Kamis, 05 Desember 2019

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB


Preparing Your Biggest Decision
Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yang dilakukan tidak bagus, atau membuat mereka sedih dan kecewa. Tetapi, justru keputusan melakukan perubahan lah yang membawa kita untuk menemukan dan mempelajari hal-hal baru, hidup akan terasa biasa-biasa saja tanpa adanya terobosan baru, usia pun akan terasa ringkas jika tanpa melakukan perubahan apapun.
Saat Najwa memilih untuk memberhentikan tayangan Mata Najwa di Metro TV banyak orang yang sedih merasa kehilangan program acara tersebut dan bertanya-tanya kenapa ia memberhentikan tayangan Mata Najwa. Tentunya Najwa memiliki alasan tersendiri yang memang sudah menjadi pilihannya, dan ketika memutuskan untuk memberhentikan tayangan tersebut pun Najwa dan tim telah melakukan berbagai analisa tentang isu permasalahan yang ada dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Disamping itu, ia telah mempersiapkan beberapa opsi dengan matang tentang rencana terbarunya setelah berhenti dari Mata Najwa.
Sungguh bukan pilihan yang mudah ketika kita ingin merubah sesuatu karena pertimbangan terhadap resiko yang harus benar-benar siap diterima. Belum lagi Kita harus memiliki visi untuk masa yang akan datang.

Selasa, 03 Desember 2019

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Decision Making is not easy. It is an art) NAJWA SHIHAB


Decision Making is not easy. It is an art
Bila kita ingin memutuskan sesuatu yang penting kita akan membutuhkan waktu dan energi yang cukup untuk proses pengambilan keputusan. Jika harus memutuskan dalam sepersekian detik biasanya kita akan merasa ragu bahkan kita bisa jadi diam dan tidak membuat keputusan apa-apa, hal ini juga merupakan suatu keputusan, tidak melakukan apapun mengenai  isu tertentu juga merupakan suatu keputusan. Apapun yang kita jalani sudah berdasarkan keputusan yang kita buat.
Menjadi seorang wartawan adalah murni hasil dari keputusan Najwa yang memang suka dengan pekerjaan jurnalis. Menulis berita, mencari informasi, mendengar gosip, memverifikasi suatu masalah, semua pengalaman yang ia habiskan selama tiga bulan magang di stasiun televisi itu membuat Najwa yakin bahwa inilah yang ingin ia lakukan, sekalipun menjadi seorang reporter. Meskipun pekerjaannya bertolak belakang dengan apa yang ia pelajari dalam ilmu hukum ia tidak pernah merasa ilmu apapun yang ia dapatkan sia-sia.
Ketika Najwa mendapat tawaran beasiswa dari pemerintah Australia pada tahun 2008 untuk sekolah di Australia, ia bahkan tetap melanjutkan studi hukumnya disana dengan mengambil  jurusan LL.M (Legal Law Master), ia sama sekali tidak mengambil ilmu broadcasting atau komunikasi ataupun ilmu lainnya yang berhubungan dengan jurnalistik, justru ia mengambil ilmu hukum murni dimana ia diajak untuk mengasah logika, diajarkan bagaimana merumuskan suatu permasalahan dengan cepat serta tentang bagaimana cara bertanya dengan baik. Dari mulai ilmu yang standar seperti tentang perbedaan terpidana, terdakwa dan istilah-istilah hukum lainnya, ia dapatkan melalui ilmu hukum dan politik.
Selain itu, ia diajarkan tentang bagaimana membuat kesimpulan yang tepat, membedakan persoalan inti dan bukan persoalan inti yang mana ia gunakan sampai sekarang hingga dirinya meneruskan jenjang S2 pun tetap mengambil ilmu hukum dan politik. Meski ia bekerja dalam bidang jurnalistik, justru skill dan ilmu yang ia dapat menjadi pengacara sangat berguna sekali dalam pekerjaannya tersebut.
Profesi sebagai seorang wartawan membuat Najwa tertantang untuk mempelajari hal-hal baru, apalagi menjadi wartawan di Indonesia merupakan pekerjaan yang menggairahkan baginya karena selalu ada berita baru dengan berbagai macam peristiwa yang berbeda yang terus membuat orang berlomba-lomba untuk mengasah kreatifitas dalam menulis atau melaporkan informasi. Meskipun orang atau objeknya sama tapi peristiwanya beda maka hasilnya pun beda. Ada begitu banyak ragam kasus yang menarik untuk diulas, baru dari satu orang saja dengan angle yang berbeda-beda ia bisa belajar hal yang baru. Karena alasan tersebut lah Najwa sungguh menikmati dan mencintai pekerjaannya sebagai wartawan di Indonesia. Ditambah lagi dengan sumber informasi dan media yang begitu mudah dan murah untuk didapatkan sehingga membuat semua orang bisa untuk menjadi wartawan tanpa harus melulu mengandalkan 5W 1H. Kini, zaman memang sudah berubah 360 derajat, teknologi serba canggih, dan manusia pun semakin pintar. Dimana dunia berubah maka segala isinya pun berubah, jika kita tidak ikut berubah maka kita yang akan ditinggalkan oleh perubahan.
Mengambil keputusan terkadang membuat kita tidak nyaman, hal tersebut sudah semestinya menjadi konsekuensi dari keputusan kita. Ketika kita sadar akan konsekuensi dari keputusan besar atau pun kecil yang kita buat pemahaman yang ada dibalik proses pengambilan keputusan pun akan jadi semakin nyata.

Senin, 02 Desember 2019

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Life is an Endless String of Decisions) NAJWA SHIHAB


Life is an Endless String of Decisions
Disadari atau tidak, apapun keputusan yang kita ambil selalu memberi dampak, baik negatif atau positif bagi kehidupan masing-masing. Berkat keputusan yang kita buatlah kita bisa menjadi diri kita seperti sekarang ini, wawasan kita menjadi bertambah, pola pikir berubah, bahkan judgement and decision making skill sangat berguna dalam dunia kerja dimana memungkinkan seseorang untuk naik jabatan.
Keputusan bukan berarti selalu berbentuk tindakan nyata atau action, memilih untuk bersikap masa bodoh dan tidak peduli itu pun merupakan suatu keputusan. Bahkan ketika kita tidak bilang apapun alias terdiam atau bilang “kita belum memutuskan apapun” juga merupakan suatu keputusan bahwa kita belum memutuskan suatu hal.
Kita ambil gambaran dari kisah seorang jurnalis terkenal yaitu Najwa Shihab. Najwa menikah pada usia yang terbilang muda yaitu 20 tahun. Keputusan menikah muda sangat ia pikirkan dengan hati-hati sehingga dirinya masih terus termotivasi dalam meniti karirnya menjadi seorang jurnalis. Ia berpikir bahwa jika ia tidak menikah muda ia tidak akan bisa melakukan hal yang bisa ia lakukan sekarang. Begitu pula dengan masalah profesinya yang mana ia memilih untuk beralih dari bidang hukum ke jurnalistik. Ketika memasuki tingkat akhir di universitas, Najwa ditraining untuk menjadi seorang pengacara yang bertugas membuat surat dakwaan, membuat replik & duplik untuk bertanya ke saksi di pengadilan yang memang sudah tertanam dalam jiwa Najwa, sehingga hal tersebut membuat dirinya merasa yakin bahwa perjuangannya selama empat tahun menjadi mahasiswa hukum akan membuatnya berhasil menjadi seorang pengacara, hakim atau jaksa kelak. Bahkan ia sudah melamar di salah satu lokum terbesar di Indonesia dan sudah diterima sebagai pegawai.
Namun, di tengah-tengah proses tersebut Najwa mendapat kesempatan untuk magang, lalu ia mencoba program magang tersebut di stasiun TV RCTI, bahkan dirinya sempat rela meninggalkan skripsi karena ingin bersungguh-sungguh melaksanakan program magang tersebut. Selama tiga bulan ia mencoba untuk menjadi seorang jurnalis televisi, dan siapa sangka karena pengalamannya tersebut ia mengubah keputusan dan rencana karirnya secara total dengan alasan ia jatuh cinta dengan profesi jurnalis.
Setelah program magang tersebut selesai lalu ia melamar di dua stasiun televisi yang berbeda yakni  RCTI dan Metro TV, alhasil ia diterima di kedua stasiun televisi tersebut. Hal tersebut tentunya menjadi suatu masalah bagi Najwa untuk menentukan pilihan yang tepat, apalagi dua-dua nya merupakan stasiun televisi ternama yang akan membuat siapapun bangga bekerja disana. Akhirnya ia memilih untuk bekerja di Metro TV dan berkarir hingga 17 tahun lamanya tanpa memutuskan untuk berpindah ke tempat lain. Menjadi seorang wartawan di Metro TV merupakan pengalaman pertamanya hingga membuat nama Najwa Shihab melambung hingga ke pelosok negeri.
Meski di satu sisi kita bisa menilai bahwa pilihan yang dibuat Najwa tepat sasaran, namun hal tersebut juga membuat dirinya khawatir akan keputusan yang dibuat justru akan merugikan dirinya, karena keputusan menikah muda dan beralih profesi merupakan keputusan besar yang berdampak pada masa yang akan datang. Berbagai proses yang ia jalani sangatlah tidak mudah disertai dengan perjalanan yang sangat panjang, sebab semua itu tentang menentukan pilihan hidup.
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Najwa adalah bahwa setiap orang tidak melulu mencari dan mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari terlebih dahulu, karena pengalaman yang kita dapatkan setiap detik menjadi ilmu baru yang memberikan impact yang besar bagi siapapun, maka dari itu setiap pengalaman itu penting, sekecil atau sesingkat apapun bahkan sepahit-pahitnya pengalaman yang didapatkan dalam kehidupan, kita patut menghargainya.
Kita tidak bisa menentukan pilihan hanya dengan mendengar nasihat maupun saran atau melihat pengalaman orang lain, namun kita harus memiliki konsep yang menjadi acuan atau pedoman atas usaha yang akan kita lakukan, kita tidak akan pernah mengetahui arti dari sebuah hasil jika tidak pernah mencoba sekaligus mengalaminya karena akan selalu ada keputusan dibalik keputusan. Untuk itu, kita harus punya fakta dan bisa meluangkan waktu untuk benar-benar mempertimbangkan semua pilihan dengan cermat. Penilaian atau judgement yang baik bisa menerjemahkan informasi menjadi sebuah pengetahuan sehingga memungkinkan kita untuk menemukan pola dan bisa memprediski kejadian saat membuat keputusan.

Minggu, 01 Desember 2019

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Orang Sukses, Orang Yang Mau Belajar - NAJWA SHIHAB)


Orang Sukses, Orang Yang Mau Belajar
Otak manusia membuat 35 ribu keputusan setiap harinya, dimulai dari bangun tidur sampai akan tidur kembali kita memikirkan hal yang membuat kita harus mengambil keputusan yang sesuai bahkan untuk hal yang terkecil sekalipun. Begitu pula untuk meraih kesuksesan dalam berkarir dibutuhkan judgement and decision skill yang baik agar tidak salah sasaran. Tipe-tipe pengambilan keputusan tiap orang berbeda-beda, ada yang asal memutuskan tanpa mempertimbangkan dampak, ada pula yang mempertimbangkan dampak namun cepat dalam memutuskan, dan ada juga yang sangat mempertimbangkan dampak dan lama mengambil keputusan.
Pada dasarnya, Judgement and decision making sangat penting dalam setiap aspek kehidupan, maupun dalam karir, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Karena besar atau kecil setiap keputusan yang kita ambil akan selalu berpengaruh terhadap masa depan kita. Sederhananya, awal mula seseorang bisa berhasil yaitu ditentukan dari cara mereka mengambil keputusan dan mempertimbangkan suatu pilihan. Banyak orang yang terburu-buru memutuskan sesuatu dikarenakan mereka takut kehilangan peluang yang ada di depan mereka, akibatnya mereka hanya bisa saling menuduh dan menyalahkan satu sama lain. Sering kita temui orang-orang yang ingin semuanya serba instan tanpa mau menghadapi prosesnya, apalagi mempelajarinya terutama dalam meraih kesuskesan, padahal mungkin mereka masih belum tahu tujuan apa yang ingin diraih dalam kesuksesan itu. Atau mungkin mereka memiliki kesalahpahaman terhadap konsep sukses sehingga membuat mereka terlalu cepat tergiur dan terpengaruh oleh keadaan yang sedang mendesak seperti krisis ekonomi misalnya.
Kenapa seorang pemimpin begitu dicintai dan mempunyai ketabahan dan kekuatan hati untuk melakukan apapun yang tidak dilakukan orang lain, dan kenapa ada orang yang cepat dilupakan bahkan ketika ia ada dan masih melakukan pekerjaannya. Sebenarnya, kunci agar bisa menjadi sukses yaitu orang yang mau belajar, serta di setiap keadaan apapun selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bukan orang yang egois yang selalu mengkritik namun enggan di kritik, karena sejatinya orang yang berhasil adalah orang yang mau mendengarkan, selalu belajar dari apa yang telah dialami, dan tahu tentang ketidaktahuan yang harus dijadikan cara untuk mencari tahu. Tidak jarang pula orang yang baru belajar menjadi tahu seolah-olah seperti orang yang sudah paham dan mengerti lalu tiba-tiba berubah menjadi guru yang sok tahu tapi tidak ingin diberi tahu tentang ketidaktahuannya.
Kita terkadang terlalu meremehkan orang yang berada di sekitar kita padahal orang-orang yang berada di lingkungan sekitar baik intern maupun ekstern juga berpengaruh terhadap judgement and decision making skill. Seperti halnya Najwa Shihab, seorang jurnalis terkenal yang sukses dalam karirnya yang mana ia sudah 17 tahun bergelut dalam bidang jurnalistik tidak memungkiri bahwa orang-orang yang ditemuinya membawa dampak besar baginya. Ia sadar bahwa profesinya itu membawa banyak manfaat sekaligus pelajaran terutama tentang pengambilan keputusan yang baik di setiap situasi yang sedang ia hadapi karena beda orang beda pula pelajaran yang didapat sehingga hal tersebut membuat dirinya bertanya-tanya apa yang menjadikan mereka (pejabat atau penjahat) berhasil dalam menuntaskan misinya. Intinya setiap orang saling berkaitan dan mempengaruhi, hanya saja orang lain berperan sebagai landasan pendukung dan diri sendiri tetap menjadi tolak ukur utama dalam penentuan pengambilan keputusan.
Orang yang berhasil adalah orang yang selalu mencari common threat, memiliki toleransi yang tinggi, dan berusaha mencari persamaan di tengah perbedaan apalagi dalam dunia yang semakin sensitif dimana perbedaan sedikit saja bisa dengan mudah membuat orang cepat terpengaruh dan marah terutama dalam dunia politik. Dunia yang sudah sensitif ini justru membutuhkan orang-orang yang bukan hanya mau belajar menerima perbedaan namun juga belajar menjadi orang yang toleran, saling menghargai satu sama lain dimanapun. Karena pemimpin yang dicintai adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membuat dan menggerakkan orang lain untuk mengikuti visi misinya dengan toleransi yang tinggi.

JUDGEMENT AND DECISION MAKING (Preparing Your Biggest Decision) NAJWA SHIHAB

Preparing Your Biggest Decision Setiap orang berhak mengubah apapun keputusan mereka sekalipun orang lain men-stereotype perubahan yan...