabe rawit lagi cabe rawit lagi, capek deh.” Katanya seraya memutarkan bola matanya centil.
                “Berisik. Udah buruan nih kerjain, aku males apalagi sama gurunya.” Gerutuku sambil melipat kedua tanganku.
                “Enak aja, ini kan kelompok masa kamu gak ngerjain sih, dasar manja.” Balasnya.
                “Psst! Hey kalian kenapa sih berisik terus? Kaya pengantin baru aja deh.” Celetuk salah satu teman sekelompokku—Rina.
                What? Ow em ji!.”Plak! Kataku syok. “Sama ketua OSIS cabe-cabean gini? Ya Lord.” Lanjutku seraya menepuk jidat.
                “Ihhh, gemesin banget tuh mulutmu ya, lama-lama juga kamu suka sama aku, loh.” Balasnya dengan ekspresi kesalnya padaku. “Eh gila, pede banget.” Ucapku seraya menyunggingkan sebelah bibirku.Lalu semua kelompokku pun tertawa geli melihat tingkahku dan si Ketua OSIS rempong itu.
                Jam istirahat pun tiba, setelah 2 mata pelajaran terlalui hingga membuatku dehidrasi maka aku pun pergi ke kantin sendirian karena tak ada yang satu selera denganku di kelas. Tapi ditengah perjalanan aku bertemu dengan Misaki sekaligus Yui, akhirnya aku bisa bergosip dengan mereka berdua, setelah sekian lama aku berpisah akhirnya dipertemukan kembali.
                Ketika aku akan menghampiri mereka yang sedang mengantri di kantin, mereka pun segera menyadari keberadaanku dan langsung menyeretku ke dekat meja hingga membuat tubuhku kewalahan.
                Aku pun langsung bertanya, “Ada apa sih kalian ini? Lagi stalker-in senior ya? Haha.”
                “Ya, tadi aku emang sempet ketemu Kak Koukei,” Sahut Yui.
                “Hah? Masa sih? Mana? Mana?” Tanyaku antusias sambil mencari Koukei.
                “Sekarang dia sudah masuk kelas lah, kamu sih telat.” Lanjut Yui. Wajahku pun langsung melayu dan cemberut.
                “Suzu, yang terpenting sekarang bukan itu. Tapi gosipmu.” Bisik Misaki.
                Aku pun tercengang sambil mengerutkan dahiku, “Apa? Gosip? Ck! Gosip apalagi sih?! Gak usah bikin geger deh.” Jawabku setengah tak peduli.
                “Aduh serius.” Seru Misaki setengah kesal.
“Ya udah emang gosip apaan sih?” Tanyaku dengan malas.
 “Kamu akhir-akhir ini sering pulang bareng kan sama si Ketua OSIS, Hyuga? Kita juga sering lihat kok. ” Timpal Yui yang kemudian duduk dikursi kosong yang terdapat dihadapan kami.
                “Iya, emang. Terus kenapa? Aku cuma kebetulan aja satu arah sama dia, toh dia juga kok yang ngajak pulang bareng duluan. Aku sih fine-fine aja, lumayan kan uangnya bisa ditabung, haha.” Paparku.
                “Terus Kak Koukei tahu kamu lagi deket sama Hyuga?” Tanya Misaki yang ikut duduk pula.
                “Ya tahu lah, aku kan juga cerita sama dia soal Hyuga.”Jawabku santai.
                Zonk! “Kebangetan nih anak. Kamu tuh ya, suka nya sama siapa sih sebenernya? Koukei atau Hyuga nih? Yang konsisten dong. Kamu tahu gak kamu bahkan udah di gosipin pacaran sama Hyuga.” Celoteh Misaki berkacak.
Deg! Syut! Duar!
Aku pun menggebrak meja bundar itu dan berteriak, “HAH? WHAT? Noooo.” Semua siswa disekitar menatapku. “Masa sih? Yang bener? Siapa yang tega ngegosipin aku kaya gitu?” Lanjutku setengah berbisik dengan wajah yang masih syok.
“Aku kasih tahu ya, Suzu.” Kata Yui merangkul leherku. “Secara kamu sering pulang bareng Hyuga, satu kelas lagi, plus, Hyuga itu ketua OSIS disini, gak ada yang gak kenal sama dia. So, gimana gosip gak menyebar dengan cepat?!” Lanjut Yui, sementara mukaku masih terlihat nanar.
“Kenapa aku terkena gosip terus sih, hm...Norak deh.” Rengekku.
“Sabar ya, Suzu, semoga gak ada yang ngelabrak kamu deh nanti sore ya. Lagian kamu PDKT sama artis terus sih.” Ejek Misaki yang kemudian mengusap kepalaku.
“Ngelabrak? Artis? Huh! Kamu gila ya. Aku kan gak pacaran sama dia sama sekali, enggak, enggak, enggak! kita cuma temen sekelas.” Tegasku.
“Tapi kayak nya Hyuga suka sama kamu deh. Soalnya dia rela tiap hari antar jemput kamu, itu udah kentara banget kan?!” Lanjut Misaki yang terus memanas-manasiku.
Twing! Mendadak aku pun teringat akan teman SMP ku yang juga satu SMA denganku, ia merupakan mantan kekasih Hyuga dulu bahkan aku pun ikut nimbrung gosip tentangnya. Kemudian, Yui menggoyang-goyangkan tubuhku yang sedang dalam halusinasiku.
Brrr...aku bergidik merinding. “No. Please. Jangan membuat sindrom ke-ilfeel-an ku kumat, OK. Aku cukup tahu, terima kasih infonya teman-teman.” Sambungku yang masih nampak lemas.
“Oh iya! Aku sempet dapet info dari Marin teman sekelas kita waktu kelas 1, katanya Hyuga juga lagi naksir cewek sih.” Timpal Yui.
Tunggu, bukan nya si Marin yang naksir sama Hyuga, ya. Parah banget Hyuga bilang gitu sama gadis yang lagi suka sama dia, mau bunuh diri ya dia?!” Sambungku.
Kedua temanku itu pun hanya saling menatap tanpa menggubris kata-kataku. Ya, benar. Hyuga memang menyukaiku, bahkan sebenarnya aku sudah menyadarinya lebih dulu hanya saja aku tak ingin kena marah siapa pun karena hampir semua perempuan dekat dengan Hyuga, maka aku berusaha bersikap normal sebab aku pun tak memiliki rasa apapun kepadanya.
Aku hanya mencegah Hyuga menyatakan perasaannya padaku dengan sikapku yang kasar dan cuek. Aku tak mau terkena gosip murahan lagi dan tersandung dalam keputus asaan masa lalu, namun keadaan sebenarnya berbeda dengan apa yang ada dipikiranku. Juga, aku kenal dengan perempuan yang bernama Marin itu, aku jadi merasa tidak enak ketika tahu dia menyukai Hyuga sementara aku sering pulang bersama dengan Hyuga.
Selain itu, aku berpikir mengenai Koukei, apa pendapatnya jika Koukei tahu soal gosip ini?! Aku masih sangat labil dalam menentukan pilihanku, tapi beruntung tak ada seorang pun yang datang dan melabrakku atas gosip tersebut. (Akhirnya aku selamat). Gumamku, aku pun tidak menerima pesan tudingan atau apapun dari Koukei, yah sedekat apapun aku dengan Koukei, dia takkan pernah mau menghiraukan hal yang tak penting untuknya, gosip semacam itu adalah hal yang lumrah baginya, tapi celaka untukku.
Kali ini, aku membiarkan gosipku bertebaran demi menjaga hubungan pertemananku dengan Hyuga karena aku tipikal orang yang mudah ilfeel maka aku bersikeras untuk tak menjauhi Hyuga meski gosip ini terasa tak nyaman untukku.
“Hai, Suzune! Kamu tumben gak pulang bareng Hyuga?!” Aku terkejut saat menoleh kesebelahku yang terdapat Marin dan juga Misaki yang entah sejak kapan membuntutiku. Aku pun jadi canggung saat bertemu Marin yang memang sikap nya terlihat normal padaku, namun tetap saja ada yang mengganjal.
“Enggak, lagi pengen naik kereta aja.” Ucapku dengan nada hambar.
“Kamu lagi musuhan sama dia?” Tanya Marin blak-blakan. “(Buset dah, kok bisa-bisanya sih dia nanya ceplas-ceplos gitu soal Hyuga sama aku?)” Gumamku terheran-heran.
“Biasa aja gak kenapa-kenapa, lagi males aja. Udah deh ngapain sih ngebahas dia, gak ada topik lain apa.” Kataku dengan nada sedikit meninggi.
Sebenarnya aku merasa khawatir kalau Marin akan memarahiku atau membenciku atau melakukan tindakan semacam itu, aku juga tidak mau membuatnya salah paham atas gosipku dan Hyuga yang sedang bertebaran, maka aku putuskan untuk pulang cepat agar Hyuga tak mengantarku pulang, karena sepertinya ia sangat terlihat baik-baik saja dengan gosip tersebut. Namun disamping itu aku bukan nya mau terlibat menjadi macomblang untuk Marin yang naksir Hyuga, justru aku hanya ingin menjaga hubungan pertemananku dengan Marin.
***

Hari ini tepat seminggu sebelum acara festival budaya, kelasku mengadakan geladi bersih untuk pementasan drama. Sebenarnya aku agak malas-malasan sih karena ini musim panas juga, tapi aku harus bertanggung jawab karena drama itu merupakan ideku.
Drrt...drrt... satu pesan baru muncul dilayar ponsel jadulku.
Dari        : Hyuga
Pesan    : Aku udah nunggu didepan rumah tetanggamu ya. Habisnya aku malu kalo depan rumahmu, hehe.
Glup! ‘Rumah tetangga?! What the?!’
Aku menelan ludah bukan berarti aku terkejut, aku merasa heran saja dengan rumahku ini yang kemungkinan terdapat aura neraka diluarnya hingga sudah kedua kalinya teman lelaki ku tak ada yang berani memasuki rumahku dengan alasan ‘malu’. Memang sih rumahku didesain dengan gaya kuno dimana masih terdapat ukiran kaligrafi sajak di dindingnya yang bisa membuat bulu kuduk merinding saat mengetahui maknanya. Maka, kali ini pun aku memaklumi Hyuga meski sebenarnya aku tak enak pada Ibu kalau aku dikira pergi diam-diam dengan seorang lelaki yang tak diketahuinya sama sekali.
Saat aku menghampiri nya yang tengah duduk di tempat duduk belakang tempat biasa aku dibonceng, Hyuga mengenakan kemeja kotak-kotak biru muda dan kaos putih serta jeans pendek selutut dan sepatu sneakers hitam tepat depan rumah tetanggaku, Hyuga tersenyum sumringah padaku yang masih beberapa meter jauh dari letaknya berada. Aku hanya menaikkan sebelah alisku sambil berkata, “Kenapa kamu senyum-senyum? Gila ya?”. Paras wajah Hyuga pun spontan berubah menjadi datar.
“Aku tinggal nih ya?!” Ancamnya bercanda.
“Iya iya tunggu sebentar lah aku kan lagi jalan. Bawel banget sih. Dasar emak-emak.” Ucapku seraya naik ke sepedanya Hyuga.
“Udah ah lagi males rIbut nih, udah kepanasan tahu. Tega banget menelantarkan temanmu gitu aja.” Keluhnya sembari mulai mengayuh sepedanya.
“Ya itu sih salahmu, aku kan gak nyuruh kamu nunggu disini. Dasar payah.” Timpalku yang tak mendapat sanggahan dari Hyuga.
Aku terus memutar balikan otakku memastikan bahwa aku tak boleh membenci Hyuga, dia sama sekali tak bersalah untuk menyukaiku, tapi dia adalah orang yang berhasil menyeretku ke dunia gosip yang terkesan norak dan lagi-lagi menjatuhkan image-ku. Aku pun tak ingin merusak mood ku dan menghancurkan acara Bunkasai tahun ini. Namun, demi apapun perasaanku sudah tak karuan, rasanya ingin melarikan diri, bahkan tak mau menatap wajah Hyuga yang mencoba terus melebarkan senyumnya padaku.
“(Tuhan, aku ini kenapa sih?! Kenapa perasaanku jadi gak enak begini?!)” Gumamku dalam hati sembari menarik nafas dalam-dalam.
Saat kami semua sedang istirahat, aku pun merenung memisahkan diri duduk di kursi taman sambil menyeruput orange jus segar dari vending mesin. Berkali-kali ku gelengkan kepalaku sambil bergidik merinding membayangkan sesuatu yang tak sewajarnya dibayangkan gadis SMA seperti ku, maksudku, aku hanya sedang memikirkan kata-kata Misaki dan Yui tentang Hyuga yang sedang menyukai seseorang, aku bukannya terlalu percaya diri, tapi karena Hyuga orang yang mudah dibaca perasaannya, maka aku tahu dengan pasti orang itu adalah aku.
Aku mendadak gelisah, lalu menarik nafas dalam-dalam lagi dan menghirupkannya dengan mata terpejam.
“Heh, cabe rawit. Ngapain sendirian disini? Kamu gak berbaur sama yang lain?” Sial. Orang yang tak ingin ku lihat pun datang menghampiriku serta duduk disampingku.
“Males ah, lagi pengen sendiri.” Jawabku sambil terus menatap pohon apel yang tepat didepanku.
“Oh...” Hyuga hanya termanggut-manggut sambil mesem-mesem lalu duduk disampingku.
Aku pun melirik dan bertanya padanya, “Kenapa sih senyum-senyum terus dari tadi? Kaya lagi kasmaran aja.”
“Hm? Haha. Ngga kok, kata siapa?!” Balas Hyuga sambil terus tersenyum. Aku memicingkan mataku melirik wajahnya yang cukup bikin aku kesal. Ck! “(Dih, kok mukanya bikin enek aja sih, sok manis banget.)” Gumamku seraya menyunggingkan sebelah bibirku.
“Temenku bilang kamu lagi suka sama seseorang? Kok gak cerita sih?”Lanjutku dengan nada sedikit menggoda.
“Temen? Siapa yang bilang gitu?” Tanya Hyuga menatapku.
“...Kata Marin. Kamu pasti tahu kan anggota klub tenis kelas 2-D yang suka sms-an sama kamu loh masa lupa?!”
“Oh...iya aku tahu, itu...enggak, enggak ada.” Sahutnya tersenyum samar.
“Alah...suka pura-pura gitu, jujur aja sih kan kamu juga biasa curhat sama aku, siapa orangnya? Kali aja aku kenal nanti aku comblangin deh, wkwk.” Ucapku terkekeh. Hyuga hanya terdiam tanpa menggubris perkataan ku.
“Oi! Kok diem sih.” Goda ku sembari menepuk pundaknya. “Siapa? Siapa? Hm?” Pergokku sembari menatap wajahnya Hyuga yang kemudian memerah. Aku pun terus memojokkannya hingga wajahnya benar-benar memerah, ia hanya memicingkan kedua matanya kepadaku lalu dengan ekspresi cuek dan datarnya ia pun bilang, “If I like you? What will you do?
Deg! Aku pun tertegun, tawa di wajahku pudar, tatapanku mendadak kosong sambil beralih menatap pohon apel besar tepat didepanku. Tubuhku mematung seperti sesaat aku terkena semacam sihir.
Glup!
Lidah ku terasa kaku, bahkan nyaris tak bisa berkata-kata, sehingga tanpa pikir panjang aku pun menjawab dengan luwesnya pertanyaan yang lebih tepatnya ungkapan cinta Hyuga secara spontan saat itu juga.
I think to be friend is better.” Singkat padat dan sangat jelas sekali aku menolak Hyuga mentah-mentah.
Oh I see. OK.” Tanpa berbalik menatapku Hyuga menyahut dengan dingin, kemudian aku pun beranjak dari kursi tamrin yang kududuki bersama Hyuga, melewatinya tanpa meninggalkan sepatah kata pamit pun. Aku tak bisa berpikir secara rasional, rasanya aku ingin membenturkan kepalaku yang sedikit terasa pusing ini ke permukaan yang dingin dan keras.
Aku tahu, pasti hal ini akan terjadi, tapi aku tak tahu akan bertindak seperti itu pada Hyuga, bahkan secara nyata aku…menyakitinya. Lagi―mengalami kasus yang hampir sama seperti sebelumnya, setelah perjalanan cintaku mencapai klimaks, semua berakhir dengan perpisahan kelabu yang tak menyisakan sedikitpun haru, air mata, senyum bahkan tawa.
***

‘Persahabatan bukanlah merupakan cara yang tepat lagi
untuk memulai kisah cinta yang sesungguhnya
karena keputusan bisa mengubah yang indah menjadi gundah’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...