Aku berjalan menuju
loker sepatu sembari mengobrol bersama teman-teman sekelasku karena waktu sudah
menunjukkan pukul 4, di lihat nya diluar sedang turun rintik-rintik hujan meski
tidak deras, lalu aku putuskan untuk menunggu hujan nya reda sambil berdiri
menepi di teras depan pintu sekolah.
“Waduh, hujan ya?!” Keluh
seorang lelaki yang tak asing bagiku yang baru saja keluar, kemudian aku segera
menimpali celotehan cemprengnya yang seperti nenek-nenek.
“Udah tahu nanya lagi.” Ejekku
tanpa melihat wajahnya.
“Ih, kok ada kamu sih cabe
rawit?! Ngapain berdiri disitu? Gak pulang?” Tanyanya.
“Gak liat nih lagi ujan?”
“Kan bisa pake payung kali.”
Katanya dengan nada tinggi.
“Ya orang gak bawa payung.”
Balasku ketus.
Pasti setiap kali aku bertemu
dengan si Ketua OSIS bencong ini ada pertengkaran sengit, entah itu saling ejek
julukan atau sahut-sahutan tak jelas, tapi meski begitu dia yang paling peduli
padaku ketika dikelas. Namun, aku hanya heran kenapa banyak yang suka padanya
hanya karena dia merupakan ketua OSIS, bahkan tak hanya aku yang menjadi teman
dekat perempuannya, itu karena Hyuga sering menceritakan kehidupannya padaku
kalau kami sedang dalam keadaan serius.
Aku juga punya pemikiran yang
sama dengan siswa lain sih, Hyuga itu memang baik, pintar, juga dikenal semua
orang layaknya Toda dan kawan-kawan jika ku samakan. Namun terkadang aku juga
merasa jijik dengan sifat kewanitaannya—lagi. Tapi, sifat kewanitaan yang
kumaksud ini sangat natural berbeda dengan Koukei yang sebenarnya hanya kesan
pertama sih aku berasumsi begitu.
Kalau tersenyum pasti dia
menutup mulutnya seperti yang para perempuan lakukan dengan tujuan agar
terlihat ‘imut’. Oh Tuhan, sungguh aku tidak ingin berteman lagi dengannya jika
memang seperti itu. Kedua, dia itu sainganku dikelas dan pandai sekali
Matematika, wajahnya itu sangat mencolok ketika berada ditengah keramaian,
dan... Satu hal lagi yang membuatku mudah menyadari keberadaannya, yaitu bau
parfumnya yang menyengat hingga ku bisa mencium bau khasnya dari jarak 50cm.
Aku sempat nyaris mabuk terhuyung-huyung.
Sungguh membuatku ingin muntah.
Akhirnya tak lama setelah itu,
hujan pun berhenti. Aku melirik gumpalan awan yang masih nampak gelap, lalu
segera memutuskan untuk cepat pulang dan sampai rumah.
“Heh, cabe rawit. Pulang naik
apa kamu?” Tanya Hyuga yang berjalan disampingku.
“Kepo. Naik kereta lah.” Kataku
setengah ketus.
“Rumahmu di Chuo-ku barat daya
kan, kebetulan aku pulang lewat situ.”
“Oh
gitu...” Balasku datar.
Jleb! “(Buset dah
gitu doang. Yaelah nih cewek gak peka amat ya?!)” Gerutu Hyuga.
“Yaudah,
aku anterin yuk?! Dari pada kamu naik kereta, kan malah muter-muter.”
“Cie,
jadi kamu tuh mau modus, hahaha. Ngomong aja napa gak usah sok-sok an ngode,
huuu!” Ejekku sembari mentempeleng kepalanya.
“Aduh!
Sakit tahu. Yaelah, siapa juga yang modus kali. Yaudah tunggu ya aku ambil sepedaku dulu di parkiran.”
Katanya yang kemudian berlari ke parkiran dan bergegas mengambil sepeda Hybrid merah miliknya lalu menghampiriku yang belum menunggu begitu lama.
“Nyok!”Sahut
Hyuga seraya menyuruhku naik dibelakangnya.
“Gak
usah deh, nanti kita ditangkap loh kalau ketahuan boncengan.” Sahutku.
“Gak
bakal lah, tenang aja, udah buruan naik.” Jawab Hyuga.
Aku
pun naik ke jok boncengan
sepeda yang tidak terlalu tinggi itu
kemudian tanganku berpegangan
ke kursi jok Hyuga, aku tidak mau berpegangan pada pundaknya ataupun
pinggangnya khawatir bau parfumnya akan menular pada seragamku dan aku tak mau
nantinya ada gosip yang aneh-aneh. Ditengah perjalanan kami pun bercanda satu
sama lain, bahkan saling melempar kata-kata kasar, tapi Hyuga tak pernah merasa
tersinggung dengan ucapanku. Meski aku mengata-ngatai dirinya bencong dia hanya
membalas dengan ejekan ‘cabe rawit’ padaku, termasuk ketika aku menceritakan
tentang Koukei padanya ia pun selalu menanggapi semua keluh kesahku.
Tiba-tiba
sosok Koukei terbesit di benakku lagi. Kenapa disaat seperti ini pun aku sempat
bisa memikirkan Koukei. Imajinasiku pun mulai bergejolak, semua kepalaku
dipenuhi wajah dan senyuman Koukei, semua kata-kata Koukei terngiang di seluruh
permukaan otakku, hingga aku membayangkan bahwa Koukei lah yang memboncengiku
dan mengantarku pulang saat ini.
Segera
ku sadarkan diriku yang tengah melamun itu lalu aku mengucapkan terima kasih
pada Hyuga yang sudah mengantarku tepat didepan rumahku.
Betapa busuknya diriku saat itu,
ketika bersama Hyuga aku menceritakan tentang Koukei padanya, namun ketika aku
bersama Koukei aku pun menceritakan tentang Hyuga padanya. Aku berpikir betapa
munafik dan serakahnya diriku terhadap kedua insan tersebut.
Pagi ini aku bangun kesiangan
hingga nyaris telat ke sekolah, tapi beruntungnya aku masih tepat waktu.
Sesampainya di kelas nafasku tersengal-sengal saking lelah nya ku berlari
mengejar waktu dari stasiun ke SMA Ehime. Pelajaran pertama yaitu Matematika,
satu-satunya mata pelajaran yang paling ku benci sampai akhir hayat, ditambah
gurunya yang super menyebalkan yang bahkan menuntut siswa nya untuk menghafal
semua rumus yang diberikan.
Namun, beruntungnya hari ini ia
meminta anak-anak untuk kerja kelompok dan secara kebetulan pula aku satu
kelompok dengan Hyuga. Aku pun menarik nafas lega karena Hyuga pandai jadi aku
tak perlu menyusahkan diri untuk mengerjakan soal sendirian.
“Hadeh, cabe rawit lagi cabe
rawit lagi, capek deh.” Katanya seraya memutarkan bola matanya centil.
“Berisik. Udah buruan nih
kerjain, aku males apalagi sama gurunya.” Gerutuku sambil melipat kedua
tanganku.
“Enak aja, ini kan kelompok masa
kamu gak ngerjain sih, dasar manja.” Balasnya.
“Psst! Hey kalian kenapa sih
berisik terus? Kaya pengantin baru aja deh.” Celetuk salah satu teman
sekelompokku—Rina.
“What? Ow em ji!.”Plak!
Kataku syok. “Sama ketua OSIS cabe-cabean gini? Ya Lord.” Lanjutku seraya menepuk jidat.
“Ihhh, gemesin banget tuh
mulutmu ya, lama-lama juga kamu suka sama aku, loh.” Balasnya dengan ekspresi
kesalnya padaku. “Eh gila, pede banget.” Ucapku seraya menyunggingkan sebelah
bibirku.Lalu semua kelompokku pun tertawa geli melihat tingkahku dan si Ketua OSIS rempong itu.
Jam istirahat pun tiba, setelah
2 mata pelajaran terlalui hingga membuatku dehidrasi maka aku pun pergi ke
kantin sendirian karena tak ada yang satu selera denganku di kelas. Tapi
ditengah perjalanan aku bertemu dengan Misaki sekaligus Yui, akhirnya aku bisa
bergosip dengan mereka berdua, setelah sekian lama aku berpisah akhirnya
dipertemukan kembali.
Ketika aku akan menghampiri
mereka yang sedang mengantri di kantin, mereka pun segera menyadari keberadaanku
dan langsung menyeretku ke dekat meja hingga membuat tubuhku kewalahan.
Aku pun langsung bertanya, “Ada
apa sih kalian ini? Lagi stalker-in
senior ya? Haha.”
“Ya, tadi aku emang sempet ketemu
Kak Koukei,” Sahut Yui.
“Hah? Masa sih? Mana? Mana?”
Tanyaku antusias sambil mencari Koukei.
“Sekarang dia sudah masuk kelas
lah, kamu sih telat.” Lanjut Yui. Wajahku pun langsung melayu dan cemberut.
“Suzu, yang terpenting sekarang
bukan itu. Tapi gosipmu.” Bisik Misaki.
Aku pun tercengang sambil
mengerutkan dahiku, “Apa? Gosip? Ck! Gosip apalagi sih?! Gak usah bikin geger
deh.” Jawabku setengah tak peduli.
“Aduh serius.” Seru Misaki
setengah kesal.
“Ya
udah emang gosip apaan sih?” Tanyaku dengan malas.
“Kamu akhir-akhir ini sering pulang bareng kan
sama si Ketua OSIS, Hyuga? Kita juga sering lihat kok. ” Timpal Yui yang
kemudian duduk dikursi kosong yang terdapat dihadapan kami.
“Iya, emang. Terus kenapa? Aku
cuma kebetulan aja satu arah sama dia, toh dia juga kok yang ngajak pulang
bareng duluan. Aku sih fine-fine aja,
lumayan kan uangnya bisa ditabung, haha.” Paparku.
“Terus Kak Koukei tahu kamu lagi
deket sama Hyuga?” Tanya Misaki yang ikut duduk pula.
“Ya tahu lah, aku kan juga
cerita sama dia soal Hyuga.”Jawabku
santai.
Zonk! “Kebangetan nih anak. Kamu tuh ya, suka nya sama siapa sih
sebenernya? Koukei atau Hyuga nih? Yang konsisten dong. Kamu tahu gak kamu
bahkan udah di gosipin pacaran sama Hyuga.” Celoteh Misaki berkacak.
Deg! Syut! Duar!
Aku
pun menggebrak meja bundar itu dan berteriak, “HAH? WHAT? Noooo.” Semua siswa disekitar menatapku. “Masa sih? Yang
bener? Siapa yang tega ngegosipin aku kaya gitu?” Lanjutku setengah berbisik dengan
wajah yang masih syok.
“Aku
kasih tahu ya, Suzu.” Kata Yui merangkul leherku. “Secara kamu sering pulang
bareng Hyuga, satu kelas lagi, plus,
Hyuga itu ketua OSIS disini, gak ada yang gak kenal sama dia. So, gimana gosip gak menyebar dengan
cepat?!” Lanjut Yui, sementara mukaku masih terlihat nanar.
“Kenapa
aku terkena gosip terus sih, hm...Norak deh.” Rengekku.
“Sabar
ya, Suzu, semoga gak ada yang ngelabrak kamu deh nanti sore ya. Lagian kamu
PDKT sama artis terus sih.” Ejek Misaki yang kemudian mengusap kepalaku.
“Ngelabrak?
Artis? Huh! Kamu gila ya. Aku kan gak pacaran sama dia sama sekali, enggak, enggak,
enggak! kita cuma
temen sekelas.” Tegasku.
“Tapi
kayak nya Hyuga suka sama kamu deh. Soalnya dia rela tiap hari antar jemput
kamu, itu udah kentara banget kan?!” Lanjut Misaki yang terus memanas-manasiku.
Twing! Mendadak aku pun teringat akan teman SMP ku yang
juga satu SMA denganku, ia merupakan mantan kekasih Hyuga dulu bahkan aku pun
ikut nimbrung gosip tentangnya. Kemudian, Yui menggoyang-goyangkan tubuhku yang
sedang dalam halusinasiku.
Brrr...aku bergidik merinding. “No. Please. Jangan
membuat sindrom ke-ilfeel-an ku
kumat, OK. Aku cukup tahu, terima kasih infonya teman-teman.” Sambungku yang
masih nampak lemas.
“Oh
iya! Aku sempet dapet info dari Marin teman sekelas kita waktu kelas 1, katanya
Hyuga juga lagi naksir cewek sih.” Timpal Yui.
“Tunggu, bukan nya si Marin yang naksir sama
Hyuga, ya. Parah banget Hyuga bilang gitu sama gadis yang lagi suka sama dia,
mau bunuh diri ya dia?!” Sambungku.
Kedua
temanku itu pun hanya saling menatap tanpa menggubris kata-kataku. Ya, benar.
Hyuga memang menyukaiku, bahkan sebenarnya aku sudah menyadarinya lebih dulu
hanya saja aku tak ingin kena marah siapa pun karena hampir semua perempuan
dekat dengan Hyuga, maka aku berusaha bersikap normal sebab aku pun tak
memiliki rasa apapun kepadanya.
Aku
hanya mencegah Hyuga menyatakan perasaannya padaku dengan sikapku yang kasar
dan cuek. Aku tak mau terkena gosip murahan lagi dan tersandung dalam keputus
asaan masa lalu, namun keadaan sebenarnya berbeda dengan apa yang ada
dipikiranku. Juga, aku kenal dengan perempuan yang bernama Marin itu, aku jadi
merasa tidak enak ketika tahu dia menyukai Hyuga sementara aku sering pulang
bersama dengan Hyuga.
Selain
itu, aku berpikir mengenai Koukei, apa pendapatnya jika Koukei tahu soal gosip
ini?! Aku masih sangat labil dalam menentukan pilihanku, tapi beruntung tak ada
seorang pun yang datang dan melabrakku atas gosip tersebut. “(Akhirnya aku
selamat).” Gumamku,
aku pun tidak menerima pesan tudingan atau apapun dari Koukei, yah sedekat
apapun aku dengan Koukei, dia takkan pernah mau menghiraukan hal yang tak penting
untuknya, gosip semacam itu adalah hal yang lumrah baginya, tapi celaka
untukku.
Kali
ini, aku membiarkan gosipku bertebaran demi menjaga hubungan pertemananku
dengan Hyuga karena aku tipikal orang yang mudah ilfeel maka aku bersikeras untuk tak menjauhi Hyuga meski gosip ini
terasa tak nyaman untukku.
“Hai,
Suzune! Kamu tumben gak pulang bareng Hyuga?!” Aku terkejut saat menoleh
kesebelahku yang terdapat Marin dan juga Misaki yang entah sejak kapan
membuntutiku. Aku pun jadi canggung saat bertemu Marin yang memang sikap nya
terlihat normal padaku, namun tetap saja ada yang mengganjal.
“Enggak,
lagi pengen naik kereta aja.” Ucapku dengan nada hambar.
“Kamu
lagi musuhan sama dia?” Tanya Marin blak-blakan. “(Buset dah, kok bisa-bisanya
sih dia nanya ceplas-ceplos gitu soal Hyuga sama aku?)” Gumamku terheran-heran.
“Biasa
aja gak kenapa-kenapa, lagi males aja. Udah deh ngapain sih ngebahas dia, gak
ada topik lain apa.” Kataku dengan nada sedikit meninggi.
Sebenarnya
aku merasa khawatir kalau Marin akan memarahiku atau membenciku atau melakukan
tindakan semacam itu, aku juga tidak mau membuatnya salah paham atas gosipku
dan Hyuga yang sedang bertebaran, maka aku putuskan untuk pulang cepat agar
Hyuga tak mengantarku pulang, karena sepertinya ia sangat terlihat baik-baik
saja dengan gosip tersebut. Namun disamping itu aku bukan nya mau terlibat
menjadi macomblang untuk Marin yang naksir Hyuga, justru aku hanya ingin
menjaga hubungan pertemananku dengan Marin.
***
Hari
ini tepat seminggu sebelum acara festival budaya, kelasku mengadakan geladi
bersih untuk pementasan drama. Sebenarnya aku agak malas-malasan sih karena ini
musim panas juga, tapi aku harus bertanggung jawab karena drama itu merupakan
ideku.
Drrt...drrt... satu pesan baru
muncul dilayar ponsel jadulku.
Dari : Hyuga
Pesan : Aku udah nunggu didepan rumah tetanggamu
ya. Habisnya aku malu kalo depan rumahmu, hehe.
Glup! ‘Rumah
tetangga?! What the?!’
Aku
menelan ludah bukan berarti aku terkejut, aku merasa heran saja dengan rumahku
ini yang kemungkinan terdapat aura neraka diluarnya hingga sudah kedua kalinya
teman lelaki ku tak ada yang berani memasuki rumahku dengan alasan ‘malu’. Memang sih rumahku didesain
dengan gaya kuno dimana masih terdapat ukiran kaligrafi sajak di dindingnya yang
bisa membuat bulu kuduk merinding saat mengetahui maknanya. Maka, kali ini pun
aku memaklumi Hyuga meski sebenarnya aku tak enak pada Ibu kalau aku dikira
pergi diam-diam dengan seorang lelaki yang tak diketahuinya sama sekali.
Saat
aku menghampiri nya yang tengah duduk di tempat duduk belakang tempat biasa aku dibonceng, Hyuga mengenakan
kemeja kotak-kotak biru muda dan kaos putih serta jeans pendek selutut dan sepatu sneakers
hitam tepat depan rumah tetanggaku, Hyuga tersenyum sumringah padaku yang masih
beberapa meter jauh dari letaknya berada. Aku hanya menaikkan sebelah alisku
sambil berkata, “Kenapa kamu senyum-senyum? Gila ya?”. Paras wajah Hyuga pun
spontan berubah menjadi datar.
“Aku
tinggal nih ya?!” Ancamnya bercanda.
“Iya
iya tunggu sebentar lah aku kan lagi jalan. Bawel banget sih. Dasar emak-emak.”
Ucapku seraya naik ke
sepedanya Hyuga.
“Udah
ah lagi males rIbut nih, udah kepanasan tahu. Tega banget menelantarkan temanmu
gitu aja.” Keluhnya sembari mulai
mengayuh sepedanya.
“Ya
itu sih salahmu, aku kan gak nyuruh kamu nunggu disini. Dasar payah.” Timpalku yang tak mendapat sanggahan dari Hyuga.
Aku
terus memutar balikan otakku memastikan bahwa aku tak boleh membenci Hyuga, dia
sama sekali tak bersalah untuk menyukaiku, tapi dia adalah orang yang berhasil
menyeretku ke dunia gosip yang terkesan norak dan lagi-lagi menjatuhkan image-ku. Aku pun tak ingin merusak mood ku dan menghancurkan acara Bunkasai tahun ini. Namun, demi apapun perasaanku
sudah tak karuan, rasanya ingin melarikan diri, bahkan tak mau menatap wajah
Hyuga yang mencoba terus melebarkan senyumnya padaku.
“(Tuhan,
aku ini kenapa sih?! Kenapa perasaanku jadi gak enak begini?!)” Gumamku dalam hati sembari menarik nafas
dalam-dalam.
Saat
kami semua sedang istirahat, aku pun merenung memisahkan diri duduk di kursi
taman sambil menyeruput orange jus
segar dari vending mesin.
Berkali-kali ku gelengkan kepalaku sambil bergidik merinding membayangkan
sesuatu yang tak sewajarnya dibayangkan gadis SMA seperti ku, maksudku, aku
hanya sedang memikirkan kata-kata Misaki dan Yui tentang Hyuga yang sedang
menyukai seseorang, aku bukannya terlalu percaya diri, tapi karena Hyuga orang
yang mudah dibaca
perasaannya, maka aku tahu dengan pasti orang itu adalah aku.
Aku
mendadak gelisah, lalu menarik nafas dalam-dalam lagi dan menghirupkannya
dengan mata terpejam.
“Heh,
cabe rawit. Ngapain sendirian disini? Kamu gak berbaur sama yang lain?” Sial.
Orang yang tak ingin ku lihat pun datang menghampiriku serta duduk disampingku.
“Males
ah, lagi pengen sendiri.” Jawabku sambil terus menatap pohon apel yang tepat
didepanku.
“Oh...”
Hyuga hanya termanggut-manggut sambil mesem-mesem lalu duduk disampingku.
Aku
pun melirik dan bertanya padanya, “Kenapa sih senyum-senyum terus dari tadi?
Kaya lagi kasmaran aja.”
“Hm?
Haha. Ngga kok, kata siapa?!” Balas Hyuga sambil terus tersenyum. Aku
memicingkan mataku melirik wajahnya yang cukup bikin aku kesal. Ck! “(Dih, kok
mukanya bikin enek aja sih, sok manis banget.)” Gumamku seraya menyunggingkan
sebelah bibirku.
“Temenku
bilang kamu lagi suka sama seseorang? Kok gak cerita sih?”Lanjutku dengan nada sedikit menggoda.
“Temen?
Siapa yang bilang gitu?” Tanya Hyuga menatapku.
“...Kata
Marin. Kamu pasti tahu kan anggota klub tenis kelas 2-D yang suka sms-an sama kamu loh masa lupa?!”
“Oh...iya aku tahu, itu...enggak, enggak
ada.” Sahutnya tersenyum samar.
“Alah...suka
pura-pura gitu, jujur aja sih kan kamu juga biasa curhat sama aku, siapa
orangnya? Kali aja aku kenal nanti aku comblangin deh, wkwk.” Ucapku terkekeh.
Hyuga hanya terdiam tanpa menggubris perkataan ku.
“Oi!
Kok diem sih.” Goda ku sembari menepuk pundaknya. “Siapa? Siapa? Hm?” Pergokku
sembari menatap wajahnya Hyuga yang kemudian memerah. Aku pun terus memojokkannya hingga
wajahnya benar-benar memerah, ia hanya memicingkan kedua matanya kepadaku lalu dengan ekspresi cuek dan datarnya ia pun bilang,
“If I like you? What will you do?”
Deg! Aku pun tertegun,
tawa di wajahku pudar, tatapanku mendadak kosong sambil beralih menatap pohon apel besar tepat didepanku.
Tubuhku mematung seperti sesaat aku terkena semacam sihir.
Glup!
Lidah ku terasa kaku, bahkan
nyaris tak bisa berkata-kata, sehingga tanpa pikir panjang aku pun menjawab dengan luwesnya pertanyaan yang lebih tepatnya ungkapan
cinta Hyuga secara spontan saat itu juga.
“I think to be friend is better.” Singkat padat dan sangat jelas
sekali aku menolak Hyuga mentah-mentah.
“Oh I see. OK.” Tanpa berbalik menatapku Hyuga menyahut dengan
dingin, kemudian aku pun beranjak dari kursi tamrin yang kududuki bersama
Hyuga, melewatinya tanpa meninggalkan sepatah kata pamit pun. Aku tak bisa
berpikir secara rasional, rasanya aku ingin membenturkan kepalaku yang sedikit
terasa pusing ini ke permukaan yang dingin dan keras.
Aku tahu, pasti hal ini akan
terjadi, tapi aku tak tahu akan bertindak seperti itu pada Hyuga, bahkan secara
nyata aku…menyakitinya. Lagi―mengalami kasus yang hampir sama seperti
sebelumnya, setelah perjalanan cintaku mencapai klimaks, semua berakhir dengan
perpisahan kelabu yang tak
menyisakan sedikitpun haru, air mata, senyum bahkan tawa.
***
‘Persahabatan bukanlah merupakan cara yang
tepat lagi
untuk memulai kisah cinta yang
sesungguhnya
karena
keputusan bisa mengubah yang indah menjadi gundah’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar