4
tahun yang lalu
Saat itu aku yang
masih berusia 16 tahun mulai menjalani kehidupan SMA bersama kedua teman
yang mungkin bisa disebut teman akrab SMA
ku. Mereka adalah Misaki dan Yui, mereka berdua pula yang tiga tahun
berturut-turut rela mendengarkan semua keluhan dan celotehanku tentang dia yang
mungkin akan kusebut cinta pertamaku. Dia ─ mungkin yang
menjadi alasan terbesarku untuk memilih jalan dan tujuan hidupku saat ini. Semuanya
berawal dari kegiatan klub sastra yang selalu menjadi pusat perhatian di sekolah.
Tahun pertama
SMA...
Singkatnya, aku hanyalah seorang
siswi polos yang baru
menduduki kelas 1 SMA ini memiliki dua teman yang bisa di bilang cukup menyebalkan serta merepotkan.
Pertama, Misaki Sanada merupakan
anggota klub tenis yang memiliki gengsi dan selera lelaki tingkat dewa yang
pada kenyataannya mantan pacarnya pun tidak setampan Kento Yamazaki atau seimut
Yamada Ryosuke, juga dia itu sangat amat plin plan dan tak konsisten ketika
diminta memilih suatu hal akibatnya aku malas untuk mengajaknya jalan-jalan.
Kedua, siswi super centil yang sering bergonta-ganti pasangan alias pacar,
yaitu Utada Yui, baginya tak bisa hidup tanpa make up dan pacar,
semua itu dituntut perfectionist tapi
kekasihnya saat inipun hanya seorang siswa yang sama sama kelas 1 SMA dan jauh sekali dari kata perfect. Aku selalu bersiap-siap
untuk tutup telinga ketika Yui datang dengan kabar hebohnya.
“Suzu!Ayo kita ke klub sastra!”Kata
Misaki sambil merangkulku secara paksa yang masih tengah merapikan buku-buku
kedalam tas dan nyaris membuat bukuku berantakan lagi.
“Hah? Mau ngapain kamu ke sana? Kamu kan ikut klub tenis.” Sahutku
yang nampak kebingungan.
“Mulai hari ini Misaki ikutan klub sastra, soalnya….hm…hahaha.”Yui menimpali
pertanyaanku sambil tertawa dengan muka menggelikan di hadapanku yang berekspresi jijik dengan menaikan sebelah alisku.
“Jangan banyak tanya deh, udah ayo kita ke sana, cepet!” Gertak Misaki seraya
menarik lenganku yang kewalahan.
Sesampainya di lantai 2 kami
bertiga pun mencari-cari ruangan klub sastra yang penampakannya sulit sekali
ditemukan karena ini masih awal tahun ajaran baru, oleh karena itu setiap
lorong di penuhi para Kakak kelas
yang sibuk mempromosikan klub
mereka kepada siswa baru, belum lagi sekolah Ehime Nishi yang di kenal dengan
aturan ketatnya dan terfavorit di Prefektur Hyogo mengalami
renovasi desain gedung sehingga membuat mereka sulit menemukan
klub sastra yang kenyataannya ruangan nya
begitu mencolok meski di lihat dari
gerbang sekolah sekali pun. Sekolah
ini telah banyak memiliki peningkatan
karena klub sastranya yang sangat maju dan sering mendapat kejuaran hingga
tingkat internasional.
“Hei, kalian anggota klub sastra, ya?” Terdengar suara seorang lelaki memanggil dari belakang kami bertiga
dan kami pun celingukan mencari
sumber suara itu, kemudian berbalik menghadap asal suara itu berada.Tiba-tiba
jari Misaki menarik-narik rok milikku sambil melebarkan senyum malu-malu
kucing.
“Misaki! Kamu ini kenapa?”
Desakku setengah kesal nan pelan seraya membenarkan rokku.
“I-iya kak…” Jawab Yui malu-malu
gagap.
“Ayo ikut aku, ruangan nya sebelah sini.” Timpal lelaki itu sambil
melebarkan senyum terbaik ala senior dan menunjukkan ruangan klub sastra. Sekali lagi Misaki meremas rokku seraya menunjukkan ekspresi gemasnya
yang menurutku menyeramkan dan bikin kesal.
“Kya….Hei Suzu, kamu denger gak? Dia bilang
‘ayo ikut aku’ ―ke pelaminan…Kyaa… gentle banget, ya…” Puji Misaki pada
senior itu sambil tertawa girang.
“Sigh! Demi apapun aku geli
dengernya. Kamu suka sama dia?? Serius? Itu alasannya kamu masuk klub sastra? Begitu?” Ucapku setengah berkacak.
“Iyalah. Kamu gak lihat wajahnya yang menawan bak bola
salju, juga senyumnya bak…” belum sempat Misaki menyelesaikan argumennya, aku
pun segera menyanggahnya.
“Baka! (1) Bodoh.. Kamu itu kesambet ya Misaki? Hahaha. Kamu suka sama cowok itu yang gayanya dan body languagenya lemah gemulai gitu? Haha. Bikin geli aja. Hahaha.” Ejekku sembari
meragakan kata ‘gemulai’.
Misaki pun mendengus sinis. “Apa kamu bilang? Kalo
kata aku dia itu keren tahu, kamu emang gak punya
selera sama cowok, ya. Awas ya kalo aku bisa sampe jadian
sama dia, jangan harap kalian bisa ngetawain aku. Hmh!”
“Udah dong jangan ribut. Entar kita gak
sempet kenalan sama Kak Toda lagi gara-gara kalian ribut.” Desak Yui seraya menarik lengan Misaki
juga aku ke dalam ruangan yang di tuju.
Cklek.
Pintu terbuka dan muncullah kami
yang hanya tiga orang junior polos masuk ke ruang klub sastra yang sudah mulai
terpenuhi oleh kandidat baru. Aku,
Misaki dan Yui mau tidak mau duduk di kursi paling depan karena hanya itu yang
tersisa. Tepat didepan kami sudah ada 2 orang coach dan empat senior andalan berbaris untuk perkenalan. Seluruh
siswa di ruangan mendadak ramai
termasuk aku dan Yui yang ikut tersenyum berseri-seri melihat sosok lelaki tinggi jangkung dengan paras nya yang tampan berwibawa, lelaki itu
bernama Toda Kikuchi yang sempat meraih kejuaraan nasional lomba menulis karya sastra Jepang klasik selama
dua tahun berturut-turut, ditambah lagi dia yang menjadi perwakilan siswa dalam
pidato pembukaan tahun ajaran baru. Dia
pun amat pandai berbahasa Inggris oleh karena kemampuan yang tiada tandingannya, seluruh siswa terpikat padanya.
Belum lagi senyum khas yang ia
bentangkan dari bibir tipisnya menambah suasana semakin menggebu-gebu hingga
membuat seluruh anggota baru dimabuk asmara.
“Aku Toda Kikuchi, siswa kelas
2-A, salam kenal semuanya.” Ucap Toda dengan hiasan senyum menawan nya dan langsung membuat para siswi
berteriak “Aaaa…Kak Toda!” Semuanya terlihat sangat bersemangat mengira Toda
merupakan ketua klub sastra yang nantinya akan membimbing siswa baru saat
latihan. Kemudian senior berikutnya dipersilahkan memperkenalkan diri dan
alhasil seluruh siswi mendadak diam tanpa suara, artinya mereka menganggap
senior ini biasa saja, bahkan Aku dan Yui sempat menyumpal mulut kami untuk
menahan tawa ketika ingat bahwa Misaki menyukai senior yang satu ini, yang
menurutku dan Yui tidak keren sama sekali, tepatnya terlalu lemah gemulai serta
punya sisi kewanitaan.
Dengan kerah seragam dan jas
yang dikancingkan rapi mencerminkan anak rajin dan patuh pada aturan sekolah, ia
sangat percaya diri berdiri didepan para junior dengan suara khasnya yang
sedikit nyempreng yang jauh berbeda dengan Toda.
“Halo semuanya, selamat siang.” Sapanya dengan sangat ramah dan
bersemangat. Melihat ekspresi Misaki
yang nyaris mimisan itu aku pun segera memberikan selembar tisu padanya.
“Siang!” Ucap semua anggota.
“Namaku Koukei Kageyama, dari kelas 2-B, aku ucapkan terima
kasih banyak kepada para siswa kelas 1 yang sudah mau bergabung di klub ini,
semoga kita bisa bekerja sama mulai hari ini. Oh ya kebetulan disini aku sebagai
ketua klub, jadi jikalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan mengenai sastra
klasik atau modern kalian bisa menghubungiku.”Jelasnya dengan sopan.
“Wah, itu berarti dia bakal nyebarin nomor ponsel dan
alamat e-mailnya, kan Suzu. Asik! Kesempatan bagus. Hehe.” Ucap Misaki
berbisik.
“Kamu ini kegirangan banget, Misaki. Jangan kepedean dulu.”Balasku.
“Hehe, bodo ah yang penting aku dapet kontaknya.” Misaki menyeringai lebar, sementara aku hanya mengernyit.
“Yui, jadi dia ketuanya? Gak salah tuh? Wkwk.” Bisikku pada Yui
yang tepat duduk disampingku.
“Haha, aku juga heran, kirain Kak Toda ketuanya. Kalo tau gini aku gak jadi ikut klub ini.” Balas Yui.
“Jangan gitu dong, kamu
gak lihat si Misaki sampai
baper gitu? Kasihan lah kalo kita menelantarkan teman yang
sedang kasmaran. Cobain aja dulu,
tujuan kita kan Kak Toda, siapa tahu dari sinilah jalan kita.” Timpalku sambil terkekeh pelan.
“Bener juga sih, OK deh.” Jawab Yui sambil mengacungkan jempol.
Satu minggu setelah itu, jadwal latihan klub sastra berubah menjadi dua
bahkan sampai tiga kali seminggu dari jadwal sebelumnya yang hanya satu minggu
sekali tepatnya dihari Sabtu, rupanya pihak dari klub sastra termasuk sang
ketua dan pelatih mengajukan penambahan jadwal kepada bidang kesiswaan,
dikarenakan jumlah anggota yang membludak maka mereka menyiasati waktu agar
bisa lebih efektif.
“Apa? Hari ini ada latihan? Yang bener aja, baru dua hari kemaren kita diminta nulis esay yang panjangnya gak ketulungan.” Keluh Yui yang teriakan menggema seisi
ruangan.
“Yah...gitu deh,
barusan aku dapet kabar dari
pak ketua.” Timpalku sambil menyeruput susu kotak.
“Oh....! Udahlah aku mau keluar aja dari klub sastra sekarang juga!”
Gertak Yui.
“APA??”Teriakku dan Misaki serentak.
“Tunggu dulu dong Yui, kamu emang mau diskors sama Bu
Kepsek?” Kata Misaki sambil setengah
melotot menatap Yui.
“Habisnya...Aku mau ikut klub tenis aja kalo gitu.” Balas Yui dengan kekeh.
“Hei, my friend, C’mon! kita bertiga kan udah janji untuk
selalu bersama, aku dan Misaki pun gak
mau pisah sama kamu. Inget ya target dan misi kita ikut
klub sastra itu belum
mencapai apapun, Yui.” Kataku sedikit merengek manja. “Aku janji bakalan bantuin esaymu, percaya deh.” Lanjutku seraya mengedipkan sebelah
mataku hingga berbunyi tink!
“...Ck! Beneran ya?! Aku nurut
nih kalo kamu janjiin gitu. Aku gak keluar deh, hehe.” Kata Yui sambil memeluk Misaki dan Aku.
“(Yah...Salah ngomong kan?!)”
Gumamku dengan menampakkan ekspresi
menyesal atas yang ku katakan barusan.
“Nah, itu baru Yui..Uhh!” Balas
Misaki sambil terus berpelukan.
Drrt drrt! Suara getar ponselku
menyadarkan kemesraan kami. Aku
segera merogoh saku jasku dan plip satu
pesan baru dari pak ketua klub.
Kamis, 29 April, 14:02
Dari : Kak Koukei
Pesan : Kalian masih dikelas? Kita sudah mau mulai nih. Kutunggu ya di ruangan
biasa^_^”
“Haha, apa-apaan emotnya itu bikin geli aja.” Ucapku terkekeh sambil membaca isi pesan dari senior itu, kemudian
kedua temanku pun ikut-ikutan nimbrung membaca pesan tersebut.
“Hah, kocak, haha, sepertinya
dia titisan dewi Quan in , dari cara chat nya aja kayak cewek, pakai emot segala.” Ejek Yui
terbahak puas, sementara Misaki nampak sedikit kesal seraya mengerutkan
bibirnya.
“Kalian jangan ngetawain gitu
dong, itu tandanya dia orang yang ramah dan perhatian sama adik kelasnya.” Kata
Misaki.
“Hahaha, iya iya Misaki, ya udah ayo kita ke sana siapa tahu Kak toda
juga udah dateng.” Ucapku.
“Hadeh, kenapa juga si cowok
jutek itu yang kalian suka, apa bagusnya dia? Tampangnya angkuh,
tatapannya aja menggambarkan bahwa ia gak bisa dipercaya, kalo alasannya pernah jadi juara nasional,
diluar sana juga banyak siswa yang bahkan lebih pintar darinya.” Celoteh Misaki
dengan wajah sedikit kesal.
“Kamu pikir yang buta itu siapa, kita atau dirimu? Hahaha.” Ejek Yui pada Misaki.
“Misaki, udahlah kamu gak perlu susah payah jadi orang munafik, kamu sebenarnya juga suka sama Kak Toda, kan? Mustahil banget deh kamu benci sama dia, jelas-jelas semua cewek terpesona, itu cuma karena kamu belum kenal bahkan ngobrol aja belum kan. Haha.” Tambahku yang ikut
tertawa pula.
“Oh...Jadi gitu ya, OK, ayo kita buktiin siapa yang
benar-benar munafik dan yang paling konsisten.” Ucap Misaki menantang.
“OK, siapa takut?!” Balasku
dengan tatapan antusias.
“Baiklah kita buat kesepakatan, kalo seandainya kamu, juga suka sama Kak Koukei bahkan bisa sampai pacaran sama dia, kamu harus traktir aku makan di kantin selama seminggu. Haha?” Kata Misaki.
“Hah? Aku? Maksudmu aku aja
gitu? ...Huh! Gak mungkin lah aku suka cowok yang kepribadiannya setengah-setengah, please kawan, aku masih waras, ya.” Kataku yang tak mau kalah.
“...Tapi, kalo kata aku sih ya, itu bisa aja terjadi, kamu kan gampang suka sama cowok, Suzu, terkecuali aku ya, karena sebenarnya
dua-duanya pun sama sekali bukan tipe idamanku.” Ucap Yui sambil mengibaskan
rambut hitam kelamnya dan melipat kedua tangannya serta menengadahkan dagunya.
“Tu-tunggu, gak adil dong kalo
gitu, Yui maksudmu apa...H-hei!” Kataku sambil mengejar Yui dan Misaki yang
berlari mendahuluiku ke ruang klub.
Tok tok tok...Aku mengetuk
pintu ruang klub dan tanpa aba-aba kami bertiga masuk ke lab tersebut yang
nampak sudah sedikit ketinggalan materi karena obrolan panjang yang kami buat
beberapa menit tadi. Ekspresi wajah kami pun terlihat sedikit pucat karena
khawatir senior akan menghukum kami atau sebagainya, keringat dingin menetes
dari poni rambut Misaki yang dibelah dua itu sebab ia ia tidak ingin jika
sampai senior kecewa terutama Koukei, sementara Yui dan Aku hanya tersenyum
tanpa rasa malu dan segera meminta maaf pada senior yang ada disana.
Namun, dengan tingkat kepekaan Yui yang amat tinggi ia pun menyadari ke
tidak hadiran sang idola yaitu Toda kikuchi, wajahnya pun menampakkan rasa
kecewa melalui helaan nafas yang dIbuatnya dengan sengaja. Terpaksa dia harus
tetap mengikuti latihan hari ini karena Yui sudah terperangkap di dalam ruangan
tersebut.
“Yui, benahi tuh mukamu
yang suram itu, bikin enek aja.” Bisikku yang duduk bersebelahan dengan Yui.
“Yang baru datang harap serahkan hasil tugas esay hari Selasa kemarin ya,
kalau ada yang perlu kalian tanyakan, tanyakan saja pada kami.”Ucap salah
seorang senior bernama Kenda Yamato dengan wajah ramahnya pada ketiga gadis
yang tepatnya datang terlambat.
“Iya Kak.” Kata kami
serempak.
Tak dipungkiri senior klub sastra memang dikenal begitu ramah, bertalenta
dan juga berkelas serta mereka sangat pandai menjaga image dan citra mereka agar terlihat baik dimata sekolah dan siswa.
Kala itu, aku, Misaki dan Yui berunding untuk mempertimbangkan kepada
siapa esay kami akan diberikan, yang jelas kami tidak ingin esay yang kami
kerjakan tidak di pajang di mading, maka dari itu aku secara tiba-tiba
memutuskan memilih Kak Koukei, senior yang aku ejek dan aku samakan seperti
wanita itu yang menurutku bahkan menurut Misaki juga Yui hanya dialah yang
sepertinya asyik diajak berkonsultasi. Senior yang kami panggil Kak Koukei itu
merupakan siswa terbaik dikelas 2-B, ia sempat dijuluki bintang sekolah pula,
namanya sudah tidak asing disekolah, semua guru dan siswa baik senior dan
junior tahu siapa Koukei Kageyama meski si nomor satu Toda Kikuchi yang juga
menjadi saingannya.
Kami bertiga bergiliran
memberikan esay masing-masing dan mengkonsultasikannya kepada Koukei
berdasarkan perundingan yang telah kami sepakati. Entah atas alasan apa saat itu
aku merasa ingin tertawa lepas ketika berhadapan dengannya, mungkin kah aku
bahagia ketika aku mulai berbicara padanya atau aku hanya mentertawakannya
untuk mengejek tingkahnya yang kuanggap kewanitaan.
“Gimana esayku? Jelek
ya?” Tanyaku kepada
Koukei.
“Um, gak juga... Ini cukup bagus, kamu hanya perlu berlatih lebih sering
lagi dan memasukkan semua fakta yang kamu temui di karangan esay mu, OK.” Jawab Koukei seraya menebarkan senyum
ramahnya yang kesekian.
Dup dup dup...
“(Senyumnya manis juga, giginya rapi pula, hidungnya macam bukan
keturunan orang Jepang,
hidung buatan atau alami ya, bulu matanya juga panjang kalo dilihat dari dekat?!)” Celotehku dalam
hati sambil menyeringai bingung dan setengah melamun, lalu aku hanya mengangguk
untuk mengiyakan perintah senior itu.
“Percayalah, kamu pasti bisa. Aku
yakin.” Lanjut Koukei yang belum
sempat mendapat gubrisan dariku.
“OK sip kak, terima
kasih Kak.” Balasku dengan girang.
“Semangat! Hehe.” Timpal Koukei setengah terkekeh.
Dup dup dup...Tsk!
“(Tunggu. Yang barusan itu apa? Kayaknya aku ngerasa ada yang
aneh.)”Gerutuku dalam hati.
***
Dengan secepat kilat satu semester
ditahun pertama pun berlalu begitu saja, masa remajaku yang semakin
menjadi-jadi pun terus menciptakan alur cerita baru, termasuk masa dimana ku
mulai mengalami dan menikmati rasa jatuh cinta. Tanpa di duga ada salah seorang
siswa yang sama-sama tahun pertama mengajakku berkenalan lewat teman karib ku─Misaki, sehubungan dia merupakan teman SD nya
Misaki untuk itu lelaki itu dengan
sengaja menjadikan Misaki perantara agar bisa mendekatiku.
Aku tidak habis pikir aku pun dengan mudah memberikan nomor ponselku
padanya, namun itu pun telah melalui berbagai proses pertimbangan yang kuat
karena aku terlalu takut untuk bisa dekat dengan lelaki yang belum ku ketahui
sama sekali.
Sabtu, 17 Oktober, 19:00
Dari : 09022354xxx
Pesan : Halo Suzune, aku Kai. Aku dapet nomor kamu dari Misaki, kamu lagi ngapain?
Aku menerima pesan pertama dari lelaki yang bernama Kai Arata, membuatku
risih namun juga penasaran akan apa yang
ia inginkan dariku. Aku cukup selektif dalam berteman apalagi jika soal
PDKT dengan lawan jenis. Aku pun
berpikir keras tentang balasan apa yang harus ku kirim pada Kai.
Sabtu, 17 Oktober, 19:11
Ke : Kai Arata
Pesan : Oh... aku lagi ngerjain PR buat besok.
Kalo kamu sih?
Kirim.
Sabtu, 17 Oktober, 19:20
Dari : Kai Arata
Pesan : Wah rajin banget ya, Suzune, hehe. Aku lagi nonton TV nih.
Mulai
hari itu kami berdua terus chattingan hampir setiap hari hingga
akhirnya aku dapat sedikit
mengenal karakternya meski ada beberapa yang tidak ku sukai dari Kai lebih tepatnya bikin ilfeel, penampilannya yang kadang agak nampak seperti berandalan, seragam sekolah yang ia keluarkan dan tidak
sesuai dengan aturan sering kali ku kritik, jika kebetulan aku melihatnya aku pun akan langsung mengirim Kai pesan peringatan,
sikapku pun agak berubah menjadi sosok yang sensitif dan emosional, padahal
dulu aku dikenal sebagai
gadis yang dingin dan jutek bahkan teman-teman sekelasku pun menilai aku itu terkesan sinis dan tak bisa diajak
berteman, namun semua itu hanya asumsi semata.
Dalam
waktu kurang lebih 3 bulan aku
merasa hubunganku dengan Kai semakin
dekat, bisa dibilang aku
telah sedikit menyukai Kai, sejujurnya Kai itu tidak begitu tampan, dan
kemampuan intelegensinya biasa-biasa saja tapi dia pandai dalam karate meski
belum pernah menjadi juara nasional.
Seiring berjalannya hubungan
abstrak antara aku dan Kai tanpa diduga aku tertangkap basah oleh seniorku―Koukei ketika aku tengah berbincang saling
mengejek dengan Kai sambil
bercanda tawa ria tepat didepan ruangan klub sastra dan Kai ada di lantai bawah, suaraku pun
terdengar kencang hingga ke ruangan sebelah karena jarak yang cukup jauh dari
lantai 2 ke lantai 1. Menyadari
hal itu wajahku langsung memerah ketika mataku tepat berpapasan dengan Koukei
yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik kami, juga ekspresi Koukei saat itu terlihat
setengah mentertawakanku yang nampak gagap dihadapannya. Aku pun menyeringai dengan malunya.
“Hei, ayo masuk kita mau mulai
nih.” Tegur Koukei yang baru datang dan berjalan di hadapanku untuk memasuki
ruangan.
“Sebentar lagi deh ka, aku lagi
pacaran dulu nih, haha.” Kataku bercanda.
“Hm?” Koukei
menaikan alisnya sambil melirik ke arah Kai yang masih berdiri lantai bawah. “Jadi itu selera kamu ya?” Lanjut Koukei terkekeh kecil padaku kemudian melewatiku dan masuk
ke ruangan klub tersebut.
Prang!! Deg! Deg! DUAR!
Aku
sontak terkejut seraya membelalakan mataku mendengar
Koukei berkata seperti itu tentang teman dekat yang dimaksud, Kai. Dari situlah Koukei mulai men-stereotype seperti apa kepribadian dan seleraku terhadap lelaki
yang bahkan aku sama sekali tak
menganggap Kai lebih dari sekedar teman dekat. Hal
itu pun dengan cepat masuk kedalam pikiranku
dan membuatku gelagapan setengah mati sekaligus khawatir
jika rahasia kedekatanku dengan seorang siswa lelaki, juga kesalah pahaman ini terbongkar serta diketahui semua anggota klub karena
sesungguhnya aku hanya bercanda mengatakan hal itu pada Koukei.
Saat
itu aku ingin sekali menyangganya serta mengklarifikasikan bahwa Kai dan aku
tidak pacaran, kami
sama sekali bukan sepasang kekasih, namun kuurungkan niat itu dengan alasan
takut menyinggung perasaan Kai yang masih berada disana. Dan yang Koukei katakan itu sangat menusuk
seolah-olah ia merendahkanku dengan sengaja.
Setelah selesai latihan, kami
bertiga, Misaki, Yui, dan aku pulang bersama menuju stasiun Kobe meski arah rumah kami bertiga
berbeda. Berjalan setengah lesu diatas trotoar dengan muka lusuh kami yang
sudah tanpa make up.
“Hhhh...ternyata menulis itu
melelahkan ya, aku gak yakin bisa lanjut sampe kelas 3 nanti.” Keluh Yui sambil
menguap lebar.
“Soalnya yang ngaja Kak Tokyo
Tower sih, coba aja kalo dia gak ada pasti gak bakal selelah ini.” Lanjut
Misaki seraya berjalan setengah menyeret kakinya.
“Haha. What did you say? Kak Tokyo Tower? Julukan siapa lagi tuh?” Tanyaku.
“si Toda Kikuchi lah yang
tingginya bagaikan Tokyo Sky Tree.” Balas Misaki nafsu.
Yui pun terus menyahutinya sambil
merangkul leher Misaki dan bicara seperti orang teler, “Benar. Tepat sekali. Cocok banget buat dia, kamu
memang terbaik dalam
menjuluki orang, Misaki.”
Aku pun terkekeh geram dan ikut menimpali celotehan mereka, “Haha, boleh
juga. Habisnya cara ngajarnya itu ngeselin banget loh, pake bentak-bentak
segala. Ditambah lagi si ketua rempong itu. Dia juga seenaknya aja kalo ngomong, gimana kalo kita kasih julukan juga buat dia? Hehehe.”
“Eeh? Kamu kenapa, Suzu? Tumben kamu ngomongnya nyeremin gitu? Emang Kak Koukei ngomong apa sama kamu?” Tanya
Misaki.
Aku melipat kedua tanganku dan meninggikan suaraku yang setengah
emosi, “Lagian dia udah ngerendahin aku secara terang-terangan, kalian tahu, aku malu setengah mati pas dia bilang ‘
jadi itu seleramu ya?’ terus
ngetawain aku gitu deh. Siapa yang gak kesel coba, dia emang tahu apa tentang aku.”
“Tunggu. Maksudmu Kak Koukei
bilang gitu sama si Kai?”
Tanya Yui yang menghampiriku.
“Ya emang siapa lagi…Soalnya aku ketahuan lagi ngobrol
sama Kai kan ceritanya, dan maksudku hanya
bercanda aku bilang ‘aku lagi pacaran dulu’,
tapi dia malah salah tanggap. Jadi
nyesel deh.” Papar ku seraya
mengacak kasar poniku.
“Kejam juga ya Kak Koukei bisa
bilang kaya gitu, gak nyangka.” Ucap Misaki heran.
“Kalo gitu, rasanya derajat kita menjadi terlihat
sangat berbeda dengan mereka ya, padahal aku berharap bisa menjadi salah satu
bagian dari mereka, rasanya mustahil.” Lanjut Yui dengan lirih.
“…Sepertinya
nasib kita sudah bisa diprediksi, kawan.” Sahut Misaki lesu.
***
Saat
kedekatan ku dengan Kai mulai mencapai level pertengahan, saat itu pula aku
sudah mulai dekat dan akrab dengan Koukei, bahkan selalu meminta bantuan
padanya saat simulasi di klub
berlangsung, aku pun mendadak menyadari
hal yang kurasa janggal akan dirinya, yang bisa ku sebut sisi kebaikan Koukei, tepat saat
semester pertama akan berakhir, cara pandangku perlahan-lahan menjadi berubah.
Aku menemukan sesuatu yang tak ditemukan Misaki yang secara jelas sudah
menyukai Koukei sejak pertama kali bertemu.
Ketika
ujian tengah semester selesai,aku berencana akan mengajak Kai kerumahku tentunya
bersama temanku yang lain, disamping ku ingin menguji mental dan keseriusan Kai
mendekatiku selama ini, Ibuku juga kebetulan memintaku untuk mengajak Kai ke rumah karena penasaran dengan semua ceritaku
yang tempo hari ku ceritakan pada Ibu. Tentu saja Ibuku merasa senang akhirnya aku
bisa memulai masa remaja ku dengan normal seperti para gadis pada umumnya.
“Eh?
Apa? Ke rumahmu?”Ucap Kai dengan sangat terkejut.
“Kenapa? Kamu
keberatan lagi? Masa gak bisa terus?! Gak
apa-apa, lagi pula
kali ini Ibuku yang nyuruh kamu
dateng jadi gak usah malu.” Sahutku santai.
“Bu-bukan
gitu, hehe….anu…” Balas Kai sambil cengengesan.
“OK,
sudah diputuskan hari ini kamu
harus mengantarku pulang sampai dirumah.” Kataku sambil berjalan mendahului Kai. Sebenarnya aku sudah dua kali mengajak Kai
ke rumahku tapi Kai selalu menolak dengan
alasan bekerja sambilan, aku pun merasa terhina karena ajakanku ditolak Kai,
tapi kali ini aku memaksanya agar
bisa datang ke rumahku. Mau tidak mau Kai akhirnya menurut.
Tak
butuh waktu lama, Kai, aku dan dua teman tepatnnya tetanggaku yang satu sekolah
denganku tiba dirumahku, itupun karena aku yang meminta mereka berdua untuk
datang agar aku tidak kena marah Ibu.
“Kami
pulang.” Ucapku dan Sano―tokoh tambahan
yang merupakan tetanggaku.
“…Kamu udah pulang Suzu?!” Sahut Ibuku sambil melepas celemek dan
menghampiri kami keruang tamu.
“Iya
bu, hari ini klub libur,
ya udah aku ajak mereka kemari.”Balasku yang masih berdiri didepan pintu seraya
melepas sepatu.
Ibuku
pun mempersilahkan teman-temanku masuk,“Oh gitu, teman Suzune, ayo sini masuk.”
“Iya,
terima kasih, Bibi.” Balas
Sano dan pacarnya.
“Oh
iya bu, ini Kai, teman baru yang kuceritakan tempo lalu.” Lanjutku. Ibuku pun hanya mengangguk
sambil tersenyum samar memperhatikan sosok Kai Arata dari ujung kepala hingga
kaki. Terlihat jelas sekali Ibuku itu sangat ingin menguji keaslian Kai dengan
ceritaku tentangnya. Sementara
Kai hanya membalas menyeringai dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Perbincangan
kami berempat pun tidak begitu banyak hanya membicarakan masalah ujian tadi
siang yang sudah berlalu dan
menceritakan tentang klub masing-masing, selain itu kami hanya minum teh,
memakan cemilan yang dibuat Ibuku
dan setelah itu segera pulang, tanpa ada kesan ingin mengajak Kai ke rumahku
lagi.
Karena
keesokan harinya kebetulan hari Minggu, aku pun tak punya rencana untuk pergi
kemanapun meski lIburan musim panas sudah dimulai. Mungkin aku merupakan
satu-satunya gadis di kota ini yang tak pernah menghabiskan waktu untuk lIburan
kemanapun. Sejujurnya rutinitasku dihari libur sangat membosankan dan suram. Dimulai
dari bangun pagi, cuci piring, cuci pakaian, membantu Ibu memasak, menonton TV,
tidak, aku lebih suka menonton anime dan drama di laptop kesayanganku yang ku
beri nama Shiro Hime yang
berarti Putri Putih?! Alasannya karena pemiliknya seorang gadis muda, tentu
saja, oleh sebab itu aku menggunakan kata Hime(2)
Putri, alasan kedua aku menggunakan kata Shiro(3) Putih yang artinya warna putih karena sangat jelas
laptopku itu berwarna putih pekat tanpa warna lain yang mengkombinasikannya,
meski artinya itu tidak nyambung sama sekali.
Drrt drrt…Ponselku kembali bergetar, satu pesan baru dari Kai Arata.
Minggu, 18 Oktober, 11:12
Dari : Kai Arata
Pesan : Maaf, semalem
aku udah tidur
lebih awal jadi gak sempet bales sms
kamu.
Ternyata
isinya hanya balasan pesan semalam yang tak sempat ia balas. Aku hanya melongo
lalu mengernyit heran, kenapa ia hanya membalasnya seperti itu tanpa ada
pertanyaan lain atau topik lain agar percakapan kami bisa berlanjut. Seketika aku
berpikir pertanyaanku yang semalam ku tanyakan
pada Kai tidak ada artinya dan membuatku sedikit geram untuk kembali membalas
pesan Kai yang sudah kuanggap membosankan.
“Kamu
masih suka chat-an sama lelaki yang bernama
Kai itu?” Ucap Ibuku yang dari
tadi memperhatikanku yang sedang memainkan ponsel.
“Masih,
kenapa nanya gitu?” Balasku datar sambil melihat
ke layar ponselku.
“Oh…Gak
apa-apa. Kalo Ibu pikir-pikir kamu itu
gak cocok sama dia, sejujurnya saat Ibu
melihatnya pertama kali Ibu
udah gak suka sama
tingkahnya yang gak
punya sopan santun, buktinya kemarin aja dia gak ngucapin salam kayak temanmu yang lain, dan ketika Ibu bertanya padanya, dia malah cengengesan, kalo Ibu menjadi temanmu sih, Ibu takkan tega menjodohkanmu dengannya.”Jelas
Ibuku.
“Apa? Lagipula siapa yang pacaran, Bu, aku cuma temenan
kok sama dia, emang salah?” Sahutku setengah ngotot.
“Iya
Ibu mengerti, tapi pas kamu nyeritain tentang seluk beluk
Kai kamu kelihatan sangat
menyukainya sampe gak berhenti membicarakannya setiap pulang sekolah.” Balas Ibuku seraya merapikan meja makan.
“….”
Aku hanya terdiam sambil berpikir.
“…Aku
sendiri juga gak tahu, apa aku beneran suka apa enggak. Habisnya aku sering banget lihat keadaan
Kai yang bikin aku ilfeel, mulai dari
pakaian nya, gayanya, dan cara bicaranya yang sembarangan, meski satu-satunya
kelebihan dia adalah senyumnya yang bisa dibilang manis sih…” Ucapku terus terang.
“Yah,
Ibu juga gak maksa kamu
untuk tidak menyukainya. Yang utama
adalah keyakinan, yang menentukanmu untukmemilih kemana dan dengan siapa kamu bisa terus hidup.” Balas Ibuku yang cerewet itu seraya memberikan
pisau dapur ketanganku untuk menyuruhku memotong sayuran.
“Iya
iya, udah lah, Bu, aku lagi males ngebahas dia.” Kataku dengan nada sedikit
kesal sembari mengambil wortel segar untuk dipotong.
“(Sejujurnya
aku merasa ada yang aneh dengan karakter si Kai akhir-akhir ini, juga aku agak
malas membalas pesannya yang kelewat singkat dibanding pesan-pesan yang ku
kirimkan. Apa dia juga selalu
seperti itu pada gadis lain? Sepertinya perkataan Ibuku ada benarnya
juga.)”Gumamku dalam hati sembari mengupas wortel yang barusan kucuci itu.
***
‘Semakin lama
menunggu,
semakin lama mendapatkan peluang yang baru’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar