Sabtu, 20 April 2019

Diary17th_Special Love Trip 2: Double Date?


Liburan musim gugur tahun keduaku pun sudah di mulai semenjak satu bulan berlalu aku berkencan dengan Koukei di kedai es krim. Aku masih saja sibuk memikirkan apa yang terjadi pada Koukei yang mendadak mengajakku ke kedai es krim, apakah ia sadar bahwa itu adalah kencan?! Sebenarnya aku menyadari itu kencan pun setelah di beritahu Misaki, saking tidak berpengalamannya aku. Semenjak liburan dimulai pun aku tak henti memikirkan Koukei, mendadak tersenyum didepan cermin, berulang kali membaca isi pesan Koukei yang sudah berminggu-minggu sambil terlena ke dalam anganku, mengambil sebuah pulpen kosong yang sudah nampak agak usang, yang merupakan pemberian Koukei—tidak tepatnya aku yang menjadikan benda itu sebagai tanda khusus perasaan Koukei yang padahal ia hanya iseng melempari pulpen itu padaku kala aku menjahilinya tempo hari.
Drrt...drrt... Ponselku bergetar, lalu dengan gesitnya aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di sofa. Plip.
Dari        : Kak Koukei
Pesan    : Suzu, hari Minggu besok kamu sibuk? Aku kebetulan diminta Toda buat nemenin dia ke pantai mau berenang, tapi dia bawa cewek misterius. Aku takut dia kenapa-kenapa, kamu mau ikut gak?
Hyung!!! DUAR! DUAR!
“A-A-A-PA?????”
Aku sontak terkejut, membelalakan mataku bahkan mulutku menganga selebar mungkin, keringat dingin mulai menetes ke seluruh permukaan tubuhku, tanganku mendadak keram tak bisa di gerakkan sedikitpun, tak lupa mukaku yang mendadak berubah menjadi pucat pasi sungguh tak karuan diriku yang telah dibuat bisu senyap oleh Koukei yang secara langsung mengajakku berkencan untuk kedua kalinya??? dan kini bukan hanya kami berdua, tapi kami akan melakukan kencan ganda??? “Oh, No way!!!” Teriakku diruang tamu.
“Hey, kenapa kamu teriak-teriak? Dapet sms dari siapa sih sampe segitunya? Senior mu itu ya jangan-jangan?” Tanya Ibuku yang sedang merajut.
Glup! “I-iya.” Jawabku gelagapan.
“Kenapa katanya?”
“Aku di ajak ke pantai, Bu hari Minggu besok, ya...katanya sih cuma nemenin Kak Toda aja, dia mau berenang.” Jelasku seraya akan mengetik balasan pesan tersebut.
Ke           : Kak Koukei
Pesan    : Oh gitu...emang cewek misterius itu siapa, Kak? Nyeremin deh kayanya, hahaha.
Kirim.
Drrt...drrt...
Dari        : Kak Koukei
Pesan    : Haha, nanti juga kamu tahu. Oya, tapi jangan rame-rame ya, nanti dikira mau tawuran lagi :D.
“(Gak salah lagi, dia―maksudku Toda ngajak kencan ganda sama Koukei , nah, tapi kenapa harus sama aku?)”  Gerutuku dalam hati. Lalu aku pun langsung menerima tawaran Koukei dan bergegas untuk membongkar isi lemariku kemudian menyortir pakaian yang akan ku pakai hari Minggu nanti, padahal ini saja baru hari Jumat. Rasanya meski masih 2 hari lagi tapi rasa nervous-ku sudah tak terkendalikan dengan baik, belum ketemu saja jantungku sudah bergejolak naik turun apalagi jika aku bertemu dengannya nanti, apa aku bisa bicara normal dengannya layaknya sms-an seperti biasa. Pasti diluar dugaan.
Akhirnya hari Minggu yang mendebarkan itupun tiba. Tepat Pukul 11 Koukei tiba disekitar rumahku yang ia sebut komplek itu, ia rupanya kebingungan mencari-cari dimana bangunan rumahku yang tak begitu besar itu berada, sembari memegang ponselnya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar juga seraya mengirim pesan padaku dan kemudian bertanya, “Aku udah masuk komplek nih, rumahmu yang mana?” Aku pun terkekeh membaca isi pesan Koukei tersebut, kemudian aku segera keluar sambil menarik nafas ku dalam-dalam “Hpppp....Huuuhhh...tenang lah Suzu, relax. OK.” Kataku pada diriku sendiri.
Lalu aku membuka pintu gerbang rumahku dan....Sparkling! Cahaya silau memancar menyilaukan pandanganku, rupanya itu berasal dari Koukei yang membuat detak jantungku semakin bergejolak, rasanya panas, tapi juga dingin, melihat Koukei begitu bercahaya memakai pakaian casualnya nampak amat berbeda dengan saat ia mengenakan seragam sekolah seperti yang selalu aku lihat setiap hari, kali ini ia nampak seperti—masih anak SMA. Namun hari ini, aku semakin dIbuat mabuk kepayang, kepalaku terasa pening tapi hasrat ini seperti mengikatkan seutas tali yang menarik tubuhku menghampiri Koukei yang masih berdiri di depan rumah tetanggaku.
 Aku merasa ini adalah kencan sungguhan, aku yang mengenakan dress berwarna orange muda selutut yang dengan tak segannya Ibuku membuatkan dress cantik ini untukku serta cardigan warna biru muda sebagai outfit tambahan, aku merasa seolah sedang menjadi wanita bukanlah anak SMA polos biasa.
Oh, tidak! Aku tercengang! Getaran serta debaran ini semakin menjadi-jadi, aku berjalan semakin mendekat ke arahnya, aku tak berani memanggil namanya meski hanya dengan panggilan ‘Kak’ dari kejauhan, aku khawatir tetanggaku yang sedang bekerja bakti dihari libur meng-update gosip tentangku. Aku pun hanya melambaikan tangan kananku yang sedikit melemas, akhirnya Koukei menyadari keberadaanku yang sudah berdiri di depannya, lalu ia tersenyum lebar sambil berkata, “Hey!”, aku pun merasa semakin terjerat ke dalam jebakan senyumannya.
“Udah dari tadi ya, Kak?” Tanyaku.
“Engga kok, baru 5 menit-an, aku nyari-nyari rumah kamu gak ketemu, eh taunya yang itu toh, hehe.” Jelasnya seraya terkekeh.
Aku terkejut kesekian kalinya, ia bilang ia telah berusaha mencari rumahku selama 5 menit, itu merupakan waktu yang berharga yang ia habiskan hanya untuk melakukan hal yang menurutku konyol, kenapa ia tidak langsung saja bertanya padaku yang justru tidak akan mempersulit dan membiarkannya membuang waktu 5 menit itu. Itulah kelebihan Koukei yang tak pernah ku tahu.
Lalu Koukei segera mengambil sepeda motor miliknya kemudian memberiku helm, bodohnya aku tak bisa mengancingkan tali helm tersebut yang pada akhirnya Koukei pun tak segan untuk membantuku. Baru kali ini Koukei membawa sepeda motor, karena biasanya ia hanya menggunakan sepeda ke sekolah.
Deg! Deg! Deg!
Denyutan itu kambuh kembali ketika melihat Koukei menaiki sepeda motor yang bisa dibilang mirip motor balap itu juga helm yang super canggih, membuatku tak bisa mengalihkan pandangan, apalagi ketika Koukei memintaku untuk naik dibelakangnya alias disepeda motor miliknya juga dibonceng olehnya, lalu ia pun berkata, “Ayo kita berangkat!” Aku pun langsung menuruti perkataannya sembari merasakan suhu tubuhku yang seperti agak mengigil itu.
(Astaga! Aku terkena demam lagi, maksudku, demam asmara... Gimana nih? Aku seneng banget. Ini kedua kalinya aku duduk di tempat yang sama dengan Kak Koukei. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya..).” Ucapku dalam hati seraya memejamkan mataku merasakan dinginnya angin musim gugur ini.
Aku menatap langit yang bahkan sudah nampak gelap ketika kami akan berangkat dan kelihatannya sebentar lagi akan hujan,tapi aku usahakan untuk tidak khawatir akan itu, karena jika aku menolak ajakannya, maka ia pasti akan kecewa padaku.
Kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya aku dan Koukei sampai di pantai Takeno yang cukup jauh juga jaraknya dari rumah kami, belum lagi rumahku dan Koukei sangat amat berjauhan tepatnya berlawanan arah. Saat sampai pintu masuk, aku tak melihat batang hidungnya Toda sama sekali, padahal aku penasaran dengan wanita misterius yang dibicarakan Koukei waktu itu.
“Mana nih Toda?! Katanya janjian dipintu masuk.” Ucap Koukei sambil merogoh ranselnya dan mengambil ponsel untuk segera menghubungi Toda. Tak lama kemudian Koukei menyuruhku masuk ke area.
“Hmh, ternyata dia sudah duluan, ya udah ayo masuk.” Ajaknya padaku, aku pun mengikutinya dari belakang.
Pantai. Sungguh menakjubkan, ini pun baru pertama kali nya aku pergi ke pantai dengan seorang pria, bahkan saat itu pun aku tak bisa berjalan sejajar dengan Koukei disampingnya, aku selalu membuntutinya dari belakang, Koukei sama sekali tak pernah menegurku meski hal tersebut terjadi beberapa kali. Mungkin Koukei pun merasa nervous ketika di dekat wanita, bagaimana pun kejadian ini tidaklah normal, entahlah, apa Koukei sadar bahwa ini merupakan kencan ganda, atau memang dia masih polos dan menganggap ini hanya main-main bersama teman biasa.
Aku selalu dIbuat penasaran oleh tindakan Koukei yang penuh misteri dan sulit ditebak, aku pun masih belum mengerti betul apakah aku mencintainya atau hanya mengaguminya.
Zonk! “Heh?What??”, aku pun terkejut ketika mendapati Toda yang tengah berduaan dengan seorang wanita ‘misterius’ tepatnya kekasihnya yang juga satu angkatan dengannya, mereka berdua sedang asik mengobrol mesra seraya berpegangan tangan satu sama lain di kursi pantai. Aku langsung membelalakan mataku setelah itu memalingkan pandanganku dari pemandangan tak layak tersebut.
Koukei pun mengajakku duduk didepan Toda dan kekasihnya itu sebab sudah tersedia dua kursi santai yang sepertinya memang untukku dan Koukei, aku pun sedikit bengong kemudian menuruti permintaan Koukei karena aku pun cukup lelah setelah perjalanan cukup panjang tadi.
“(Heh? Tunggu. Kenapa aku jadi duduk disini. Buset dah kentara banget ini mah lagi kencan ganda. Aduh gak nyangka si Toda bisa kaya gitu juga).” Kataku dalam hati seraya menunduk mengusap-usap keningku heran.
Melihatku yang nampak canggung, Toda pun akhirnya menyapaku, “Halo, Suzune.” Katanya dengan wajah angkuhnya. Cih! Aku sangat benci sekali dengan ekspresinya yang terlihat murahan itu. Lalu aku pun hanya membalasnya dengan mengangguk sambil mengangkat kedua alisku dan sedikit menyeringai.
Toda memicingkan matanya sambil menatapku dalam-dalam kemudian berkata, “Akhirnya kamu tahu ya aku itu siapa, ku harap kamu tetap tutup mulut soal ini, OK, nona?!” Aku mengernyitkan dahiku heran, “(Maksudnya ia ingin aku menjaga imagenya yang sebenarnya nakal ini? Serakah banget dia)”, aku pun menjawab, “...Ah...tapi aku gak janji ya kak, hehe.”  lalu Toda menatapku setengah mengancam beruntung Koukei segera mengajakku pindah ke tempat lain untuk mencari spot untuk berfoto.
“Kou!” Seru Toda saat Koukei dan aku berjalan melaluinya.
“Kenapa?” Tanya Koukei.
“Jalannya barengan dong, masa dia ditinggal?!” Kata Toda santai.
Gusrak! Aku maupun Koukei sontak terkejut sekaligus tersipu mendengar Toda berkata seolah-olah mengisyaratkan sebuah kode pada Koukei sehingga membuat aku menjadi semakin canggung di depan Koukei, “(Memang keparat si Toda itu).” Ucapku kesal dalam hati. Untungnya Koukei tidak menghiraukan kata-kata Toda barusan, lebih tepatnya Koukei hanya memasang ekspresi seperti ‘apaan sih’ dan langsung menghindar dari pandangan Toda dan kekasihnya itu.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga sih, masa iya kami berjalan cenderung nampak seperti majikan dan…asisten pribadi. Tidak! Aku harus ingat bahwa aku hanya diminta untuk menemani Koukei bukan kencan, pikir logikaku, namun tetap saja nuraniku berkata bahwa aku ingin sekali berjalan berdampingan dengan langkah kaki yang sama persis dengannya, aku tidak seharusnya hanya mengikuti jejak dimana Koukei berpijak, aku pun kembali kalut dalam delusiku.
“Suzu! Mau aku potret gak? Pemandangannya lumayan nih. Ayo sini.” Tiba-tiba Koukei menawarkan diri untuk menjadi seorang fotografer ?! Bukan! tapi dia ingin menghiburku, karena rasa canggung yang kami berdua rasakan saat itu tak bisa dipungkiri lagi membuat Koukei kesulitan untuk memulai pembicaraan yang menarik denganku.
“E-eh? Foto? Kakak mau aku fotoin?” Tanyaku polos.
“Enggak, kamu aja sini yang aku fotoin,” Katanya sambil menyiapkan kamera ponselnya. Aku pun mengernyit heran sambil dengan polosnya aku mengikuti instruksinya.
“Nah, coba sebelah sini supaya lautnya keliatan, hehe.” Katanya seraya mengarahkanku layaknya foto model. Ckrek! Ckrek! Aku sempat merasa malu karena dilihat banyak orang, tapi apa boleh buat hal ini pasti takkan terulang kedua kalinya. Dengan kibaran angin pantai yang menjuntaikan dress baruku yang kupakai selutut disertai senyuman kecil nan polos ala cewek SMA merupakan koleksi foto pertamaku yang tersimpan di ponsel milik Koukei.
Tik…tik…tik… rintikan hujan mulai terasa jatuh ke permukaan kulit wajahku, aku dan Koukei pun segera berlari untuk berteduh ke bangunan kayu yang nampak seperti bekas kedai yang terdapat di sekitar pantai, sayangnya hujan pun semakin deras hingga membuat bajuku dan baju Koukei sedikit basah. Lalu kami pun duduk dikursi yang kebetulan terdapat Toda dengan kekasihnya yang juga ikut berteduh disana.
Dan lagi, kali ini benar-benar membuatku ingin muntah menyaksikan adegan pegangan tangan mesra antara Toda dan kekasihnya. Aku pun kembali tercengang sambil begumam, “(Astaga! Rasa kagumku benar-benar hilang padanya 100%).” kemudian aku pun memalingkan pandanganku ke arah pantai, sementara Koukei malah tengah asik memainkan ponselnya, ketika ku perhatikan, ternyata ia sedang mengedit beberapa fotoku yang barusan diambil. Aku nyaris tertawa melihat tingkahnya yang agak kekanakan itu, aku hanya menutup mulutku yang sedang terkekeh pelan.
Kemudian sepanjang kegiatan mengeditnya itu, ia meminta beberapa pendapat padaku, aku sempat terharu pula kenapa Koukei mau melakukan hal semacam itu, tidak adakah yang lebih penting seperti mengajakku ngobrol, aku pun bukan sahabat apalagi kekasihnya namun ia sangat menikmati kegiatannya tersebut, memang sih ponselku belum secanggih milik Koukei jadi aku juga merasa senang ia menghiburku dengan cara seperti itu.
Hujan pun semakin deras hingga cipratan airnya pun membasahi sebelah lengan cardiganku, sialnya aku tidak membawa sweater atau semacamnya, aku malah membawa baju ganti karena kupikir benar akan berenang dipantai. Aku mulai merasa kedinginan dan mengusap-usap kedua telapak tanganku dan meniupnya untuk menghangatkan tubuhku. Sialnya lagi Toda mencoba menghasut iman Koukei dengan berkata, “Kou, duduknya jangan jauhan gitu dong, liat tuh dia kedinginan, pegangin napa tangannya.” dengan luwesnya sambil ia mengelus-elus kedua tangan kekasihnya yang duduk tepat berhadapan dengannya.
Rasanya ingin sekali aku menghujat si bintang sekolah itu, sepertinya aku tak bisa tutup mulut tentang seberapa nakalnya Toda di hadapan wanita. Koukei hanya terdiam seraya menatap layar ponselnya juga membantah seadanya, ia berusaha untuk tak tergoda oleh omongan si iblis Toda itu, “Berisik banget tuh mulutmu, diem kenapa jangan ganggu kita.”
“(Kita?)” Gumamku terkejut. Aku yang masih polos pun tak bisa membantah apapun, aku hanya ingin segera pulang dan terlepas dari ketidaknyamanan ini, aku semakin kedinginan, gusiku mulai menggertak karena menggigil namun aku berusaha untuk bertahan menunggu hujan reda.
“Suzu, nih pake ini biar gak dingin.” Koukei memberikan sepasang sarung tangan berwarna merah kepadaku.
Deg Deg!
Aku dIbuat dag-dig-dug lagi olehnya, aku sempat agak celingukan dan bingung apakah harus menerimanya atau tidak, sebab aku tahu Koukei juga kedinginan, lalu aku menolaknya dengan halus, “Eh, gak apa-apa kok kak, Kakak aja yang pake, aku gak apa-apa kok seriusan.” meski hanya pura-pura.
Koukei pun akhirnya merasa tidak enak karena aku menolak, lalu ia bilang, “Ya udah kita bagi dua aja, aku pake yang kiri kamu yang kanan biar adil, hehe.”  kemudian ia memakai sarung tangan tersebut begitu pun aku, dan kami mendekatkan tangan kami yang nampak sekali keduanya berbeda, tanganku lebih kecil dibanding Koukei. “Haha, kegedean ini mah.” Sahutku seraya tertawa. Sejujurnya aku merasa aneh karena memakai sarung tangan sebelah, tapi karena Koukei tidak mempersiapkan hal-hal seperti itu jadilah seperti ini.
Aku rasa, rasa kagumku terhadap sosok Koukei Kageyama semakin bertambah level. Aku berharap bisa menjadi pacar sungguhannya, tapi kupikir itu sangat tidak mungkin untuk orang yang hanya kebetulan saja seperti yang kualami saat ini.

***

Cinta yang polos itu bagaikan bunga tanpa serbuk sari
terlihat elok namun bukanlah bunga yang sempurna,  
dimana serbuk itu akan selalu dirindukan
kala yang pernah menjadi polos beranjak dewasa

Kamis, 18 April 2019

Diary 17th_Special Love Trip : I’m Sure It’s First Date


Aku, Karina, Yuka, Misaki dan senior lainnya sedang melakukan simulasi esay seperti biasa, lebih tepatnya ini hanya latihan biasa sih, dikarenakan ada penambahan anggota baru dari kelas satu maka statusku pun menjadi seorang senior sekaligus tutor mereka. Kami berempat dilengkapi dengan senior andalan kami tengah beradu talenta sebagai ajang percontohan kepada anggota baru. Kali ini aku membuat karangan puisi yang ku gubah dari salah satu novel romantisme karya Moori Ogai, aku memilih karya sastra modern karna lebih mudah untuk di analisis dibanding karya sastra klasik.
                Meski begitu, tetap saja hasil analisisku tak pernah melampaui kehebatan kemampuan analisis seniorku hingga tak terasa hari pun mulai menjelang senja karena saking asiknya kami merombak karya sastra untuk diadu argumenkan, ditambah Ibuku sudah berkali-kali menelepon untuk menyuruhku pulang karena hari ini merupakan hari khusus pengembangan diri disekolah, jadi semua siswa bisa pulang cepat.
                Semua siswa kelas 1 berbondong-bondong pulang mendahului kami, hingga hanya tersisa Aku, Karina, Yuka, Misaki, Toda, Kenda, Yamato dan Koukei. Aku melirik jam silver kecil ditangan kiriku seraya memegang ponsel di tangan kananku sebab Ibuku terus mengirimiku pesan khawatir.
                “Suzu, kamu pulang naik apa?” Tanya Koukei yang berdiri disampingku yang masih membereskan kertas yang berserakan dimejaku.
                “Naik kereta, Kak.” Jawabku.
                “Aku anterin, yuk?!” Katanya sembari memakai jaket tebal merah maroon nya.
                Deg! Deg! Deg! Aku pun mendadak melamun sejenak dan bergumam, “(Serius nih Kak Koukei mau anterin aku? Pasti mimpi nih).” Plak! Aku mengeleng kepalaku keras.
                “Ada apa?” Tanyanya kembali.
                “E-eh? Kakak serius mau anterin aku pulang? Rumahku jauh, loh, hehe.” Ucapku menyeringai. 
“Masa sih?! Gak apa-apa lagian masih siang ini kan sekalian jalan-jalan. Udah beres-beresnya? Yuk jalan.” Sahutnya kembali yang kemudian jalan mendahului ku bahkan aku pun belum sempat memberikan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, dengan sengajanya aku menurut begitu saja.
Aku ingin sekali melebarkan senyumku dan menampakkan gigi-gigiku lebar, karena sejujurnya organku yang disebut jantung yang cukup kecil ini terus menghentakan irama tanpa musik namun menggelitik tanpa henti, namun aku berusaha membuat hentakkan itu tak bisa didengar Koukei serta menyembunyikannya dibalik bayangan Koukei yang selalu berjalan di depanku dan berusaha untuk bertindak se-normal mungkin didekatnya.
                “Suzu, mau pulang bareng aku kan? Yuk, aku mau streaming konser SHINee nih sejam lagi.” Kata Misaki yang sedari tadi menungguku di pintu klub dengan ekspresinya yang tergesa-gesa.
                Grep! Aku pun meremas kedua lengan Misaki sambil menggigit bibir bawahku gemas.
                “Maafin aku, Misaki. Lain kali aja ya, aku mau pulang sama Kak Koukei.” Bisikku pelan.
                “HAH?” Misaki membuka mulutnya lebar, aku pun segera membekapnya.“Yang bener? Oh Tuhan, akhirnya, kok bisa sih?” Lanjut Misaki berbisik.
                “Udah nanti aja deh aku ceritain ya, bye.” Balasku.
                “Misaki, kami duluan, ya.” Sahut Koukei. Hatiku pun semakin panas membara seakan sebuah anak panah semakin menancap tajam didadaku ditambah Koukei mewakili keberadaanku dengan kata ‘kami’ seolah menjadi peruntukkan khusus aku dan Koukei.
                Misaki pun melebarkan senyum sumringahnya sambil berkata, “ Iya kak, hati-hati ya, aku titip Suzu loh ya.” Koukei hanya mengacungkan jempol lentiknya sambil tersipu malu.      
                Aku dan Koukei bergegas menuju parkiran sepeda yang jaraknya cukup jauh dari ruangan klub kami. Kini sekitar gedung sekolah sudah lumayan sepi karena banyak siswa yang sudah mengakhiri latihan dan jam pelajarannya. Ditengah perjalanan menuju parkiran kami berdua hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, juga aku tak berani maju dan berjalan sejajar dengan Koukei, rasanya sebelah kakiku terasa lumpuh dan sulit digerakkan.
                Kemudian Koukei mengeluarkan sepeda ontel hitam khas sekolah miliknya, memutarkannya hingga posisi kursi boncengan sejajar dengan tempat dimana ku sedang berdiri menantinya. Gemetar tubuhku belum juga hilang, semenjak aku berjalan dari ruang klub, aku terus meniupkan kedua Ibu jariku bergantian layaknya apa yang telah Koukei ajarkan padaku mengenai cara menghilangkan rasa nervous, namun sialnya masih tak berhasil juga.
                Dan, aku pun dengan sok pede nya naik ke boncengan tersebut. Lalu aku pun teringat sesuatu dan berkata, “Kak, aku takut ada pak polisi loh, nanti kita ditangkap lagi.” Lalu Koukei pun menjawab dengan tenangnya, “Enggak, tenang aja, serahkan semuanya padaku.” , lanjutnya sembari sedikit menengokkan kepalanya kepadaku. Rasa panikku pun mendadak hilang dan bisa bernafas lega jika Koukei bisa menjamin seperti itu, aku pun mesem dibelakangnya sambil memuja dalam hati (Oh my sweet hero).
                Koukei pun mengayuh sepedanya dengan santai, tapi bukan berarti karena bobotku yang berat ya, justru aku sangat amat ringan kata Ibuku yang suka sekali mengejek anaknya. Beruntung cuaca hari ini cerah dan sepertinya memang tidak akan turun hujan, ketika kami melewati gerbang sekolah yang terdapat beberapa siswa juga terdapat Misaki dan Karina yang akan menuju rumah masing-masing membuat tubuhku kembali memanas sekaligus gemetar. Khawatir ini akan menjadi gosip yang kesekian kalinya dalam benakku. Tapi sungguh aku tidak merasa keberatan sama sekali jika di gosipkan dengan Koukei, dan aku pun tersipu malu karena halusinasiku sendiri.
                Saat kami melewati Karina dan Misaki, mereka pun langsung menyoraki kami, sontak membuatku malu setengah mati, aku yakin wajahku memerah saat itu juga. “Jangan dihiraukan.” Ucap Koukei. Aku pun mengangguk seraya bilang, “OK.” Sementara Koukei hanya mengayuh dengan santai tanpa menghiraukan orang yang menyorakinya yang sedang memboncengi seorang perempuan. Karena setahuku, Koukei belum pernah memboncengi perempuan sekali pun selain Yuri sahabat perempuan satu-satunya. Aku tak henti untuk terus melebarkan senyumku sambil sesekali memejamkan mataku serta mengucap rasa syukurku dalam hati atas apa yang ku alami hari ini adalah keajaiban.
                Gusrak! Koukei tak sengaja menginjakkan sepedanya ke bebatuan yang sempat menghilangkan fokusnya hingga membuat tubuhku sedikit tergoncang, lalu pipi kananku tak sengaja menempel pada pundak tegapnya sehingga posisiku hampir benar-benar memeluk tubuhnya, namun aku hanya meremas jaket merah milik Koukei. Hangat juga lembut, aku melirik melihat rambut Koukei melambai tanpa tersisa sehelai poni pun menutupi keningnya, nampak tegas dan berwibawa, aku benar-benar mencium aura kedewasaannya, semua pesona itu membuatku sadar bahwa aku benar-benar mengagumi Koukei namun masih ada sedikit rasa rendah diri yang kurasakan.
                “Suzu, kita makan es krim, yuk!” Seru Koukei yang menyadarkan lamunanku.
                Lalu dengan frontal aku pun merespon dengan candaan seenaknya, “Wah...boleh boleh. Tapi Kakak yang traktir ya?! Haha.”
                “Sip...tenang aja aku yang traktir.” Jawabnya santai. Hatiku pun langsung terenyak mendengar jawaban Koukei yang serius menanggapi candaanku.
                “E-eh? Enggak, aku bercanda kok, Kak.”
                “Iya beneran, aku yang traktir, kebetulan ada uang lebih nih, nyantai aja.”
Hyung~!
Lagi-lagi jawabannya membuatku semakin meleleh hingga mencair bersama aliran darahku yang mengalir di kecepatan 120 km/jam. Aku menelan ludah kesekian kali, tak salah lagi aku dibuat mabuk asmara olehnya.
Aku menaikkan kedua alisku menyadari Koukei yang mendadak berhenti tepat di depan sebuah kedai yang bertuliskan ‘Claret’ di reklamenya, lalu kami pun turun dan Koukei memarkirkan sepedanya di tempat yang telah disediakan. Spontan terlintas dipikiranku ‘apa dia mau mengajakku nge-date disini? Hah? Serius nih? Buset dah aku kan belum pernah jajan di kedai-kedai gini, aduh gimana nih, semoga gak ketahuan katronya deh.’ , gumamku setengah panik seraya memegang erat tas hitamku yang hinggap di pundakku.
Koukei pun memasuki kedai tersebut dengan luwesnya, sementara aku seperti sudah tak sadarkan diri dan terus berusaha menahan betapa gemetarnya tubuhku sambil berpikir kira-kira menu apa yang ingin ku pesan nanti. Lalu kami pun duduk di kursi tepat dekat dengan jendela, Koukei memilih bangku yang hanya khusus untuk berdua dan saling berhadapan, aku pun duduk berhadapan dengan Koukei dan berusaha terlihat terbiasa layaknya perempuan yang sudah berpengalaman akan hal ini.
Kemudian salah seorang pelayan memakai kostum maid menghampiri kami dan menyodorkan menu pada kami berdua, aku pun membelalakan mataku dengan ekspresi yang pura-pura percaya diri dan membaca setiap menu yang mana satu menu pun belum pernah ku coba sama sekali. Lalu Koukei pun memesan 1 menu yang dipilihnya.
“Aku pesan 1 roti sandwich ice cream dan orange juice.” Katanya pada pelayan itu.“Kamu mau apa, Suzu?” Lanjut Koukei sambil menatapku yang masih memegang daftar menu.
Karena tak ingin mempermalukan diri sendiri aku pun menjawab “Um...sama aja deh, tadi kan kita janjian makan es krim, hehe.” lanjutku sambil  menyerahkan menu kepada pelayan tersebut.
“Minumnya gak sekalian?” Tanyak Koukei lagi.
Aku yang masih kebingungan pun akhirnya memilih menu yang sama persis dengan yang dipesan Koukei. “Orange juice kayanya enak ya lagi panas gini.” Jawabku.
Di tengah-tengah suasana menunggu makanan kami datang, pikiranku terus berkecamuk, “(aduh semoga gak malu-maluin deh ya.)” Gumamku sambil terus memandang keluar jendela.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya makanan kami pun datang. Terdapat dua piring roti sandwich ice cream juga dua gelas orang juice di atas meja kami, lalu dengan segera Koukei melahap roti sandwich tersebut dengan elegannya, sementara aku tengah sibuk memainkan ponsel yang padahal tak ada pesan masuk dari siapapun. Aku tidak berani menyentuh makanan tersebut karena penampilannya yang menggugah selera di cuaca panas menjelang musim dingin ini.
Menyadari itu, Koukei pun bertanya padaku, “Kok gak di makan?”
“A-ah, iya sebentar aku lagi bales sms si Misaki dulu nih, biasa acara one night camp, hehe.” Jawabku menyeringai. Koukei pun hanya tersenyum sambil mengangguk dan melanjutkan suapan berikutnya.
Aku menelisik setiap gerakan Koukei, dimulai dari cara ia memegang serta meletakkan pisau dan garpu di posisi yang kurasa benar, selain itu melirik tipis ke arah mulut Koukei yang akan melahap suapan es krim berikutnya. Lalu, aku pun bergumam sendiri, “(Oh...Jadi begitu ya cara pegang pisau dan garpunya, terus udah gitu makannya pake tangan kiri. OK OK aku ngerti sekarang)”. Sumpah demi apapun aku belum pernah makan di kedai dengan cara makan ala orang Eropa ditambah makan didepan seorang lelaki yang lebih tua dariku meski hanya berselisih satu tahun, intinya aku belum pernah mengalami yang namanya kencan anak sekolahan.
Aku menarik nafas lega seperti seolah aku terlihat takjub dengan menu yang di pesan barusan, “Wah...Kayak nya sayang ya kalo di makan nanti bentuknya rusak, hehe.” Ucapku untuk memalingkan perhatian Koukei dan mencoba berpura-pura terbiasa dengan cara makan seperti yang Koukei lakukan. Aku pun menirukan gerakannya perlahan-lahan sembari mengajaknya ngobrol untuk mengalihkan perhatiannya.
“Kalian sering ngadain one night camp berapa kali seminggu?” Tanya Koukei yang memulai obrolan.
Aku pun membalas sembari memotong roti sandwich tersebut, “Ya... lumayan lah satu bulan paling enggak dua kali atau tiga kali, Kakak suka ngadain one night camp juga emang?”
“Suka, kamu tahu kan Kenda, Toda, Satoru sama Yagami teman dekatku, kalo lagi kumpul tuh rese nya minta ampun.”
“Oh, hehe...Masa sih?” Sahutku yang mulai kesulitan menusuk potongan roti yang mulai terpisah dari es krimnya dengan ekspresi sedikit menggertakan gusiku gemas. “Tapi seru juga ya kalo nginep bareng-bareng.” Lanjutku sambil akan melahap roti tanpa es krim itu. Sialnya, es krim yang seharusnya kumakan bersamaan dengan roti itu malah meleleh diatas piring dan membuat penampilannya berantakan.
Aku menelan ludah dan membelalakan mataku hingga terdengar Zonk!, mukaku nyaris panik khawatir Koukei melihat ke amatiran ku ini. Lalu aku melihat kearah Koukei lagi untuk mengintip trik mengatasi es krim yang terpisah dari roti tersebut, akhirnya aku bisa mengikutinya dengan baik dan sesampainya dirumah aku pun bisa bernafas lega.
Mungkin aku takkan pernah menyadari dan tahu bagaimana mencintai seseorang dan menghargai keberadaan seseorang yang kuanggap spesial tanpa adanya First date ini, first date yang tak beralasan dan memiliki beberapa misteri yang masih ingin kucari tahu hingga kini.
***

 Kencan pertama lah yang akan menentukan perjalanan cinta selanjutnya,
dimana akan di temuinya dilema, cemburu,
 juga ke tidak rasionalan yang membelenggu emosi’

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...