Kamis, 18 April 2019

Diary 17th_Love Trip 2: Heart Beats and Hypocrisy


Ketika musim semi tepatnya semester awal ditahun keduaku dimulai, aku sempat mendapat kabar kurang baik mengenai Kai, yang gosipnya ia sedang mendekati siswa baru dikelas 1. Pikiran ku kemelut yang sejujurnya hatiku pun merasa sakit, ingin berteriak, merintih bahkan ingin pulang saat itu juga. Aku sangat amat sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa melainkan teman dekat Kai, tapi bagaimana pun aku katakan ‘aku sangat kecewa’, namun disitu aku sempat merasa beruntung tidak satu kelas dengan nya, dari pengalaman masa remajaku ini, tentang perasaanku yang setengah-setengah dan ingin mewujudkan semua keinginanku sempat ku sesali di hari saat aku mulai tumbuh dewasa. Jika ku hitung, cukup banyak penyesalanku di masa lalu itu.
                “Suzu.” Panggil Misaki.
                “Hm?” Balasku yang tengah fokus membaca manga favoritku.
                “Kamu masih suka chat-an sama Kai?” Lanjut Misaki.
                “..O-oh? Udah agak jarang sih, aku juga agak males. Apalagi katanya dia lagi PDKT sama anak kelas 1, ya udah deh bodo amat.” Balasku dengan ekspresi datar.
                “Kamu beneran gak apa-apa? Kai bilang kamu nembak dia?! Berani banget. Kalo aku pasti cuma mikirinnya aja udah malu.”Papar Misaki sambil menatap wajahku penasaran.
                “Psst! Pelan-pelan dong ngomongnya, Misaki. Hmhhh…bukan. Aku cuma nyatain aja, soalnya ngeganggu banget, kamu tahu dimana? Disini…” Ucapku seraya mengarahkan telunjuk tepat dimana hatiku berada.
                “Eeh??? Ya itu mah sama aja, kamu nembak dia cuma gak secara langsung.” Sahut Misaki mengusap keningnya. “Jadi kamu beneran suka sama Kai? Gak nyangka kamu bisa ngelanggar janjimu, Suzu.” Ucap Misaki setengah mengejek.
                “Loh? Janji? Janji apa? Aku tuh cuma pengen jadi wanita yang gentle dan terus terang, lagi pula aku cuma bilang di sms, gak secara langsung, jadi biasa aja. Bisa jadi aku lagi bercanda doang. Kamu ini gampang percaya banget sih, Misaki. Lagi pula pikiran orang itu bisa berubah-ubah kan, setiap waktu takkan selalu sama.” Jelas ku dengan poker faceku yang khas.
                Misaki pun lanjut membalas “What? Wanita gentle? Maksudmu? Haha. Sungguh aku gak ngerti deh apa yang ada di otakmu itu.”
                Meski aku bilang demikian, rasanya manga yang sedang ku baca pun tidak menjadi favorit lagi, karena pada kenyataannya perasaan sakit itu masih sedikit terngiang seolah olah cuaca pun menjadi lebih panas dari pada sebelumnya. Ditambah lagi aku sempat berpapasan dengan anak kelas 1 yang barusan kami gosipkan saat akan menuju ke kelas. Misaki sengaja menyikut lenganku, namun aku tidak menggubrisnya sama sekali.
                Tak lama gosip itu pun mulai mencair perlahan-lahan termasuk hubungan Kai denganku yang kami akhiri begitu saja, namun, buruknya teman-teman kelas baru ku sempat menegur ku tentang masalah hubungan ku dengan Kai, sungguh membuatku muak ketika seorang lelaki yang merupakan ketua OSIS itu mencoba bertanya padaku saat dikelas.
                “Suzune, tadi Kai datang kemari loh, tapi sayang kamu lagi gak ada dikelas sih.” Celoteh nya seraya mengemut permen susu dimulutnya dan duduk dimeja.
                “Terus? Aku sama sekali gak punya urusan sama dia, dan kamu itu jangan sok tahu ya.” Balasku sedikit membentak.
                “Ah, yang bener? Tapi denger-denger kamu pacaran sama dia ya? Soalnya kalian sering kelihatan jalan bareng sih.” Lanjut ketua OSIS yang bernama Hyuga Yoshino.
                Gubrak! Kakiku pun tersandung kaki meja.
                Tekanan darahku pun mendadak naik dan menghampiri wajah ketua OSIS yang agak jerawatan itu dan berkata, “Hei, ketua OSIS bermulut ember! Sini ku sobek mulutmu dengan jangkar. bisa diem kan, dasar ratu gosip?!” Cetusku sambil melotot padanya.
                “Buset. Serem amat dah. OK, aku minta maaf, jangan marah lah, cabe rawit. Hehe.” Sahut nya sambil cengengesan.
                Sementara aku hanya cengo saat mendengar julukan baru untukku, ‘cabe rawit’, ya julukan yang cocok karena aku memang suka sekali bicara bahkan selalu banyak bicara, oleh karena itu beberapa teman sekelasku memanggilku begitu, tak masalah selama aku belum mengamuk. Aku kembali menuju kursiku yang terdapat di samping jendela, kemudian duduk sambil menatap keluar jendela yang kebetulan ada Kai yang sedang bermain sepak bola dengan teman-teman sekelasnya.
                Aku pun langsung memutar bola mataku lali mengalihkan pandanganku kearah lain sambil berpikir tentang betapa buruknya diriku sampai terkena gosip memalukan seperti ini, dimana Kai dengan jelas mencampakkan perasaanku yang aku anggap  secara sengaja telah merendahkan harga diriku. Namun perasaan sukaku pun akhirnya dengan mudah hilang begitu saja diterpa angin musim semi dan terkubur habis bersama dedaunan kering pohon apel dan bunga sakura.
                Entah mengapa aku sangat amat menyesali diriku yang sempat menyukai hingga menyatakan perasaanku pada orang semacam Kai yang setelah di kupikir tak ada bagusnya sama sekali dengan alasan, aku mengalami penurunan drastis di semester pertama, orang tua hingga teman-temanku pun merasa heran karena seperti bukan Suzune yang sebenarnya yang selalu mendapat peringkat kelas dan menjadi mencolok dikalangan siswa lainnya karena parasku yang dingin dan dianggap berwibawa.
                Penyesalanku yang pertama di masa SMA bahkan tahun pertamaku pula, aku masih seorang gadis polos  dan amatir yang tak pandai berkelakuan, dalam artian aku terlalu meremehkan perasaan cinta, aku terlalu meremehkan arti dari kata ‘gebetan’ sehingga aku berbuat sembarangan yang akhirnya membuatku cukup putus asa.
                Saat aku sampai rumah aku memberikan hasil laporan ujian pertamaku di kelas dua, itu merupakan ujian harian biasa dan aku pun mendapat omel Ibuku.
                “Suzu, ada apa denganmu? Ada apa dengan semua nilai ini? Apa yang salah sama gurumu, huh?” Celoteh Ibuku yang begitu terkejut melihat hasil laporan ujian harian milikku.
                “Ibu, Udah dong ini cuma kebetulan aku harus di remidial. Hal itu biasa terjadi kan, jadi wajar aja.” Jawabku dengan tenangnya.
                “…Tapi Ibu masih gak percaya, pasti ada yang salah sama gurumu. Ibu lihat kamu belajar setiap malam, tapi semester kemarin pun kamu gak dapat peringkat kelas, kenapa?” Kata Ibuku yang terus menerus melontarkan pertanyaan.
                “Yang penting aku gak ngulang kelas kan, Bu.”Jawabku dengan nada sedikit jengkel.
                “Iya sih…Ya udah Ibu mau nyiapin makan malam dulu.” Balas Ibuku dengan kesan masa bodoh. Aku pun hanya melongo sambil berkata, “Hah? Gitu doang?”.
                Akhirnya perdebatan kecil antara Ibu dan anak pun berakhir dengan cepat. Sejujurnya aku merasa kecewa pada diriku atas hasil yang ku dapatkan kali ini. Sungguh diluar dugaan. Aku nampak sedikit frustasi, menjatuhkan tubuhku keatas kasur empuk kesayanganku, meremas sprei serta bantal yang ada disekitarnya, lalu bangun menghampiri cermin besar yang terdapat didinding kamarku dan menatap diri sendiri yang seperti sudah ternodai sesuatu hal yang menurutku merusak masa depanku.
                “(Stupid! A Fool! Damn! Kenapa aku bisa sebego ini sih?)” Gerutuku dalam hati.
                Aku benar-benar merasa bersalah tentang apa yang telah ku lakukan, aku pun memutuskan untuk tidak pernah mengirim Kai pesan lagi, aku pun memutuskan untuk melupakan semua perasaanku yang berkecamuk. Ku merasa tubuhku mulai lunglai dan akhirnya jatuh tertidur pulas diatas kasurku.
                Saat ku kembali ke sekolah setelah liburan singkat musim panas, dengan mudahnya aku mengabaikan Kai yang mencoba menyapa dan tersenyum padaku saat kami berpapasan di gerbang sekolah. Aku pun berubah menjadi diriku yang bisa jadi kepribadianku yang biasanya. Aku pun enggan melihat bahkan melirik wajah Kai sedikit pun. Aku merasa jijik, benci sekaligus ilfeel, hingga pada akhirnya Kai pun tak pernah menyapaku lagi.
Hubungan yang bisa dikatakan sebagai teman tapi mesra itu pun berlarut begitu saja. Namun beruntungnya berita mengenai aku yang tercampakkan tidak sampai tembus ke klub sastra, meski seniorku mengetahuinya pun mereka takkan peduli dengan berita kampungan seperti itu.
                “Suzu!” Panggil si Ketua OSIS―Hyuga.
                “Kenapa?” Balasku yang kebetulan baru tiba dari kantin.
                “Tadi kamu di cari Pak Otani tuh suruh datang ke kantor.” Lanjutnya.
                “Heh? Pak Otani? Mau ngapain?”
                “Um… gak tahu tuh, tadi namamu sempet dipanggil juga di mikrofon, emang kamu gak denger? Ampun deh telingamu kemana sih?” Katanya mengejek.
                “Oh masa sih? Haha. Udah deh gak usah ngajak debat. Baiklah, terima kasih KETUA. Minggir! Kataku sambil menuju ke ruang guru, sementara Hyuga hanya terkekeh.
                Tok tok tok… Cklek. Aku pun langsung membuka pintu dan masuk ke ruang guru. Sekilas aku terkejut, disana terdapat beberapa seniorku dari klub sastra, termasuk Toda, senior idamanku, juga Misaki dan seorang siswi yang satu angkatan denganku yang nampaknya anggota klub sastra pula tapi aku baru mengetahui nya saat itu. Lalu Pak Otani memanggilku yang masih berdiri sambil bengong di dekat pintu, aku pun menghampiri mereka. Aku yang masih bingung dengan tujuan Pak Otani memanggilku ke ruangannya pun langsung bertanya padanya.
                “Bapak memanggil saya? Ada apa ya Pak?” Tanyaku dengan santainya.
                “Jadi begini, bulan depan akan ada olimpiade nasional termasuk lomba menulis esay Jepang klasik di Universitas Waseda, meski ini merupakan ajang tiap tahun, justru aku mau anggota baru juga ikut, lumayan kan untuk mengasah kemampuan menulis serta mendapat pengalaman.” Jelas Pak Otani yang merupakan coach ku.
                Aku dengan polosnya mengangguk sambil berkata “Oh, bulan depan ya?...”
                “Benar. Jadi kalian harus mulai sering berlatih dari sekarang, kalian bisa tanya-tanya pada senior yang sudah pengalaman dalam hal ini.Tenang saja, kalian bisa sambil jalan-jalan juga kan ke Shinjuku.”
                Aku pun hanya tersenyum kecil sambil mengangguk ragu-ragu mengiyakan argumen Pak Otani.
                “Suzu! Kamu yakin? Lombanya bulan depan tahu, kamu sok santai begitu sih?!” Bisik Misaki di telingaku.
                Eh? Pak, serius bulan depan?” Aku pun kembali terkejut setelah Misaki menyadarkanku dan bertanya kembali.
                “Ya serius lah, kamu barusan denger kan?!” Celetuk Toda, si senior idamanku itu.
                “EHH? Tapi Pak, itu kan terlalu cepat, sekarang saja sudah di minggu ke 3 bulan Agustus, pasti waktunya tidak akan cukup, kami kan masih baru jadi lain kali saja ya Pak, hehe.” Kataku seraya melebarkan senyumku dan memohon pada Pak Otani, karena sebenarnya aku paling takut dengan ajang kompetisi yang pada kenyataannya sesuatu yang hanya dimanfaatkan sekolah untuk meningkatkan reputasi sekolah, pihak sekolah pasti akan bergantung padaku, dan aku akan menerima beban terberat yang harus dipertaruhkan dalam hidupku.
                “Tapi Bapak sudah mendaftarkan kalian loh, kalau kalian menggagalkannya uang pendaftaran takkan bisa dikembalikan.” Kata Pak Otani.
                “Ta-tapi Pak… saya tidak bisa, soalnya saya harus ikut olimpiade tenis pasukan ganda, saya sebagai Ace pula, Pak.” Papar Misaki dengan nada manjanya.
                “Begitu ya, ya sudah kalau memang Misaki tidak bisa, Bapak akan minta carikan kandidat lain untuk menggantikanmu.”
                Misaki tersenyum dengan lega, sementara aku mencoba untuk memohon pada Pak Otani agar tidak ikut juga.
                “P-pak, anu…” Gelagapku.
                “Apa lagi? Mau mundur? Gak bisa. Kamu kan gak ikut klub lain selain disini kan. Jangan sampai kamu melarikan diri.” Ucap Toda setengah dingin.
                “H-heh? Bukan gitu…” Kataku masih terbata-bata.
                “Suzu, tenang saja, Bapak yakin kalian bisa melakukannya, lagi pula ini baru percobaan kan, berhubung kalian akan menjadi penerus kedepannya setelah senior kalian lulus jadi ini kesempatan terbaik untuk memulai petualangan kalian.” Balas Pak Otani.
                Lalu Misaki dengan sumringahnya berpura-pura menyemangatiku karena dia berhasil keluar dari zona menegangkan ini yang tiada bandingnya dengan klub lain. “Iya Suzu, itu benar, kamu harus semangat ya.”
                “(Petualangan, pantatmu. Semangat, palamu.)” Gerutuku seraya melebarkan senyum pura-pura dihadapan orang-orang berkelas tersebut. Aku dan Misaki pun, tidak! Hanya aku yang mulai merasakan ketegangan yang sebelumnya tak pernah ku rasakan, mukaku pun mulai kusut, terkecuali Misaki juga para senior yang telah kaya akan pengalaman itu, mereka terlihat santai dan berinisiatif.
                Ditambah Yui sudah mulai tidak aktif lagi di klub sastra, ia memilih untuk bergabung dengan klub vokal oleh karena ia tak mau menemukan kompetisi terberat ini. Saat ini sama sekali tak ada yang menopang tekanan yang sedang kurasakan, rasanya sedih sekali menanggungnya sendirian.
                Segera setelah jam pelajaran berakhir, dengan malas aku berjalan menuju ruangan klub, setelah sampai, di ruangan tersebut terdapat para senior diantaranya Toda, Koukei, Kenda, dan Yuri, dan dua orang kandidat tambahan yang merupakan siswi yang satu angkatan denganku yaitu Karina dan Yuka. Mereka berenam sudah memulai menulis poin-poin yang akan mereka tuangkan di esay masing-masing sementara Toda hanya menjadi coach disana dikarenakan ia tidak mendapat izin untuk mengikuti ajang ini karena sudah menjadi juara selama dua tahun berturut-turut, tapi untuk olimpiade kali ini Pak Otani hanya ingin memfokuskan anggota baru untuk mengikuti ajang tersebut, sementara para senior hanya diminta untuk melatih kami.
                Lalu, dengan spontan Koukei memanggil ku untuk menghampirinya dengan melambaikan tangannya padaku. Aku sempat terkejut, “(Hm?! Apa barusan dia manggil aku?)” Gumamku setengah celingukan dengan menaikkan sebelah alisku. Aku pun hanya menyeringai sambil berpikir ‘padahal aku mau minta di ajarin Kak Toda, hm, sayang sekali hari ini gak beruntung.’
Lalu aku menghampiri Koukei, kemudian duduk tepat berhadapan dengannya dan bersebelahan dengan siswa lain yang sedang di bimbing oleh Kenda dan Toda. Dilihatku dengan terkejut, cara mengajar Toda itu agak berlebihan, seperti seolah-olah juniornya itu merupakan jenius sepertinya hingga membuaku merinding. Tanpa bertanya, Koukei pun mengambil buku catatanku hingga Ibu jariku bersentuhan dengan jari nya.
Set! Telunjuknya menyentuh jari jemariku. Glup! Aku menelan ludah dan terkejut.
Tiba-tiba degup jantung serta nadiku terasa lebih cepat 100 km/jam, disertai dengan seperti sebuah getaran sekaligus goncangan, petir kah, bisa jadi,seperti aliran darahku sangat terasa nyata mengalir di setiap urat-uratku. Suhu tubuhku terasa panas tidak normal. “(Oh my! Apa aku mulai terkena flu?! Gawat. Padahal aku gak minum apapun yang dingin-dingin, tadi pagi aku juga mandi air hangat dan gak kenapa-kenapa, aduh gimana nih?!)” Gumamku. Aku sedikit gelagapan ketika Koukei bertanya mengenai beberapa hal padaku yang menurut instingku tidak normal. Lalu Koukei menyuruhku untuk berpindah tempat duduk dilantai karena terasa lebih asyik dan santai, aku pun menurut.
“Kita pindah dilantai aja, gimana? Lebih santai juga, kayaknya kamu gak akan fokus karena bersebelahan samaToda yang lagi marah-marah. Haha.” Ucap Koukei seraya tertawa memunculkan gigi kelincinya.
Ya memang benar, rupanya siswi yang bernama Yuka hanya mendapat celotehan dari Toda sejak tadi, ditambah Yuka terlihat kebingungan setengah mati karena saking tidak mengertinya akan topik yang diberikan Toda padanya. Nampak seperti pertengkaran kekasih (?) bukan, tapi Tom dan Jerry. Sangat lawas sekali. Aku pun ikut tertawa seraya bergumam ria dalam hatiku “(Untung tutorku Kak Koukei kalo gitu)”.
                Kemudian kami pun hendak duduk didekat jendela yang masih tertutup, lalu Koukei membuka kedua jendela tersebut karena cuaca terasa lebih panas dari hari sebelumnya, dan Buzz....
                Hembusan angin musim panas pun berhembus dan bersatu dengan aroma ruangan klub juga dedaunan kering kedalam ruang klub sastra, atmosfir ini seakan menciptakan aroma baru di musim panas tahun keduaku. Sejenak aku menghirup aroma tersebut sambil ku pejamkan mataku berdiri disamping Koukei, dan...
                Hacih! Rupanya ada debu yang masuk kehidung kecilku dan membuatku bersin-bersin, sementara Koukei tidak menyadari itu, tidak penting sekali.
Lalu kami pun duduk dibawah jendela besar itu, dan posisi dudukku bersebelahan bahkan nyaris menempel dengan seragamnya yang selalu nampak bersih dan rapi, meski tak ada bau parfum atau keringat sekalipun yang tercium oleh hidungku, dia beraroma netral seperti udara yang kuhembus setiap hari, pancaran sinar matahari senja dari jendela pun menyoroti sebelah wajah Koukei sehingga nampak sekali lentik bulu matanya dan hidungnya yang indah yang sedari tadi tanpa kusadari menatapinya dengan jarak yang sedekat ini, juga rambut pendeknya yang terbawa lambaian angin itu membuatnya terkesan berwibawa.
Aku sadar, saat aku duduk berdampingan dengannya,ada aura unik dibalik dirinya yang setengah kewanitaan, yaitu bukan kelemahan atau kecentilan seperti pribadi wanita pada umumnya, tapi kelembutan dan ketulusan hatinya ketika mengajari juniornya yang tak begitu pintar ini. Dari situ pun aku sangat mengakui Koukei berbeda dengan senior lain, rupanya saat itu aku sudah mulai jatuh cinta pada Koukei. Tidak, kupikir memang sebelum hari itu tiba, aku sudah menyukai Koukei di bawah alam sadarku.
                Semua kata-kata yang ia keluarkan sangat mudah dimengerti dibanding yang lain, bahkan dengan Toda sekalipun.
                Dup…Dup…Dup…
                Aku yang setengah melamun segera menyadarkan diri agar fokus pada apa yang sedang Koukei ajarkan. Nada suaranya yang ku ejek seperti wanita itu menjadi terasa lain, kenapa suasana ini menjadi semakin hangat, semangatku pun seperti bangkit kembali padahal aku sempat merasa down kemarin, rasanya beban untuk tawaran olimpiade ini pun hilang sekilas. Seperti aku menjadi pintar sesaat, aku mendadak bisa berpikir kritis serta menemukan ide dengan mudah hingga aku bisa menulis setengah halaman.
                Koukei sungguh tutor yang pandai, ia tak pernah membentakku ketika aku salah, lain hal dengan Yuka yang masih saja mendapat perlakuan cuek dari Toda, bahkan Toda tidak mengajarinya dengan tulus.
                “Oops!” Kata Koukei yang tiba-tiba mengelus rambutku dengan halus. Aku yang masih menunduk sambil menulis pun dengan lebar membelalakan mataku dan terkejut dengan apa yang sedang Koukei lakukan. Aku pun tak berani menoleh padanya.
                Sakura. Hehe.” Lanjutnya seraya menyeringai dan memegang sebuah kelopak bunga Sakura yang masih berwarna merah muda yang baru saja mendarat di poniku. Aku pun tertawa kecil lalu menghembuskan nafas dengan lega.
                “Oh....! haha. Makasih.” Kataku sambil pura-pura merapikan poniku karena malu, aku merasa wajahku terasa panas, aku ingin mengambil cermin dan melihat apa wajahku memerah atau tidak, tapi aku tak sempat melakukannya didepan senior yang berwibawa ini, lalu aku kembali menatap dan melanjutkan tulisanku. Tanganku mendadak berkeringat, aku pun mengelapkannya ke rokku, seraya mengalihkan perhatian Koukei.
                Namun, tanpa kuduga Sakura kering itu tak ia buang sama sekali, justru ia letakkan di atas bukuku dan menyuruhku menyimpannya sambil bilang “Ini. Kamu simpan ya, hehe.” tapi aku spontan menolaknya dengan nada mengejek menandakan bahwa tindakan tersebut merupakan hal bodoh untuk orang seperti Koukei yang bahkan meminta aku melakukannya pula. “Apa sih kak? Keajaiban itu cuma lelucon kali, hehe.” Koukei pun ikut terkekeh.
                “Kak, ini tolong dibaca dulu, pasti banyak yang salah ya kata-kataku.” Kataku pesimis sambil memberikan bukuku. Lalu Koukei membaca serta menelisik setiap kalimatku dengan amat teliti, sambil termanggut-manggut dan menggoreskan beberapa kata untuk mengoreksi lembaran esayku.
                Kami pun berlatih sampai matahari nyaris terbenam. Ini sudah pukul 5 sore, Koukei serta senior lainnya bersiap-siap untuk pulang, begitu juga aku dan junior lain.
                “Yosh! Akhirnya selesai juga simulasi hari ini, sampai jumpa besok ya, Suzu, Karina, Yuka.” Sahut Kenda seraya melambaikan tangan pada kami bertiga.
                Aku pun menghela nafas lega sambil bergumam, “(Hh...Besok ya, aku kira hari esok sudah akan berakhir nanti malam).”
                “OK kak, sampai besok.” Balas Karina dan Yuka.
                “Suzu, aku duluan ya, sampai besok.” Kata Koukei berpamitan padaku.
                “Oh, iya kak, bye...hati-hati ya.” Kataku yang hanya mendapat balasan senyum dari Koukei sambil menatapnya dari belakang.
                Satu per satu perlahan beranjak ke rumah mereka masing-masing, dalam keadaan itu sebenarnya aku ingin sekali pulang bersama dengan Koukei dan senior lainnya, tapi aku merasa minder karena aku tak seperti mereka, entah mengapa meski aku merasa sudah cukup kenal dengan salah satunya Koukei, tapi seolah aku tak bisa setara dengannya. Aku hanya bisa berada dibelakangnya, saat itu aku sempat berpikir untuk bisa berjalan pulang disampingnya dengan yang lainnya, namun aku memilih mundur dan pulang sendiri.
                “Suzu!” Terdengar teriakan seorang wanita dari belakangku yang berjarak kurang lebih 2 meter. Misaki menghampiriku dengan nafas tersengal-sengal.
                “Misaki kok kamu belum pulang ?” Tanyaku.
                “Iya, aku baru selesai latihan tenis.”
                “Oh iya, aku lupa. Kamu kan mengkhianatiku, seneng ya kamu aman sekarang.Dengusku sebal.
                Haha, bukan mengkhianati, aku cuma gak bisa menjadi bahan rebutan. Hey Suzu, aku menyadari sesuatu loh.” Kata Misaki dengan senyum sok manisnya itu.
                “Apa?” Balasku sambil pura-pura terkejut.
                Misaki pun menjelaskan dengan pedenya, “Kayanya, aku suka sama Kak Toda.”               
                Zonk! Langkahku terhenti sejenak.
                “...A-ah? EEEEHH? Seriusan lo Misaki?” Teriakku terkejut dahsyat.
                “Yah...aku juga heran kenapa aku bisa suka sama dia.” Balasnya seraya melipat kedua tangannya angkuh.
                “Tunggu. Pasti terjadi sesuatu kan sebelum itu? Ayo jujur!” Tuntut ku.
                “Ehehe, iya sih. Eh gak juga, itu cuma hal biasa sih.” Jawab Misaki plin-plan, sementara aku hanya memutar bola mataku dengan malas, lalu Misaki melanjutkan kembali, “Gak tau kenapa aku begitu terkesan pas liat dia bacain puisi karya siapa itu, aku lupa penyairnya. Pokoknya gesture yang ia bawakan sangat amat berkarisma, kamu tahu, aku baru sadar kalau dia itu seperti Choi Minho, member SHINee,...”
Gusrak! Kakiku tersandung kerikil, lalu kubilang, “Oh my God! Please don’t say something heard stupid.” sambil mengekspresikan kedua tanganku yang memohon pada sang pencipta. Tanpa menghiraukan kata-kataku, Misaki pun tetap melanjutkan syairnya, “Perawakannya, parasnya jika diihat dari samping itu loh mirip sekali, dan suaranya yang tak pernah hilang dari ingatanku.” Katanya sambil loncat-loncat kecil.
                Aku pun menepok jidatku yang agak sempit dan tertutup poni, Plak! dan bergumam “(Ampun deh nih si Maniak K-pop).” serta menggelengkan kepalaku beberapa detik.
                “Ih beneran deh, Suzu, coba kamu perhatikan dengan teliti, dia itu mirip Choi Minho. Kamu kan juga nge-fans sama Minho.” Lanjutnya antusias. Aku pun tanpa sadar terpengaruh dan merenggut imajinasiku.
                …Mmmm…Iya sih, agak mirip juga ya kalau ditelisik.” Lanjutku seraya menopang dagu.
                “Nah, kan akhirnya kamu sadar juga.”
                But please, Misaki, Minho itu seorang aktor ya, jadi aku gak mau ada unsur ke-plagiat-an yang kamu tanamkan pada Toda.”
                “Hahaha, enggak lah, mana mungkin juga aku sampai seperti itu. Oh iya Suzu, gimana hubunganmu sama Kak Koukei? Lancarkah?” Tanya Misaki seraya menaikkan kedua alisnya.
                “Heh? Kenapa gitu?”
                “Terakhir kali kamu bilang sering chattingan sama dia, terus kamu curhat soal Kakak kelas dari klub softball kan sama dia, terus respon dia gimana tadi pas simulasi?”
                “Hm...Biasa aja. Gak ada yang spesial.” Kataku lirih.
                Ketika di akhir semester kelas 1, aku dan Misaki menjadi berubah pikiran atau mungkin berubah kepribadian, tentu saja tidak,  selera kami hanya berbalik, yang pada awalnya aku menyukai Toda, kini aku menyukai sosok yang pernah disukai Misaki pertama kali. Aku rasa perasaan sukaku pada Toda hanya sebatas fans saja, karena ku juga merasa gaya bahasanya itu tidak dapat menembus otakku sama sekali.
Aku, juga Misaki jadi berubah pandangan akan dua orang Kakak kelas tersebut, kami yang tadinya saling mengejek selera masing-masing, kini menjadi sama-sama munafik, tak ada yang menang ataupun kalah, kesimpulannya adalah bahwa bagaimana pun, aku, Misaki dan Yui hanyalah spesies kecil yang disebut junior. Ya, benar, bahwa aku menjadikan Koukei tempat persemayaman akan curhatan tololku yang penuh dengan bahasan kisah cinta palsu. Padahal aku sepenuhnya menginginkan perhatian Koukei, bukan agar dia mencomblangkanku dengan tokoh yang ku ceritakan padanya. Betapa bejatnya aku kala itu.
***
Pak Kotarou berjalan sambil membawa toa di tangannya kemudian berhenti dan berdiri tepat di depan gerbang sekolah yang sudah terdapat segerombolan siswa yang akan diberangkatkan ke Shinjuku untuk mengikuti olimpiade di Universitas Waseda. Dia mengangkat pengeras suara tersebut kedepan bibirnya yang terdapat kumis tipis itu seraya mengecek kejernihan pengeras suara tersebut.
“Tes...Tes...Ya, semua siswa silahkan berkumpul di depan gerbang utama, karena bis kita akan segera tiba. Jangan lupa dengan barang bawaan kalian jangan sampai ada yang tertinggal, apa lagi jika diri kalian yang tertinggal.”
“Dasar, lelucon apaan sih si Pak Kotarou suka gak jelas.” Celetuk salah seorang siswi kelas 3.
Hari ini tepatnya, Minggu, 15 September merupakan keberangkatanku untuk mengikuti ajang olimpiade yang dinanti-nantikan itu, sebenarnya yang aku nantikan adalah ke berakhirannya. Semua siswa berbaris sesuai klub masing-masing. Aku merasa sengsara sekali karena Misaki tak satu bangku denganku di bis, akhirnya dengan agak terpaksa aku meminta Yuka untuk menjadi partner kursi bis ku, karena dibanding yang lainnya hanya Yuka yang bisa kuajak ngobrol selain Yui dan Misaki.
Meski begitu setidaknya aku sedikit senang karena aku satu bis dengan Koukei dan geng nya termasuk Toda dan Kenda. Tapi... kursi kami nampak sekali berjauhan, maka aku tak bisa melihat batang hidungnya yang indah itu bahkan penampakannya dari jendela kaca saja tidak kelihatan. Di tengah perjalanan aku hanya makan cemilan yang dibawakan Ibuku seadanya, yaitu bento dengan ukuran double yang sama sekali bukan porsiku, ini sih bukan cemilan namanya. Ibuku bilang agar aku tidak kelaparan dijalan, akhirnya aku hanya bisa memakan satu onigiri mini isi chicken katsu.
Sementara Yuka yang duduk disampingku tak banyak berbincang denganku, ia hanya memasang headphone nya sambil menatap keluar jendela, aku pun dengan cepat sadar diri bahwa ia sedang tak mau diajak bicara. Ketika sudah seperempat perjalanan, semua siswa di dalam bisku sangat berisik, ada yang bernyanyi, bermain gitar dan lainnya, bahkan aku sempat mendengar suara tawa Koukei tanpa melihat seperti apa ekspresinya ketika ia tertawa puas.
Aku pun akhirnya menyerah karena tak ada yang bisa ku ajak bicara, termasuk Misaki, tokoh yang kusebut teman akrab ku, dia malah asik sendiri dengan teman klub tenisnya. Aku memejamkan mataku dan memilih untuk tidur selama perjalanan, untuk menghindari supaya aku tak mabuk darat juga sih.
Belum lama aku jatuh ke alam bawah sadarku, tiba-tiba Yuka menggoyangkan tubuhku. Mataku pun terbuka dan langsung terkejut melihat wajah Yuka yang mendadak pucat pasi. Rupanya ia mabuk darat. Aku pun panik dan langsung mencari obat yang bisa meredakan rasa mual, akhirnya Pak Otani memberikan semacam minyak angin padanya. Tadinya aku berniat memberinya kantung muntah.
“(Hhh, untung dia gak sampe muntah dibajuku).” Gumamku sembari menghela nafas lega. Lalu aku memutuskan untuk memejamkan mataku kembali dan kali ini sungguh-sungguh berniat untuk tidur, sebab kami melakukan perjalanan sore hingga malam hari mungkin sampai Shinjuku pada pagi hari. Kalau saja kami naik Shinkansen(4)Kereta cepat pasti takkan selama itu.
“Hoam...” Aku terbangun menggeliat seraya menguap imut. Menengok jam tangan silver ditangan kananku yang menunjukkan pukul 00:01, aku pun baru sadar bahwa aku tidur sudah selama itu. Mengerjap - ngerjapkan mataku dan menelisik ke sekitar, hampir semua siswa dan para guru sedang tertidur pulas, suasana juga nampak sepi hanya terdengar suara mesin bis yang fals.
Aku mengambil ponselku di dalam ransel, mengecek nya dan, ada satu pesan dari Kai.”(Ih mau apa coba dia)” gumamku tanpa terkejut sekalipun. Isi pesannya hanyalah pengumuman bahwa dia pun turut ikut olimpiade karate tapi tidak satu bis denganku, lalu dengan belas kasihanku, aku balas dengan kata “Semangat” agar dia senang saja. Kemudian tanpa sengaja terbesit di benakku untuk mengintip apakah Koukei sudah tidur atau belum, tapi aku tak berani beranjak dan menghampiri kursinya seperti seorang penguntit, yang ada seluruh siswa bisa bangun karena ulahku.
Aku pun nekat mengirimnya pesan meski detak jantungku dibawah tekanan dengan harapan dia masih bangun dan akan membalas pesanku, meski kemungkinannya kecil.
Senin, 16 September 00:15
Ke           : Kak Koukei
Pesan    : Kak Koukei, lagi ngapain? Udah tidur ya?
                Kirim.
                Tak lama kemudian, drrt...drrt...Aku pun terkejut hingga ponselku sedikit terlempar, kemudian membelalakan mataku dan membaca pesan balasan tersebut.
                Senin, 16 September 00:17
                Dari        : Kak koukei
                Pesan    : Belum, aku gak bisa tidur. Kenapa kamu belum tidur? Besok kesiangan loh.
                Aku ingin sekali menengok kebelakang melihat Koukei, tapi, mustahil. Aku pun memilih untuk mengakhiri chat ku dengannya.
                Senin, 16 September 00:20
                Ke           : Kak koukei
                Pesan    : Iya ini baru mau, ya udah selamat malam, Kak.
                Aku mematikan ponselku agar saat sampai ditujuan tidak lowbate, dan kembali tertidur meski beberapa jam lagi di perkirakan akan sampai di asrama Waseda.
                Tepat pukul 7, aku, Yuka, Karina, Yuri serta semua peserta yang akan mengikuti olimpiade menuju auditorium kampus Waseda untuk upacara pembukaan. Jarak dari asrama ke auditorium hanya menghabiskan kurang lebih 10 menit dengan jalan kaki, kami  pun beramai-ramai menuju ke sana. Sungguh menakjubkan bangunan kampus Internasional ini yang kulihat seperti perpaduan desain kastil yang terdapat jam Big Ben menyatu dengan bangunan yang bisa disebut main gate itu.
                Belum lagi banyak pelajar asing berkeliaran disana, sungguh aku seperti berada di alam lain. Juga, suasana auditorium yang nampak seperti aula kepresidenan yang bahkan aku tak bisa mengkonotasikannya dengan hal lain sebab terlalu mengagumkan. Kami berempat berdiri dibarisan yang tak jauh dari podium, Koukei pun berdiri tepat di depanku.
                Aku ingin sekali menyapanya, menepuk pundaknya dari belakang bahkan kalau bisa bercanda dengannya layaknya Yuri—Kakak kelasku yang juga satu-satunya teman perempuan di gengnya Koukei yang bisa akrab dengannya. Namun, aku merasa minder, melihat Koukei yang selalu berada didepanku, padahal aku sudah sering chattan dan ngobrol di sekolah. Aku menjadi bisa tak percaya diri hanyalah di depan Koukei seorang, maka aku putuskan untuk tak mengeluarkan sepatah kata pun sampai upacara berakhir dan kompetisi dimulai.
                Aku heran, mungkin untuk Koukei sendiri hal semacam teman curhat adalah hal biasa, tapi untukku bisa ngobrol dengan sekumpulan bintang sekolah merupakan anugerah yang mungkin tak bisa didapatkan orang lain, sebab aku bukanlah siswa luar biasa. Terkadang ku berpikir, beruntung aku bisa menjadi seperempat bagian dari mereka, tapi aku merasa takkan pernah bisa setara dengan mereka.
                Sialnya, Koukei bahkan tak mengajakku bicara atau menoleh sekalipun, dia hanya asik dengan teman-teman lelakinya, padahal dia tahu aku berjalan dibelakangnya.“(Oh Shit).” Gumamku.
                Kemudian setiap peserta menuju ke ruang kompetisi masing-masing, tim kami pun menuju fakultas sastra dimana olimpiade esay sastra klasik di adakan. Aku grogi setengah mati, tanganku berkeringat, mendadak suhu tubuhku dingin ditambah perutku menjadi sakit pula. Atmosfir ini sungguh tak karuan rasanya, bahkan ini pertama kalinya aku mengikuti ajang besar seperti ini. Saat sampai di dalam kelas yang sudah tersedia kursi dan podium, aku dan yang lain pun duduk berkelompok untuk menunggu hasil undian tema untuk babak pertama.
                “Kira-kira siapa ya lawan kita? Aku penasaran sama wajah-wajah mereka.” Ucap Koukei seraya membalikkan tubuh nya menghadap aku dan yang lainnya yang duduk dikursi tepat dibelakangnya.
                “Entahlah. Tapi kayanya Rokko Gakuin ikutan deh.” Sahut Kenda.
                “Yah, aku sih wanti-wanti lawannya dari SMA Tokyo.” Bisik Yuri pada kedua temannya itu. Sementara kami para junior hanya terdiam membisu dan menundukkan kepala kami untuk...merenung. Tidak pun aku, Karina bahkan Yuka yang berdiskusi aktif layaknya senior kami. Kemudian Koukei pun menegur kami yang sedang diambang ketegangan ini.
                “Hey, kalian. Yang semangat dong. Tenang aaja, semua akan baik-baik saja. Cukup lakukan dan tunjukkan kemampuan kalian, ini kesempatan emas kalian loh, OK.” Kata Koukei ramah. Karina dan Yuka hanya membalas dengan tawa kecil yang sangat kelihatan pura-pura sekali, sedangkan aku hanya berekspresi datar dan berusaha tetap tenang meski sebenarnya kekesalan membelenggu hatiku saat ini.
                “Kamu tegang, ya Suzu?” Tanya Koukei padaku. Aku pun mengangguk sambil mengigit bibir bawahku juga ekspresi wajah merengek ingin segera menyerah mengikuti ajang ini.
                “Coba kamu pake metode ini buat ngilangin rasa tegangmu.” Lanjut Koukei seraya mengacungkan kedua Ibu jarinya dan meniupnya secara bergantian sambil menunjukkannya dihadapanku. “Kamu tiup Ibu jarimu secara bergantian sampe rasa gemetaranmu hilang, aku selalu pake metode ini loh, ya meski grogi nya gak hilang secara total sih.” Lanjutnya.
Aku sempat tercengang sekaligus ingin tertawa karena kurasa hal bodoh semacam itu takkan bekerja sama sekali. Tapi aku ingin menghargai motivasi Koukei sebagai mood booster-ku, lalu aku pun menirukan dengan bodohnya.
                “Kayak gini?” Tanyaku sembari mempraktekkan metode yang barusan Koukei ajarkan.
                “Hehe, bukan...gini,” Ucapnya seraya memegang lebih tepatnya untuk membenarkan posisi tanganku. Bukannya menjadi tenang, tanganku malah semakin berkeringat karena tekstur kulit Koukei yang halus dan juga hangat. “Kemudian tiup kedua ibu jarimu dengan santai, gak usah buru-buru.” Lanjutnya.
                “Kalian berdua ngapain sih?” Tegur Yuri.
                “Ah, enggak apa-apa.” Sahut Koukei “Semangat!” Bisiknya padaku sambil mengepalkan kedua tangannya, kemudian berbalik ke tempat semula.
                Hatiku yang sempat terusik itu pun ingin sekali menyenandungkan perasaanku pada Koukei, aku yang kembali kedalam anganku segera menebas halusinasiku dan kembali ke kenyataan, yang getir.
                Pada hari Rabu pagi, kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Kobe, aku dan segerombolan siswa lainnya mulai mengangkut barang-barang kami ke bis, semua nya nampak sangat bahagia karena olimpiade ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Sekolah kami membopong beberapa tropi yang salah satunya dari klub ku yakni klub Sastra, meski bukan timku yang menjadi juara tapi aku senang kami bisa membawa hasil yang tak sia-sia sama sekali.Entah apa yang telah merasuki ku, setelah olimpiade perdanaku selesai aku merasa menemukan suatu elemen yang dingin, bergairah juga menantang hingga membuatku haus dan ingin melontarkan semua pikiranku. Akupun ikut tersenyum melihat semuanya bergembira seraya menggotong tropi besar itu.
                “Suzuneee!” Tiba-tiba Misaki datang lalu memelukku erat serta berkata, “Aku kangen banget sama kamu,Suzu.”
                “Aduduh, jangan meluk-meluk gitu dong, malu diliatin orang nanti salah paham lagi.” Gertakku sambil melepaskan tubuh Misaki yang sempat menempel padaku.
                “Gimana kompetisinya? Seru kah? Atau menegangkan kah?” Tanya Misaki.
                “Dua-dua nya.” Jawabku seraya meragakan simbol peace oleh kedua jari kiri ku. “Yah...meski timku gak menang sih, wajar aja ini kan baru pertama kali.” Paparku.
                “Kok bisa timmu kalah? Emang lawannya siapa?”
                “Ya jelas lah kalah, orang lawanku itu mereka.” Kataku menunjuk pada gengnya Koukei.
                “Hah? Serius? Masa sih? Kok bisa kamu lawan mereka?” Misaki membelalakan matanya.
                “Soalnya kita diundi gitu loh, padahal aku udah sempet ke semi final, yah tapi gimana pun aku seneng sekolah kita menang banyak.” Jelasku yang kemudian nyender di awak bis yang akan kunaiki.
                “Selamat ya untuk timmu, Misaki.” Lanjutku.
                “Iya, makasih Suzu.” Balasnya.
                Setelah itu, kami semua akhirnya menuju perjalanan pulang dengan penuh canda tawa riang gembira, suasana bis nampak bising karena semua siswa sedang dilanda bahagia, aku pun sampai tak bisa tidur sama sekali padahal tubuhku sangat lelah dan tulang rusukku serasa remuk, “(Pokoknya pas sampe rumah aku mau ke tukang urut ah, pegel banget nih badan)” , ringisku dalam hati.
***

‘Berpikir untuk memendam rasa terkadang nampak baik
demi menjaga hubungan yang dianggap Teman’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...