Kamis, 18 April 2019

Diary 17th_Special Love Trip : I’m Sure It’s First Date


Aku, Karina, Yuka, Misaki dan senior lainnya sedang melakukan simulasi esay seperti biasa, lebih tepatnya ini hanya latihan biasa sih, dikarenakan ada penambahan anggota baru dari kelas satu maka statusku pun menjadi seorang senior sekaligus tutor mereka. Kami berempat dilengkapi dengan senior andalan kami tengah beradu talenta sebagai ajang percontohan kepada anggota baru. Kali ini aku membuat karangan puisi yang ku gubah dari salah satu novel romantisme karya Moori Ogai, aku memilih karya sastra modern karna lebih mudah untuk di analisis dibanding karya sastra klasik.
                Meski begitu, tetap saja hasil analisisku tak pernah melampaui kehebatan kemampuan analisis seniorku hingga tak terasa hari pun mulai menjelang senja karena saking asiknya kami merombak karya sastra untuk diadu argumenkan, ditambah Ibuku sudah berkali-kali menelepon untuk menyuruhku pulang karena hari ini merupakan hari khusus pengembangan diri disekolah, jadi semua siswa bisa pulang cepat.
                Semua siswa kelas 1 berbondong-bondong pulang mendahului kami, hingga hanya tersisa Aku, Karina, Yuka, Misaki, Toda, Kenda, Yamato dan Koukei. Aku melirik jam silver kecil ditangan kiriku seraya memegang ponsel di tangan kananku sebab Ibuku terus mengirimiku pesan khawatir.
                “Suzu, kamu pulang naik apa?” Tanya Koukei yang berdiri disampingku yang masih membereskan kertas yang berserakan dimejaku.
                “Naik kereta, Kak.” Jawabku.
                “Aku anterin, yuk?!” Katanya sembari memakai jaket tebal merah maroon nya.
                Deg! Deg! Deg! Aku pun mendadak melamun sejenak dan bergumam, “(Serius nih Kak Koukei mau anterin aku? Pasti mimpi nih).” Plak! Aku mengeleng kepalaku keras.
                “Ada apa?” Tanyanya kembali.
                “E-eh? Kakak serius mau anterin aku pulang? Rumahku jauh, loh, hehe.” Ucapku menyeringai. 
“Masa sih?! Gak apa-apa lagian masih siang ini kan sekalian jalan-jalan. Udah beres-beresnya? Yuk jalan.” Sahutnya kembali yang kemudian jalan mendahului ku bahkan aku pun belum sempat memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, dengan sengajanya aku menurut begitu saja.
Aku ingin sekali melebarkan senyumku dan menampakkan gigi-gigiku lebar, karena sejujurnya organku yang disebut jantung yang cukup kecil ini terus menghentakan irama tanpa musik namun menggelitik tanpa henti, namun aku berusaha membuat hentakkan itu tak bisa didengar Koukei serta menyembunyikannya dibalik bayangan Koukei yang selalu berjalan di depanku dan berusaha untuk bertindak se-normal mungkin didekatnya.
                “Suzu, mau pulang bareng aku kan? Yuk, aku mau streaming konser SHINee nih sejam lagi.” Kata Misaki yang sedari tadi menungguku di pintu klub dengan ekspresinya yang tergesa-gesa.
                Grep! Aku pun meremas kedua lengan Misaki sambil menggigit bibir bawahku gemas.
                “Maafin aku, Misaki. Lain kali aja ya, aku mau pulang sama Kak Koukei.” Bisikku pelan.
                “HAH?” Misaki membuka mulutnya lebar, aku pun segera membekapnya.“Yang bener? Oh Tuhan, akhirnya, kok bisa sih?” Lanjut Misaki berbisik.
                “Udah nanti aja deh aku ceritain ya, bye.” Balasku.
                “Misaki, kami duluan, ya.” Sahut Koukei. Hatiku pun semakin panas membara seakan sebuah anak panah semakin menancap tajam didadaku ditambah Koukei mewakili keberadaanku dengan kata ‘kami’ seolah menjadi peruntukkan khusus aku dan Koukei.
                Misaki pun melebarkan senyum sumringahnya sambil berkata, “ Iya kak, hati-hati ya, aku titip Suzu loh ya.” Koukei hanya mengacungkan jempol lentiknya sambil tersipu malu.      
                Aku dan Koukei bergegas menuju parkiran sepeda yang jaraknya cukup jauh dari ruangan klub kami. Kini sekitar gedung sekolah sudah lumayan sepi karena banyak siswa yang sudah mengakhiri latihan dan jam pelajarannya. Ditengah perjalanan menuju parkiran kami berdua hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, juga aku tak berani maju dan berjalan sejajar dengan Koukei, rasanya sebelah kakiku terasa lumpuh dan sulit digerakkan.
                Kemudian Koukei mengeluarkan sepeda ontel hitam khas sekolah miliknya, memutarkannya hingga posisi kursi boncengan sejajar dengan tempat dimana ku sedang berdiri menantinya. Gemetar tubuhku belum juga hilang, semenjak aku berjalan dari ruang klub, aku terus meniupkan kedua Ibu jariku bergantian layaknya apa yang telah Koukei ajarkan padaku mengenai cara menghilangkan rasa nervous, namun sialnya masih tak berhasil juga.
                Dan, aku pun dengan sok pede nya naik ke boncengan tersebut. Lalu aku pun teringat sesuatu dan berkata, “Kak, aku takut ada pak polisi loh, nanti kita ditangkap lagi.” Lalu Koukei pun menjawab dengan tenangnya, “Enggak, tenang aja, serahkan semuanya padaku.” , lanjutnya sembari sedikit menengokkan kepalanya kepadaku. Rasa panikku pun mendadak hilang dan bisa bernafas lega jika Koukei bisa menjamin seperti itu, aku pun mesem dibelakangnya sambil memuja dalam hati (Oh my sweet hero).
                Koukei pun mengayuh sepedanya dengan santai, tapi bukan berarti karena bobotku yang berat ya, justru aku sangat amat ringan kata Ibuku yang suka sekali mengejek anaknya. Beruntung cuaca hari ini cerah dan sepertinya memang tidak akan turun hujan, ketika kami melewati gerbang sekolah yang terdapat beberapa siswa juga terdapat Misaki dan Karina yang akan menuju rumah masing-masing membuat tubuhku kembali memanas sekaligus gemetar. Khawatir ini akan menjadi gosip yang kesekian kalinya dalam benakku. Tapi sungguh aku tidak merasa keberatan sama sekali jika di gosipkan dengan Koukei, dan aku pun tersipu malu karena halusinasiku sendiri.
                Saat kami melewati Karina dan Misaki, mereka pun langsung menyoraki kami, sontak membuatku malu setengah mati, aku yakin wajahku memerah saat itu juga. “Jangan dihiraukan.” Ucap Koukei. Aku pun mengangguk seraya bilang, “OK.” Sementara Koukei hanya mengayuh dengan santai tanpa menghiraukan orang yang menyorakinya yang sedang memboncengi seorang perempuan. Karena setahuku, Koukei belum pernah memboncengi perempuan sekali pun selain Yuri sahabat perempuan satu-satunya. Aku tak henti untuk terus melebarkan senyumku sambil sesekali memejamkan mataku serta mengucap rasa syukurku dalam hati atas apa yang ku alami hari ini adalah keajaiban.
                Gusrak! Koukei tak sengaja menginjakkan sepedanya ke bebatuan yang sempat menghilangkan fokusnya hingga membuat tubuhku sedikit tergoncang, lalu pipi kananku tak sengaja menempel pada pundak tegapnya sehingga posisiku hampir benar-benar memeluk tubuhnya, namun aku hanya meremas jaket merah milik Koukei. Hangat juga lembut, aku melirik melihat rambut Koukei melambai tanpa tersisa sehelai poni pun menutupi keningnya, nampak tegas dan berwibawa, aku benar-benar mencium aura kedewasaannya, semua pesona itu membuatku sadar bahwa aku benar-benar mengagumi Koukei namun masih ada sedikit rasa rendah diri yang kurasakan.
                “Suzu, kita makan es krim, yuk!” Seru Koukei yang menyadarkan lamunanku.
                Lalu dengan frontal aku pun merespon dengan candaan seenaknya, “Wah...boleh boleh. Tapi Kakak yang traktir ya?! Haha.”
                “Sip...tenang aja aku yang traktir.” Jawabnya santai. Hatiku pun langsung terenyak mendengar jawaban Koukei yang serius menanggapi candaanku.
                “E-eh? Enggak, aku bercanda kok, Kak.”
                “Iya beneran, aku yang traktir, kebetulan ada uang lebih nih, nyantai aja.”
Hyung~!
Lagi-lagi jawabannya membuatku semakin meleleh hingga mencair bersama aliran darahku yang mengalir di kecepatan 120 km/jam. Aku menelan ludah kesekian kali, tak salah lagi aku dibuat mabuk asmara olehnya.
Aku menaikkan kedua alisku menyadari Koukei yang mendadak berhenti tepat di depan sebuah kedai yang bertuliskan ‘Claret’ di reklamenya, lalu kami pun turun dan Koukei memarkirkan sepedanya di tempat yang telah disediakan. Spontan terlintas dipikiranku ‘apa dia mau mengajakku nge-date disini? Hah? Serius nih? Buset dah aku kan belum pernah jajan di kedai-kedai gini, aduh gimana nih, semoga gak ketahuan katronya deh.’ , gumamku setengah panik seraya memegang erat tas hitamku yang hinggap di pundakku.
Koukei pun memasuki kedai tersebut dengan luwesnya, sementara aku seperti sudah tak sadarkan diri dan terus berusaha menahan betapa gemetarnya tubuhku sambil berpikir kira-kira menu apa yang ingin ku pesan nanti. Lalu kami pun duduk di kursi tepat dekat dengan jendela, Koukei memilih bangku yang hanya khusus untuk berdua dan saling berhadapan, aku pun duduk berhadapan dengan Koukei dan berusaha terlihat terbiasa layaknya perempuan yang sudah berpengalaman akan hal ini.
Kemudian salah seorang pelayan memakai kostum maid menghampiri kami dan menyodorkan menu pada kami berdua, aku pun membelalakan mataku dengan ekspresi yang pura-pura percaya diri dan membaca setiap menu yang mana satu menu pun belum pernah ku coba sama sekali. Lalu Koukei pun memesan 1 menu yang dipilihnya.
“Aku pesan 1 roti sandwich ice cream dan orange juice.” Katanya pada pelayan itu.“Kamu mau apa, Suzu?” Lanjut Koukei sambil menatapku yang masih memegang daftar menu.
Karena tak ingin mempermalukan diri sendiri aku pun menjawab “Um...sama aja deh, tadi kan kita janjian makan es krim, hehe.” lanjutku sambil  menyerahkan menu kepada pelayan tersebut.
“Minumnya gak sekalian?” Tanyak Koukei lagi.
Aku yang masih kebingungan pun akhirnya memilih menu yang sama persis dengan yang dipesan Koukei. “Orange juice kayanya enak ya lagi panas gini.” Jawabku.
Di tengah-tengah suasana menunggu makanan kami datang, pikiranku terus berkecamuk, “(aduh semoga gak malu-maluin deh ya.)” Gumamku sambil terus memandang keluar jendela.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya makanan kami pun datang. Terdapat dua piring roti sandwich ice cream juga dua gelas orang juice di atas meja kami, lalu dengan segera Koukei melahap roti sandwich tersebut dengan elegannya, sementara aku tengah sibuk memainkan ponsel yang padahal tak ada pesan masuk dari siapapun. Aku tidak berani menyentuh makanan tersebut karena penampilannya yang menggugah selera di cuaca panas menjelang musim dingin ini.
Menyadari itu, Koukei pun bertanya padaku, “Kok gak di makan?”
“A-ah, iya sebentar aku lagi bales sms si Misaki dulu nih, biasa acara one night camp, hehe.” Jawabku menyeringai. Koukei pun hanya tersenyum sambil mengangguk dan melanjutkan suapan berikutnya.
Aku menelisik setiap gerakan Koukei, dimulai dari cara ia memegang serta meletakkan pisau dan garpu di posisi yang kurasa benar, selain itu melirik tipis ke arah mulut Koukei yang akan melahap suapan es krim berikutnya. Lalu, aku pun bergumam sendiri, “(Oh...Jadi begitu ya cara pegang pisau dan garpunya, terus udah gitu makannya pake tangan kiri. OK OK aku ngerti sekarang)”. Sumpah demi apapun aku belum pernah makan di kedai dengan cara makan ala orang Eropa ditambah makan didepan seorang lelaki yang lebih tua dariku meski hanya berselisih satu tahun, intinya aku belum pernah mengalami yang namanya kencan anak sekolahan.
Aku menarik nafas lega seperti seolah aku terlihat takjub dengan menu yang di pesan barusan, “Wah...Kayak nya sayang ya kalo di makan nanti bentuknya rusak, hehe.” Ucapku untuk memalingkan perhatian Koukei dan mencoba berpura-pura terbiasa dengan cara makan seperti yang Koukei lakukan. Aku pun menirukan gerakannya perlahan-lahan sembari mengajaknya ngobrol untuk mengalihkan perhatiannya.
“Kalian sering ngadain one night camp berapa kali seminggu?” Tanya Koukei yang memulai obrolan.
Aku pun membalas sembari memotong roti sandwich tersebut, “Ya... lumayan lah satu bulan paling enggak dua kali atau tiga kali, Kakak suka ngadain one night camp juga emang?”
“Suka, kamu tahu kan Kenda, Toda, Satoru sama Yagami teman dekatku, kalo lagi kumpul tuh rese nya minta ampun.”
“Oh, hehe...Masa sih?” Sahutku yang mulai kesulitan menusuk potongan roti yang mulai terpisah dari es krimnya dengan ekspresi sedikit menggertakan gusiku gemas. “Tapi seru juga ya kalo nginep bareng-bareng.” Lanjutku sambil akan melahap roti tanpa es krim itu. Sialnya, es krim yang seharusnya kumakan bersamaan dengan roti itu malah meleleh diatas piring dan membuat penampilannya berantakan.
Aku menelan ludah dan membelalakan mataku hingga terdengar Zonk!, mukaku nyaris panik khawatir Koukei melihat ke amatiran ku ini. Lalu aku melihat kearah Koukei lagi untuk mengintip trik mengatasi es krim yang terpisah dari roti tersebut, akhirnya aku bisa mengikutinya dengan baik dan sesampainya dirumah aku pun bisa bernafas lega.
Mungkin aku takkan pernah menyadari dan tahu bagaimana mencintai seseorang dan menghargai keberadaan seseorang yang kuanggap spesial tanpa adanya First date ini, first date yang tak beralasan dan memiliki beberapa misteri yang masih ingin kucari tahu hingga kini.
***

 Kencan pertama lah yang akan menentukan perjalanan cinta selanjutnya,
dimana akan di temuinya dilema, cemburu,
 juga ke tidak rasionalan yang membelenggu emosi’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...