Ketika musim semi tepatnya semester awal
ditahun keduaku dimulai, aku sempat mendapat kabar kurang baik mengenai Kai,
yang gosipnya ia sedang mendekati siswa baru dikelas 1. Pikiran ku kemelut yang
sejujurnya hatiku pun merasa sakit, ingin berteriak, merintih bahkan ingin
pulang saat itu juga. Aku
sangat amat sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa melainkan teman dekat Kai, tapi
bagaimana pun aku katakan ‘aku sangat kecewa’, namun disitu aku sempat merasa
beruntung tidak satu kelas dengan nya, dari pengalaman masa remajaku ini,
tentang perasaanku yang setengah-setengah dan ingin mewujudkan semua
keinginanku sempat ku sesali
di hari saat aku
mulai tumbuh dewasa. Jika
ku hitung, cukup banyak penyesalanku di masa lalu itu.
“Suzu.”
Panggil Misaki.
“Hm?” Balasku yang tengah fokus membaca manga favoritku.
“Kamu
masih suka chat-an sama Kai?” Lanjut Misaki.
“..O-oh? Udah agak jarang sih, aku juga agak males. Apalagi katanya dia lagi PDKT sama anak
kelas 1, ya udah deh bodo amat.” Balasku dengan ekspresi
datar.
“Kamu
beneran gak apa-apa? Kai
bilang kamu nembak dia?! Berani
banget. Kalo
aku pasti cuma mikirinnya aja udah malu.”Papar
Misaki sambil menatap wajahku penasaran.
“Psst!
Pelan-pelan dong ngomongnya,
Misaki. Hmhhh…bukan. Aku cuma nyatain aja, soalnya ngeganggu banget, kamu tahu
dimana? Disini…” Ucapku seraya mengarahkan telunjuk tepat dimana hatiku berada.
“Eeh???
Ya itu mah sama aja, kamu nembak dia cuma gak secara langsung.” Sahut Misaki
mengusap keningnya. “Jadi kamu beneran suka sama Kai? Gak nyangka kamu bisa ngelanggar
janjimu, Suzu.” Ucap Misaki setengah
mengejek.
“Loh? Janji? Janji apa? Aku
tuh cuma pengen jadi wanita yang gentle
dan terus terang, lagi pula aku cuma
bilang di sms, gak secara langsung, jadi biasa aja. Bisa jadi aku
lagi bercanda doang. Kamu ini gampang percaya banget sih, Misaki. Lagi pula pikiran orang itu bisa
berubah-ubah kan, setiap waktu takkan selalu sama.” Jelas ku
dengan poker faceku yang khas.
Misaki
pun lanjut membalas “What? Wanita gentle? Maksudmu? Haha. Sungguh
aku gak ngerti deh apa yang ada di otakmu itu.”
Meski
aku bilang demikian,
rasanya manga yang sedang ku baca
pun tidak menjadi favorit lagi, karena pada kenyataannya perasaan sakit itu
masih sedikit terngiang seolah
olah cuaca pun menjadi lebih panas dari pada sebelumnya. Ditambah lagi aku
sempat berpapasan dengan anak kelas 1 yang barusan kami gosipkan saat akan
menuju ke kelas. Misaki sengaja menyikut lenganku, namun aku tidak
menggubrisnya sama sekali.
Tak
lama gosip itu pun mulai mencair perlahan-lahan termasuk hubungan Kai denganku
yang kami akhiri begitu saja, namun, buruknya teman-teman kelas baru ku sempat
menegur ku tentang masalah hubungan ku dengan Kai, sungguh membuatku muak
ketika seorang lelaki yang merupakan ketua OSIS itu mencoba bertanya padaku
saat dikelas.
“Suzune,
tadi Kai datang kemari loh, tapi sayang kamu lagi gak ada dikelas sih.” Celoteh
nya seraya mengemut permen susu dimulutnya dan duduk dimeja.
“Terus?
Aku sama sekali gak
punya urusan sama dia, dan kamu itu jangan sok tahu ya.” Balasku sedikit
membentak.
“Ah,
yang bener? Tapi denger-denger kamu pacaran sama dia ya? Soalnya kalian sering
kelihatan jalan bareng sih.” Lanjut
ketua OSIS yang bernama Hyuga Yoshino.
Gubrak! Kakiku pun tersandung kaki meja.
Tekanan
darahku pun mendadak naik dan menghampiri wajah ketua OSIS yang agak jerawatan
itu dan berkata, “Hei,
ketua OSIS bermulut ember! Sini
ku sobek mulutmu dengan jangkar.
bisa diem kan, dasar ratu
gosip?!” Cetusku sambil melotot padanya.
“Buset. Serem amat dah. OK, aku minta maaf, jangan
marah lah, cabe rawit. Hehe.” Sahut
nya sambil cengengesan.
Sementara
aku hanya cengo saat mendengar julukan baru untukku, ‘cabe rawit’, ya julukan
yang cocok karena aku memang suka sekali bicara bahkan selalu banyak bicara,
oleh karena itu beberapa teman sekelasku memanggilku begitu, tak masalah selama
aku belum mengamuk. Aku kembali menuju
kursiku yang terdapat di samping jendela, kemudian duduk sambil menatap keluar
jendela yang kebetulan ada Kai yang sedang bermain sepak bola dengan teman-teman sekelasnya.
Aku
pun langsung memutar bola mataku lali mengalihkan pandanganku kearah lain sambil berpikir tentang betapa
buruknya diriku sampai terkena gosip memalukan seperti ini, dimana Kai dengan
jelas mencampakkan perasaanku yang aku anggap secara sengaja
telah merendahkan harga diriku. Namun perasaan sukaku pun akhirnya dengan mudah hilang begitu saja diterpa
angin musim semi dan terkubur habis bersama dedaunan kering pohon apel dan
bunga sakura.
