Rabu, 17 April 2019

Diary 17th_Love Trip 1 : Love Zeros


4 tahun yang lalu
Saat itu aku yang masih berusia 16 tahun mulai menjalani kehidupan SMA bersama kedua teman yang mungkin bisa disebut teman akrab SMA ku. Mereka adalah Misaki dan Yui, mereka berdua pula yang tiga tahun berturut-turut rela mendengarkan semua keluhan dan celotehanku tentang dia yang mungkin akan kusebut cinta pertamaku. Dia mungkin yang menjadi alasan terbesarku untuk memilih jalan dan tujuan hidupku saat ini. Semuanya berawal dari kegiatan klub sastra yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah.
Tahun pertama SMA...
                Singkatnya, aku hanyalah seorang siswi polos yang baru menduduki kelas 1 SMA ini memiliki dua teman yang bisa di bilang cukup menyebalkan serta merepotkan. Pertama, Misaki Sanada merupakan anggota klub tenis yang memiliki gengsi dan selera lelaki tingkat dewa yang pada kenyataannya mantan pacarnya pun tidak setampan Kento Yamazaki atau seimut Yamada Ryosuke, juga dia itu sangat amat plin plan dan tak konsisten ketika diminta memilih suatu hal akibatnya aku malas untuk mengajaknya jalan-jalan. Kedua, siswi super centil yang sering bergonta-ganti pasangan alias pacar, yaitu Utada Yui, baginya tak bisa hidup tanpa make up dan pacar, semua itu dituntut perfectionist tapi kekasihnya saat inipun hanya seorang siswa yang sama sama kelas 1 SMA dan jauh sekali dari kata perfect. Aku selalu bersiap-siap untuk tutup telinga ketika Yui datang dengan kabar hebohnya.
                “Suzu!Ayo kita ke klub sastra!”Kata Misaki sambil merangkulku secara paksa yang masih tengah merapikan buku-buku kedalam tas dan nyaris membuat bukuku berantakan lagi.
                “Hah? Mau ngapain kamu ke sana? Kamu kan ikut klub tenis.” Sahutku yang nampak kebingungan.
                “Mulai hari ini Misaki ikutan klub sastra, soalnya….hm…hahaha.”Yui menimpali pertanyaanku sambil tertawa dengan muka menggelikan di hadapanku yang berekspresi jijik dengan menaikan sebelah alisku.
                Jangan banyak tanya deh, udah ayo kita ke sana, cepet!” Gertak Misaki seraya menarik lenganku yang kewalahan.
                Sesampainya di lantai 2 kami bertiga pun mencari-cari ruangan klub sastra yang penampakannya sulit sekali ditemukan karena ini masih awal tahun ajaran baru, oleh karena itu setiap lorong di penuhi para Kakak kelas yang sibuk mempromosikan klub mereka kepada siswa baru, belum lagi sekolah Ehime Nishi yang di kenal dengan aturan ketatnya dan terfavorit di Prefektur Hyogo mengalami renovasi desain gedung sehingga membuat mereka sulit menemukan klub sastra yang kenyataannya ruangan nya begitu mencolok meski di lihat dari gerbang sekolah sekali pun. Sekolah ini telah banyak memiliki peningkatan karena klub sastranya yang sangat maju dan sering mendapat kejuaran hingga tingkat internasional.
                “Hei, kalian anggota klub sastra, ya?” Terdengar suara seorang lelaki memanggil dari belakang kami bertiga dan kami pun celingukan mencari sumber suara itu, kemudian berbalik menghadap asal suara itu berada.Tiba-tiba jari Misaki menarik-narik rok milikku sambil melebarkan senyum malu-malu kucing.
                “Misaki! Kamu ini kenapa?” Desakku setengah kesal nan pelan seraya membenarkan rokku.
                “I-iya kak…” Jawab Yui malu-malu gagap.
                “Ayo ikut aku, ruangan nya sebelah sini.” Timpal lelaki itu sambil melebarkan senyum terbaik ala senior dan menunjukkan ruangan klub sastra. Sekali lagi Misaki meremas rokku seraya menunjukkan ekspresi gemasnya yang menurutku menyeramkan dan bikin kesal.
                “Kya….Hei Suzu, kamu denger gak? Dia bilang ‘ayo ikut aku’ ―ke pelaminan…Kyaa… gentle banget, ya…” Puji Misaki pada senior itu sambil tertawa girang.
                Sigh! Demi apapun aku geli dengernya. Kamu suka sama dia?? Serius? Itu alasannya kamu masuk klub sastra? Begitu?” Ucapku setengah berkacak.
                Iyalah. Kamu gak lihat wajahnya yang menawan bak bola salju, juga senyumnya bak…” belum sempat Misaki menyelesaikan argumennya, aku pun segera menyanggahnya.
                Baka! (1) Bodoh.. Kamu itu kesambet ya Misaki? Hahaha. Kamu suka sama cowok itu yang gayanya dan body languagenya lemah gemulai gitu? Haha. Bikin geli aja. Hahaha. Ejekku sembari meragakan kata ‘gemulai’.
                Misaki pun mendengus sinis. “Apa kamu bilang? Kalo kata aku dia itu keren tahu, kamu emang gak punya selera sama cowok, ya. Awas ya kalo aku bisa sampe jadian sama dia, jangan harap kalian bisa ngetawain aku. Hmh!”
                Udah dong jangan ribut. Entar kita gak sempet kenalan sama Kak Toda lagi gara-gara kalian ribut.” Desak Yui seraya menarik lengan Misaki juga aku ke dalam ruangan yang di tuju.
                Cklek.
                Pintu terbuka dan muncullah kami yang hanya tiga orang junior polos masuk ke ruang klub sastra yang sudah mulai terpenuhi oleh kandidat baru. Aku, Misaki dan Yui mau tidak mau duduk di kursi paling depan karena hanya itu yang tersisa. Tepat didepan kami sudah ada 2 orang coach dan empat senior andalan berbaris untuk perkenalan. Seluruh siswa di ruangan mendadak ramai termasuk aku dan Yui yang ikut tersenyum berseri-seri melihat sosok lelaki tinggi jangkung dengan paras nya yang tampan berwibawa, lelaki itu bernama Toda Kikuchi yang sempat meraih kejuaraan nasional lomba menulis karya sastra Jepang klasik selama dua tahun berturut-turut, ditambah lagi dia yang menjadi perwakilan siswa dalam pidato pembukaan tahun ajaran baru. Dia pun amat pandai berbahasa Inggris oleh karena kemampuan yang tiada tandingannya, seluruh siswa terpikat padanya.
                Belum lagi senyum khas yang ia bentangkan dari bibir tipisnya menambah suasana semakin menggebu-gebu hingga membuat seluruh anggota baru dimabuk asmara.
                “Aku Toda Kikuchi, siswa kelas 2-A, salam kenal semuanya.” Ucap Toda dengan hiasan senyum menawan nya dan langsung membuat para siswi berteriak “Aaaa…Kak Toda!” Semuanya terlihat sangat bersemangat mengira Toda merupakan ketua klub sastra yang nantinya akan membimbing siswa baru saat latihan. Kemudian senior berikutnya dipersilahkan memperkenalkan diri dan alhasil seluruh siswi mendadak diam tanpa suara, artinya mereka menganggap senior ini biasa saja, bahkan Aku dan Yui sempat menyumpal mulut kami untuk menahan tawa ketika ingat bahwa Misaki menyukai senior yang satu ini, yang menurutku dan Yui tidak keren sama sekali, tepatnya terlalu lemah gemulai serta punya sisi kewanitaan.
                Dengan kerah seragam dan jas yang dikancingkan rapi mencerminkan anak rajin dan patuh pada aturan sekolah, ia sangat percaya diri berdiri didepan para junior dengan suara khasnya yang sedikit nyempreng yang jauh berbeda dengan Toda.
                “Halo semuanya, selamat siang.” Sapanya dengan sangat ramah dan bersemangat. Melihat ekspresi Misaki yang nyaris mimisan itu aku pun segera memberikan selembar tisu padanya.
                “Siang!” Ucap semua anggota.
                “Namaku Koukei Kageyama, dari kelas 2-B, aku ucapkan terima kasih banyak kepada para siswa kelas 1 yang sudah mau bergabung di klub ini, semoga kita bisa bekerja sama mulai hari ini. Oh ya kebetulan disini aku sebagai ketua klub, jadi jikalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan mengenai sastra klasik atau modern kalian bisa menghubungiku.”Jelasnya dengan sopan.
                “Wah, itu berarti dia bakal nyebarin nomor ponsel dan alamat e-mailnya, kan Suzu. Asik! Kesempatan bagus. Hehe.” Ucap Misaki berbisik.
                “Kamu ini kegirangan banget, Misaki. Jangan kepedean dulu.”Balasku.
                “Hehe, bodo ah yang penting aku dapet kontaknya.” Misaki menyeringai lebar, sementara aku hanya mengernyit.
                “Yui, jadi dia ketuanya? Gak salah tuh? Wkwk.” Bisikku pada Yui yang tepat duduk disampingku.
                “Haha, aku juga heran, kirain Kak Toda ketuanya. Kalo tau gini aku gak jadi ikut klub ini.” Balas Yui.
                Jangan gitu dong, kamu gak lihat si Misaki sampai baper gitu? Kasihan lah kalo kita menelantarkan teman yang sedang kasmaran. Cobain aja dulu, tujuan kita kan Kak Toda, siapa tahu dari sinilah jalan kita.” Timpalku sambil terkekeh pelan.
                Bener juga sih, OK deh.” Jawab Yui sambil mengacungkan jempol.
Satu minggu setelah itu, jadwal latihan klub sastra berubah menjadi dua bahkan sampai tiga kali seminggu dari jadwal sebelumnya yang hanya satu minggu sekali tepatnya dihari Sabtu, rupanya pihak dari klub sastra termasuk sang ketua dan pelatih mengajukan penambahan jadwal kepada bidang kesiswaan, dikarenakan jumlah anggota yang membludak maka mereka menyiasati waktu agar bisa lebih efektif.
“Apa? Hari ini ada latihan? Yang bener aja, baru dua hari kemaren kita diminta nulis esay yang panjangnya gak ketulungan.” Keluh Yui yang teriakan menggema seisi ruangan.
“Yah...gitu deh, barusan aku dapet kabar dari pak ketua.” Timpalku sambil menyeruput susu kotak.
“Oh....! Udahlah aku mau keluar aja dari klub sastra sekarang juga!” Gertak Yui.
“APA??”Teriakku dan Misaki serentak.
Tunggu dulu dong Yui, kamu emang mau diskors sama Bu Kepsek?” Kata Misaki sambil setengah melotot menatap Yui.
“Habisnya...Aku mau ikut klub tenis aja kalo gitu.” Balas Yui dengan kekeh.
“Hei, my friend, C’mon! kita bertiga kan udah janji untuk selalu bersama, aku dan Misaki pun gak mau pisah sama kamu. Inget ya target dan misi kita ikut klub sastra itu belum mencapai apapun, Yui.” Kataku sedikit merengek manja. “Aku janji bakalan bantuin esaymu, percaya deh.” Lanjutku seraya mengedipkan sebelah mataku hingga berbunyi tink!
“...Ck! Beneran ya?! Aku nurut nih kalo kamu janjiin gitu. Aku gak keluar deh, hehe.” Kata Yui sambil memeluk Misaki dan Aku.
“(Yah...Salah ngomong kan?!)” Gumamku dengan menampakkan ekspresi menyesal atas yang ku katakan barusan.
“Nah, itu baru Yui..Uhh!” Balas Misaki sambil terus berpelukan.
Drrt drrt! Suara getar ponselku menyadarkan kemesraan kami. Aku segera merogoh saku jasku dan plip satu pesan baru dari pak ketua klub.
Kamis, 29 April, 14:02
Dari        : Kak Koukei
Pesan    : Kalian masih dikelas? Kita sudah mau mulai nih. Kutunggu ya di ruangan biasa^_^
“Haha, apa-apaan emotnya itu bikin geli aja.” Ucapku terkekeh sambil membaca isi pesan dari senior itu, kemudian kedua temanku pun ikut-ikutan nimbrung membaca pesan tersebut.
“Hah, kocak, haha, sepertinya dia titisan dewi Quan in , dari cara chat nya aja kayak cewek, pakai emot segala.” Ejek Yui terbahak puas, sementara Misaki nampak sedikit kesal seraya mengerutkan bibirnya.
“Kalian jangan ngetawain gitu dong, itu tandanya dia orang yang ramah dan perhatian sama adik kelasnya.” Kata Misaki.
“Hahaha, iya iya Misaki, ya udah ayo kita ke sana siapa tahu Kak toda juga udah dateng.” Ucapku.
“Hadeh, kenapa juga si cowok jutek itu yang kalian suka, apa bagusnya dia? Tampangnya angkuh, tatapannya aja menggambarkan bahwa ia gak bisa dipercaya, kalo alasannya pernah jadi juara nasional, diluar sana juga banyak siswa yang bahkan lebih pintar darinya.” Celoteh Misaki dengan wajah sedikit kesal.
Kamu pikir yang buta itu siapa, kita atau dirimu? Hahaha.” Ejek Yui pada Misaki.
“Misaki, udahlah kamu gak perlu susah payah jadi orang munafik, kamu sebenarnya juga suka sama Kak Toda, kan? Mustahil banget deh kamu benci sama dia, jelas-jelas semua cewek terpesona, itu cuma karena kamu belum kenal bahkan ngobrol aja belum kan. Haha.” Tambahku yang ikut tertawa pula.
“Oh...Jadi gitu ya, OK, ayo kita buktiin siapa yang benar-benar munafik dan yang paling konsisten.” Ucap Misaki menantang.
“OK, siapa takut?!” Balasku dengan tatapan antusias.
“Baiklah kita buat kesepakatan, kalo seandainya kamu, juga suka sama Kak Koukei bahkan bisa sampai pacaran sama dia, kamu harus traktir aku makan di kantin selama seminggu. Haha?” Kata Misaki.
“Hah? Aku? Maksudmu aku aja gitu? ...Huh! Gak mungkin lah aku suka cowok yang kepribadiannya setengah-setengah, please kawan, aku masih waras, ya. Kataku yang tak mau kalah.
“...Tapi, kalo kata aku sih ya, itu bisa aja terjadi, kamu kan gampang suka sama cowok, Suzu, terkecuali aku ya, karena sebenarnya dua-duanya pun sama sekali bukan tipe idamanku.” Ucap Yui sambil mengibaskan rambut hitam kelamnya dan melipat kedua tangannya serta menengadahkan dagunya.
“Tu-tunggu, gak adil dong kalo gitu, Yui maksudmu apa...H-hei!” Kataku sambil mengejar Yui dan Misaki yang berlari mendahuluiku ke ruang klub.
Tok tok tok...Aku mengetuk pintu ruang klub dan tanpa aba-aba kami bertiga masuk ke lab tersebut yang nampak sudah sedikit ketinggalan materi karena obrolan panjang yang kami buat beberapa menit tadi. Ekspresi wajah kami pun terlihat sedikit pucat karena khawatir senior akan menghukum kami atau sebagainya, keringat dingin menetes dari poni rambut Misaki yang dibelah dua itu sebab ia ia tidak ingin jika sampai senior kecewa terutama Koukei, sementara Yui dan Aku hanya tersenyum tanpa rasa malu dan segera meminta maaf pada senior yang ada disana.
Namun, dengan tingkat kepekaan Yui yang amat tinggi ia pun menyadari ke tidak hadiran sang idola yaitu Toda kikuchi, wajahnya pun menampakkan rasa kecewa melalui helaan nafas yang dIbuatnya dengan sengaja. Terpaksa dia harus tetap mengikuti latihan hari ini karena Yui sudah terperangkap di dalam ruangan tersebut.
“Yui, benahi tuh mukamu yang suram itu, bikin enek aja.” Bisikku yang duduk bersebelahan dengan Yui.
“Yang baru datang harap serahkan hasil tugas esay hari Selasa kemarin ya, kalau ada yang perlu kalian tanyakan, tanyakan saja pada kami.”Ucap salah seorang senior bernama Kenda Yamato dengan wajah ramahnya pada ketiga gadis yang tepatnya datang terlambat.
Iya Kak.” Kata kami serempak.
Tak dipungkiri senior klub sastra memang dikenal begitu ramah, bertalenta dan juga berkelas serta mereka sangat pandai menjaga image dan citra mereka agar terlihat baik dimata sekolah dan siswa.
Kala itu, aku, Misaki dan Yui berunding untuk mempertimbangkan kepada siapa esay kami akan diberikan, yang jelas kami tidak ingin esay yang kami kerjakan tidak di pajang di mading, maka dari itu aku secara tiba-tiba memutuskan memilih Kak Koukei, senior yang aku ejek dan aku samakan seperti wanita itu yang menurutku bahkan menurut Misaki juga Yui hanya dialah yang sepertinya asyik diajak berkonsultasi. Senior yang kami panggil Kak Koukei itu merupakan siswa terbaik dikelas 2-B, ia sempat dijuluki bintang sekolah pula, namanya sudah tidak asing disekolah, semua guru dan siswa baik senior dan junior tahu siapa Koukei Kageyama meski si nomor satu Toda Kikuchi yang juga menjadi saingannya.
                Kami bertiga bergiliran memberikan esay masing-masing dan mengkonsultasikannya kepada Koukei berdasarkan perundingan yang telah kami sepakati. Entah atas alasan apa saat itu aku merasa ingin tertawa lepas ketika berhadapan dengannya, mungkin kah aku bahagia ketika aku mulai berbicara padanya atau aku hanya mentertawakannya untuk mengejek tingkahnya yang kuanggap kewanitaan.
                Gimana esayku? Jelek ya?” Tanyaku kepada Koukei.
“Um, gak juga... Ini cukup bagus, kamu hanya perlu berlatih lebih sering lagi dan memasukkan semua fakta yang kamu temui di karangan esay mu, OK.” Jawab Koukei seraya menebarkan senyum ramahnya yang kesekian.
Dup dup dup...
“(Senyumnya manis juga, giginya rapi pula, hidungnya macam bukan keturunan orang Jepang, hidung buatan atau alami ya, bulu matanya juga panjang kalo dilihat dari dekat?!)” Celotehku dalam hati sambil menyeringai bingung dan setengah melamun, lalu aku hanya mengangguk untuk mengiyakan perintah senior itu.
“Percayalah, kamu pasti bisa. Aku yakin.” Lanjut Koukei yang belum sempat mendapat gubrisan dariku.
OK sip kak, terima kasih Kak.” Balasku dengan girang.
“Semangat! Hehe.” Timpal Koukei setengah terkekeh.
Dup dup dup...Tsk!
“(Tunggu. Yang barusan itu apa? Kayaknya aku ngerasa ada yang aneh.)”Gerutuku dalam hati.
***

Dengan secepat kilat satu semester ditahun pertama pun berlalu begitu saja, masa remajaku yang semakin menjadi-jadi pun terus menciptakan alur cerita baru, termasuk masa dimana ku mulai mengalami dan menikmati rasa jatuh cinta. Tanpa di duga ada salah seorang siswa yang sama-sama tahun pertama mengajakku berkenalan lewat teman karib kuMisaki, sehubungan dia merupakan teman SD nya Misaki  untuk itu lelaki itu dengan sengaja menjadikan Misaki perantara agar bisa mendekatiku.
Aku tidak habis pikir aku pun dengan mudah memberikan nomor ponselku padanya, namun itu pun telah melalui berbagai proses pertimbangan yang kuat karena aku terlalu takut untuk bisa dekat dengan lelaki yang belum ku ketahui sama sekali.
Sabtu, 17 Oktober, 19:00
Dari        : 09022354xxx
Pesan    : Halo Suzune, aku Kai. Aku dapet nomor kamu dari Misaki, kamu lagi ngapain?
Aku menerima pesan pertama dari lelaki yang bernama Kai Arata, membuatku risih namun juga penasaran akan apa yang  ia inginkan dariku. Aku cukup selektif dalam berteman apalagi jika soal PDKT dengan lawan jenis. Aku pun berpikir keras tentang balasan apa yang harus ku kirim pada Kai.
Sabtu, 17 Oktober, 19:11
Ke           : Kai Arata
Pesan    : Oh... aku lagi ngerjain PR buat besok.
                  Kalo kamu sih?
Kirim.
Sabtu, 17 Oktober, 19:20
Dari        : Kai Arata
Pesan    : Wah rajin banget ya, Suzune, hehe. Aku lagi nonton TV nih.
                Mulai hari itu kami berdua terus chattingan hampir setiap hari hingga akhirnya aku dapat sedikit mengenal karakternya meski ada beberapa yang tidak ku sukai dari Kai lebih tepatnya bikin ilfeel, penampilannya yang kadang agak nampak seperti berandalan, seragam sekolah yang ia keluarkan dan tidak sesuai dengan aturan sering kali ku kritik, jika kebetulan aku melihatnya aku pun akan langsung mengirim Kai pesan peringatan, sikapku pun agak berubah menjadi sosok yang sensitif dan emosional, padahal dulu aku dikenal sebagai gadis yang dingin dan jutek bahkan teman-teman sekelasku pun menilai aku itu terkesan sinis dan tak bisa diajak berteman, namun semua itu hanya asumsi semata.
                Dalam waktu kurang lebih 3 bulan aku merasa hubunganku dengan Kai semakin dekat, bisa dibilang aku telah sedikit menyukai Kai, sejujurnya Kai itu tidak begitu tampan, dan kemampuan intelegensinya biasa-biasa saja tapi dia pandai dalam karate meski belum pernah menjadi juara nasional.
                Seiring berjalannya hubungan abstrak antara aku dan Kai tanpa diduga aku tertangkap basah oleh seniorku―Koukei ketika aku tengah berbincang saling mengejek dengan Kai sambil bercanda tawa ria tepat didepan ruangan klub sastra dan Kai ada di lantai bawah, suaraku pun terdengar kencang hingga ke ruangan sebelah karena jarak yang cukup jauh dari lantai 2 ke lantai 1. Menyadari hal itu wajahku langsung memerah ketika mataku tepat berpapasan dengan Koukei yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik kami, juga ekspresi Koukei saat itu terlihat setengah mentertawakanku yang nampak gagap dihadapannya. Aku pun menyeringai dengan malunya.
                “Hei, ayo masuk kita mau mulai nih.” Tegur Koukei yang baru datang dan berjalan di hadapanku untuk memasuki ruangan.
                “Sebentar lagi deh ka, aku lagi pacaran dulu nih, haha.” Kataku bercanda.
                Hm?” Koukei menaikan alisnya sambil melirik ke arah Kai yang masih berdiri lantai bawah.          Jadi itu selera kamu ya?” Lanjut Koukei terkekeh kecil padaku kemudian melewatiku dan masuk ke ruangan klub tersebut.
Prang!! Deg! Deg! DUAR!
                Aku sontak terkejut seraya membelalakan mataku mendengar Koukei berkata seperti itu tentang teman dekat yang dimaksud, Kai. Dari situlah Koukei mulai men-stereotype seperti apa kepribadian dan seleraku terhadap lelaki yang bahkan aku sama sekali tak menganggap Kai lebih dari sekedar teman dekat. Hal itu pun dengan cepat masuk kedalam pikiranku dan membuatku gelagapan setengah mati sekaligus khawatir jika rahasia kedekatanku dengan seorang siswa lelaki, juga kesalah pahaman ini terbongkar serta diketahui semua anggota klub karena sesungguhnya aku hanya bercanda mengatakan hal itu pada Koukei.
                Saat itu aku ingin sekali menyangganya serta mengklarifikasikan bahwa Kai dan aku tidak pacaran, kami sama sekali bukan sepasang kekasih, namun kuurungkan niat itu dengan alasan takut menyinggung perasaan Kai yang masih berada disana. Dan yang Koukei katakan itu sangat menusuk seolah-olah ia merendahkanku dengan sengaja.
                Setelah selesai latihan, kami bertiga, Misaki, Yui, dan aku pulang bersama menuju stasiun Kobe meski arah rumah kami bertiga berbeda. Berjalan setengah lesu diatas trotoar dengan muka lusuh kami yang sudah tanpa make up.
                “Hhhh...ternyata menulis itu melelahkan ya, aku gak yakin bisa lanjut sampe kelas 3 nanti.” Keluh Yui sambil menguap lebar.
                “Soalnya yang ngaja Kak Tokyo Tower sih, coba aja kalo dia gak ada pasti gak bakal selelah ini.” Lanjut Misaki seraya berjalan setengah menyeret kakinya.
                “Haha. What did you say? Kak Tokyo Tower? Julukan siapa lagi tuh?” Tanyaku.
                “si Toda Kikuchi lah yang tingginya bagaikan Tokyo Sky Tree.” Balas Misaki nafsu.
                Yui pun terus menyahutinya sambil merangkul leher Misaki dan bicara seperti orang teler, “Benar. Tepat sekali. Cocok banget buat dia, kamu memang terbaik dalam menjuluki orang, Misaki.”
                Aku pun terkekeh geram dan ikut menimpali celotehan mereka, “Haha, boleh juga. Habisnya cara ngajarnya itu ngeselin banget loh, pake bentak-bentak segala. Ditambah lagi si ketua rempong itu. Dia juga seenaknya aja kalo ngomong, gimana kalo kita kasih julukan juga buat dia? Hehehe.”
                “Eeh? Kamu kenapa, Suzu? Tumben kamu ngomongnya nyeremin gitu? Emang Kak Koukei ngomong apa sama kamu?” Tanya Misaki.
                Aku melipat kedua tanganku dan meninggikan suaraku yang setengah emosi, “Lagian dia udah ngerendahin aku secara terang-terangan, kalian tahu, aku malu setengah mati pas dia bilang ‘ jadi itu seleramu ya?’ terus ngetawain aku gitu deh. Siapa yang gak kesel coba, dia emang tahu apa tentang aku.”
                “Tunggu. Maksudmu Kak Koukei bilang gitu sama si Kai?” Tanya Yui yang menghampiriku.
                “Ya emang siapa lagi…Soalnya aku ketahuan lagi ngobrol sama Kai kan ceritanya, dan maksudku hanya bercanda aku bilang ‘aku lagi pacaran dulu’, tapi dia malah salah tanggap. Jadi nyesel deh.” Papar ku seraya mengacak kasar poniku.
                “Kejam juga ya Kak Koukei bisa bilang kaya gitu, gak nyangka.” Ucap Misaki heran.
                “Kalo gitu, rasanya derajat kita menjadi terlihat sangat berbeda dengan mereka ya, padahal aku berharap bisa menjadi salah satu bagian dari mereka, rasanya mustahil.” Lanjut Yui dengan lirih.
                “…Sepertinya nasib kita sudah bisa diprediksi, kawan.” Sahut Misaki lesu.
***
                Saat kedekatan ku dengan Kai mulai mencapai level pertengahan, saat itu pula aku sudah mulai dekat dan akrab dengan Koukei, bahkan selalu meminta bantuan padanya saat simulasi di klub berlangsung, aku pun mendadak menyadari hal yang kurasa janggal akan dirinya, yang bisa ku sebut sisi kebaikan Koukei, tepat saat semester pertama akan berakhir, cara pandangku perlahan-lahan menjadi berubah. Aku menemukan sesuatu yang tak ditemukan Misaki yang secara jelas sudah menyukai Koukei sejak pertama kali bertemu.
                Ketika ujian tengah semester selesai,aku berencana akan mengajak Kai kerumahku tentunya bersama temanku yang lain, disamping ku ingin menguji mental dan keseriusan Kai mendekatiku selama ini, Ibuku juga kebetulan memintaku untuk mengajak Kai ke rumah karena penasaran dengan semua ceritaku yang tempo hari ku ceritakan pada Ibu. Tentu saja Ibuku merasa senang akhirnya aku bisa memulai masa remaja ku dengan normal seperti para gadis pada umumnya.
                “Eh? Apa? Ke rumahmu?”Ucap Kai dengan sangat terkejut.
                “Kenapa? Kamu keberatan lagi? Masa gak bisa terus?! Gak apa-apa, lagi pula kali ini Ibuku yang nyuruh kamu dateng jadi gak usah malu.” Sahutku santai.
                “Bu-bukan gitu, hehe….anu…” Balas Kai sambil cengengesan.
                “OK, sudah diputuskan hari ini kamu harus mengantarku pulang sampai dirumah.” Kataku sambil berjalan mendahului Kai. Sebenarnya aku sudah dua kali mengajak Kai ke rumahku tapi Kai selalu menolak dengan alasan bekerja sambilan, aku pun merasa terhina karena ajakanku ditolak Kai, tapi kali ini aku memaksanya agar bisa datang ke rumahku. Mau tidak mau Kai akhirnya menurut.
                Tak butuh waktu lama, Kai, aku dan dua teman tepatnnya tetanggaku yang satu sekolah denganku tiba dirumahku, itupun karena aku yang meminta mereka berdua untuk datang agar aku tidak kena marah Ibu.
                “Kami pulang.” Ucapku dan Sano―tokoh tambahan yang merupakan tetanggaku.
                “…Kamu udah pulang Suzu?!” Sahut Ibuku sambil melepas celemek dan menghampiri kami keruang tamu.
                “Iya bu, hari ini klub libur, ya udah aku ajak mereka kemari.”Balasku yang masih berdiri didepan pintu seraya melepas sepatu.
                Ibuku pun mempersilahkan teman-temanku masuk,“Oh gitu, teman Suzune, ayo sini masuk.”
                “Iya, terima kasih, Bibi.” Balas Sano dan pacarnya.
                “Oh iya bu, ini Kai, teman baru yang kuceritakan tempo lalu.” Lanjutku. Ibuku pun hanya mengangguk sambil tersenyum samar memperhatikan sosok Kai Arata dari ujung kepala hingga kaki. Terlihat jelas sekali Ibuku itu sangat ingin menguji keaslian Kai dengan ceritaku tentangnya. Sementara Kai hanya membalas menyeringai dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
                Perbincangan kami berempat pun tidak begitu banyak hanya membicarakan masalah ujian tadi siang yang sudah berlalu dan menceritakan tentang klub masing-masing, selain itu kami hanya minum teh, memakan cemilan yang dibuat Ibuku dan setelah itu segera pulang, tanpa ada kesan ingin mengajak Kai ke rumahku lagi.
                Karena keesokan harinya kebetulan hari Minggu, aku pun tak punya rencana untuk pergi kemanapun meski lIburan musim panas sudah dimulai. Mungkin aku merupakan satu-satunya gadis di kota ini yang tak pernah menghabiskan waktu untuk lIburan kemanapun. Sejujurnya rutinitasku dihari libur sangat membosankan dan suram. Dimulai dari bangun pagi, cuci piring, cuci pakaian, membantu Ibu memasak, menonton TV, tidak, aku lebih suka menonton anime dan drama di laptop kesayanganku yang ku beri nama Shiro Hime yang berarti Putri Putih?! Alasannya karena pemiliknya seorang gadis muda, tentu saja, oleh sebab itu aku menggunakan kata Hime(2) Putri, alasan kedua aku menggunakan kata Shiro(3) Putih yang artinya warna putih karena sangat jelas laptopku itu berwarna putih pekat tanpa warna lain yang mengkombinasikannya, meski artinya itu tidak nyambung sama sekali.
                Drrt drrt…Ponselku kembali bergetar, satu pesan baru dari Kai Arata.

                Minggu, 18 Oktober, 11:12
                Dari        : Kai Arata
                Pesan    : Maaf, semalem aku udah tidur lebih awal jadi gak sempet bales sms kamu.
                Ternyata isinya hanya balasan pesan semalam yang tak sempat ia balas. Aku hanya melongo lalu mengernyit heran, kenapa ia hanya membalasnya seperti itu tanpa ada pertanyaan lain atau topik lain agar percakapan kami bisa berlanjut. Seketika aku berpikir pertanyaanku yang semalam ku tanyakan pada Kai tidak ada artinya dan membuatku sedikit geram untuk kembali membalas pesan Kai yang sudah kuanggap membosankan.
                “Kamu masih suka chat-an sama lelaki yang bernama Kai itu?” Ucap Ibuku yang dari tadi memperhatikanku yang sedang memainkan ponsel.
                “Masih, kenapa nanya gitu?” Balasku datar sambil melihat ke layar ponselku.
                “Oh…Gak apa-apa. Kalo Ibu pikir-pikir kamu itu gak cocok sama dia, sejujurnya saat Ibu melihatnya pertama kali Ibu udah gak suka sama tingkahnya yang gak punya sopan santun, buktinya kemarin aja dia gak ngucapin salam kayak temanmu yang lain, dan ketika Ibu bertanya padanya, dia malah cengengesan, kalo Ibu menjadi temanmu sih, Ibu takkan tega menjodohkanmu dengannya.”Jelas Ibuku.
                “Apa? Lagipula siapa yang pacaran, Bu, aku cuma temenan kok sama dia, emang salah?” Sahutku setengah ngotot.
                “Iya Ibu mengerti, tapi pas kamu nyeritain tentang seluk beluk Kai kamu kelihatan sangat menyukainya sampe gak berhenti membicarakannya setiap pulang sekolah.” Balas Ibuku seraya merapikan meja makan.
                “….” Aku hanya terdiam sambil berpikir.
                “…Aku sendiri juga gak tahu, apa aku beneran suka apa enggak. Habisnya aku sering banget lihat keadaan Kai yang bikin aku ilfeel, mulai dari pakaian nya, gayanya, dan cara bicaranya yang sembarangan, meski satu-satunya kelebihan dia adalah senyumnya yang bisa dibilang manis sih…” Ucapku terus terang.
                “Yah, Ibu juga gak maksa kamu untuk tidak menyukainya. Yang utama adalah keyakinan, yang menentukanmu untukmemilih kemana dan dengan siapa kamu bisa terus hidup.” Balas Ibuku yang cerewet itu seraya memberikan pisau dapur ketanganku untuk menyuruhku memotong sayuran.
                “Iya iya, udah lah, Bu, aku lagi males ngebahas dia.” Kataku dengan nada sedikit kesal sembari mengambil wortel segar untuk dipotong.
                “(Sejujurnya aku merasa ada yang aneh dengan karakter si Kai akhir-akhir ini, juga aku agak malas membalas pesannya yang kelewat singkat dibanding pesan-pesan yang ku kirimkan. Apa dia juga selalu seperti itu pada gadis lain? Sepertinya perkataan Ibuku ada benarnya juga.)”Gumamku dalam hati sembari mengupas wortel yang barusan kucuci itu.

***
‘Semakin lama menunggu,
semakin lama mendapatkan peluang yang baru’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...