Aku, Karina, Yuka, Misaki dan senior lainnya sedang
melakukan simulasi esay seperti biasa, lebih tepatnya ini hanya latihan biasa
sih, dikarenakan ada penambahan anggota baru dari kelas satu maka statusku pun
menjadi seorang senior sekaligus tutor mereka. Kami berempat dilengkapi dengan
senior andalan kami tengah beradu talenta sebagai ajang percontohan kepada
anggota baru. Kali ini aku membuat karangan puisi yang ku gubah dari salah satu
novel romantisme karya Moori Ogai, aku memilih karya sastra modern karna lebih
mudah untuk di analisis dibanding karya sastra klasik.
Meski
begitu, tetap saja hasil analisisku tak pernah melampaui kehebatan kemampuan
analisis seniorku hingga tak terasa hari pun mulai menjelang senja karena
saking asiknya kami merombak karya sastra untuk diadu argumenkan, ditambah Ibuku
sudah berkali-kali menelepon untuk menyuruhku pulang karena hari ini merupakan
hari khusus pengembangan diri disekolah, jadi semua siswa bisa pulang cepat.
Semua siswa kelas 1
berbondong-bondong pulang mendahului kami, hingga hanya tersisa Aku, Karina,
Yuka, Misaki, Toda, Kenda, Yamato dan Koukei. Aku melirik jam silver kecil
ditangan kiriku seraya memegang ponsel di tangan kananku sebab Ibuku terus
mengirimiku pesan khawatir.
“Suzu, kamu pulang naik apa?”
Tanya Koukei yang berdiri disampingku yang masih membereskan kertas yang
berserakan dimejaku.
“Naik kereta, Kak.” Jawabku.
“Aku anterin, yuk?!” Katanya
sembari memakai jaket tebal merah maroon nya.
Deg! Deg! Deg! Aku pun mendadak melamun sejenak dan bergumam, “(Serius nih Kak Koukei mau anterin aku? Pasti
mimpi nih).” Plak! Aku mengeleng kepalaku keras.
“Ada apa?” Tanyanya kembali.
“E-eh? Kakak serius mau anterin
aku pulang? Rumahku jauh, loh, hehe.” Ucapku menyeringai.
“Masa
sih?! Gak apa-apa lagian masih siang ini kan sekalian jalan-jalan. Udah beres-beresnya?
Yuk jalan.” Sahutnya kembali yang kemudian jalan mendahului ku bahkan aku pun
belum sempat memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, dengan sengajanya aku
menurut begitu saja.
Aku
ingin sekali melebarkan senyumku dan menampakkan gigi-gigiku lebar, karena
sejujurnya organku yang disebut jantung yang cukup kecil ini terus menghentakan
irama tanpa musik namun menggelitik tanpa henti, namun aku berusaha membuat
hentakkan itu tak bisa didengar Koukei serta menyembunyikannya dibalik bayangan
Koukei yang selalu berjalan di depanku dan berusaha untuk bertindak se-normal
mungkin didekatnya.
“Suzu, mau pulang bareng aku
kan? Yuk, aku mau streaming konser
SHINee nih sejam lagi.” Kata Misaki yang sedari tadi menungguku di pintu klub
dengan ekspresinya yang tergesa-gesa.
Grep! Aku pun meremas kedua lengan Misaki sambil menggigit bibir
bawahku gemas.
“Maafin aku, Misaki. Lain kali aja
ya, aku mau pulang sama Kak Koukei.” Bisikku pelan.
“HAH?” Misaki membuka mulutnya
lebar, aku pun segera membekapnya.“Yang bener? Oh Tuhan, akhirnya, kok bisa
sih?” Lanjut Misaki
berbisik.
“Udah nanti aja deh aku ceritain
ya, bye.” Balasku.
“Misaki, kami duluan, ya.” Sahut
Koukei. Hatiku pun semakin panas membara seakan sebuah anak panah semakin
menancap tajam didadaku ditambah Koukei mewakili keberadaanku dengan kata
‘kami’ seolah menjadi peruntukkan khusus aku dan Koukei.
Misaki pun melebarkan senyum
sumringahnya sambil berkata, “ Iya kak, hati-hati ya, aku titip Suzu loh ya.”
Koukei hanya mengacungkan jempol lentiknya sambil tersipu malu.
Aku dan Koukei bergegas menuju
parkiran sepeda yang jaraknya cukup jauh dari ruangan klub kami. Kini sekitar
gedung sekolah sudah lumayan sepi karena banyak siswa yang sudah mengakhiri
latihan dan jam pelajarannya. Ditengah perjalanan menuju parkiran kami berdua
hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, juga aku tak berani maju dan
berjalan sejajar dengan Koukei, rasanya sebelah kakiku terasa lumpuh dan sulit
digerakkan.
Kemudian Koukei mengeluarkan sepeda
ontel hitam khas sekolah miliknya, memutarkannya hingga posisi kursi boncengan
sejajar dengan tempat dimana ku sedang berdiri menantinya. Gemetar tubuhku
belum juga hilang, semenjak aku
berjalan dari ruang klub, aku terus meniupkan kedua Ibu jariku bergantian
layaknya apa yang telah Koukei ajarkan padaku mengenai cara menghilangkan rasa nervous, namun sialnya masih tak
berhasil juga.
Dan, aku pun dengan sok pede nya
naik ke boncengan tersebut. Lalu aku pun teringat sesuatu dan berkata, “Kak,
aku takut ada pak polisi loh, nanti kita ditangkap lagi.” Lalu Koukei pun
menjawab dengan tenangnya, “Enggak, tenang aja, serahkan semuanya padaku.” ,
lanjutnya sembari sedikit menengokkan kepalanya kepadaku. Rasa panikku pun
mendadak hilang dan bisa bernafas lega jika Koukei bisa menjamin seperti itu, aku pun mesem dibelakangnya sambil
memuja dalam hati “(Oh
my sweet hero).”
Koukei pun mengayuh sepedanya
dengan santai, tapi bukan berarti karena bobotku yang berat ya, justru aku
sangat amat ringan kata Ibuku yang suka sekali mengejek anaknya. Beruntung
cuaca hari ini cerah dan sepertinya memang tidak akan turun hujan, ketika kami
melewati gerbang sekolah yang terdapat beberapa siswa juga terdapat Misaki dan
Karina yang akan menuju rumah masing-masing membuat tubuhku kembali memanas
sekaligus gemetar. Khawatir ini akan menjadi gosip yang kesekian kalinya dalam
benakku. Tapi sungguh aku tidak merasa keberatan sama sekali jika di gosipkan
dengan Koukei, dan aku pun tersipu malu karena halusinasiku sendiri.
Saat kami melewati Karina dan
Misaki, mereka pun langsung menyoraki kami, sontak membuatku malu setengah
mati, aku yakin wajahku memerah saat itu juga. “Jangan dihiraukan.” Ucap
Koukei. Aku pun mengangguk seraya bilang, “OK.” Sementara Koukei hanya mengayuh
dengan santai tanpa menghiraukan orang yang menyorakinya yang sedang
memboncengi seorang perempuan. Karena setahuku, Koukei belum pernah memboncengi
perempuan sekali pun selain Yuri sahabat perempuan satu-satunya. Aku tak henti
untuk terus melebarkan senyumku sambil sesekali memejamkan mataku serta
mengucap rasa syukurku dalam hati atas apa yang ku alami hari ini adalah
keajaiban.
Gusrak! Koukei tak
sengaja menginjakkan sepedanya ke bebatuan yang sempat menghilangkan fokusnya
hingga membuat tubuhku sedikit tergoncang, lalu pipi kananku tak sengaja
menempel pada pundak tegapnya sehingga posisiku hampir benar-benar memeluk
tubuhnya, namun aku hanya meremas jaket merah milik Koukei. Hangat juga lembut,
aku melirik melihat rambut Koukei melambai tanpa tersisa sehelai poni pun
menutupi keningnya, nampak tegas dan berwibawa, aku benar-benar mencium aura
kedewasaannya, semua pesona itu membuatku sadar bahwa aku benar-benar mengagumi
Koukei namun masih ada sedikit rasa rendah diri yang kurasakan.
“Suzu, kita makan es krim, yuk!” Seru Koukei yang menyadarkan
lamunanku.
Lalu dengan frontal aku pun
merespon dengan candaan seenaknya, “Wah...boleh boleh. Tapi Kakak yang traktir
ya?! Haha.”
“Sip...tenang aja aku yang
traktir.” Jawabnya santai. Hatiku pun langsung terenyak mendengar jawaban
Koukei yang serius menanggapi candaanku.
“E-eh? Enggak, aku bercanda kok,
Kak.”
“Iya beneran, aku yang traktir,
kebetulan ada uang lebih nih, nyantai aja.”
Hyung~!
Lagi-lagi
jawabannya membuatku semakin meleleh hingga mencair bersama aliran darahku yang
mengalir di kecepatan 120 km/jam. Aku menelan ludah kesekian kali, tak salah
lagi aku dibuat mabuk asmara olehnya.
Aku
menaikkan kedua alisku menyadari Koukei yang mendadak berhenti tepat di depan
sebuah kedai yang bertuliskan ‘Claret’ di reklamenya, lalu kami pun turun dan
Koukei memarkirkan sepedanya di tempat yang telah disediakan. Spontan terlintas
dipikiranku ‘apa dia mau mengajakku
nge-date disini? Hah? Serius nih? Buset dah aku kan belum pernah jajan di
kedai-kedai gini, aduh gimana nih, semoga gak ketahuan katronya deh.’ , gumamku setengah panik seraya memegang erat tas
hitamku yang hinggap di pundakku.
Koukei
pun memasuki kedai tersebut dengan luwesnya, sementara aku seperti sudah tak
sadarkan diri dan terus berusaha menahan betapa gemetarnya tubuhku sambil
berpikir kira-kira menu apa yang ingin ku pesan nanti. Lalu kami pun duduk di
kursi tepat dekat dengan jendela, Koukei memilih bangku yang hanya khusus untuk
berdua dan saling berhadapan, aku pun duduk berhadapan dengan Koukei dan berusaha
terlihat terbiasa layaknya perempuan yang sudah berpengalaman akan hal ini.
Kemudian
salah seorang pelayan memakai kostum maid menghampiri kami dan menyodorkan menu
pada kami berdua, aku pun membelalakan mataku dengan ekspresi yang pura-pura
percaya diri dan membaca setiap menu yang mana satu menu pun belum pernah ku
coba sama sekali. Lalu Koukei pun memesan 1 menu yang dipilihnya.
“Aku
pesan 1 roti sandwich ice cream dan orange juice.” Katanya pada pelayan itu.“Kamu mau apa, Suzu?”
Lanjut Koukei sambil menatapku yang masih memegang daftar menu.
Karena
tak ingin mempermalukan diri sendiri aku pun menjawab “Um...sama aja deh, tadi
kan kita janjian makan es krim, hehe.” lanjutku sambil menyerahkan menu kepada pelayan tersebut.
“Minumnya
gak sekalian?” Tanyak Koukei lagi.
Aku
yang masih kebingungan pun akhirnya memilih menu yang sama persis dengan yang
dipesan Koukei. “Orange juice kayanya enak
ya lagi panas gini.” Jawabku.
Di
tengah-tengah suasana menunggu makanan kami datang, pikiranku terus berkecamuk,
“(aduh semoga gak malu-maluin deh ya.)”
Gumamku sambil terus memandang keluar jendela.
Setelah
beberapa menit berlalu, akhirnya makanan kami pun datang. Terdapat dua piring
roti sandwich ice cream juga dua gelas
orang juice di atas meja kami, lalu dengan
segera Koukei melahap roti sandwich
tersebut dengan elegannya, sementara aku tengah sibuk memainkan ponsel yang
padahal tak ada pesan masuk dari siapapun. Aku tidak berani menyentuh makanan
tersebut karena penampilannya yang menggugah selera di cuaca panas menjelang
musim dingin ini.
Menyadari
itu, Koukei pun bertanya padaku, “Kok gak di makan?”
“A-ah,
iya sebentar aku lagi bales sms si Misaki dulu nih, biasa acara one night camp, hehe.” Jawabku
menyeringai. Koukei pun hanya tersenyum sambil mengangguk dan melanjutkan
suapan berikutnya.
Aku
menelisik setiap gerakan Koukei, dimulai dari cara ia memegang serta meletakkan
pisau dan garpu di posisi yang kurasa benar, selain itu melirik tipis ke arah
mulut Koukei yang akan melahap suapan es krim berikutnya. Lalu, aku pun
bergumam sendiri, “(Oh...Jadi
begitu ya cara pegang pisau dan garpunya, terus udah gitu makannya pake tangan
kiri. OK OK aku ngerti sekarang)”. Sumpah
demi apapun aku belum pernah makan di kedai dengan cara makan ala orang Eropa
ditambah makan didepan seorang lelaki yang lebih tua dariku meski hanya
berselisih satu tahun, intinya aku belum pernah mengalami yang namanya kencan
anak sekolahan.
Aku
menarik nafas lega seperti seolah aku terlihat takjub dengan menu yang di pesan
barusan, “Wah...Kayak nya sayang ya kalo di makan nanti bentuknya rusak, hehe.”
Ucapku untuk memalingkan perhatian Koukei dan mencoba berpura-pura terbiasa
dengan cara makan seperti yang Koukei lakukan. Aku pun menirukan gerakannya
perlahan-lahan sembari mengajaknya ngobrol untuk mengalihkan perhatiannya.
“Kalian
sering ngadain one night camp berapa
kali seminggu?” Tanya Koukei yang memulai obrolan.
Aku
pun membalas sembari memotong roti sandwich tersebut, “Ya... lumayan lah satu
bulan paling enggak dua kali atau tiga kali, Kakak suka ngadain one night camp juga emang?”
“Suka,
kamu tahu kan Kenda, Toda, Satoru sama Yagami teman dekatku, kalo lagi kumpul
tuh rese nya minta ampun.”
“Oh,
hehe...Masa sih?” Sahutku yang mulai kesulitan menusuk potongan roti yang mulai
terpisah dari es krimnya dengan ekspresi sedikit menggertakan gusiku gemas.
“Tapi seru juga ya kalo nginep bareng-bareng.” Lanjutku sambil akan melahap
roti tanpa es krim itu. Sialnya, es krim yang seharusnya kumakan bersamaan
dengan roti itu malah meleleh diatas piring dan membuat penampilannya
berantakan.
Aku
menelan ludah dan membelalakan mataku hingga terdengar Zonk!, mukaku nyaris panik khawatir Koukei melihat ke amatiran ku
ini. Lalu aku melihat kearah Koukei lagi untuk mengintip trik mengatasi es krim
yang terpisah dari roti tersebut, akhirnya aku bisa mengikutinya dengan baik
dan sesampainya dirumah aku pun bisa bernafas lega.
Mungkin aku takkan pernah
menyadari dan tahu bagaimana mencintai seseorang dan menghargai keberadaan
seseorang yang kuanggap spesial tanpa adanya First date ini, first date
yang tak beralasan dan memiliki beberapa misteri yang masih ingin kucari tahu
hingga kini.
***
‘Kencan
pertama lah yang akan menentukan perjalanan
cinta selanjutnya,
dimana akan di temuinya dilema, cemburu,
juga ke tidak rasionalan yang membelenggu
emosi’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar