"Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, adikku laki-laki. Apa yang aku lakukan hanyalah sebuah pengorbanan yang sia-sia yang kulakukan demi keluargaku khususnya Ibuku. Menjadi anak pertama itu selalu dipandang sebelah mata, terutama oleh sanak saudaraku dan hal itu yang membuatku membenci diriku sendiri.
Aku lahir dari keluarga biasa saja. Setelah Ayahku meninggal, Ibuku menikah lagi dengan seseorang yang lebih pantas kupanggil dengan sebutan "Om". Karena perbedaan usia antara Ibuku dan Ayah tiriku, membuatku merasa sungkan untuk memanggilnya "Ayah".
Saat ini aku berprofesi sebagai seorang guru di Taman Kanak-Kanak dan sekaligus sebagai mahasiswa di salah satu Universitas swasta. Aku selalu berpikir bahwa di usiaku yang terbilang tidak remaja lagi, banyak rencana dan masalah yang datang bertubi2 yang membuatku menyesal sekarang ini.
Kenapa aku dilahirkan sebagai anak pertama di keluargaku? Kataku mengeluh. Aku merasa terbebani dengan semua percobaan hidup yang mengekangku. Sekarang aku sudah berumur 25 tahun dan hanya menjadi seorang guru TK bahkan kuliahpun masih belum selesai, sementara teman-teman satu angkatanku sudah bekerja di kantor-kantor ternama dan gedung-gedung tinggi di daerah metropolitan yang jauh lebih baik daripada aku. Aku diremehkan oleh sanak saudaraku karena hanya menjadi guru TK di sekolah yang biasa saja dengan gaji yang bisa dibilang rendah.
Jujur, aku malu dengan diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa seperti temen-temanku, tidak ada pencapaian yang bisa dibanggakan di keluargaku selain sebagai anak pertama yang dijadikan sebuah eksperimen dari kegagalan. Sebagai anak pertama aku merasa tidak bebas menentukan jalan hidupku, selain prestasi, umurku juga menuntutku untuk segera mengakhiri masa lajangku. Aku tidak punya seorang panutan dan contoh untuk membuatku memperbaiki diri, aku hanya dijadikan bahan percobaan agar adikku tidak tumbuh seperti aku.
Aku merasa iri terhadap pekerjaan teman-temanku, aku pun ingin bekerja sebagai orang kantoran di gedung-gedung pencakar langit itu bukan hanya menghabiskan separuh hidupku hanya untuk menjadi guru TK. Aku pikir betapa beruntungnya menjadi seorang adik yang bisa menghindari semua kegagalan yang dialami seorang kakak dan bisa menentukan pilihan hidup dengan mudah.
Di sisi lain, aku merasa kasian sekaligus tidak enak karena terlalu banyak merepotkan Ibuku. Aku ingin memberikan suatu 'pride' dan 'achievement' di depan kedua orangtuaku dan saudaraku, namun sayangnya, aku tidak bisa mereset ulang waktu yang telah kulalui untuk menciptakan 'pride' itu. Jika menjadi guru adalah takdir dari pekerjaanku, maka aku pun ingin menjadi seorang pengusaha pula dengan menghasilkan pendapatan tambahan. Aku tahu aku tidak boleh menyesal, tapi bagaimanapun, aku tetap terlihat rendahan di mata saudara-saudaraku."
Saya coba mendengarkan cerita teman saya sampai habis, sampai tetesan air mata terakhir yang ia seka dari wajahnya yang masih dibalut polesan make up. Kemudian, saya mencoba memberinya respon seperti menghibur tapi bukan candaan.
Pernahkah anda berpikir bahwa anda belum mencapai tahap yang benar-benar menerima kelemahan dan kelebihan diri anda sendiri? jika anda menganggap menjadi seorang guru TK merupakan sebuah kegagalan, maka anda tidak akan pernah mendapat posisi sebagai pegawai kantoran dengan gaji yang menggiurkan, begitu pula prestasi yang tidak akan pernah bisa dicapai di akhir hidup anda.
Kenapa di zaman yang sudah serba mudah ini masih saja memikirkan rasa iri yang menggebu-gebu?! Ya, itu manusiawi. Tapi, bukankah segala hal dapat dilakukan dengan mudah jika memang ada kemauan yang kuat? Tidakkah diri kita memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing untuk mencapai sesuatu yang disebut impian? Begitu pula dalam hal pekerjaan. Setuju atau tidak orang yang memandang rendah profesi guru TK adalah orang yang tidak bisa menjadi seorang guru, dan seseorang yang pandai dalam mengerjakan pekerjaan di kantor juga belum tentu bisa menjadi guru.
Berbicara tentang 'pride' atau prestasi yang bisa dibanggakan oleh keluarga bukan melulu prestasi yang sama persis dengan apa yang sudah dicapai orang lain, semua kembali lagi kepada kemampuan dan kapabilitas masing-masing. Sampai kapan anda akan maju jika terus menyetarakan segala hal dengan orang lain yang lebih dulu sukses daripada anda? Anda ingin menghindari penderitaan namun nyatanya anda menyukai penderitaan dengan membandingkan diri anda dengan orang lain.
Bahkan tingkat stress menjadi pegawai kantoran mungkin lebih tinggi daripada menjadi guru TK. Mungkin jika sekarang anda di kantor, anda tidak akan menemukan canda tawa anak kecil yang lucu, dinding-dinding kelas yang warna warni, dan bersantai di waktu senja menuju malam. Anda hanya bisa menikmati mentari pagi yang bercampur asap kendaraan, dan anda hanya melihat cahaya lampu jalan yang membosankan ketika pulang beserta panasnya atmosfir kemacetan di tengah jalan.
Anda tidak perlu khawatir menganggap diri anda sebagai contoh dari kegagalan, anda hanya perlu fokus kepada target yang bisa menjadi panutan anda, anda tidak perlu menjadi seorang kakak atau adik, cukup posisikan diri anda sebagai seorang petualang yang selalu mencari tahu dan mempelajari sesuatu yang mereka temukan di sekitar tanpa ada rasa membandingkan dalam konteks menentang.
Anda pun boleh peduli terhadap ucapan saudara-saudara anda dengan sikap yang bodo amat. Mendengarkan tanpa menghiraukan atau mendengarkan sekaligus menghiraukan itu merupakan pilihan anda, kenapa anda harus stress padahal keputusan ada di tangan anda? Secara sadar anda tahu apa akibatnya jika anda menghiraukan perkataan saudara-saudara anda, namun anda tetap memilih keputusan tersebut karena anda menyukai penderitaan.
Kebanggaan yang diinginkan orangtua itu sederhana bukan, mereka selalu mengapresiasi kegagalan yang dialami sang anak, namun apresiasi yang diberikan setiap orangtua memang berbeda, lalu apa yang perlu dikhawatirkan jika semua sudah anda putuskan? Bukankah kita sudah siap menerima kenyataaan dari hasil yang ada? Jika ada yang bilang tidak, maka gunakanlah sisa waktu untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul, sederhana bukan?!
Di satu sisi, anda mungkin terlalu serakah dengan profesi yang ingin anda capai yakni sebagai guru sekaligus pengusaha karena anda hanya berencana bukan sambil bertindak, namun jika anda sedikit lebih realistis dengan menjalani profesi anda secara bertahap, maka itu akan menjadi sebuah kenyataan yang indah bukan?!
Cobalah untuk menerima setiap hasil dari usaha kita secara lapang dada. Hidup bukan tentang apa kata orang namun apa yang sungguh-sungguh ingin kau lakukan. Pikirkanlah, maka jawaban akan anda temukan :)
#Yuksharing
#sebuahkisah1
#ミヨ