Entah
mengapa aku sangat amat menyesali diriku yang sempat menyukai hingga menyatakan
perasaanku pada orang semacam Kai yang setelah di kupikir tak ada bagusnya sama
sekali dengan alasan, aku
mengalami penurunan drastis di semester pertama, orang tua hingga teman-temanku
pun merasa heran karena seperti bukan Suzune yang sebenarnya yang selalu
mendapat peringkat kelas dan menjadi mencolok dikalangan siswa lainnya karena
parasku yang dingin dan dianggap berwibawa.
Penyesalanku yang pertama di
masa SMA bahkan tahun pertamaku pula, aku masih seorang gadis polos dan amatir yang tak pandai berkelakuan, dalam
artian aku terlalu meremehkan perasaan cinta, aku terlalu meremehkan arti dari
kata ‘gebetan’ sehingga aku berbuat sembarangan yang akhirnya membuatku cukup
putus asa.
Saat
aku sampai rumah aku memberikan hasil laporan ujian pertamaku di kelas dua, itu
merupakan ujian harian biasa dan aku pun mendapat omel Ibuku.
“Suzu,
ada apa denganmu? Ada apa dengan semua nilai ini? Apa yang salah sama gurumu, huh?” Celoteh Ibuku yang begitu
terkejut melihat hasil laporan ujian harian milikku.
“Ibu,
Udah dong ini cuma kebetulan
aku harus di remidial. Hal itu biasa terjadi kan, jadi wajar aja.” Jawabku
dengan tenangnya.
“…Tapi
Ibu masih gak percaya,
pasti ada yang salah sama gurumu. Ibu
lihat kamu belajar setiap malam, tapi semester kemarin pun kamu gak dapat peringkat kelas, kenapa?” Kata
Ibuku yang terus menerus melontarkan pertanyaan.
“Yang
penting aku gak ngulang kelas kan, Bu.”Jawabku dengan nada sedikit jengkel.
“Iya
sih…Ya udah Ibu mau nyiapin makan malam dulu.” Balas
Ibuku dengan kesan masa bodoh. Aku
pun hanya melongo sambil berkata, “Hah? Gitu doang?”.
Akhirnya
perdebatan kecil antara Ibu dan anak pun berakhir dengan cepat. Sejujurnya aku merasa kecewa pada diriku
atas hasil yang ku dapatkan kali ini. Sungguh
diluar dugaan. Aku nampak sedikit
frustasi, menjatuhkan tubuhku keatas kasur empuk kesayanganku, meremas sprei serta
bantal yang ada disekitarnya, lalu bangun menghampiri cermin besar yang
terdapat didinding kamarku dan menatap diri sendiri yang seperti sudah ternodai
sesuatu hal yang menurutku merusak masa depanku.
“(Stupid! A Fool! Damn! Kenapa aku bisa
sebego ini sih?)” Gerutuku dalam hati.
Aku
benar-benar merasa bersalah tentang apa yang telah ku lakukan, aku pun
memutuskan untuk tidak pernah mengirim Kai pesan lagi, aku pun memutuskan untuk
melupakan semua perasaanku yang berkecamuk. Ku merasa tubuhku mulai lunglai dan akhirnya jatuh tertidur pulas
diatas kasurku.
Saat
ku kembali ke sekolah setelah liburan
singkat musim panas, dengan mudahnya aku mengabaikan Kai yang mencoba menyapa
dan tersenyum padaku saat kami berpapasan di gerbang sekolah. Aku pun berubah
menjadi diriku yang bisa jadi kepribadianku yang biasanya. Aku pun enggan melihat bahkan melirik
wajah Kai sedikit pun. Aku
merasa jijik, benci sekaligus ilfeel,
hingga pada akhirnya Kai pun tak pernah menyapaku lagi.
Hubungan yang bisa dikatakan
sebagai teman tapi mesra itu pun berlarut begitu saja. Namun
beruntungnya berita mengenai aku yang tercampakkan tidak sampai tembus
ke klub sastra, meski seniorku mengetahuinya pun mereka takkan peduli dengan
berita kampungan seperti itu.
“Suzu!” Panggil si Ketua OSIS―Hyuga.
“Kenapa?” Balasku yang kebetulan baru tiba dari
kantin.
“Tadi
kamu di cari Pak Otani tuh suruh datang ke kantor.” Lanjutnya.
“Heh? Pak Otani? Mau ngapain?”
“Um…
gak tahu tuh, tadi namamu
sempet dipanggil juga di
mikrofon, emang kamu gak denger? Ampun
deh telingamu kemana sih?” Katanya
mengejek.
“Oh
masa sih? Haha. Udah deh gak
usah ngajak debat. Baiklah,
terima kasih KETUA. Minggir!” Kataku sambil menuju ke ruang guru,
sementara Hyuga hanya terkekeh.
Tok tok tok… Cklek. Aku
pun langsung membuka pintu dan masuk ke ruang guru. Sekilas aku terkejut, disana terdapat
beberapa seniorku
dari klub sastra, termasuk Toda, senior idamanku, juga Misaki dan seorang siswi
yang satu angkatan denganku yang nampaknya anggota klub sastra pula tapi aku
baru mengetahui nya saat itu. Lalu
Pak Otani memanggilku yang masih berdiri sambil bengong di dekat pintu, aku pun
menghampiri mereka. Aku yang masih bingung
dengan tujuan Pak Otani memanggilku ke ruangannya pun langsung bertanya
padanya.
“Bapak
memanggil saya? Ada apa ya Pak?” Tanyaku dengan santainya.
“Jadi
begini, bulan depan akan ada olimpiade nasional termasuk lomba menulis esay
Jepang klasik di Universitas Waseda, meski ini merupakan ajang tiap tahun,
justru aku mau anggota baru juga ikut, lumayan kan untuk mengasah kemampuan
menulis serta mendapat pengalaman.” Jelas Pak Otani yang merupakan coach ku.
Aku
dengan polosnya mengangguk sambil berkata “Oh, bulan depan ya?...”
“Benar. Jadi kalian harus mulai sering berlatih
dari sekarang, kalian
bisa tanya-tanya pada senior yang
sudah pengalaman dalam hal ini.Tenang saja, kalian bisa sambil jalan-jalan juga
kan ke Shinjuku.”
Aku
pun hanya tersenyum kecil sambil mengangguk ragu-ragu mengiyakan argumen Pak Otani.
“Suzu!
Kamu yakin? Lombanya bulan
depan tahu, kamu sok
santai begitu sih?!” Bisik Misaki di telingaku.
“Eh? Pak, serius bulan depan?” Aku pun kembali terkejut setelah Misaki menyadarkanku dan
bertanya kembali.
“Ya
serius lah, kamu
barusan denger kan?!” Celetuk
Toda, si senior idamanku itu.
“EHH?
Tapi Pak, itu kan terlalu cepat, sekarang saja sudah di minggu ke 3 bulan Agustus,
pasti waktunya tidak akan
cukup, kami kan masih baru jadi lain kali saja ya Pak, hehe.” Kataku seraya melebarkan
senyumku dan memohon pada Pak
Otani, karena sebenarnya aku paling takut dengan ajang kompetisi yang pada
kenyataannya sesuatu yang hanya dimanfaatkan sekolah untuk meningkatkan
reputasi sekolah, pihak sekolah pasti akan bergantung padaku, dan aku akan
menerima beban terberat yang harus dipertaruhkan dalam hidupku.
“Tapi
Bapak sudah mendaftarkan
kalian loh, kalau kalian menggagalkannya uang pendaftaran takkan bisa
dikembalikan.” Kata Pak Otani.
“Ta-tapi
Pak… saya tidak bisa, soalnya saya harus ikut olimpiade tenis pasukan ganda, saya sebagai Ace pula, Pak.” Papar Misaki
dengan nada manjanya.
“Begitu
ya, ya sudah kalau memang Misaki tidak bisa, Bapak akan minta carikan kandidat
lain untuk menggantikanmu.”
Misaki
tersenyum dengan lega, sementara aku mencoba untuk memohon pada Pak Otani agar
tidak ikut juga.
“P-pak,
anu…” Gelagapku.
“Apa
lagi? Mau mundur? Gak bisa. Kamu kan gak ikut klub lain selain disini kan.
Jangan sampai kamu
melarikan diri.” Ucap Toda setengah dingin.
“H-heh? Bukan gitu…” Kataku masih terbata-bata.
“Suzu,
tenang saja, Bapak
yakin kalian bisa melakukannya, lagi pula ini baru percobaan kan, berhubung
kalian akan menjadi penerus kedepannya setelah senior kalian lulus jadi ini
kesempatan terbaik untuk memulai petualangan kalian.” Balas Pak Otani.
Lalu
Misaki dengan sumringahnya berpura-pura menyemangatiku karena dia berhasil
keluar dari zona menegangkan ini yang tiada bandingnya dengan klub lain. “Iya
Suzu, itu benar, kamu harus semangat ya.”
“(Petualangan,
pantatmu. Semangat, palamu.)” Gerutuku seraya melebarkan senyum
pura-pura dihadapan orang-orang berkelas tersebut. Aku dan Misaki pun, tidak!
Hanya aku yang mulai merasakan ketegangan yang sebelumnya tak pernah ku
rasakan, mukaku pun mulai
kusut, terkecuali Misaki juga
para senior yang telah kaya akan pengalaman itu, mereka terlihat santai dan berinisiatif.
Ditambah
Yui sudah mulai tidak aktif lagi di klub sastra, ia
memilih untuk bergabung dengan klub vokal
oleh karena ia tak mau menemukan kompetisi terberat ini. Saat ini sama sekali
tak ada yang menopang tekanan yang sedang kurasakan, rasanya sedih sekali
menanggungnya sendirian.
Segera
setelah jam pelajaran berakhir, dengan malas aku berjalan menuju ruangan klub, setelah sampai, di ruangan tersebut terdapat para senior
diantaranya Toda, Koukei, Kenda, dan Yuri, dan dua orang kandidat tambahan yang merupakan
siswi yang satu angkatan denganku yaitu Karina dan Yuka. Mereka berenam sudah
memulai menulis poin-poin yang akan mereka tuangkan di esay masing-masing
sementara Toda hanya menjadi coach
disana dikarenakan ia tidak mendapat izin untuk mengikuti ajang ini karena
sudah menjadi juara selama dua
tahun berturut-turut, tapi untuk olimpiade kali ini Pak Otani hanya ingin
memfokuskan anggota baru untuk mengikuti ajang tersebut, sementara para senior
hanya diminta untuk melatih kami.
Lalu,
dengan spontan Koukei memanggil ku untuk menghampirinya dengan melambaikan tangannya padaku. Aku sempat
terkejut, “(Hm?! Apa barusan dia manggil
aku?)” Gumamku setengah
celingukan dengan menaikkan sebelah alisku. Aku pun hanya menyeringai sambil berpikir
‘padahal aku mau minta di ajarin Kak Toda, hm, sayang sekali hari ini gak beruntung.’
Lalu aku menghampiri Koukei, kemudian duduk tepat berhadapan dengannya dan
bersebelahan dengan siswa lain yang sedang di bimbing oleh Kenda dan Toda. Dilihatku dengan terkejut, cara mengajar
Toda itu agak berlebihan, seperti seolah-olah juniornya itu merupakan jenius
sepertinya hingga membuaku merinding. Tanpa bertanya, Koukei pun mengambil buku catatanku
hingga Ibu jariku bersentuhan dengan jari nya.
Set! Telunjuknya
menyentuh jari jemariku. Glup!
Aku menelan ludah dan terkejut.
Tiba-tiba degup jantung serta
nadiku terasa lebih cepat 100
km/jam, disertai dengan seperti sebuah getaran sekaligus goncangan, petir kah, bisa jadi,seperti aliran
darahku sangat terasa nyata
mengalir di setiap urat-uratku. Suhu tubuhku terasa panas tidak normal. “(Oh my! Apa aku mulai terkena flu?! Gawat. Padahal aku gak minum apapun yang dingin-dingin, tadi
pagi aku juga mandi air hangat dan gak kenapa-kenapa, aduh gimana nih?!)” Gumamku.
Aku sedikit gelagapan ketika
Koukei bertanya mengenai beberapa hal padaku yang menurut instingku tidak
normal. Lalu Koukei menyuruhku untuk berpindah
tempat duduk dilantai karena terasa lebih asyik dan santai, aku pun menurut.
“Kita
pindah dilantai aja, gimana? Lebih santai juga, kayaknya kamu gak akan fokus karena bersebelahan samaToda yang lagi marah-marah. Haha.” Ucap Koukei seraya tertawa memunculkan
gigi kelincinya.
Ya
memang benar, rupanya siswi
yang bernama Yuka hanya mendapat celotehan dari Toda sejak tadi, ditambah Yuka terlihat kebingungan setengah mati
karena saking tidak mengertinya akan topik yang diberikan Toda padanya. Nampak seperti pertengkaran kekasih (?) bukan, tapi Tom dan Jerry.
Sangat lawas sekali. Aku pun ikut tertawa seraya bergumam ria dalam hatiku “(Untung
tutorku Kak Koukei kalo gitu)”.
Kemudian kami
pun hendak duduk didekat
jendela yang masih tertutup, lalu Koukei membuka kedua jendela tersebut karena
cuaca terasa lebih panas dari hari sebelumnya, dan Buzz....
Hembusan angin musim panas pun berhembus dan
bersatu dengan aroma ruangan klub juga dedaunan kering kedalam ruang klub
sastra, atmosfir ini seakan menciptakan aroma baru di musim panas tahun keduaku.
Sejenak aku menghirup aroma tersebut sambil ku pejamkan mataku berdiri
disamping Koukei, dan...
Hacih! Rupanya ada debu yang masuk kehidung kecilku dan membuatku
bersin-bersin, sementara Koukei tidak menyadari itu, tidak penting sekali.
Lalu
kami pun duduk dibawah jendela besar itu, dan posisi dudukku bersebelahan bahkan nyaris menempel dengan seragamnya
yang selalu nampak bersih dan rapi, meski tak ada bau parfum atau keringat
sekalipun yang tercium oleh hidungku, dia beraroma netral seperti udara yang
kuhembus setiap hari, pancaran sinar matahari senja dari jendela pun menyoroti sebelah wajah Koukei sehingga
nampak sekali lentik bulu matanya dan hidungnya yang indah yang sedari tadi
tanpa kusadari menatapinya dengan jarak yang sedekat ini, juga rambut pendeknya
yang terbawa lambaian angin itu membuatnya terkesan berwibawa.
Aku
sadar, saat aku duduk berdampingan dengannya,ada aura unik dibalik dirinya yang
setengah kewanitaan, yaitu bukan kelemahan atau kecentilan seperti pribadi
wanita pada umumnya, tapi kelembutan dan ketulusan hatinya ketika mengajari
juniornya yang tak begitu pintar ini. Dari situ pun aku sangat mengakui Koukei
berbeda dengan senior lain, rupanya saat itu aku sudah mulai jatuh cinta pada
Koukei. Tidak, kupikir memang sebelum hari itu tiba, aku sudah menyukai Koukei
di bawah alam sadarku.
Semua
kata-kata yang ia keluarkan sangat mudah dimengerti dibanding yang lain, bahkan
dengan Toda sekalipun.
Dup…Dup…Dup…
Aku yang setengah melamun segera
menyadarkan diri agar fokus pada apa yang sedang Koukei ajarkan. Nada suaranya
yang ku ejek seperti wanita itu menjadi terasa lain, kenapa suasana ini menjadi
semakin hangat, semangatku pun seperti bangkit kembali padahal aku sempat
merasa down kemarin, rasanya beban
untuk tawaran olimpiade ini pun hilang sekilas. Seperti aku menjadi pintar sesaat, aku mendadak bisa berpikir
kritis serta menemukan ide dengan
mudah hingga aku bisa menulis setengah halaman.
Koukei
sungguh tutor yang pandai, ia tak pernah membentakku ketika aku salah, lain hal
dengan Yuka yang masih saja
mendapat perlakuan cuek dari Toda, bahkan Toda tidak mengajarinya dengan tulus.
“Oops!” Kata Koukei yang
tiba-tiba mengelus rambutku dengan
halus. Aku yang masih menunduk sambil menulis pun dengan lebar membelalakan
mataku dan terkejut dengan apa yang sedang Koukei lakukan. Aku pun tak berani menoleh padanya.
“Sakura. Hehe.” Lanjutnya seraya menyeringai dan memegang sebuah kelopak bunga Sakura yang masih berwarna merah muda yang baru saja mendarat di poniku. Aku pun
tertawa kecil lalu menghembuskan
nafas dengan lega.
“Oh....! haha. Makasih.” Kataku
sambil pura-pura merapikan poniku karena malu, aku merasa wajahku terasa panas, aku ingin mengambil cermin dan
melihat apa wajahku memerah atau tidak, tapi aku tak sempat melakukannya
didepan senior yang berwibawa ini, lalu
aku kembali menatap dan melanjutkan tulisanku. Tanganku mendadak berkeringat,
aku pun mengelapkannya ke rokku, seraya mengalihkan perhatian Koukei.
Namun,
tanpa kuduga Sakura kering itu tak ia buang sama sekali, justru ia letakkan di
atas bukuku dan menyuruhku menyimpannya sambil bilang “Ini. Kamu
simpan ya, hehe.” tapi
aku spontan menolaknya dengan nada mengejek menandakan bahwa tindakan tersebut
merupakan hal bodoh untuk orang seperti Koukei yang bahkan meminta aku
melakukannya pula. “Apa sih kak? Keajaiban
itu cuma lelucon kali,
hehe.” Koukei pun ikut terkekeh.
“Kak, ini tolong dibaca dulu,
pasti banyak yang salah ya kata-kataku.” Kataku pesimis sambil memberikan bukuku.
Lalu Koukei membaca serta
menelisik setiap kalimatku dengan amat teliti, sambil termanggut-manggut dan menggoreskan
beberapa kata untuk mengoreksi lembaran esayku.
Kami pun berlatih sampai
matahari nyaris terbenam. Ini sudah pukul 5 sore, Koukei serta senior lainnya
bersiap-siap untuk pulang, begitu juga aku dan junior lain.
“Yosh! Akhirnya selesai juga
simulasi hari ini, sampai jumpa besok ya, Suzu, Karina, Yuka.” Sahut Kenda
seraya melambaikan tangan pada kami bertiga.
Aku pun menghela nafas lega
sambil bergumam, “(Hh...Besok ya, aku kira hari esok sudah akan berakhir nanti
malam).”
“OK kak, sampai besok.” Balas
Karina dan Yuka.
“Suzu, aku duluan ya, sampai
besok.” Kata Koukei berpamitan padaku.
“Oh, iya kak, bye...hati-hati ya.” Kataku yang hanya
mendapat balasan senyum dari Koukei sambil menatapnya dari belakang.
Satu per satu perlahan beranjak
ke rumah mereka masing-masing, dalam keadaan itu sebenarnya aku ingin sekali
pulang bersama dengan Koukei dan senior lainnya, tapi aku merasa minder karena
aku tak seperti mereka, entah mengapa meski aku merasa sudah cukup kenal dengan
salah satunya Koukei, tapi seolah aku tak bisa setara dengannya. Aku hanya bisa
berada dibelakangnya, saat itu aku sempat berpikir untuk bisa berjalan pulang
disampingnya dengan yang lainnya, namun aku memilih mundur dan pulang sendiri.
“Suzu!” Terdengar teriakan
seorang wanita dari belakangku yang berjarak kurang lebih 2 meter. Misaki
menghampiriku dengan nafas tersengal-sengal.
“Misaki kok kamu belum pulang ?”
Tanyaku.
“Iya, aku baru selesai latihan
tenis.”
“Oh iya, aku lupa. Kamu kan
mengkhianatiku, seneng ya
kamu aman sekarang.” Dengusku
sebal.
“Haha, bukan mengkhianati, aku cuma gak bisa menjadi bahan
rebutan. Hey Suzu, aku menyadari sesuatu loh.” Kata Misaki dengan senyum sok
manisnya itu.
“Apa?” Balasku sambil pura-pura
terkejut.
Misaki pun menjelaskan dengan
pedenya, “Kayanya, aku suka sama Kak Toda.”
Zonk! Langkahku terhenti sejenak.
“...A-ah? EEEEHH? Seriusan lo
Misaki?” Teriakku terkejut dahsyat.
“Yah...aku juga heran kenapa aku
bisa suka sama dia.” Balasnya seraya melipat kedua tangannya angkuh.
“Tunggu. Pasti terjadi sesuatu
kan sebelum itu? Ayo jujur!” Tuntut ku.
“Ehehe, iya sih. Eh gak juga, itu cuma hal biasa sih.” Jawab Misaki
plin-plan, sementara aku hanya memutar bola mataku dengan malas, lalu Misaki
melanjutkan kembali, “Gak tau kenapa aku begitu
terkesan pas liat dia bacain puisi karya siapa itu, aku lupa penyairnya. Pokoknya
gesture yang ia bawakan sangat amat
berkarisma, kamu tahu, aku baru sadar kalau dia itu seperti Choi Minho, member
SHINee,...”
Gusrak! Kakiku tersandung kerikil, lalu kubilang, “Oh my God! Please don’t say something heard
stupid.” sambil mengekspresikan kedua tanganku yang memohon pada sang
pencipta. Tanpa menghiraukan kata-kataku, Misaki pun tetap melanjutkan
syairnya, “Perawakannya, parasnya jika diihat dari samping itu loh mirip
sekali, dan suaranya yang tak pernah hilang dari ingatanku.” Katanya sambil
loncat-loncat kecil.
Aku pun menepok jidatku yang
agak sempit dan tertutup poni, Plak! dan bergumam “(Ampun deh nih si Maniak K-pop).” serta menggelengkan kepalaku beberapa detik.
“Ih beneran deh, Suzu, coba kamu
perhatikan dengan teliti, dia itu mirip Choi Minho. Kamu kan juga nge-fans sama Minho.” Lanjutnya antusias.
Aku pun tanpa sadar terpengaruh dan merenggut imajinasiku.
“…Mmmm…Iya sih, agak mirip juga ya kalau ditelisik.” Lanjutku
seraya menopang dagu.
“Nah, kan akhirnya kamu sadar
juga.”
“But please, Misaki, Minho itu seorang aktor ya, jadi aku gak mau
ada unsur ke-plagiat-an yang kamu
tanamkan pada Toda.”
“Hahaha, enggak lah, mana
mungkin juga aku sampai seperti itu. Oh iya Suzu, gimana hubunganmu sama Kak
Koukei? Lancarkah?” Tanya Misaki seraya menaikkan kedua alisnya.
“Heh? Kenapa gitu?”
“Terakhir kali kamu bilang
sering chattingan sama dia, terus
kamu curhat soal Kakak kelas dari klub softball
kan sama dia, terus respon dia gimana tadi pas simulasi?”
“Hm...Biasa aja. Gak ada yang
spesial.” Kataku lirih.
Ketika di akhir semester kelas
1, aku dan Misaki menjadi berubah pikiran atau mungkin berubah kepribadian,
tentu saja tidak, selera kami hanya berbalik, yang pada awalnya
aku menyukai Toda, kini aku menyukai sosok yang pernah disukai Misaki pertama
kali. Aku rasa perasaan sukaku pada Toda hanya sebatas fans saja, karena ku juga merasa gaya bahasanya itu tidak dapat
menembus otakku sama sekali.
Aku,
juga Misaki jadi berubah pandangan akan dua orang Kakak kelas tersebut, kami
yang tadinya saling mengejek selera masing-masing, kini menjadi sama-sama
munafik, tak ada yang menang ataupun kalah, kesimpulannya adalah bahwa
bagaimana pun, aku, Misaki dan Yui hanyalah spesies kecil yang disebut junior.
Ya, benar, bahwa aku menjadikan Koukei tempat persemayaman akan curhatan tololku
yang penuh dengan bahasan kisah cinta palsu. Padahal aku sepenuhnya
menginginkan perhatian Koukei, bukan agar dia mencomblangkanku dengan tokoh
yang ku ceritakan padanya. Betapa bejatnya aku kala itu.
***
Pak
Kotarou berjalan sambil membawa toa di tangannya kemudian berhenti dan berdiri
tepat di depan gerbang sekolah yang sudah terdapat segerombolan siswa yang akan
diberangkatkan ke Shinjuku untuk mengikuti olimpiade di Universitas Waseda. Dia
mengangkat pengeras suara tersebut kedepan bibirnya yang terdapat kumis tipis
itu seraya mengecek kejernihan pengeras suara tersebut.
“Tes...Tes...Ya,
semua siswa silahkan berkumpul di depan gerbang utama, karena bis kita akan
segera tiba. Jangan lupa dengan barang bawaan kalian jangan sampai ada yang
tertinggal, apa lagi jika diri kalian yang tertinggal.”
“Dasar,
lelucon apaan sih si Pak Kotarou suka gak jelas.” Celetuk salah seorang siswi
kelas 3.
Hari
ini tepatnya, Minggu, 15 September merupakan keberangkatanku untuk mengikuti
ajang olimpiade yang dinanti-nantikan itu, sebenarnya yang aku nantikan adalah
ke berakhirannya. Semua siswa berbaris sesuai klub masing-masing. Aku merasa
sengsara sekali karena Misaki tak satu bangku denganku di bis, akhirnya dengan
agak terpaksa aku meminta Yuka untuk menjadi partner kursi bis ku, karena dibanding yang lainnya hanya Yuka yang
bisa kuajak ngobrol selain Yui dan Misaki.
Meski
begitu setidaknya aku sedikit senang karena aku satu bis dengan Koukei dan geng
nya termasuk Toda dan Kenda. Tapi... kursi kami nampak sekali berjauhan, maka
aku tak bisa melihat batang hidungnya yang indah itu bahkan penampakannya dari
jendela kaca saja tidak kelihatan. Di tengah perjalanan aku hanya makan cemilan
yang dibawakan Ibuku seadanya, yaitu bento dengan ukuran double yang sama sekali bukan porsiku, ini sih bukan cemilan namanya. Ibuku bilang agar aku tidak
kelaparan dijalan, akhirnya aku hanya bisa memakan satu onigiri mini isi chicken katsu.
Sementara Yuka yang duduk disampingku tak banyak
berbincang denganku, ia hanya memasang headphone
nya sambil menatap keluar jendela, aku pun dengan cepat sadar diri bahwa ia
sedang tak mau diajak bicara. Ketika sudah seperempat perjalanan, semua siswa di
dalam bisku sangat berisik, ada yang bernyanyi, bermain gitar dan lainnya,
bahkan aku sempat mendengar suara tawa Koukei tanpa melihat seperti apa
ekspresinya ketika ia tertawa puas.
Aku
pun akhirnya menyerah karena tak ada yang bisa ku ajak bicara, termasuk Misaki,
tokoh yang kusebut teman akrab ku, dia malah asik sendiri dengan teman klub
tenisnya. Aku memejamkan mataku dan memilih untuk tidur selama perjalanan,
untuk menghindari supaya aku tak mabuk darat juga sih.
Belum
lama aku jatuh ke alam bawah sadarku, tiba-tiba Yuka menggoyangkan tubuhku.
Mataku pun terbuka dan langsung terkejut melihat wajah Yuka yang mendadak pucat
pasi. Rupanya ia mabuk darat. Aku pun panik dan langsung mencari obat yang bisa
meredakan rasa mual, akhirnya Pak Otani memberikan semacam minyak angin
padanya. Tadinya aku berniat memberinya kantung muntah.
“(Hhh,
untung dia gak sampe muntah dibajuku).” Gumamku sembari menghela nafas lega. Lalu
aku memutuskan untuk memejamkan mataku kembali dan kali ini sungguh-sungguh
berniat untuk tidur, sebab kami melakukan perjalanan sore hingga malam hari
mungkin sampai Shinjuku pada pagi hari. Kalau saja kami naik Shinkansen(4)Kereta cepat pasti takkan selama itu.
“Hoam...”
Aku terbangun menggeliat seraya menguap imut. Menengok jam tangan silver
ditangan kananku yang menunjukkan pukul 00:01, aku pun baru sadar bahwa aku
tidur sudah selama itu. Mengerjap - ngerjapkan mataku dan menelisik ke sekitar,
hampir semua siswa dan para guru sedang tertidur pulas, suasana juga nampak
sepi hanya terdengar suara
mesin bis yang fals.
Aku
mengambil ponselku di dalam ransel, mengecek nya dan, ada satu pesan dari Kai.”(Ih mau apa coba dia)” gumamku tanpa terkejut sekalipun. Isi pesannya
hanyalah pengumuman bahwa dia pun turut ikut olimpiade karate tapi tidak satu
bis denganku, lalu dengan belas kasihanku, aku balas dengan kata “Semangat” agar dia senang saja. Kemudian tanpa
sengaja terbesit di benakku untuk mengintip apakah Koukei sudah tidur atau
belum, tapi aku tak berani beranjak dan menghampiri kursinya seperti seorang
penguntit, yang ada seluruh siswa bisa bangun karena ulahku.
Aku
pun nekat mengirimnya pesan meski detak jantungku dibawah tekanan dengan
harapan dia masih bangun dan akan membalas pesanku, meski kemungkinannya kecil.
Senin, 16 September 00:15
Ke : Kak Koukei
Pesan :
Kak Koukei, lagi ngapain? Udah tidur ya?
Kirim.
Tak lama
kemudian, drrt...drrt...Aku pun terkejut hingga ponselku sedikit terlempar, kemudian membelalakan mataku dan membaca
pesan balasan tersebut.
Senin, 16 September 00:17
Dari : Kak koukei
Pesan : Belum, aku gak bisa tidur. Kenapa kamu
belum tidur? Besok kesiangan loh.
Aku ingin sekali menengok kebelakang melihat Koukei, tapi, mustahil. Aku pun
memilih untuk mengakhiri chat ku
dengannya.
Senin, 16 September 00:20
Ke :
Kak koukei
Pesan : Iya ini baru mau, ya udah selamat malam, Kak.
Aku mematikan ponselku agar saat sampai
ditujuan tidak lowbate, dan kembali
tertidur meski beberapa jam lagi di perkirakan
akan sampai di asrama Waseda.
Tepat pukul 7, aku, Yuka,
Karina, Yuri serta semua peserta yang akan mengikuti olimpiade menuju
auditorium kampus Waseda untuk upacara pembukaan. Jarak dari asrama ke
auditorium hanya menghabiskan kurang lebih 10 menit dengan jalan kaki,
kami pun beramai-ramai menuju ke sana.
Sungguh menakjubkan bangunan kampus Internasional ini yang kulihat seperti
perpaduan desain kastil yang terdapat jam Big Ben menyatu dengan bangunan yang
bisa disebut main gate itu.
Belum lagi banyak pelajar asing
berkeliaran disana, sungguh aku seperti berada di alam lain. Juga, suasana
auditorium yang nampak seperti aula kepresidenan yang bahkan aku tak bisa mengkonotasikannya
dengan hal lain sebab terlalu mengagumkan. Kami berempat berdiri dibarisan yang
tak jauh dari podium, Koukei pun berdiri tepat di depanku.
Aku ingin sekali menyapanya,
menepuk pundaknya dari belakang bahkan kalau bisa bercanda dengannya layaknya
Yuri—Kakak kelasku yang juga satu-satunya teman perempuan di gengnya Koukei yang
bisa akrab dengannya. Namun, aku merasa minder, melihat Koukei yang selalu
berada didepanku, padahal aku sudah sering chattan
dan ngobrol di sekolah. Aku menjadi bisa tak percaya diri hanyalah di depan
Koukei seorang, maka aku putuskan untuk tak mengeluarkan sepatah kata pun
sampai upacara berakhir dan kompetisi dimulai.
Aku heran, mungkin untuk Koukei
sendiri hal semacam teman curhat adalah hal biasa, tapi untukku bisa ngobrol
dengan sekumpulan bintang sekolah merupakan anugerah yang mungkin tak bisa
didapatkan orang lain, sebab aku bukanlah siswa luar biasa. Terkadang ku
berpikir, beruntung aku bisa menjadi seperempat bagian dari mereka, tapi aku
merasa takkan pernah bisa setara dengan mereka.
Sialnya, Koukei bahkan tak
mengajakku bicara atau menoleh sekalipun, dia hanya asik dengan teman-teman
lelakinya, padahal dia tahu aku berjalan dibelakangnya.“(Oh Shit).” Gumamku.
Kemudian setiap peserta menuju
ke ruang kompetisi masing-masing, tim kami pun menuju fakultas sastra dimana
olimpiade esay sastra klasik di adakan. Aku grogi setengah mati, tanganku
berkeringat, mendadak suhu tubuhku dingin ditambah perutku menjadi sakit pula. Atmosfir
ini sungguh tak karuan rasanya, bahkan ini pertama kalinya aku mengikuti ajang
besar seperti ini. Saat sampai di dalam kelas yang sudah tersedia kursi dan
podium, aku dan yang lain pun duduk berkelompok untuk menunggu hasil undian tema
untuk babak pertama.
“Kira-kira siapa ya lawan kita?
Aku penasaran sama wajah-wajah mereka.” Ucap Koukei seraya membalikkan tubuh
nya menghadap aku dan yang lainnya yang duduk dikursi tepat dibelakangnya.
“Entahlah. Tapi kayanya Rokko
Gakuin ikutan deh.” Sahut Kenda.
“Yah, aku sih wanti-wanti lawannya
dari SMA Tokyo.” Bisik Yuri pada kedua temannya itu. Sementara kami para junior
hanya terdiam membisu dan menundukkan kepala kami untuk...merenung. Tidak pun
aku, Karina bahkan Yuka yang berdiskusi aktif layaknya senior kami. Kemudian
Koukei pun menegur kami yang sedang diambang ketegangan ini.
“Hey, kalian. Yang semangat
dong. Tenang aaja, semua akan baik-baik saja. Cukup lakukan dan tunjukkan
kemampuan kalian, ini kesempatan emas kalian loh, OK.” Kata Koukei ramah.
Karina dan Yuka hanya membalas dengan tawa kecil yang sangat kelihatan
pura-pura sekali, sedangkan aku hanya berekspresi datar dan berusaha tetap
tenang meski sebenarnya kekesalan membelenggu hatiku saat ini.
“Kamu tegang, ya Suzu?” Tanya Koukei
padaku. Aku pun mengangguk sambil mengigit bibir bawahku juga ekspresi wajah
merengek ingin segera menyerah mengikuti ajang ini.
“Coba kamu pake metode ini buat
ngilangin rasa tegangmu.” Lanjut Koukei seraya mengacungkan kedua Ibu jarinya
dan meniupnya secara bergantian sambil menunjukkannya dihadapanku. “Kamu tiup Ibu
jarimu secara bergantian sampe rasa gemetaranmu hilang, aku selalu pake metode
ini loh, ya meski grogi nya gak hilang secara total sih.” Lanjutnya.
Aku
sempat tercengang sekaligus ingin tertawa karena kurasa hal bodoh semacam itu
takkan bekerja sama sekali. Tapi aku ingin menghargai motivasi Koukei sebagai mood booster-ku, lalu aku pun menirukan
dengan bodohnya.
“Kayak gini?” Tanyaku sembari
mempraktekkan metode yang barusan Koukei ajarkan.
“Hehe, bukan...gini,” Ucapnya
seraya memegang lebih tepatnya untuk membenarkan posisi tanganku. Bukannya
menjadi tenang, tanganku malah semakin berkeringat karena tekstur kulit Koukei
yang halus dan juga hangat. “Kemudian tiup kedua ibu jarimu dengan santai, gak
usah buru-buru.” Lanjutnya.
“Kalian berdua ngapain sih?”
Tegur Yuri.
“Ah, enggak apa-apa.” Sahut
Koukei “Semangat!” Bisiknya padaku sambil mengepalkan kedua tangannya, kemudian
berbalik ke tempat semula.
Hatiku yang sempat terusik itu
pun ingin sekali menyenandungkan perasaanku pada Koukei, aku yang kembali
kedalam anganku segera menebas halusinasiku dan kembali ke kenyataan, yang
getir.
Pada hari Rabu pagi, kami pun
bersiap-siap untuk kembali ke Kobe, aku dan segerombolan siswa lainnya mulai
mengangkut barang-barang kami ke bis, semua nya nampak sangat bahagia karena
olimpiade ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Sekolah kami membopong
beberapa tropi yang salah satunya dari klub ku yakni klub Sastra, meski bukan
timku yang menjadi juara tapi aku senang kami bisa membawa hasil yang tak
sia-sia sama sekali.Entah apa yang telah merasuki ku, setelah olimpiade perdanaku
selesai aku merasa menemukan suatu elemen yang dingin, bergairah juga menantang
hingga membuatku haus dan ingin melontarkan semua pikiranku. Akupun ikut
tersenyum melihat semuanya bergembira seraya menggotong tropi besar itu.
“Suzuneee!” Tiba-tiba Misaki
datang lalu memelukku erat serta berkata, “Aku kangen banget sama kamu,Suzu.”
“Aduduh, jangan meluk-meluk gitu
dong, malu diliatin orang nanti salah paham lagi.” Gertakku sambil melepaskan
tubuh Misaki yang sempat menempel padaku.
“Gimana kompetisinya? Seru kah?
Atau menegangkan kah?” Tanya Misaki.
“Dua-dua nya.” Jawabku seraya
meragakan simbol peace oleh kedua
jari kiri ku. “Yah...meski timku gak menang sih, wajar aja ini kan baru pertama
kali.” Paparku.
“Kok bisa timmu kalah? Emang
lawannya siapa?”
“Ya jelas lah kalah, orang
lawanku itu mereka.” Kataku menunjuk pada gengnya Koukei.
“Hah? Serius? Masa sih? Kok bisa
kamu lawan mereka?” Misaki membelalakan matanya.
“Soalnya kita diundi gitu loh,
padahal aku udah sempet ke semi final, yah tapi gimana pun aku seneng sekolah
kita menang banyak.” Jelasku yang kemudian nyender di awak bis yang akan
kunaiki.
“Selamat ya untuk timmu,
Misaki.” Lanjutku.
“Iya, makasih Suzu.” Balasnya.
Setelah itu, kami semua akhirnya
menuju perjalanan pulang dengan penuh canda tawa riang gembira, suasana bis
nampak bising karena semua siswa sedang dilanda bahagia, aku pun sampai tak
bisa tidur sama sekali padahal tubuhku sangat lelah dan tulang rusukku serasa
remuk, “(Pokoknya pas sampe rumah aku mau ke tukang urut ah, pegel banget nih
badan)” , ringisku dalam hati.
***
‘Berpikir
untuk memendam rasa terkadang nampak baik
demi menjaga hubungan yang dianggap Teman’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar